Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 283


__ADS_3

Pukul dua belas siang, Lukas telah menunggu Iwang di tempat dia biasa menurunkan tuan mudanya. Bel tanda pulang sekolah samar-samar terdengar di telinganya. Lukas pun berjalan menuju gerbang depan. Biasanya Lukas hanya akan menunggu ditempat tadi saja, tapi karena hari ini adalah hari yang spesial jadi dia harus menunggu didepan gerbang.


"Daa....Iwangg!!!" ucap Kiki yang hendak menuju ibunya.


"Tuan muda!" panggil Lukas saat melihat Iwang.


"Kak Lukas?! kakak kok disini?" tanya Iwang.


"Iya! nona Mentari menyuruhku untuk membawamu dan teman-temanmu untuk makan!" ucap Lukas menyampaikan pesan Mentari tadi.


"Kalau begitu...." Iwang menatap ke arah Kiki dan ibunya yang hendak pergi.


"Kikiiii!!!! tungguuuu!!!!" teriak Iwang.


Ibu Kiki pun menghentikan motornya.


"Ada apa Iwangg??" teriak Kiki masih duduk di jok belakang motor ibunya.


Iwang mendekat ke arah mereka.


"Bunda, boleh aku ajak Kiki? kami mau makan-makan, nanti kalau sudah biar kami yang antar Kiki pulang?" tanya Iwang.


Bunda Kiki memang sudah mengenal ketiga teman putrinya. Yang paling akrab dengannya adalah Iwang karena menurutnya dia paling bijaksana diantara yang lain. Teman-teman Kiki juga sudah terbiasa memanggil bunda sama sepertinya.


"Tapi, Iwang naik apa nanti?" tanya bunda.


Bunda belum tahu siapa Iwang. Sejauh ini baru Roni saja yang sudah mengetahui siapa Iwang.


"Sama kakak Iwang, bunda! boleh yaa?" mohon Iwang.


"Kiki, kamu mau ikut, nak?" tanya bunda.


Bunda memang seperti itu. Apapun yang bersangkutan dengan putrinya akan selalu ditanyakan dulu apa kemauan Kiki. Sebagai orang tua dia harus menjadi contoh yang baik untuk putrinya. Dengan memberi Kiki kebebasan menentukan pilihan bisa membuat Kiki merasa dihargai. Juga bisa melatihnya sikap tanggungjawab atas apa yang telah dia pilih.


Pernah waktu itu Kiki ingin mainan dihari ulang tahunnya. Ayah dan bunda membawanya ke toko mainan. Kiki bebas memilih dua benda saja untuk di beli. Sebelum memilih, ayah memberi saran agar memilih yang bisa awet sampai lama agar bisa dimainkan oleh adiknya juga. Kiki yang saat itu berusia lima tahun pun memilih dua buah boneka Barbie agar bisa dimainkan bersama adiknya.


"Boleh, Bun? kalau boleh Kiki mau ikut." ucap Kiki.


"Ya sudah! Iwang, bunda titip Kiki yaa!" ucap bunda.


"Baik, bunda!" ucap Iwang.


Kiki pun turun dari motor bundanya kemudian berjalan menuju Lukas.


"Ayo kak, kita pergi!" ucap Iwang.


"Ayooo!!" ucap Lukas.


Mereka pun menuju mobil Lukas kemudian pergi ke mall dulu untuk bermain. Bunda yang dari tadi memperhatikan Lukas seolah mengenal pria itu. Namun karena tidak ingin berlama-lama disana, bunda pun mengabaikan hal itu kemudian melaju motornya pulang.


********


Dirumah Darel. Darel yang baru saja bangun menatap sekeliling. Darel begitu terkejut saat mendapati dirinya tertidur di lantai.


"Gimana sih mereka ini! masa aku tidur dilantai saja tidak digotong ke kamar!!" gumam Darel.


"Baru bangun?!"


Darel menoleh ke sumber suara. Mentari duduk dengan kaki yang ditumpangkan ke atas meja sambil memakan camilan dan bermain ponsel.

__ADS_1


Darel berdiri lalu menghampiri Mentari yang masih asyik memakan camilannya dengan lesu.


"Sayang kok aku nggak dibawa ke kamar sih? sakit semua tahu badankuu!" keluh Darel sambil memijit punggungnya yang linu.


"Alasan!!" jawab Mentari ketus.


"Alesan bagaimana sih?" tanya Darel memasang wajah melas.


"Ya alesan lah! semalam Adi bilang kamu tidurnya di sofa sambil duduk! bukan di kasur yaa! terus sekarang sok-sokan sakit gara-gara tidur di lantai cuma beberapa jam ajaa? lebay!!" ucap Mentari masih ketus.


"Kok lebay sih?? harusnya kamu kasian dong sama akuu!!" rengek Darel.


"Dahlah kamu pergi aja!! mual aku lihat wajah kamu yang sok ganteng itu!" ucap Mentari mengalihkan pandangannya dari Darel.


"Kok sok ganteng sih? suamimu ini memang ganteng loh!! paling ganteng, tau kamuu!!" ucap Darel meralat ucapan Mentari.


"Ishh, sayanggg!! kok aku dicuekin sihh!!!" teriak Darel namun Mentari seolah tidak mendengarnya.


"Sayanggg!!!" teriak Darel lagi namun kali ini suaranya lebih keras.


"Berisikkkkk!!!!" teriak Mentari dengan suara melengking seolah satu rumah dipenuhi oleh suaranya.


Darel langsung saja diam menatap terpana ke arah istrinya. Seumur-umur belum pernah ada orang yang berani melawannya bahkan membentaknya. Ya, memang istrinya ini lain daripada yang lain. Ingat kan kalian waktu Darel pertama kali bertemu dengan Mentari? Saat dirumah sakit, Mentari bahkan pernah menamparnya dua kali. Lalu dilain waktu juga tangan mulus itu menampar pipi mulusnya. Benar-benar bukan wanita biasa pikir Darel.


"S....sayanggg!!"


"Bisa diem nggak? aku lagi pusing nihh, semalem nggak bisa tidur!! kamu klayapan nggak tau kemana!! emangnya enak tiap hari harus minum banyak vitamin, berat badan jadi bertambah gara-gara makan terus!! mending kamu mandi aja sana daripada aku tambah emosi liat kamu!!!" omel Mentari masih dengan nada tinggi hingga membuat telinga Darel sedikit sakit.


"Masih disini yaaa!!! cepat sana pergiii!!!" usir Mentari sambil melotot ke arah Darel.


"Mau dimandiin...yaa!!"


"Iya-iya ini aku pergi!!" ucap Darel memanyunkan bibirnya.


Darel menghentakkan kakinya setiap berjalan hingga menimbulkan suara berisik ditelinga Mentari.


"Jalannya biasa aja dongg!!" teriak Mentari lagi.


"Yaaaa!!" teriak Darel yang saat itu sudah berada di tangga.


"Dasar yaa!! gini banget sih punya suami?? kamu harus sabar ya nakk, punya ayah seperti diaa! ayahmu memang rada-rada ngeselin tapi aslinya baik kok! nanti kalau udah besar jangan seperti ayahmu yaa, jangan mainin cewek, jangan suka minum alkoh** juga, terus harus peka sama pasangan!! yaa!" ucap Mentari sembari mengelus lembut perutnya yang rada membuncit.


********


Lukas telah sampai di mall bersama bocil-bocil ini. Mereka tampak terkesan karena belum pernah ke mall sebelum ini. Sekolah yang didirikan oleh Darel memang untuk kaum menengah ke bawah. Maka dari itu banyak orang tua yang daripada membawa anaknya main ke mall, lebih baik bermain dirumah dengan mainan seadanya atau bermain bersama teman-temannya. Jika mereka mengajak anak-anaknya ke mall bisa jadi uang lima ratus ribu hanya cukup untuk membeli dua baju saja, sedangkan jika untuk membeli bahan kebutuhan sehari-hari bisa untuk makan sampai dua minggu.


"Wahhhh, Iwang, pasti kamu setiap hari main kesini yaa?" celetuk Roni sambil menatap ke sekeliling dengan mata berbinar.


"Tidak kok! aku sangat jarang ke sini, membuang-buang waktu saja! paling jika diajak ibu baru aku mau." ucap Iwang.


"Ayo kita ke bagian mainan dulu!" ajak Lukas.


Lukas menggiring bocil-bocil itu menuju eskalator karena toko mainan ada di lantai dua. Awalnya bocil-bocil itu takut saat hendak naik eskalator, namun Iwang berhasil menyakinkan teman-teman bahwa ini tidak berbahaya. Eskalator itu membawa mereka menuju lantai dua. Sesampainya di lantai dua, Lukas membawa bocil-bocil itu ke toko mainan yang paling mahal dan terlengkap. Semua jenis mainan ada ditoko itu mulai dari yang kecil hingga yang besar, mainan untuk anak perempuan sampai mainan untuk anak laki-laki.


"Selamat datang, tuan Lukas!" sapa mbak pegawai di toko itu.


Siapa yang tidak kenal Lukas? salah satu anak buah Darel yang termasuk berpengaruh juga sama seperti Adi dan Harri.


"Kalian silahkan pilih mainan yang mau dibeli! ambil saja, jangan sungkan!" ucap Lukas pada bocil-bocil itu.

__ADS_1


"Wahhh, beneran, om?" tanya Kiki.


"Tentu saja!! jangan lihat harga juga!! kalau suka langsung ambil! om tunggu disini yaa! jangan main jauh-jauh!" ucap Lukas.


Lukas langsung duduk di tempat yang telah disediakan. Tempat khusus untuknya agar bisa memonitor bocil-bocil ini selagi dia berada ditoko ini. Oh ya untuk kalian ketahui, mall ini adalah salah satu mall dibawah naungan perusahaan Sanjaya Group. Jadi jangan bingung jika Lukas dan semua bawahan Darel mendapatkan tempat khusus disana.


"Apa anda ingin minum tuan?" tanya manager di toko itu.


"Boleh! bawakan es cappucino gulanya sedikit saja!" ucap Lukas.


"Baik tuan!" ucap manager itu.


Tidak lama berselang, manager itu kembali dengan membawakan satu cup es cappucino pesanan Lukas. Sambil terus memonitor bocil-bocil itu, Lukas sambil meminum minumannya hingga tandas.


"Tuan!" panggil bocil-bocil itu yang telah berdatangan sambil membawa mainan yang mereka inginkan.


Lukas berdiri dan menatap mainan yang telah mereka ambil. Beberapa mainan yang berukuran sedang berada di tas yang dibawa oleh karyawan disana. Lukas bingung kenapa mereka mengambil mainan dengan ukuran yang sama.


"Kenapa masing-masing hanya lima buah?" tanya Lukas.


"Ini sudah cukup, tuan!" ucap Roni dengan senyum manisnya.


Lukas manggut-manggut.


"Lalu kenapa tidak pilih mainan yang besar?" tanya Lukas lagi.


"Supaya muat banyak tuan!" ucap Iqbal yang juga tersenyum manis.


"Yakin tidak ada yang mau ambil lagi? masih banyak loh?" tanya Lukas.


Bocil-bocil itu saling menatap satu sama lain.


"Kalau begitu tunggu dulu, kak!" ucap Iwang.


Bocil-bocil itu ikut pergi kemana arah Iwang pergi. Lukas pikir mereka ingin mengambil yang sebanyak-banyaknya atau mungkin memborong semua mainan yang ada ditoko ini, atau mengambil mainan besar-besaran. Normalnya anak-anak akan berpikiran seperti itu jika disuruh memilih. Mereka cenderung memilih yang besar dari pada yang kecil.


"Sudah tuan!!" ucap mereka.


Lukas memperhatikan lagi, beberapa karyawan yang baru datang membawa tas mainan milik mereka. Sama seperti yang tadi, pikirnya.


"Baiklah, ayo kita bayar!" ucap Lukas.


Total yang dikeluarkan untuk semua mainan yang dibeli bocil-bocil itu hanya menghabiskan lima juta saja. Setelah selesai membeli mainan, Lukas membawa bocil-bocil itu itu restoran milik Darel sesuai janji awal. Disana mereka disuguhkan oleh aneka macam makanan enak-enak dan menggugah selera. Kali ini Lukas sengaja memesan semua menu agar mereka bisa merasakan semuanya dan jika tidak habis bisa mereka bawa pulang untuk keluarga mereka.


"Wahhh, udang ini enak sekalii!! manis, lembut!!" ucap Kiki saat memakan udang asam manis.


"Lobster ini juga enak!! baru kali ini aku makan makanan begini!!" ucap Iqbal.


"Kamu pasti tiap hari makan makanan ini ya, Iwang??" tanya Roni.


"Tidak juga kok! biasanya daging, kadang juga dumpling! kalian tahu tidak dumpling disini menggunakan resep dari ibuku loh!" ucap Iwang.


"Beneran?? pantesan saja enak bangett!" ucap Roni.


Iwang tahu karena dia pernah diajak kesini oleh Mentari dan Darel, dan mereka mengatakan bahwa beberapa resep disini adalah resep dari ibunya, Mentari. Iwang sangat bangga terhadap ibunya karena masakannya yang enak bisa dinikmati oleh orang lain selain Iwang.


Mereka semua makan makanan itu dengan sangat lahap. Lukas sengaja memilih ruangan VIP yang tertutup dari pengunjung yang lain sehingga anak-anak ini tidak merasa malu. Hanya sekedar menjaga perasaan mereka saja. Diatas meja itu selain seafood, ada juga olahan daging lainnya, ada Chinese food dan ada Korean food juga. Minuman pun beragam, namun mereka memilih satu minuman untuk diminum disana. Juga ada desert yang menggugah selera. Mulai dari es krim sampai kue juga ada disini.


Selesai makan, Lukas membayar dengan uang di ATM Darel. Sedari tadi dia membayar dengan menggunakan ATM milih Darel dan ATM milik Mentari tetap utuh uangnya. Teman-teman Iwang diberi tas berisi banyak makanan dan minuman dari restoran itu. Wajah mereka terlihat sangat ceria saat mulai pergi dari sekolah tadi dan binar wajah mereka lebih bersinar saat memakan makanan disini yang kemungkinan belum pernah mereka coba sebelumnya.

__ADS_1


__ADS_2