Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 89


__ADS_3

Kau harus sembuh Nisa! berapapun biayanya apapun akan aku lakukan untuk kesembuhanmu! batin Arul yang melihat Anisa sedang ditangani tiga dokter termasuk Bagas dan Angel melalui kaca bulat dipintu.


Tomi mendekati sahabatnya itu dan menepuk pundaknya pelan seolah menguatkan Arul.


"Kenapa harus disaat seperti ini kami dipertemukan kembali?" tanya Arul masih menatap tubuh Anisa yang tengah diperiksa.


"Sabar saja! kau harus yakin kalau dia akan sembuh!" ucap Tomi.


"Heh, kau sedang menghiburku bukan? jangan lakukan itu lagi, aku sudah tahu kalau dia tidak akan bertahan lama." ucap Arul tersenyum getir.


Harusnya kau mendengarkan ku dulu! ini semua tidak akan terjadi kalau kau tidak memaksakan untuk mabuk dan 'bermain' dengan wanita lain! batin Tomi.


"Aku tahu semua ini salahku! tapi bolehkah aku egois sekarang?" ucap Arul berbalik dan menatap Tomi.


Apa-apaan ini?


"Aku tidak mengerti maksudmu!" ucap Tomi.


"Bolehkah aku meminta Tuhan agar mengijinkanku untuk bersamanya selamanya?" tanya Arul.


Tomi mengetahui kalau sahabatnya itu sedang memohon untuk diberikan kesempatan kedua agar bisa bersama orang yang dia cintai.


"Bagaimana Tuhan mau mendengarkan permintaanmu? kau saja tidak pernah ingat padanya!" ucap Rohan.


Rohan baru saja datang setelah menyelesaikan tugasnya dikantor polisi.Begitu Bagas menelponnya tadi dan mengatakan bahwa Anisa sedang dirawat dirumah sakit Darel, Rohan bergegas menyelesaikan tugasnya dan langsung menuju rumah sakit.


"Hemm, dalam juga sindiranmu Rohan!" ucap Tomi sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.


"Jika kau mau doamu dikabulkan, kau harus ingat dengan-Nya jangan cuma ingat pas butuhnya saja. Lagian selama ini kalian kan tidak pernah melaksanakan perintahnya, maka perbaiki itu mulai dari sekarang!" ucap Rohan memberi nasihat.


Yah, sindiran Rohan bak tombak yang langsung menancap kuat dihari mereka. Mereka memang muslim namun tidak pernah menjalankan sholat, suka mabuk-mabukan, bermain wanita, dan lain-lain.


"Baiklah, demi kesembuhan Anisa aku akan kembali ke jalan yang benar!" ucap Arul serius.


Arul langsung bergegas pergi hingga membuat Rohan, Tomi, Adi, Harri, dan Jack kebingungan.

__ADS_1


"Hei kau mau kemana?" tanya Rohan dan Tomi bersamaan.


Arul menghentikan langkahnya dan berbalik kearah sahabatnya.


"Mau sholatlah, katanya suruh insyaf!"


"Hemm, aku ikut denganmu kalau begitu!" ucap Rohan yang langsung berjalan menyusul Arul.


"Hei, tunggu aku juga mau insyaf!" ucap Tomi yang berlari mengejar kedua sahabatnya.


Semoga saja ini awal yang baik untuk tuan muda sombong dan suka 'bermain' wanita ini. Nisa, kau lihatkan kepulangan mu membawa berkah bagi mereka! semoga saja Mentari juga bisa mengubah sifat Darel yang urakan! batin Rohan tersenyum.


Rohan, Tomi, dan Arul berjalan beriringan menuju mushola rumah sakit dan menunaikan sholat dhuha karena belum masuk waktu sholat 'dhuhur. Setelah mengambil wudhu, mereka bertiga sholat dhuha dengan dipimpin Rohan karena Tomi dan Arul tidak bisa.


Ya Alloh, beri aku kesempatan membahagiakan Nisa, aku sangat ingin bersamanya. Beri aku satu lagi kesempatan untuk bersama dengannya, tolong jangan ambil dia sebelum aku bisa membahagiakannya ya Alloh! aminnn..! batin Arul.


********


Malam yang romantis tengah dijalani Darel dan Mentari di Paris. Menikmati indahnya bintang-bintang dengan ditemani pemandangan indah dibawah menara Eiffel. Darel dan Mentari melakukan dinner romantis dibawah menara Eiffel dimana belum sempat dilakukan semalam karena mereka datang saat sudah larut sehingga hanya tersisa melihat-lihat pemandangan dari atas menara Eiffel saja.


"Ini Paris bukan Indonesia, disini serba mahal bukan seperti di Indonesia apa-apa bisa didapatkan dengan mudah!" ucap Darel sambil menyuapkan sepotong steak ke mulutnya.


"Iya sama seperti mu yang bisa dengan mudah mendapatkan istri!" gumam Mentari lirih.


"Apa!" bentak Darel meminta Mentari mengulang gumamannya tadi.


"Eh tidak-tidak makan saja dan kita langsung pulang! aku sudah sangat lelah seharian ini jalan-jalan. Lihat kakiku sampai lecet seperti ini!" keluh Mentari sambil menunjukkan kaki nya yang lecet karena kelamaan memakai high heels.


"Kau sih keras kepala, dibilangin jangan pakai heels malah tidak didengarkan ya tanggung sendiri!" ucap Darel acuh.


"Enak saja aku kan belajar darimu! pria keras kepala, sombong, dingin, dan angkuh!" ucap Mentari tidak mau kalah.


"Aku sombong itu wajar, yang tidak wajar itu kamu karena meniruku!" ucap Darel.


Mereka saling melemparkan paham yang berbeda. Perdebatan kecil pun tidak terelakkan lagi. Baik Darel maupun Mentari sama-sama tidak mau mengalah.

__ADS_1


Dasar pria angkuh sombong! bisa-bisanya dia berdebat dengan wanita dan dengan tidak tahu malunya dia tidak mau mengalah!?? batin Mentari kesal.


Wanita aneh, tadi senang sekali sekarang marah-marah bikin mood jelek aja! batin Darel.


Mereka akhirnya memakan makanan yang sudah tersaji dimeja sejak tadi setelah melewati perdebatan yang cukup panjang. Karena perut yang sudah meminta jatah makanannya mereka pun tidak berniat melanjutkan perdebatan konyol itu, untuk saat ini.


Darel dan Mentari menghabiskan banyak waktu direstoran karena perdebatan tidak masuk akal tadi. Tanpa mereka sadari perdebatan-perdebatan kecil itu bisa memicu sesuatu yang besar muncul dari dalam diri mereka.


Setelah cukup puas, mereka akhirnya kembali ke apartemen. Baru saja sampai di apartemen, Mentari langsung melepas heels nya dan merasa sangat ringan terlebih tumitnya yang sudah luka.


"Ahhh, capeknya! sumpah ya pegel banget ini kaki, padahal baru beberapa tempat aja tadi yang dikunjungi!" ucap Mentari sambil merebahkan tubuhnya dikasur apartemennya.


Darel hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Mentari yang dirasa seperti anak kecil. Dia langsung mengambil salep dan menghampiri Mentari yang tengah berbaring dikasur.


"Eh kamu mau ngapain? jangan macem-macem ya!!" teriak Mentari terkejut sambil menyilangkan tangannya didada karena Darel menyentuh kakinya.


"Aku cuma mau mengobati lukamu! jangan mesum!" ucap Darel santai.


Mesum? s...siapa yang dia maksud mesum? batin Mentari.


"Enak saja kalau ngomong, aku nggak mesum ya! orang biasanya kan kau tidak peduli dengan orang lain, ya..ya aku kaget saja!" ucap Mentari.


Kini Darel menatap wajah Mentari, semakin lama semakin mendekat. Mentari menelan ludahnya. Gugup dan takut hal itu yang dia rasakan saat ini.


"K..ka..kau mau apa?" tanya Mentari saat tubuh Darel semakin mendekat kearahnya.


Mentari terus mundur namun Darel semakin memangkas jarak diantara mereka hingga mereka bisa merasakan hembusan nafas masing-masing.


"Aku memang tidak pernah peduli pada orang lain, tapi entah kenapa denganmu rasanya berbeda!" ucap Darel lembut sambil menatap lekat mata Mentari.


Dari mata itu Mentari bisa merasakan ketulusan saat Darel mengatakan hal itu. Sempat terpikir juga olehnya mungkinkah Darel salah makan tadi hingga membuatnya melantur?


"Jika kau menganggap ku meracau aku tidak peduli! namun tatap mataku jika kau menginginkan kebenarannya!" ucap Darel bersungguh-sungguh.


Dia....dia salah makan apa sih? kenapa ucapannya lembut dan....dan apa yang aku rasakan saat ini? kenapa rasanya aneh begini? batin Mentari.

__ADS_1


Apa benar aku mulai menyukai wanita gila ini? lalu jika bukan cinta, perasaan apa yang aku rasakan sekarang? kenapa aku tidak senang saat dia tertawa dengan pria lain? kenapa aku ikut merasakan luka yang dia derita? kenapa?? kenapa aku sangat ingin melindungi dan bersamanya? bukankah aku menjadi orang lain saat ini? batin Darel bingung.


__ADS_2