Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 174


__ADS_3

Kini semua orang tengah berkumpul di bioskop mini untuk menonton film. Semua terlihat sangat senang namun hanya Anisa dan Mentari yang terlihat kelelahan. Semua tahu, itu pasti ulah suami masing-masing dan hanya bisa tersenyum penuh arti saat memikirkannya.


Para tuan muda yang sudah memiliki pasangan terlihat sangat mesra bahkan bisa dibilang adu kemesraan, sedangkan yang tidak memiliki pasangan hanya tersenyum getir melihat kemesraan mereka.


Tiba-tiba ponsel Rohan berbunyi. Rohan pun keluar ruangan untuk mengangkat telepon itu.


"Hallo! ya, Abu, katakan apa ada masalah tentang kasus nona Wanda?" tanya Rohan serius.


Yah, penelepon itu adalah Abu anak buah Rohan di kepolisian. Rohan tahu informasi yang akan diberikan oleh Abu menyangkut Wanda karena Abu yang dipilih Rohan untuk memimpin kasus ini.


"Tuan, dari informasi yang sudah kami dapat. Pada hari itu ada dua orang saksi yang melihat adegan ketika ibu tiri nona Wanda mengubur jenazah kedua orang tuanya." berhenti sejenak.


"Lanjutkan!" ucap Rohan penasaran.


"Baik! seperti yang sudah nona Wanda katakan, dia adalah saksi pertama kasus ini! namun karena bukti yang tidak cukup kuat bahkan dia tidak mempunyai bukti saat itu akhirnya dia memilih kabur untuk menyelamatkan nyawanya!" mengambil nafas sejenak.


""Lalu saksi kedua?" tanya Rohan semakin penasaran.


"Saksi kedua adalah ibu kandung dari ibu tiri nona Wanda yang secara tidak sengaja melihat aksi tersebut ketika hendak menemui anaknya. Dari keterangan yang ada beliau meninggalkan kota ini semenjak kejadian itu dan tidak lagi terlihat di rumahnya. Tetangganya pun mengatakan tidak pernah melihatnya lagi setelah puluhan tahun." jelas Abu.


"Haihhh, kasus ini semakin sulit karena tidak adanya bukti! terlebih ini terjadi sudah puluhan tahun yang lalu!" ucap Rohan berpikir keras.


"Tapi tuan, jasad dari kedua orang tua nona Wanda sudah kami temukan persis seperti yang diceritakan nona Wanda. Sekarang kami tengah menunggu hasil autopsi untuk memperjelas semuanya. Nona Wanda juga sudah melihat kedua jenazah tersebut dan mengatakan bahwa mereka orang tua kandungnya!" jelas Abu.


Kata terakhir yang diucapkan Abu terdengar sedih. Kemungkinan dia prihatin atau bersimpati kepada Wanda. Sepertinya Wanda menangis ketika melihat jasad kedua orang tuanya, itulah yang ditangkap Rohan dari cara Abu berkata tadi.


"Baiklah, jika hasilnya sudah keluar langsung hubungi aku lagi, mengerti?!" ucap Rohan.


"Mengerti pak!" ucap Abu.


Panggilan pun terputus. Sebenarnya ada rasa iba dari Rohan kepada Wanda. Bayangkan saja diumur dia yang seharusnya masih bahagia bersama kedua orangtuanya, ia justru harus menelan pil pahit dengan menyaksikan secara langsung Kematian kedua orangtuanya. Mungkin itu jugalah yang membuatnya menjadi tidak punya hati seperti sekarang.

__ADS_1


"Sungguh malang nasibmu, Wanda!" ucap Rohan prihatin.


Rohan kembali kedalam bioskop mini. Sahabatnya juga sudah menunggunya daritadi.


"Apa ada masalah, Rohan? siapa yang telepon? kenapa lama sekali?" selidik Tomi.


"Ah, bukan apa-apa! hanya Abu yang menelepon!" ucap Rohan.


Mereka melanjutkan menonton film sambil ditemani pop corn dan berbagai camilan lain yang sudah disiapkan di sana bahkan buah dan minuman juga tak lupa siapkan oleh para koki untuk menemani me time mereka.


********


Hari ini Pretty akan keluar membelanjakan kartu kredit pemberian Darel. Satu syarat yang harus Pretty lakukan jika akan pergi keluar yaitu dikawal oleh anak buah Darel. Anak buah Darel akan berpakaian biasa agar tidak menaruh perhatian orang ramai serta menjaga jarak beberapa meter dari Pretty.


Tentu saja Pretty tidak keberatan, toh dulunya dia juga seperti itu. Hal itu sudah dianggap biasa oleh Pretty sehingga dia tidak menaruh curiga. Terlebih lagi, tidak masalah syarat apapun yang harus dia patuhi asalkan bisa menikmati berbelanja menghabiskan uang Darel.


Pretty sudah dalam perjalanan menuju mall dan janjian dengan sahabatnya di sana. Membelanjakan uang Darel sudah menjadi hal wajib untuk Pretty saat masih menjadi kekasih Darel dulu. Apapun keinginan Pretty, Darel akan langsung mengabulkannya.


Hingga suatu hari Pretty tahu dia tengah mengandung anak orang lain. Pretty tidak ingin menikah dengan ayah kandung bayi itu, dia ingin menikahi Darel. Hanya Darel yang pantas bersanding dengannya. Rencana licik pun dia buat untuk menjebak Darel. Sungguh disayangkan, bukan Darel yang bersamanya tapi malah Zanu.


"Wahhhh, gila, lo jadi selingkuhannya Darel?" tanya sahabat Pretty.


"Yoi! dan tau nggak, dia beliin gue apartemen mewah! makanan enak! dan ini lagi!" menunjukkan kartu kredit pemberian Darel.


"Kenapa nggak black card? bukannya dulu dia kasih black card nya buat elo?" tanya sahabat Pretty.


"Eh, ini aja nominalnya nggak terhitung woi! udahlah, nggak masalah kalau bukan black card yang penting isinya banyak!" ucap Pretty.


Mereka berdua keluar masih stand di mall itu untuk membeli apapun yang mereka suka. Bahkan tas yang ada ditangan mereka sudah tidak terhitung lagi jumlahnya.


"Eh, laper nih! ayo makan!" ajak sahabat Pretty.

__ADS_1


"Ay...." menatap bodyguard Aqis yang sedari tadi mengikutinya.


"Ah, lain kali aja deh! gue harus balik ke apartemen, capek!" ucap Pretty.


"Oh, okeh! thanks ya buat ini!" ucap sahabat Pretty sembari mengangkat tas di tangannya.


"It's okey, bukan masalah itu mah, selagi ada ini!" sembari mencium kartu kreditnya.


"Yaudah bye!" ucap Pretty lagi.


Huh, mau aja lo gue manfaatin! kalau bukan karena lo kaya mana sudi gue temenan sama lo! najiss!!! batin sahabat Pretty.


********


Hari itu papa dan mama Daniar berencana mengunjungi anak pertama mereka, Galih. Semenjak Galih ditahan dipenjara, mereka belum berani mengunjunginya. Pernah satu kali mereka datang bersama Daniar dan Mentari, namun mereka tidak masuk menemuinya.


"Pah, nanti kalau sudah sampa ini di sana jangan kebawa emosi ya! mama tau ini salah, setidaknya dia sudah menebusnya dengan mendekam dipenjara!" ucap mama Daniar ketika dalam perjalanan.


"Papa akan berusaha mengontrol emosi papa, ma! tapi papa tidak janji!" ucap papa Daniar.


Tidak butuh waktu lama, mereka berdua pun sampai di kantor polisi. Setelah memarkirkan mobil, papa dan mama Daniar langsung masuk ke ruangan yang sudah disediakan untuk menjenguk para narapidana.


"Tuan Galih, ada keluarga anda yang datang menjenguk!" ucap seorang polisi ketika memanggil Galih didalam sel nya.


Polisi itu membuka gembok sel dan berjalan dibelakang Galih untuk mengawalnya. Sebelum itu, tangan Galih sudah diborgol hanya untuk kewaspadaan saja.


"Mama? papa?" tanya Galih ketika melihat orang tuanya yang datang mengunjunginya.


"Sayang!!!!" ucap mama Daniar sembari memeluk Galih.


Papa Daniar masih berdiam ditempatnya. Terlihat jelas dari wajahnya rasa kekecewaan yang begitu mendalam kepada anak sulungnya itu.

__ADS_1


"Kamu apa kabar, nak?" mengelus lembut wajah Galih.


"Baik ma, mama sama papa apa kabar? Daniar mana?" tanya Galih bahagia.


__ADS_2