
Daniar memasuki mobil Zanu begitu juga dengan yang lain. Mereka mulai menyalakan mesin mobil masing-masing dan tancap gas menuju lokasi jatuhnya pesawat pribadi milik Darel.
Sepanjang perjalanan, Zanu dan Daniar hanya diam saja. Suasana terasa hening dan canggung.
Kenapa dia berubah? apa selama ini hanya aku saja yang menyukainya? batin Daniar.
Sesekali Daniar melihat ke arah Zanu berharap Zanu juga melihat kearahnya, namun semuanya sia-sia. Zanu bahkan terus menatap ke depan seolah tidak ada Daniar di dalam mobil itu, atau lebih tepatnya disampingnya.
Hampir 2 jam perjalanan mereka lewati, namun Zanu tetap mengacuhkan Daniar. Apa salah Daniar sebenarnya hingga Zanu tidak ingin melihat dirinya? batin Daniar yang tidak habis pikir dengan perubahan sikap Zanu kepadanya.
Daniar ingin mengatakan banyak hal, bertanya banyak hal kepada Zanu saat ini. Kediaman Zanu padanya, sikap acuh Zanu padanya, dan sikap dingin yang Zanu tunjukkan untuknya sangat menyayat hati Daniar. Namun Daniar masih mendiamkan itu, dia ingin tahu sampai berapa lama lagi Zanu mendiamkannya seperti ini.
********
Ditempat lain, Wisnu dan Nurul yang juga sudah mendengar kabar mengenai Darel dan Mentari juga dibuat pusing oleh ulah para investor perusahaan. Mereka datang beramai-ramai ke perusahaan dan menuntut untuk menggantikan saja posisi Darel saat ini karena dia yang dianggap sudah tewas akibat kecelakaan tersebut.
Wisnu sangat geram, bukan saja investor itu kurang ajar namun juga mereka sudah menyumpahi kalau Darel dan Mentari tidak mungkin akan selamat dari kecelakaan itu.
"Begini saja tuan Wisnu, serahkan saja pimpinan perusahaan kepada kami biar kami yang mengatur semuanya menggantikan tuan muda Darel!!" teriak salah seorang investor.
__ADS_1
Suasana semakin gaduh dan kacau, Wisnu memberi kode kepada Nurul agar bersembunyi dibalik tubuhnya jikalau ada sesuatu yang diluar kendali terjadi.
Gubrakkkkk......
Wisnu menggebrak meja dengan sangat keras membuat suara yang semula ramai bak pasar menjadi hening.
"Kalian ini rekan kerja macam apa ha!!! bukannya ikut prihatin dan membantu proses evakuasi, tapi kalian disini membuat onar dan menuntut apa yang bukan milik kalian!" teriak Wisnu sudah hilang kesabarannya.
Semua orang menjadi diam, belum pernah mereka melihat seorang Wisnu yang dikenal bijaksana dan ramah semarah itu.
"Kalian bilang apa tadi? memberikan posisi pemimpin kepada kalian? apa kalian semua sudah gilaaa!!! jangan lupa, pemegang saham tertinggi ada di pihak tuan Darel dan jika terjadi sesuatu terhadapnya, sesuai peraturan perusahaan maka wakilnya lah yang berhak meneruskan kepemimpinan perusahaan bukan kalian!!!" maki Wisnu penuh emosi.
"Dan satu hal lagi, kalau bukan karena kerjasama kita, perusahaan kalian tidak akan bisa berkembang sampai seperti ini! dan sekalinya kami memutuskan kontrak kerjasama ini dengan kalian maka bisa kalian bayangkan sendiri bagaimana nasib kalian kedepannya!" ucap Wisnu dengan nada penuh penekanan.
Para investor ragu-ragu untuk beranjak dari tempat mereka berdiri. Mereka bahkan belum bisa mendapatkan apa yang membawa mereka datang ke perusahaan Darel namun sudah diusir oleh Wisnu.
" Aku bilang keluaaarrrrrr!!!!" teriak Wisnu membuat para investor ketakutan.
Para investor itu lari tunggang-langgang, saling berdesakan keluar dari ruangan itu dan kini hanya tersisa Nurul dan Wisnu yang kehabisan tenaga akibat berteriak-teriak.
__ADS_1
"Tenanglah dulu tuan! ini minum dulu!" ucap Nurul sambil menyodorkan segelas air.
Dengan cepat air putih itu diteguk Wisnu hingga habis tak tersisa.
"Ahhh, terimakasih! menghadapi mereka membuatku darah tinggi saja! kau dengarkan mereka tadi bilang apa? mereka menyumpahi tuan Darel tidak mungkin selamat dari kecelakaan itu! bukannya membantu malah memperburuk keadaan, dasar tidak tahu malu!" umpat Wisnu kesal sendiri.
"Apa kita tidak ikut mencari tuan muda juga?" tanya Nurul.
"Tidak, tuan besar meminta kita tetap diperusahaan, agar tidak ada kericuhan seperti ini!" ucap Wisnu.
"Emm, baiklah!" ucap Nurul.
Wisnu kembali mengerjakan pekerjaannya meskipun sebenarnya dia juga khawatir terhadap keselamatan Darel dan lebih khususnya Mentari. Wisnu memang sudah melupakan perasaannya untuk Mentari dan perlahan mulai membuka hatinya lagi, namun sulit untuk melupakan bahwa dia pernah menyukai Mentari dan sekarang entah bagaimana keadaannya.
Aku harap kalian baik-baik saja dimanapun kalian berada! batin Wisnu.
********
Rombongan Tomi sampai ke tempat tujuan. Mereka langsung dihampiri oleh Harri dan Adi yang sudah menunggu sedari tadi.
__ADS_1
"Bagaimana, ada perkembangan apa?" tanya Tomi.
"Belum ada tuan, kata kepolisian jika tidak ditemukan dalam kurun waktu seminggu maka akan dianggap tidak selamat." ucap Adi lesu.