
Mentari masih setia pada bukunya, membolak-balikkan halaman demi halaman sambil memuaskan rasa keingintahuannya tentang alur novel itu.
Sampai pada saat kalimat yang menunjukkan si pemeran utama hendak menanyakan sesuatu pada ayahnya tentang suatu hal rahasia, Mentari tiba-tiba juga teringat suatu hal.
"Oh astaga!!!" teriak Mentari sambil bangun dari duduknya.
"Bagaimana aku bisa lupa sih!??" ucap Mentari sambil menepuk jidatnya sendiri.
"Gimana bisa aku lupa menanyakan hal sepenting ini sih!! dasar pikun..pikun...pikun..pikun....!!" ucapnya merutuki kebodohannya.
Kapan-kapan saja kalau ada waktu aku akan menanyakan hal ini pada ayah. Mentari jangan sampai lupa lagi!! batinnya memperingati dirinya sendiri.
Mentari sudah bertekad saat hendak pergi menemui teman ayahnya untuk menanyakan suatu hal yang penting. Namun karena ternyata anak dari teman ayahnya itu adalah Darel, pria yang sempat beradu paham dengannya beberapa hari yang lalu membuat Mentari melupakan misi utama dia menyetujui untuk bertemu keluarga Sanjaya.
Mentari masih berdiri dengan raut wajah yang kesal pada dirinya sendiri. Dalam hati Mentari merutuki kebodohannya dan keteledorannya semalam.
Waktu menunjukkan pukul 16.20 sore, Mentari memutuskan untuk mandi dan menyegarkan tubuhnya. Dengan peralatan mandi ala kadarnya tapi tidak mengurangi kesukaan Mentari untuk berlama-lama didalam kamar mandi.
Aktifitas mandi yang dilakukan Mentari diawali dengan luluran diseluruh tubuhnya agar tetap kenyal dan lebih mulus lalu sambil menunggu proses lulurannya, Mentari biasanya memakai masker wajah yang dia racik sendiri arahan dari google. setelah itu dilanjutkan dengan mandi dan keramas. Mentari biasanya memberi jarak 3-4 hari untuk berkeramas. Selain untuk menghemat shampoo, hal itu dia lakukan agar bahan kimia yang terdapat pada shampoo tersebut tidak merusak rambutnya jika digunakan terlalu keseringan.
Setelah keramas Mentari menggunakan conditioner tanpa bilas, dan mengeringkan rambutnya menggunakan handuk sampai setengah kering kemudian menggunakan vitamin rambut agar rambutnya tetap hitam dan mudah diatur.
"Haahhhh, segar banget deh rasanya kalau habis mandi gini!" ucap Mentari mencium wangi tubuhnya yang sudah segar.
"Enaknya nanti masak apa ya buat makan malam?" tanya Mentari pada dirinya sendiri.
"Tapi kok tiba-tiba aku pengen makan di kios kaki limat sana ya!" ucap Mentari.
Mentari mulai membayangkan makanan yang tersaji kedai kaki diperempatan jalan, kira-kira setengah kilometer dari rumahnya.
"Nasi goreng panas dengan seafood dan sambal yang banyak, ditambah dengan leker keju pisang dan es degan, ehmmmm!!" ucap Mentari membayangkan makanan itu sampai air liurnya ingin keluar.
"Baiklah perut, hari ini kalian akan makan enak, hahahaha!!" tambahnya sambil mengusap perutnya yang rata.
Mentari pun bersiap dengan memakai celana jeans panjang berwarna hitam dan kaos lingerie berwarna abu-abu dan jaket oversize berwarna hitam juga.
Dengan rambut yang dibiarkan tergerai dan poni yang dijepit kebelakang membuat Mentari tampak semakin cantik dengan baju sederhana itu.
Mentari memutuskan untuk berangkat dari rumahnya pukul 19.00 dengan naik motornya menyusuri jalanan malam yang indah dengan bulan dan bintang bertaburan dilangit.
Sungguh indah ciptaan mu, Tuhan! puji Mentari dari dalam hati keagungan Sang Pencipta.
Tidak butuh waktu lama, Mentari sampai dikios kaki lima. Disana memang banyak pedagang kaki lima dan langganan Mentari adalah nasi goreng seafood, leker, dan es degan dengan sirup sebagai pemanisnya.
__ADS_1
"Bang, pesen yang biasa ya!" ucap Mentari pada pria berumur kira-kira 36 tahun itu.
"Siap, neng! duduk dulu!" ucap pemilik kedai itu.
Mentari tidak langsung duduk, dia memesan 5 leker rasa pisang keju dikedai sebelah penjual nasi goreng, dan satu gelas es degan favoritnya dikedai yang sedikit lebih jauh.
"Buk, nanti bawa ketempat biasa ya!" ucap Mentari memberi instruksi.
Mentari memang sering kesana, meskipun tidak setiap hari dan setiap kali kesana Mentari akan memilih tempat duduk yang sama sehingga pedagang langganannya itu mudah menghafalnya.
"Siyap nona!" ucap wanita paruh baya itu.
Setelah membayar, Mentari duduk dibawah pohon mangga yang sudah disediakan tidak jauh dari tempat itu.
Disana memang disediakan tempat lesehan untuk memudahkan pembeli yang ingin memakan makanan mereka langsung ditempat. Sebuah lapangan kecil pun diberikan karpet yang tersebar diseluruh lapangan sehingga pembeli bisa memilih tempat yang diinginkan.
Sama halnya dengan Mentari, dia lebih memilih memakan makanannya ditempat itu, sambil menikmati ramainya kendaraan berlalu lalang karena letak kedai itu memang berada dipinggir jalan raya yang sudah disediakan pemerintah daerah khusus untuk berjualan.
Sekitar 30 menit lamanya pesanan Mentari sudah datang semua. Mentari memejamkan matanya berdoa. Ketika hendak melahap makanannya, seorang pria datang.
"Permisi nona, boleh saya duduk disini? karena tempat lain sudah penuh!" ijin pria berusia hampir sama seperti Mentari.
"Ya silahkan saja, tempat ini juga masih luas kok!" ucap Mentari tidak keberatan.
"Kenapa melihatku begitu? aneh ya?" tanya Mentari yang sadar pria itu terus menatapnya.
"Hahaha,tidak kok. Cuma biasanya wanita pada umumnya sangat hati-hati dalam memilih makanan, tapi saat melihatmu aku rasa tidak semua wanita begitu." ucap pria itu tersenyum renyah.
"Aku bukan wanita seperti itu. Kalau aku lapar ya tinggal makan apa saja yang ada tanpa memperdulikan penampilan seperti wanita pada umumnya. Aku sendiri bahkan bisa menghabiskan makananmu juga, hehehe!" ucap Mentari bercanda.
Mereka berdua asik mengobrol sambil memakan makanan mereka.
"Oh ya, kenalkan namaku Wisnu!" ucap pria itu yang ternyata adalah Wisnu sambil mengulurkan tangan
"Aku Mentari!" jawab Mentari menjabat tangan Wisnu.
"Nama yang cantik!" puji Wisnu sambil tersenyum manis.
"Terimakasih!" balas Mentari sambil tersenyum juga.
Dia sangat berbeda dari wanita pada umumnya! haihh, aku jadi makin penasaran dengan wanita ini! batin Wisnu.
Ditengah obrolan mereka, Mentari mendapatkan sebuah panggilan yang nomornya tidak terdaftar dalam kontaknya.
__ADS_1
"Ponselmu berbunyi!" ucap Wisnu menunjuk pada ponsel Mentari.
Unknown? nomor siapa ini? kayaknya aku tidak memberikan nomorku akhir-akhir pada siapapun! batin Mentari.
Mentari pun mengangkat panggilan itu.
"Lama banget sih!!" bentak seorang pria dari sebrang telepon.
Mentari saking terkejutnya menjauhkan ponsel itu dari telinganya takut kalau gendang telinganya bisa rusak karena suara keras itu.
" Aku sedang makan malam! lagian kau tidak bilang kalau kau menyimpan nomormu diponselku, aku pikir kau penipu yang mau menipuku!" kesal Mentari sambil mengerucutkan bibirnya.
Wisnu yang melihat ekspresi Mentari menjadi semakin gemas. Tidak disangka diapun tersenyum karenanya.
Benar-benar wanita yang unik!
"Lalu kenapa kalau aku tidak bilang kalau aku memasukkan nomorku kedalam ponselmu?" ucap pria disebrang telepon itu dengan nada yang terdengar kesal.
"Haisss, kau ini lupakan itu dan katakan apa yang mau kau katakan sampai-sampai meneleponku begini?" ucap Mentari malas berdebat.
Dia yang salah malah marah-marah! dasar tuan mudah sombong!! gumam Mentari kesal.
"Besok aku akan menjemputmu jam 9, kau harus siap sebelum jam itu karena aku tidak suka dengan orang yang lelet!" ucap pria itu tegas.
"Iya-iya baiklah, aku akan siap sebelum jam 9, puas!!" ucap Mentari menahan emosinya.
Sabar Mentari, sabar! jangan kau tanggapi pria sombong ini jika tidak kau akan emosi sendiri nanti! hibur Mentari sambil menarik nafas dalam-dalam lalu menghembuskannya.
"Ya sudah itu saja yang ingin aku bicarakan. Kau mau....tutttt!" panggilan terputus.
Mentari mematikan panggilan itu sepihak kemudian melanjutkan menyantap makanannya yang sempat terabaikan beberapa saat lalu.
"Siapa yang telpon? sepertinya penting sekali?" tanya Wisnu penasaran.
"Calon tunanganku!" jawab Mentari ringan.
Dekkkk....
Detak jantung Wisnu seakan berhenti saat Mentari mengatakan calon tunangannya.
Belum juga sempat PDKT, eh ternyata sudah disegel! batin Wisnu lemas.
Yah, niat awal Wisnu tadi memang untuk semakin dekat dan mengenal Mentari lebih jauh. Namun ternyata Mentari sudah memiliki calon tunangan yang tanpa diketahui Wisnu tunangan Mentari adalah Darel, bosnya.
__ADS_1