Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 304


__ADS_3

Aziz yang baru saja pulang dari bertemu bersama kekasihnya itu terlihat sangat frustasi. Pasalnya tadi saat mereka bertemu, kekasihnya mengatakan bahwa dia sudah satu minggu telat datang bulan. Hubungan Aziz dan kekasihnya memang telah sejauh itu. Mereka bahkan kerap melakukannya saat Aziz berada di kosnya. Maka dari itu dia lebih suka di kos daripada di rumahnya.


Aziz juga sering berbohong kepada orang tuanya mengenai uang kuliahnya. Sering kali jika dia ingin berkencan, maka Aziz akan meminta uang tambahan dengan dalih untuk kuliahnya.


"Gimana caranya gue bisa nikahin Rara?! gue masih pengen kuliah!!" gumam Aziz saat berada di kamarnya.


Dok....dok....dok....


"AZIZZ!!!! BUKA PINTUNYA!!!! AZIZ BUKAAA PINTUNYAAAA!!!" teriak Abdulah.


Abdulah menggedor-gedor pintu kamar Aziz yang dikunci dari dalam. Terdapat sebuah surat ditangannya.


"Bapak?! kok nadanya kayak marah gitu?" tanya Aziz.


Aziz segera membuka pintu kamarnya. Dan dilihatnya bahwa bapaknya ini tengah sangat marah.


"APA YANG TELAH KAMU PERBUAT, AZIZ!!!!" teriak Abdulah.


"Apa sih, pak?! datang-datang langsung marah-marah! emang Aziz ngapain sampai bapak marah begitu?" tanya Aziz yang belum tahu penyebab bapaknya itu marah besar.


"KAMU DIKELUARKAN DARI KAMPUS, AZIZ!!! JAWAB APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN DIRUMAH MENTARII!!!" teriak Abdulah.


"APAAAA?!!" teriak Aziz terkejut dan langsung merebut surat di tangan bapaknya.


Dibacanya dengan teliti isi surat tersebut dimana dirinya dinyatakan dikeluarkan dari universitas. Alasan dikeluarkannya dari universitas adalah karena telah mengganggu tuan Darel Sanjaya hingga menyebabkan reputasi sekolah terancam tercemar dan juga terancam digusur.


Aziz yang membaca isi surat itu terduduk lemas di lantai.


"B... bagaimana bisa? aku...aku.... dikeluarkan?!"


"JAWAB BAPAK!!! APA YANG TELAH KAMU LAKUKAN DIRUMAH MENTARI HARI ITU!!!!" ucap Abdulah sambil mengguncangkan tubuh lemas Aziz.


"Aku....aku cuma....cuma...." Aziz tergagap.


"Kamu pasti mencari gara-gara kan dengan Mentari?! kamu nih punya otak, bapak juga sekolahkan kamu tinggi-tinggi mbok ya dipakai otakmu ituuu!!! sudah cukup ibu kamu yang mendekam dipenjara karena mengganggu Mentari dan keluarganya, sekarang kamu tambahin lagi sampai-sampai kamu dikeluarkan dari kampus!!" ucap Abdulah frustasi.


Bagaimana tidak. Uang hutang untuk Mentari saja belum dia dapat sekarang ditambah lagi anak satu-satunya dikeluarkan dari kampus.


Abdulah ikut terduduk di lantai sambil menangis frustasi.


"Pak! maafin Aziz, pak!! ayo temui Mentari dan bujuk dia untuk memasukkan Aziz kembali ke kampus!!" rengek Aziz.


"Mana bisaa?!!! ini bukan kuasa Mentari tapi suaminya!! kau sudah salah mencari lawan, Aziz!! sekarang kita harus bagaimana?! bapak sudah tidak bekerja, kamu dikeluarkan, ibumu juga dipenjara, belum lagi hutang ibumu kepada Mentari yang sangat banyak itu!!" ucap Abdulah.

__ADS_1


"Pak aku..." terhenti.


Ucapan Aziz terhenti saat mendengar ketukan pintu. Mereka berdua pun segera bangkit dari duduknya kemudian berjalan menuju pintu depan.


Tok...tok...tok...


"Permisiii!!!" panggil seorang wanita.


Mata Aziz membulat sempurna saat melihat siapa tamu yang datang kerumahnya.


"Sayang?!" tanya Aziz menghampiri kekasihnya.


"Kamu ngapain kesini?" tanya Aziz.


"Ayo aku antar pulang!" ucap Aziz.


Aziz menghindari bapaknya yang menatapnya curiga. Dia masih belum siap menceritakan semuanya, dia juga belum siap menikah muda. Dia sungguh belum siap.


"Kamu kenapa ngusir aku kasar banget sih, yang?! aku ini lagi hamil loh!!" ucap wanita itu membuat Abdulah terkejut.


"Hamil?! anak siapa?!" tanya Abdulah.


Abdulah berpikir positif bahwa anak yang dimaksud wanita itu bukan benih dari putranya. Namun wanita tadi memanggil Aziz dengan sapaan sayang, mungkinkah anak yang dikandungan wanita itu benih putranya?


"Pak..."


"Anak Aziz, om!" sahut perempuan itu dengan cepat sebelum Aziz menjawab.


"Apaaa?!! Aziz! apa benar yang dikatakan perempuan ini? kamu menghamili anak orang?!" tanya Abdulah.


"Pak, dengerin Aziz dulu! Aziz bisa jelaskan!" ucap Aziz.


"Yang! kok kamu gini sih?! dulu kamu bilang kamu bakalan tanggung jawab kalau sampai aku hamil! sekarang kamu malah begini!!!" ucap perempuan itu.


"DIAM KAMU, RARA!!" bentak Aziz membuat Rara syok.


"Kamu bentak aku?! tega kamu, Ziz! setelah kamu hamilin aku, terus kamu buang aku gitu aja!" ucap Rara.


"Baik kamu pulang dulu, aku akan biavrakan hubungan kita dengan bapak!" ucap Aziz sudah lebih lembut.


"Oke! aku kasih waktu kamu 24 jam! kalau dalam waktu itu kamu nggak ada itikad baiknya, aku akan buat perhitungan sama kamu!" ancam Rara.


Setelah kepergian Rara, Aziz mendekati bapaknya yang terlihat sangat syok dan tertekan.

__ADS_1


"Pak..."


Plak....


Sebuah tamparan keras melayang di pipi Aziz.


"Bapak kecewa sama kamu, Ziz! sia-sia bapak sekolahkan kamu tinggi-tinggi disekolah elit pula kalau kelakuan kamu nggak jauh berbeda sama binatang!" maki Abdulah.


********


Daniar kini tengah berbincang dengan Mentari. Banyak hal yang mereka bicarakan sedari tadi. Zanu yang juga ada dirumah itu memilih menjauh lebih dulu dan membiarkan dua sahabat itu.


"Kamu tau kekasih kak Galih?" tanya Daniar.


"Yang waktu itu?" tanya Mentari.


"Iya! dia meminta kakak buat segera menikahinya!" ucap Daniar.


"Terus-terus?" tanya Mentari penasaran.


Pasalnya wanita yang saat ini menjadi kekasih Galih adalah wanita lain ketika dihadapan Mentari. Wanita itu seolah menganggap Mentari adalah saingan terberatnya, padahal Mentari tidak merasa seperti itu. Wanita itu kala dihadapannya seolah orang lain. Sangat jutek dengan bahasa yang kadang kasar. Berbeda kala dihadapan Daniar atau keluarganya yang lain, wanita itu akan bersikap lembut, anggun, dan tutur kata yang sopan.


"Ya gimana lagi, kak Galih setuju lah! aku tuh kadang heran deh, dari mana sih kakak dapet cewek kayak begitu?!" ucap Daniar.


"Emangnya kenapa? dia cantik kok!" tanya Mentari.


"Kamu pura-pura lupa atau emang lupa?" tanya Daniar dengan memicingkan matanya kearah Mentari.


"Emangnya aku kenapa?" tanya Mentari yang tidak mengerti maksud Daniar.


"Saat dirumah nenek dulu dia berkata kasar kan padamu? aku mendengar semuanya maka dari itu aku tidak menyukai wanita itu." ucap Daniar.


"Jadi, kamu dengar semuanya?" tanya Mentari terkejut.


"Kenapa? kaget yaa? aku sengaja sembunyi saat setelah dari kamar mandi, karena aku lihat kalian ngobrolnya serius banget sampai akhirnya aku tahu sifat asli dia." ucap Daniar.


"Lalu, kamu bakal gimana? kasian kak Galih juga kalau dia menikah dengan wanita bermuka dua seperti dia." ucap Mentari.


"Biarin ajalah! toh itu pilihan dia sendiri! kalau ada apa-apa ya ditanggung sendiri!" ucap Daniar dengan entengnya.


"Kamu jangan gitu dong! mau bagaimana pun juga kak Galih itu kan kakak kamu! kalau kak Galih kenapa-kenapa, kamu juga kan ikut sedih!" ucap Mentari.


"Biarin ajalah, Tari! mungkin ini karma buat dia karena telah membuatmu keguguran waktu itu!" ucap Daniar membuat Mentari geleng-geleng kepala.

__ADS_1


"Huftt! terserah kamu aja deh!" ucap Mentari pasrah.


__ADS_2