Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 192


__ADS_3

Keesokan harinya, sidang pertama untuk Riya. Dengan baju tahanan berwarna oranye, kedua tangan yang diborgol, dan didampingi Abu juga dua bawahannya, Riya dibawa menuju ruang persidangan.


"Baiklah, kita mulai saja sidang pada hari ini. Terdakwa Riya Senara diduga melakukan penganiayaan terhadap salah satu napi juga terhadap beberapa bawahannya. Apa pembelaan anda, nyonya?" tanya hakim.


"Pak hakim, sebelumnya saya ingin meminta ijin untuk memberikan keterangan saya!" ucap pengacara Riya.


"Ijin diberikan!"


"Begini pak hakim! saya sudah memeriksa kejiwaan klien saya dan dia dinyatakan mengidap gangguan kejiwaan. Ada surat dari rumah sakit dan juga beberapa psikiater yang mendukung alibi saya tersebut. Sehingga, klien saya ini tidak bisa dimasukkan kedalam penjara karena dia melakukannya dalan keadaan tidak sadar atau hilang kendali atas tubuhnya!" jelas pengacara Riya.


Riya yang terduduk di kursinya tersenyum samar. Rencananya sudah dia pastikan akan berhasil.


"Tuan Aryo!" panggil hakim dingin.


"Ya pak hakim!"


"Bukankah aku sudah terlalu sering mendengarkan alibi ini dari mulutmu?" serang pak hakim dengan kata-kata tajam yang langsung menusuk jantung lawannya.


"I...iya, pak!"


"Apa tidak ada alibi lain selain menggunakan kejiwaan untuk membebaskan klienmu?" tanya hakim lagi.


Rohan, Abu, dan Wanda juga semua yang hadir di persidangan itu tersenyum mendengar perkataan pak hakim yang secara tidak langsung menyindir cara kerja pengacara Riya.


"Emm...i...itu..." tergugup.


"Jangan kau membenarkan apapun yang tidak benar tuan Aryo. Karena kalaupun dia mengalami gangguan kejiwaan, bukankah tidak tidak akan bisa menjadi polisi?" cecar pak hakim.


Pak hakim sudah muak dengan alibi pengacara Aryo yang setiap kasusnya selalu membawa-bawa masalah kejiwaan kliennya. Dihitung sudah ada enam kasus yang dia gunakan akibat gangguan jiwa, dan memang pada akhirnya klien pengacara Aryolah yang bersalah.


"Sebelum kau membela klienmu, pastikan dulu kebenarannya! jangan karena dia membayar mu untuk lolos kau juga menghalalkan berbagai cara untuk itu! ingat! pengadilan ini bukan untuk main-main pangacara Aryo! dan kalau kau terus menghinakan alibi yang sama lagi aku pastikan kau akan kehilangan pekerjaanmu!" ucap pak Hakim serius.


"B...baik pak!" ketakutan lalu kembali ke kursinya.


Rohan dan Abu menahan tawa dari tempatnya duduk, sedangkan Riya mulai terlihat gemetaran karena takut dan panik. Alibi apa lagi yang bisa menyelamatkannya dari kehancurannya.

__ADS_1


"Dan satu hal lagi pak Aryo! penggugat telah menunjukkan banyak sekali bukti-bukti dimana jiga menunjukkan sikap dan kejiwaan dari nyonya Riya. Dan saya rasa kondisi mentalnya baik-baik saja mengingat dia berani menyiram air panas ke wajah bawahannya, bertindak selayaknya penguasa yang wajib dilayani.." ucap hakim sembari membuka file-file tindak kejahatan Riya.


"Baiklah, karena bukti yang diajukan oleh inspektur Rohan sangat akurat, kami memutuskan untuk mencabut secara paksa atribut polwan Riya dan hukuman penjara paling sedikit 10 tahun ditambah denda dua ratus juta rupiah...dok.... dok...dok!" mengetuk palu dihadapannya tanda keputusan hakim telah mutlak.


"Alhamdulillah!!!!" puji syukur Rohan, Abu, Wanda dan semua orang yang terlibat dalam penganiayaan Riya selama ini.


"Apa? ini tidak adil pak hakim! saya ingin mengajukan banding!" teriak Riya dari tempat duduknya.


"Banding ditolak! dengan sikap kamu yang seperti ini membuat saya semakin yakin kalau kamu itu tidak sakit jiwa!" tatap hakim tajam.


"Tapi....tapi saya ada seorang anak yang harus saya urus pak hakim! tolong kasihani sayaaa!" mengemis.


"Nyonya Riya! jangan jadikan anak sebagai tameng dalam pengadilan ini! hukum sudah dijatuhkan, jadi tidak ada gunanya lagi anda mengemis kepada saya! baiknya anda bersiap karena masa kurungan anda akan dimulai dari sekarang!" ucap hakim tegas.


Pak hakim dan beberapa orang lain mulai meninggalkan kantor pengadilan dan Riya masih bersikukuh jika dia tidak bersalah.


"Lepaskan aku!! aku mau menemui pak hakim! dia harus mencabut hukumannya! lepaskan!!!! lepasss!!" teriak Riya.


"Bawa dia satu sel dengan napi yang brutal biar dia merasakan apa yang sudah dia lakukan selama ini terhadap Wanda dan yang lain!" ucap Rohan tegas.


Mereka segera membawa Riya ke dalam penjara. Tugas Rohan sudah selesai. Kini tugasnya yang lain sudah menantinya. Segera dia mengambil ponselnya dan menginfokan kepada rekannya untuk berkumpul di markas Tomi.


Baru saja hendak melangkah pergi, Wanda menghampiri Rohan hendak berterimakasih.


"Terimakasih banyak pak Rohan! entah harus dengan apa lagi cara saya berterimakasih kepada anda. Mungkin kalau bukan karena anda jasad kedua orang tua saya tidak akan mendapatkan peristirahatan sebagaimana layaknya, dan mereka juga tidak akan mendapat keadilan. Saya juga berterimakasih karena sudah bersedia menangkap perundung di kantor!" ucap Wanda takut.


"Santai saja! itu sudah tugas saya sebagai pelindung kalian. Walaupun bukan kamu, saya juga tetap akan melakukannya karena sudah kewajiban. Lagi pula saya benci orang yang suka menindas orang yang lebih lemah." ucap Rohan.


Rohan pamit dari hadapan Wanda, mengendarai motor kesayangannya menuju markas Tomi. Wanda, dia langsung terkesima oleh pria itu. Bijaksana, jujur, tegas, dan juga tampan tentunya membuat hati Wanda luluh olehnya. Tapi pikiran itu langsung ditepis olehnya mengingat siapa dia dan siapa Rohan. Tidak akan mungkin baginya untuk menyukai seorang polisi apalagi dia hanyalah seorang napi.


Jangan berusaha meraih bulan, Wanda! itu terlalu mustahil untuk kau raih! salah-salah kau bisa terjatuh ke dasar tanah nanti! batin Wanda.


Wanda kembali dibawa kedalam sel nya. Ada perasan lega di dadanya karena Riya sudah mendapatkan balasannya, Namun dia juga bimbang dengan perasaannya. Bolehkah dia mencintai Rohan?


********

__ADS_1


Darel, Arul, Tomi, Bagas, dan Zanu sudah berkumpul di markas Tomi. Mereka hanya menunggu kedatangan orang yang telah mengumpulkan mereka semua disana, Rohan.


"Maaf ya aku terlambat lagi!" ucap Rohan tersenyum.


"Santai saja! ada perlu apa memanggil kita semua disini?" tanya Tomi.


"Begini, semua urusanku sudah selesai, jadi kita bisa berangkat untuk mencari Suli." ucap Rohan.


"Emm, maaf kalau menyela! boleh beri aku waktu satu hari lagi untuk menemani Anisa? bukan apa-apa, tapi aku takut jika terlalu mendadak dia malah tidak suka." ucap Arul khawatir.


"Bagaimana?" tanya Darel.


"Aku sih setuju saja, lagian benar kata Arul jangan sampai Anisa syok nanti kalau kita tiba-tiba berangkat karena kan situasinya saat ini sedang sangat membutuhkan Arul." ucap Zanu.


"Benar juga! lalu kalau Anisa lagi ngidam bagaimana?" tanya Bagas.


"Itu biar Mentari dan keluarga Daniar yang mengurusnya. Aku sudah mengatakannya pada Daniar dan dia sangat senang kalau Anisa bisa menginap dirumahnya. Aku rasa Mentari juga tidak akan keberatan iya kan?" tanya Zanu menatap kearah Darel.


"Tidak! aku rasa Mentari tidak akan keberatan. Tapi saat ini kondisi Mentari juga lagi sulit. Dia harus menjaga nenek Iwang dan juga Iwang!" ucap Darel bingung.


Darel tidak mau Mentari sakit nantinya karena kelelahan.


"Benar juga! lalu bagaimana?" tanya Bagas.


"Oh begini saja, untuk masalah Iwang, biarkan Abu yang menjaganya seperti mengantar jemput saat sekolah. Jadi Mentari tidak terlalu letih, bagaimana?" usul Rohan.


"Hemmmm, boleh juga!" ucap Zanu.


"Baiklah aku setuju!" ucap Darel setelah penuh pertimbangan.


"Oke jadi kita berangkat lusa!" ucap Tomi.


Jack yang berada disana juga Adi dan Harri tetap fokus pada pencarian Jack. Jack bertugas melacak titik akhir Suli.


"Bukankah ini di pulau tuan Zen?"

__ADS_1


__ADS_2