Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 219


__ADS_3

Beberapa bulan kemudian. Malam itu terasa sangat dingin bagi Darel. Karena kepergian Mentari, Darel memutuskan untuk kembali ke perusahaan dan kembali mengaktifkan kelompoknya yang sempat tidak terurus olehnya. Pencarian adik dari Jo sudah dilakukan mereka semua, namun masih belum mendapatkan titik terang. Masih ada dua foto yang belum ditemukan orangnya. Menurut informasi yang didapat Jack, salah satu dari kedua foto itu ada di panti asuhan namun tidak jelas di panti asuhan yang mana. Sedangkan yang satu lagi berada di Amerika menjadi seorang model terkenal. Namun kembali lagi, karena informasi yang masih belum jelas mereka belum bisa melanjutkan pencarian.


Di sisi Jo, mereka mulai mempersiapkan untuk mengambil kembali Suli. Sebenarnya bukan hanya foto adiknya saja benda berharga yang dicuri, namun juga sebuah informasi yang menyangkup seluruh wajah kelompoknya. Hal itu berdampak buruk jika sampai tersebar luas karena anak buahnya sering berkeliaran dengan identitas lain ketika ada misi. Ya, misi menc*lik anak kecil. Jo tidak mengetahui bahwa informasi ini bukan Suli yang mengcopy nya melainkan orang lain.


Di markas Arul.


"Rel, kau sudah lebih baik?" tanya Arul prihatin.


Kondisi Darel sangat memperihatinkan. Tubuh yang semakin kurus, wajahnya ditumbuhi jambang, dan terlihat lesu.


"Hem!" jawab Darel singkat.


"Jangan bahas itu dulu daripada kau nanti kena amuk!" bisik Tomi.


"Jadi apa ad yang sudah menemukan keberadaan kedua anak itu?" tanya Rohan mengalihkan pembicaraan.


"Ah, iya! anak buahku memberi informasi kalau yang berada di Amerika itu bukan orang yang kita cari." ucap Zanu.


"Dari mana kau tahu?" tanya Arul.


"Suli bilang ada tanda lahir dibelakang punggung bagian kanan anak itu! dan saat di cek ternyata tidak ada tanda itu." jawab Zanu.


"Berarti tinggal satu anak yang harus kita cari?" tanya Bagas.


"Iya, tapi keberadaan anak itu tidak diketahui. Seperti hilang ditelan bumi." keluh Jack.


Tomi memegang foto anak yang diberikan Suli, memutar-mutarnya sambil melamun.


"Oke selagi kita belum menemukan anak itu, tetap lanjutkan pencarian. Oh ya Zen, bukankah pernikahanmu tinggal hitungan hari saja? kenapa kau masih keluar?" tanya Darel datar.


"Tidak masalah!" ucap Zanu santai.


"Itu tidak baik untukmu loh! aku saja tiga hari sebelum menikah dikurung dulu didalam rumah!" ucap Arul.


"Itu sih sesuai kepercayaan kalian aja! aku juga percaya namun ini juga hal penting tidak bisa aku lewatkan. Lagian asalkan aku hati-hati pasti semua akan baik-baik saja!" ucap Zanu.


"Terserah kau saja lah!" ucap Tomi.


Hubungan persahabatan mereka sudah mulai membaik sekarang. Darel dan Zanu sudah lebih terbuka seperti dulu lagi. Dua hari lagi adalah pernikahan Daniar dan Zanu. Darel berharap di momen itu Mentari hadir. Yah, karena seperti yang kita tahu, Mentari dan Daniar seperti saudara dan Mentari juga bagian dari keluarga Daniar. Galih sudah bebas dari penjara satu bulan yang lalu. Darel mencabut hukumannya karena merasa itu bukan sepenuhnya salah Galih. Berada di dalam penjara hampir satu tahun lamanya dirasa sudah cukup untuk Darel memberi pelajaran kepada Galih.


Setelah obrolan cukup panjang, mereka memutuskan untuk kembali ke rumah masing-masing. Tomi kembali ke rumahnya. Waktu menunjukkan pukul sepuluh malam. Pandangan Tomi tertuju kearah sofa, tempat dimana kekasihnya terlelap karena menunggunya.


Tomi mendekat ke arah Shiren, mengusap lembut pipi mulus sang kekasih. Tidak terasa Tomi menyunggingkan senyumnya melihat betapa indah wanitanya ini.


"Eh, sayang! kamu udah pulang?" tanya Shiren yang terbangun akibat merasakan sentuhan tangan Tomi.


"Maaf ya, tadi agak lama!" ucap Tomi lembut.


"Hoahhhh!! nggak apa-apa kok!" ucap Shiren sambil menguap.

__ADS_1


"Ya sudah kamu tidur aja, udah malam!" ucap Tomi berdiri.


Tanpa aba-aba Tomi langsung menggendong tubuh Shiren dan membawanya kedalam kamarnya.


"Selamat tidur sayang kuu!" ucap Tomi.


"Selamat tidur juga!" balas Shiren.


Tomi mengecup lembut kening Shiren sebelum akhirnya meninggalkan kamar Shiren dan kembali ke kamarnya.


********


Pagi hari mulai menyapa. Tomi bangun lebih dulu. Setelah mencuci muka, Tomi langsung menuju dapur membuatkan sarapan untuk kekasihnya. Mencium aroma masakan membuat Shiren terbangun dari tidurnya. Dia tahu kalau Tomi sedang memasak didapur. Shiren memutuskan untuk ke kamar mandi lebih dulu, berbenah diri lalu menyusul Tomi ke dapur.


"Pagi sayang!" sapa Shiren sambil memeluk Tomi dari belakang.


"Pagi! udah bangun aja? gimana, nyenyak nggak tidurnya?" tanya Tomi sembari mengelus pelan pucuk rambut Shiren.


"Nyenyak kok! aku bangun karena mencium aroma masakanmu!" ucap Shiren manja.


"Mau coba?" tanya Tomi.


Shiren mengangguk sambil menyunggingkan senyum manisnya. Tomi bergegas mengambil sumpit lalu mengambil sedikit makanan yang tengah dia buat. Sebelum menyuapi Shiren, Tomi meniup dulu makanan itu yang memang masih panas. Setelah dirasa tidak terlalu penas, Tomi menyuapi Shiren.


"Bagaimana rasanya?" tanya Tomi.


"Enak!!! seperti biasa hehehe!" ucap Shiren tertawa sambil mengacungkan dua jempol kearah Tomi.


Shiren mengangguk patuh. Dia berjalan menuju meja makan. Hingga tidak lama berselang Tomi datang dengan membawa berbagai macam masakan yang dibuatnya khusus untuk Shiren.


"Yo dimakan!" ucap Tomi.


"Iya!" ucap Shiren bersemangat.


Mereka menyantap sarapan itu dengan bahagia dan penuh cinta. Sesekali mereka bercanda tawa bersama. Tawa mereka seolah memenuhi rumah ini.


Tidak membutuhkan waktu lama, hidangan yang dibuat Tomi sudah habis tidak tersisa. Tomi hendak beranjak dari duduknya ingin membawa piring kotor ke dapur untuk dicuci. Tanpa sengaja sebuah foto terjatuh dari celana Tomi. Shiren memungutnya dan alangkah terkejutnya dia melihat foto itu.


********


Di tempat Arul. Arul mulai kebingungan, Anisa meraung-raung kesakitan sejak tadi pagi. Arul pikir Anisa akan melahirkan anak mereka. Arul berubah menjadi suami siaga dengan membawa tas bayi dan peralatan lainnya. Dia menyuruh sopir membawa mereka ke rumah sakit Bagas secepatnya. Dengan hati-hati Arul menuntun sang istri yang meringis kesakitan. Keringat Anisa membanjiri baju tipis yang dia kenakan saking sakitnya.


"Pak cepat pak!" teriak Arul panik.


"Iya tuan!" ucap pak sopir membukakan pintu untuk tuannya.


Mereka bergegas menuju rumah sakit. Sepanjang perjalanan, Anisa terus merintih kesakitan, tangannya mencengkram kerah Arul dengan kuat hingga membuat Arul sedikit tercekik.


"Cepat, pak! cepat sedikit!" perintah Arul.

__ADS_1


"Ini sudah sangat cepat tuan!" ucap sopir dari balik kemudi.


Cukup lama hingga akhirnya mereka tiba di rumah sakit. Angel yang melihat kedatangan Arul sambil menuntun Anisa yang terlihat kesakitan langsung mendekati mereka.


"Nisa? air ketubanmu sudah pecah!" ucap Angel yang sudah menghampiri Anisa dan Arul.


"Huh....huh....huh....Angel, aku tidak tahan lagi!!! sakit sekaliii!" ucap Anisa dengan terus membuang nafas seperti yang dia pelajari dari senam yoga untuk bumil.


Satu orang suster membawakan brankar lalu Arul dengan hati-hati menidurkan sang istri ke atas brankar. Mereka mendorong brankar menuju ruang persalinan.


"Angel, aku ingin menemani istriku!" ucap Arul panik.


Air matanya mengalir begitu saja, khawatir dan takut kehilangan cintanya membuatnya menjadi lemah.


"Tapi?"


"Angel, biarkan suamiku menemaniku! ku mohon!" ucap Anisa disela kesakitannya.


"Emm, baiklah! mungkin dengan anda disampingnya membuatnya lebih kuat!" ucap Angel.


Angel dibantu dokter kandungan membantu persalinan Anisa. Anisa terus menjerit kesakitan dan tangannya memegang tangan suaminya dengan sangat erat.


"Sayang kau pasti kuat! maafkan aku! aku tidak akan membuatmu hamil lagi! sudah cukup! aku tidak ingin kau merasakan kesakitan lagii! bertahanlah sayang!!!" ucap Arul terisak.


"Ayo dorong terus Bu! sedikit lagi! kepalanya sudah mau keluar! tarik nafas! satu....dua...tiga...dorong!!" instruksi dokter kandungan.


"Huh...huh...huh....AAAAAAA!!!" jerit Anisa.


Oekk....oek....oek....


"Alhamdulillah! bayinya laki-laki tuan!" ucap dokter kandungan sembari menggendong bayi mungil Arul.


Arul terlihat meneteskan air mata bahagia. Berulang kali dia mencium wajah sang istri sebagai wujud terimakasihnya karena sudah melahirkan anaknya juga sudah kuat karena telah berjuang hidup dan mati demi kelahiran anaknya.


"Terimakasih sayang!!! terimakasih karena sudah membuatku menjadi seorang ayah!!" ucap Arul disela isak tangisnya.


"Aku berhasil memberimu keturunan, sayang! kau sudah jadi ayah sekarang!" ucap Anisa tersenyum bahagia meski masih lemah.


Angel membawa anak Arul kemudian membersihkannya lalu membedong bayi mungil itu. Setelah selesai, Angel membawanya untuk menemui Arul.


"Tuan, anak anda! dia sangat tampan mirip dengan ayahnya!" ucap Angel sembari memberikan putra Arul.


Arul menggendong putra pertamanya dengan sangat hati-hati. Satu bulan belakangan ini dia sudah belajar cara menggendong bayi yang masih kecil agar dia tidak salah gendong anaknya nanti.


"Hai anak papa! kamu tampan sekali! sayang lihat anak kita! jagoanku! lihat dia!" ucap Arul memperlihatkan wajah putranya kepada Anisa.


"Dia mirip sekali denganmu! matanya, hidungnya, bibirnya! persis sepertimu!" ucap Anisa lemah.


"Terimakasih karena sudah melahirkan malaikat kecil yang tampan untukku!" ucap Arul berterimakasih.

__ADS_1


Entah berapa banyak ucapan terimakasih yang sudah Arul lontarkan kepada sang istri masih belum cukup rasanya bagi Arul, mengingat perjuangan istrinya yang telah mengandung sembilan bulan lebih, mengorbankan tubuhnya yang ramping dan indah untuk ditempati benihnya selama sembilan bulan, dan belum lagi saat yang paling sakit ialah melahirkan karena akan berada diantara hidup dan mati.


Untuk wanita yang tengah mengandung dan yang sudah merasakan sakitnya melahirkan, kalian adalah wanita yang hebat☺️🥰


__ADS_2