
Dua hari telah berlalu. Hari yang sangat ditunggu-tunggu oleh Daniar dan Zanu. Setelah akad nikah mereka semalam, mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri. Hari ini adalah pesta pernikahan mereka. Kebaya modern berwarna hitam melekat indah di tubuh Daniar. Riasan adat Jawa itu begitu sempurna di tubuh Daniar, ditambah dengan dua buah centhung di kedua sisi dan paes hitam pekat di keningnya. Daniar mengenakan adat Jawa saat pesta karena ayahnya yang berasal dari salah satu daerah di Jawa Timur sedangkan untuk siang Daniar mengenakan adat Sunda dari keluarga Ibunya.
Zanu tidak mempermasalahkan keinginan Daniar. Asalkan Daniar cocok dan nyaman Zanu akan ikut saja. Namun Zanu meminta untuk malamnya mereka menggunakan pakaian formal berupa dress dan jas. Daniar pun menyetujuinya.
Setelah acara temu manten, Daniar dan Zanu berfoto beberapa saat menggunakan baju adat Jawa Timur kemudian berganti ke adat Sunda. Cukup melelahkan bagi keduanya namun terkesan menyenangkan. Ada rasa tidak percaya bagi Daniar kala Zanu dengan lancarnya mengucapkan ijab qobul hingga membuat status Daniar menjadi seorang istri. Haru? pasti. Senang? tentu saja.
"Selamat ya bro! wihhh udah nyusul aja nih! buruan bikin anak biar anak gue ada temennya!" ucap Arul setelah menjabat tangan kedua mempelai.
Arul datang sendirian. Anisa juga putranya masih belum boleh keluar dari rumah sakit. Mungkin setelah satu minggu sehabis melahirkan baru diperbolehkan untuk pulang.
"Aku dan Daniar tidak terburu-buru kok, tapi kalau bisa cepet kenapa harus lambat!" ucap Zanu membuat Daniar menyikut perutnya karena malu.
Melihat Zanu yang meringis kesakitan akibat Daniar membuat sahabatnya yang lain tertawa.
"Selamat Zen!" ucap Darel menjabat tangan Zanu.
"Terimakasih Dwi! semoga kau juga segera membawanya pulang!" ucap Zanu kepada Darel.
Daniar agak tidak suka dengan doa Zanu. Eh, maksudnya suaminya itu. Bagi Daniar, Darel lah yang menjadi alasan Mentari pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Tapi Daniar tetap diam saja.
"Semoga saja!" ucap Darel.
"Selamat tuan Zanu! nanti malam lembur bikin dedek emezz yaa!" celoteh Jack yang baru datang dengan membawa segelas minuman.
"Lah, ngatur!" ucap Tomi menatap anak buahnya itu.
"Eh, malah mau ngomong tuh kira-kira dong! lo sendiri kapan nikahnya? boro-boro nikah, punya gebetan aja enggak! jangan-jangan lo belok yaa!" goda Arul membuat yang lain tertawa.
"Yee, tuan Arul nih suka sembarangan kalau ngomong! saya ini kan lelaki paling tamvan dimuka Bumi ini. Ya kali saya belok, najisss!" ucap Jack sok keren.
"Ya dah si paling tamvannn! anak buah gue item aja udah punya anak empat! lah lo masa kalah sih, nggak malu?! hahahaha!" goda Arul.
"Jomblo-jomblo gini, aku tuh limited edition tau tuan! orang tuan Adi, tuan Harri, sama tuan Lukas aja belum punya pasangan juga jadi saya aman dongg!" ucap Jack tidak mau dibilang jomblo sendirian.
"Eh bocah! kenapa malah bawa-bawa kita!" ucap Harri.
__ADS_1
"Tau tuh! jomblo ya jomblo aja nggak usah ngajak-ngajak!" ucap Lukas.
"Kan saya bener. Tuan bertiga ini jomblo juga kann, udah tua nanti alot lohh! hehehee!" ucap Jack cengengesan.
"Sudahlah sesama jomblo jangan saling membuli!" ucap Adi yang langsung jleb di hati.
"Situ aja yang jomblo, saya mah ogah!" ucap Jack tidak mau kalah.
"Wahhh ngajak ribut nih anak!" ucap Adi geram.
"Heh sudahlah! ini acara pernikahan bukan acara masak! kenapa pada ribut sih!" ucap Darel menengahi mereka.
"Lah apa hubungannya masak sama adu mulut, Rel?!" tanya Tomi bingung.
"Sama-sama berisik soalnya! kayak kompor gas meledak!" ucap Darel sekenanya.
"Buahahahahaha!!!! emang lo tau gimana bunyinya kompor gas meledak?" tawa Arul bersama yang lain termasuk Jack, Adi, Harri, dan Lukas.
"Nggak!" ucap Darel santai.
********
Sore itu, Candra sudah mengantar Mentari ke rumah lamanya. Candra sebenarnya menawarkan Mentari agar tinggal dirumahnya karena takut akan terjadi apa-apa, namun Mentari menolak dengan alasan rindu rumah lamanya itu. Candra pun mengiyakan keinginan Mentari. Sebelum pergi, Candra mengatakan akan Menjemput Mentari jam sebelas malam. Mentari pun mengangguk mengerti lalu memasuki rumah lamanya.
Kosong! itulah yang terlihat oleh Mentari. Meskipun tidak ditinggali cukup lama, namun rumah itu masih tetap terawat. Yah, Darel meminta seseorang untuk merawat rumah itu. Mulai dari membersihkan rumahnya dari debu hingga memotong rumput liar yang tumbuh dihalaman rumah. Tidak tanggung-tanggung, Darel bahkan membayar mahal orang itu. Mentari pernah mendengar kalau Darel membayar orang itu dengan harga sepuluh juta per bulannya dengan jam kerja seminggu sekali. Cukup mahal bayaran itu jika dihitung oleh Mentari. Namun kembali lagi. Ini Darel Sanjaya yang seorang yang sudah menjadi sultan sejak lahir.
Mentari merebahkan dirinya di kamar lamanya. Terasa nyaman dan damai dia rasakan. Tidak terasa Mentari terlelap dalam kamar itu. Kamar dengan harus khas bunga lavender.
********
Sesuai perkataannya tadi, Candra mulai menjalankan mob sportnya menuju rumah Mentari. Masih ada beberapa menit sebelum jam sebelas malam. Sasa sebelumnya sudah mengirimkan pesan jika tinggal sahabat Zanu saja yang ada disana.
Sesampainya dirumah Mentari, Mentari langsung keluar dengan senyum khasnya yang menawan. Candra sempat tertegun beberapa saat ketika melihat penampilan Mentari malam ini. Dress panjang berwarna navy dengan belahan di samping kanan hingga ke lutut. Kerah yang berbentuk Sabrina dan lengan yang hanya sampai ke sikutnya. Rambut gelombangnya yang diikat rendah ditambah dengan jepit rambut bunga menambah kesan elegan wanita itu.
"Ayo kak!" ucap Mentari setelah memasuki mobil.
__ADS_1
Candra masih menatap Mentari dengan lekat bahkan sampai tidak berkedip meskipun Mentari sudah ada didalam mobil.
"Kak?!" panggil Mentari.
"Eh, iya! ayo kita berangkat!" ucap Candra gugup.
Candra buru-buru menjalankan mobilnya menuju rumah Daniar. Di tengah perjalanan, Sasa kembali mengiriminya pesan berisi semua tamu sudah pulang. Candra menambah kecepatan mobilnya agar segera sampai ke rumah Daniar.
Tidak butuh waktu lama akhirnya mobil mereka sampai juga dirumah Daniar. Nampak masih ada tetangga yang membantu acara pernikahan keluarga Daniar atau yang sering dikenal dengan nama rewang.
Mentari berjalan menuju Daniar yang saat itu terlihat tengah lahap menyantap makanannya. Mungkin sedari tadi dia belum sempat makan atau saking lelahnya dia jadi lapar.
"Niar?!" panggil Mentari yang berjalan ke arah Daniar.
Merasa ada yang memanggil namanya, Daniar pun menoleh ke sumber suara.
"Tari?!"
Daniar berdiri dari duduknya. Makanan dipiringnya bahkan tidak menarik lagi baginya.
"Niar!!" panggil Mentari berhamburan memeluk sahabatnya itu.
Daniar menyambut pelukan Mentari. Dia juga begitu merindukan sahabatnya ini. Tidak terasa air mata keduanya jatuh begitu saja saking senangnya.
"Tari kamu baik-baik saja kan? kamu tinggal dimana selama ini? apa kau lupa padaku? kau bahkan tidak pernah mengirimiku pesan! huhuhuu kau jahat sekaliii!" ucap Daniar terisak didalam pelukan Mentari.
"Aku tinggal bersama kak Candra, Niar! aku baik-baik saja kok! udah jangan nangis lagi, nanti make up kamu luntur loh!" ucap Mentari mengusap air mata Daniar dengan lembut.
"Tari?! itu kamu nak?!" tanya mama Daniar yang baru keluar dari dalam rumah.
"Tari? Alhamdulillah kamu datang nak!" ucap papa Daniar yang ada dibelakang istrinya.
Kedua orang tua Daniar langsung memeluk mereka berdua. Adegan berpelukan pun terjadi. Mentari tersentuh dengan keluarga Daniar. Dia begitu dicintai oleh keluarga ini. Asing namun tidak diasingkan.
Alhamdulillah terimakasih ya Tuhan! kau masih mempertemukan aku dengan orang-orang yang baik! semoga kebaikan mereka engkau balas dengan setimpal sesuai janji engkau pada umat-Mu yang berbuat baik. batin Mentari.
__ADS_1