
Aku hanya bisa mendengarkan ocehan bibi Surti yang masih saja membahas soal anak dan mandul.
"Sudahlah mbak! ini acara Daniar! jangan rusak acara bahagia ini dengan membahas anak pungut itu!" sindirnya menatap ke arahku
Ya Alloh kenapa ujianmu begitu berat untukku? tapi aku tau, segala cobaan yang engkau berikan semata-mata karena kau yakin aku mampu melewatinya. Akan ada pelangi setelah badai. Akan ada kebahagiaan setelah kesedihan. Semoga!
"Kalau kau mau acara ini berjalan dengan lancar! maka jaga mulutmu itu baik-baik!" ucap kak Galih tiba-tiba.
Dia terlihat murka mendengar bi Surti terus menjelekkan diriku. Tidak salah memang ucapannya, namun itu terdengar sangat menyakitkan apalagi dihadapan semua orang dia mengatakan seperti itu.
"Sepertinya semua orang dirumah ini sudah kamu pelet yaa?! sampai-sampai semua pada membela kamu?" ucapnya menatap tajam ke arahku.
Aku kembali berucap istighfar. Jangan bermain pelet. Mengucap untuk keburukan saja aku berusaha untuk tidak melakukannya meski banyak yang menyakiti.
"Astaghfirullah hal'adzim, bi! memikirkannya saja aku tidak pernah!" ucapku.
"Alahhh, mana ada maling yang mau ngaku?!" sindirnya lagi.
Tidak habis pikir kenapa dia begitu membenciku. Salah apa aku padanya? aku berusaha baik dan berdamai dengannya namun dia malah sebaliknya menganggap kebaikan ku adalah sebuah tipu muslihat untuk menghancurkan keluarganya padahal tidak seperti itu adanya.
"Sudahlah bi, jangan buat ulah! ini acara ku! jangan kau kacaukan!" ucap Daniar kesal.
"Sayang jangan marah-marah! ingat kandunganmu!" hibur Zanu menanangkan Daniar.
"Iya Niar! kau jangan sampai stress! nanti berpengaruh buruk pada janinmu!" ucapku membenarkan perkataan Zanu.
Memang seperti itu yang aku tahu dari internet saat mencari-cari informasi seputar ibu hamil dimana wanita hamil tidak boleh sampai stress karena akan mengganggu janin yang dia kandung. Bahkan fatalnya bisa sampai menyebabkan keguguran juga.
"Halah, nggak usah sok perhatian kamu, Tari! kamu senangi kan kalau Daniar stress? ohh atau jangan-jangan kamu mau bikin acara Daniar kacau biar dia jadi stress terus keguguran?! itu kan mau kamu?!" tuduhnya.
"Apa sih, ma ribut-ribut terus dari tadi!" ucap paman Abdul yang baru datang setelah cukup lama kericuhan ini berlangsung.
"Dia nih, mas! mau bikin gara-gara di acaranya Daniar! ya aku sebagai bibinya nggak terima lah!" ucapnya mengadu yang bukan-bukan kepada suaminya.
Aku hanya bisa beristighfar dan mengelus dada. Sedangkan Daniar, dia memicingkan matanya kesal dengan ulah bibinya itu.
"Hustt!! sudah-sudah! jangan bikin kacau! ini hari penting! kalau mau berantem dilain waktu saja!" ucap paman Abdul.
"Huh!!!" ucap bi Surti yang dibawa pergi oleh suaminya.
"Maafkan saudara mama ya Tari! kamu pasti sangat tidak nyaman dengan ucapannya barusan!" ucap mama meminta maaf.
"Nggak apa-apa kok ma!" ucapku berusaha tersenyum.
Sekilas aku melihat ke arah Daniar yang menatapku dengan lekat. Namun entah mengapa mataku tidak berani beradu pandang dengan matanya hingga aku pun mengalihkan pandangan ku ke arah lain. Mungkin dia tahu perasaanku saat ini, atau dia tahu kalau aku berbohong kepada mamanya dengan mengatakan aku baik-baik saja?
********
Acara dirumah Daniar dilangsungkan pukul tujuh malam. Semua persiapan sudah hampir selesai. Makanan yang dibuat juga sudah matang, tinggal disajikan saja. Jam menunjukkan pukul empat sore, aku meminta ijin untuk mandi membersihkan badan dari keringat dan bau asap serta bumbu-bumbu dapur.
"Lohhh,, gelang mas ku kemanaaa?!!! kok nggak adaaa?!!" teriak seorang wanita ketika aku baru keluar dari kamar mandi.
Aku bergegas menuju sumber suara. Terlihat bi Surti mengobrak-abrik tasnya seperti mencari sesuatu.
"Kamu taruh dimana sih tadii?!" tanya mama ikut mencari barangnya yang hilang.
"Sini! disini!! aku taruh didalam tas!" ucapnya pias.
Aku diam saja karena memang tidak tahu apa-apa dari pada nanti berbicara malah dituduh yang tidak-tidak.
"Kamu!! pasti kamu kan yang mencuri gelangku?! ngaku kamu!!" tuduhnya menunjuk ke arahku.
Aku terkejut mendengar tuduhannya. Akus aja tidak tahu gelangnya yang mana yang hilang, kenapa aku yang dituduh mencuri.
"Kenapa aku bi? aku nggak tau apa-apa loh!" ucapku.
"Mana mungkin Tari, bi! orang dia dari tadi membuat ayam ungkep kok! aku duduk di sampingnya tadi!" ucap Daniar membelaku.
Memang saat memasak ayam ungkep tadi aku dan Daniar bercengkrama. Daniar pun curhat pasal kehamilannya padaku hingga membuatku tersenyum bahagia.
"kamu tuh jangan mau dibodohi sama dia, Niar!! dia itu bunglon! bisa berubah bentuk sesuai tempatnya! lagian mungkin saja dia mengambil gelangku untuk dijual buat hidupnya sehari-hari!!" tuduhnya lagi.
Mungkin bibi Surti tidak tahu kalau aku adalah istri Darel Sanjaya, anak tuan Ardi Sanjaya termasuk orang yang paling kaya di Indonesia. Pernah aku dengar dari mama dulu kalau rumah orang tua paman Abdul itu tempatnya cukup terpencil. Jadi mungkin dia tidak ada akses Internet ke dunia luar. Atau bahkan televisi saja mungkin tidak ada.
"Mana tas kamu! aku mau geledah!" ucapnya tiba-tiba.
"Nggak bisa gitu dong!!! jangan main geledah punya orang!" ucap Daniar menghentikan bibinya sedangkan aku masih saja tidak mengerti mengapa bi Surti selalu mencari-cari letak salahku.
"Minggir, Niar!! aku cuma periksa saja kok!! kalau nggak ada ya sudah!" ucapnya enteng.
__ADS_1
"Nggak apa-apa, Niar! biar dia periksa saja. Lagian aku tidak mencuri jadi aku tidak takut dia membuka tasku!" ucapku pada Daniar
Terlihat Daniar ingin protes dengan ucapanku namun segera aku menganggukkan kepala tanda bahwa aku baik-baik saja. Bi Surti menyunggingkan senyumnya merasa puas setelah aku mengatakan hal itu. Dia dengan cepat menuju tas selempang milikku dan mulai mencari-cari barangnya.
"Nih!!!" ucapnya mengacungkan tangan menunjukkan sebuah gelang emas yang ia temukan dari dalam tasku.
Orang-orang mulai berbisik tentang gelang yang ada didalam tasku itu. Tentu saja aku, Daniar, kak Galih, Zanu, dan orang tua Daniar terkejut dengan ditemukannya gelang itu dari dalam tasku.
"B...bagaimana bisa? aku...aku nggak mencuri, ma, pa?! aku nggak tau kenapa ada gelang itu di dalam tasku!" ucapku bingung.
"Halah, sudah ketangkap basah juga masih saja ngeles!! ini sudah ada buktinya!!! ucap bi Surti mengacung-acungkan gelang itu dihadapan ku.
"Aku bersumpah bi, aku nggak tau apa-apa soal gelang itu!" ucapku.
"Terus kamu bilang gelangku ini berjalan sendiri terus masuk ke dalam tasmu begitu saja, gitu?!" ucapnya.
"Ayo kita bawa dia ke kantor polisi!!!" teriaknya mengompori.
"Tidak!!! aku tidak bersalah, pak, bu!!! aku bersumpah tidak mencuri gelang itu!" teriakku saat beberapa bapak-bapak dan ibu-ibu memegang tanganku dan menggiringku keluar rumah.
Mama, papa, kak Galih, Daniar dan Zanu juga sudah berusaha menjelaskan pada orang-orang bahwa ini hanya salah paham namun suara bi Surti yang mengompori untuk terus membawa ku ke kantor polisi menggema dengan keras membakar kemelut orang-orang untuk menggiringku keluar rumah.
"TUNGGUUUU!!!!" teriak seseorang yang suaranya sangat aku kenali.
"Sayangg!!!" ucapku menatap memelas kepada suamiku.
"Ibuu!!" teriak Iwang yang berlari ke arahku lalu memelukku dengan erat.
Dapat ku rasakan bahwa anak ini takut saat orang-orang membawaku dengan raut wajah marah. Begitu aku lihat Darel sudah bersama beberapa anak bodyguardnya yang memakai pakaian serba hitam-hitam. Tatapannya tajam menatap setiap orang yang menyentuhku barusan. Aku lirik ke arah bi Surti dia nampak terkejut dengan kehadiran Darel. Apa dia mengenal suamiku? pikirku saat ini.
"Pak?! anda disini?"
Loh? kenapa ini? kenapa paman Abdul menghampiri Darel? pikirku bingung.
Darel menatap tajam ke arah paman Abdul. Mungkin jika bisa terlihat akan ada dua sungut besar seperti tanduk banteng yang berada di kepalanya, hihihi...
"Ada apa ini?" tanya Darel.
"Wanita ini sudah mencuri gelangku, pak! makanya saya akan membawanya ke kantor polisi!" ucap bi Surti penuh percaya diri.
"Yakin dia yang mencuri?" ucap Darel tenang namun tatapan matanya yang tajam mengintimidasi bi Surti hingga membuatnya gugup.
"Yakin? ada saksi mata yang melihatnya?" tanya Darel setelah bersidekap dada.
"Em...t....tidak!!" ucap para warga.
"Tidak?! aku ada!" ucap Darel.
Seorang anak remaja datang kearah Darel memberikan ponsel miliknya.
"Terimakasih anak manis!" ucap Darel.
Anak itu lalu berlari kearah salah satu warga yang kemungkinan itu adalah ibunya.
"Ini! silahkan anda semua lihat sendiri siapa pencurinya!" ucap Darel menunjukkan sebuah video.
Semua orang berkerumun menatap ke layar ponsel tak terkecuali aku, Daniar dan yang lain. Disini bi Surti terlihat berkeringat karena posisinya yang tidak jauh dariku.
Video itu memperlihatkan anak tadi tengah berjoget cover dance di aplikasi TikTo*. Awalnya tidak ada yang aneh dari video itu hingga di tengah video terlihat bi Surti mengendap-endap menuju tas ku yang berada dibelakang anak itu. Dari video itu juga terlihat bi Surti memegang sebuah gelang yang hampir sama dengan gelang yang ditemukan didalam tas milikku.
"Ohhhh, jadi kamu yang memfitnah Tari!!" geram mama.
"A...akuuu..." bi Surti terlihat gugup sambil menatap para warga yang menatapnya jijik.
"Pak Abdul!" ucap Darel.
"I..iya pak?!"
"Mulai besok anda tidak usah datang ke perusahaan lagi!" ucap Darel enteng.
Maksudnya apa ini? pak Abdul bekerja di perusahaan Darel begitu?
"L...loh, tapi kenapa pak?" tanya pak Abdul.
"Karena istri bapak sudah berani memfitnah istri saya!!" ucap Darel pelan namun menekankan di setiap katanya.
"Apaaa?!! istriii?!" teriak bi Surti terkejut sambil menatapku tidak percaya.
"Yah, wanita yang kau tuduh pencuri ini adalah istriku! istri Darel Sanjaya! sang pengusaha sukses!" ucapnya sombong.
__ADS_1
Aku dan Iwang menatap Darel jengah karena terlalu sombong dengan kekayaannya. Padahal memang benar adanya.
"Jangankan gelang mas mu yang seharga enam ratus ribuan itu! bahkan aku yang membelikannya perhiasan berlian seharga satu miliar saja dia tidak mau pakai, sayang katanya! bagaimana bisa dia mau mencuri benda murahan seperti itu kalau dia bisa mendapatkan berkali-kali lipat jauh dibanding dengan punyamu yang jelek dan tidak ada apa-apanya itu?!" sindir Darel tajam membuat bi Surti bertambah malu.
"Pak tolong jangan pecat saya pak! saya tidak tahu lagi harus bekerja dimana kalau sampai perusahaan bapak memecat saya, pak!" ucap paman Abdul memohon.
Bi Surti berlari ke hadapan Darel, bersimpuh memohon belas kasihan dari suamiku itu.
"Iya pak, kasihani suami saya! kalau sampai dia dipecat, bagaimana nasib keluarga kami nanti, pak! tolong lah pak!" ucap bi Surti ikut memohon.
"Apa kau tidak kasihan juga saat kau tega menuduh istriku mencuri gelang jelekmu itu?!" ucap Darel menatap tajam ke arah bi Surti.
Melihat adegan itu, kepalaku rasanya pusing. Berada di luar rumah dengan matahari yang masih panas meski sudah sore membuat penglihatan ku menjadi kabur.
Bruk....
Kesadaranku perlahan mulai hilang.
# Author POV #
"Ibuuu!!!" teriak Iwang saat tubuh Mentari terjatuh ke tanah begitu saja.
"Tariiii?!" ucap Daniar, mama, papa, Galih, dan Zanu.
"Tariii!!!" teriak Darel yang langsung berlari mendekati istrinya yang terkulai pingsan itu.
"Bawa dia kerumah sakit Darel!" saran mama Daniar.
"Iya, ma!" ucap Darel.
Darel menggendong Mentari lalu bergegas menuju mobilnya. Adi segera membuka pintu begitu Darel sudah dekat.
"Cepat ke rumah sakit!" perintah Darel khawatir.
Iwang naik ke mobil Zanu bersama Daniar, mama dan papa. Mereka melupakan sejenak tentang acara selamatan Daniar.
Sesampainya dirumah sakit.
"Loh, Rel! kenapa dengan Tari?" tanya Bagas yang saat itu tengah berada di lobby rumah sakit.
"Nggak tau, dia tiba-tiba pingsan tadi!" ucap Darel masih menggendong tubuh lemas Mentari.
"Bawa ke ruang perawatan!" ucap Bagas.
Setelah sampai, Darel merebahkan tubuh Mentari ke ranjang rumah sakit.
"Kau keluar saja dulu, biar aku yang menangani istrimu!" ucap Bagas.
"Tapi...."
"Dia baik-baik saja kok! aku jamin!" ucap Bagas agar Darel mau keluar ruangan.
Mendengar ucapan Bagas, Darel pun terpaksa keluar dari ruangan.
"Ayah, gimana kabar ibu?" tanya Iwang yang baru saja datang bersama dengan rombongan Zanu bahkan Galih juga datang dengan mengendarai motornya.
"Masih di tangani sama om Bagas! Iwang berdoa saja yaa, supaya ibu baik-baik saja!" ucap Darel.
"Iyaa ayah!" jawab Iwang.
"Maaf ya Darel, semua ini karena kelalaian kami menjaga Mentari!" ucap papa Daniar merasa bersalah.
"Tidak apa! aku maklumi itu karena itu bukan sepenuhnya salah kalian!" ucap Darel.
"Tapi kenapa bisa dia berkali-kali merendahkan istriku?! mengatakan dia mandul segala?! apa dia tidak tau kalau aku ini suaminya?!" ucap Darel kesal.
"Dia mungkin tidak tahu nak Darel! karena dia beberapa bulan ini baru balik dari Sumatera. Sebelumnya dia dirumah ini mertuanya yang tempatnya cukup terpencil bahkan tidak ada internet sama sekali." jelas mama Daniar.
"Tapi bukan berarti dia bisa seenaknya merendahkan istriku begitu!!! aku bersumpah akan menuntut dia kalau sampai terjadi apa-apa dengan Mentari!" ucap Darel bersumpah.
Mama dan papa Daniar saling pandang lalu didetik kemudian saling melemparkan senyum penuh arti.
"Darel...." Bagas keluar ruangan dengan wajah syok.
Darel bergegas menemui sahabatnya. Wajahnya semakin pias saat melihat ekspresi Bagas yang mengkhawatirkan.
"Apa?! ada apa?! bagaimana keadaan Mentari!? dia baik-baik saja kan? kau bilang dia bakal baik-baik saja, makanya aku mau meninggalkannya tadii!!! kalau sampai terjadi apa-apa dengannya kau juga akan aku tuntut!!" ucap Darel.
"Tari....dia...." terpotong.
__ADS_1