
Didalam ruangan Jafar. Jafar, Rumini, Lula dan ketiga anak buahnya tengah berkumpul. Jafar dan anak buahnya yang babak belur akibat serangan Hyuna tadi telah diobati lukanya oleh Rumini dan Lula.
"Bebeda* bocah tengil itu!!! awas saja dia, akan aku beri perhitungan!!" umpat Jafar saat Rumini mengobati lukanya.
"Lula, ambilkan ponselku!" perintah Jafar pada Lula.
Lula berdiri lalu mengambil ponsel Jafar yang ada di atas meja kemudian memberikannya kepada ayahnya.
Jafar menerima ponselnya, mengetikkan sebuah nomor lalu meneleponnya.
"Ya, Jafar! ada barang bagus apa hari ini??" tanya seorang laki-laki yang juga merupakan salah satu langganan Jafar.
"Ada barang bagus, tuan! masih perawa*, umurnya sekitar tujuh atau delapan tahun. Kalau tuan mau, tuan kesini saja langsung, harga bisa kita nego kan!" ucap Jafar.
"Wahhh, menarik juga! sudah lama saya tidak merasakan bermain dengan gadis perawa*! kau buka dengan harga berapa gadis itu?" tanya pelanggan Jafar.
"Bagaimana kalau 1 m, tuan?? barang ini beda dari yang lain, tuan! kulitnya juga putih mulus terawat! yakin barangnya juga akan membuat anda ketagihan!" promosi Jafar.
"1 m? sebagus apa barang barumu itu?! kau membuatku semakin penasaran saja. Baiklah, besok pagi aku kesana untuk melihat barang mu itu!" ucap pelanggan Jafar.
"Ah, baik tuan! kami akan menunggu anda!" ucap Jafar.
Panggilan pun terputus.
"Gimana, yah? dapat?" tanya Rumini.
Lula yang tengah mengobati luka anak buah ayahnya itu juga mencuri dengar pembicaraan Jafar dan pelanggannya. Lula yakin kalau barang baru yang dimaksud ayahnya itu adalah Hyuna. Pasalnya, tidak ada anak lain yang masih suci disini selain Hyuna karena memang baru satu hari disini.
"Beres!! besok dia kesini. Aku menawar dengan harga yang tinggi untuk bocah itu!" ucap Jafar.
"Bagus kalau gitu, yah!! kita bisa cepat kaya. Oh ya, transfer uang ke rekening mama dong, mama mau arisan nih. Mau beli emas baru, biar bisa dipamerkan ke ibu-ibu lain!" ucap Rumini.
Rumini memang suka mengikuti arisan ibu-ibu sosialita. Dulu sebelum mereka mengenal pekerjaan ini, hidup mereka serba kekurangan belum lagi Rumini yang sering keguguran akibat kekurangan gizi saat hamil sebelum Lula. Lalu suatu hari, seorang pria asing menawari Jafar pekerjaan seperti ini. Mereka pun mulai menggeluti dunia gelap ini hingga sudah hampir lima belas tahun lamanya karena memang Jafar dan Rumini dahulu menikah diusia yang masih sangat muda.
Ekonomi mereka juga semakin bertambah, gaya hidup pun semakin berubah, terutama Rumini yang apa-apa harus dari barang branded. Jafar dan Rumini tinggal di perumahan elit dimana warga yang tinggal disana rata-rata orang kaya. Sebagian besar suami mereka adalah seorang pejabat, namun juga ada yang seorang pebisnis.
Rumini selalu ingin menjadi yang paling kaya diantara ibu-ibu lain, namun ada seorang ibu-ibu yang memang dia sudah kaya dari lahir ditambah suaminya adalah pengusaha batubara. Walau demikian ibu itu terkesan sangat sederhana, pakaian pun biasa saja namun memiliki harga yang luar biasa mahalnya. Rumini selalu kalah jika dibandingkan dengan ibu-ibu itu.
__ADS_1
"Kan kemarin baru aja aku transfer lima ratus juta, kemana aja uangnya?!!" ucap Jafar.
"Ya udah habis lah yah! buat shopping, perawatan! kan aku begini juga buat kamu!" ucap Rumini.
"Huftt, yasudah nanti aku transfer!" ucap Jafar pasrah.
"Yeyyy, jangan lupa ya ayah!" ucap Rumini menciu* bibir suaminya.
Adegan itu dilihat langsung oleh Lula dan ketiga anak buah Jafar.
"Kalian, kalau mau main, main saja ditempat biasa. Jangan ganggu saya!" usir Jafar karena saat ini ada sesuatu yang harus dituntaskan dengan Rumini.
Itu sudah menjadi hal biasa bagi Lula. Bukan hanya melayani para pelanggan Jafar, Lula juga dipaksa melayani ketiga anak buah Jafar. Lula muak, namun dia bisa apa?! melawan pun tidak ada gunanya.
Di samping ruangan Jafar itu lah ruangan yang biasa Lula gunakan untuk memenuhi kebutuhan tiga anak buah Jafar. Lula digili* secara beramai-ramai oleh tiga orang itu hingga ketiganya merasa puas.
Menjelang pagi, Lula terbangun dengan tanpa sehelai benangpun menutupi tubuhnya. Bahkan cairan sisa anak buah Jafar masih berceceran di tubuhnya. Lula bangun dengan hati-hati walau bagian bawahnya terasa nyeri akibat gempuran semalam.
Lula pergi ke ruang penyekapan setelah membersihkan tubuhnya dari cairan itu.
"Kau?! kenapa kau kesini?! mau menertawakan kami?!" kesal Nina saat melihat Lula berjalan mendekat ke arah mereka.
"Hyuna, kau harus segera pergi dari sini!" ucap Lula tidak mengindahkan perkataan Nina.
"Buat apa? tidak usah bersandiwara lagi dihadapan kami! sudah cukup kami tahu bagaimana wajah aslimu, jadi jangan berlagak sok lagi dihadapan kami!!" cerca Anika.
"Mengertilah! ini sangat darurat! Hyuna harus segera pergi dari sini kalau tidak Jafar akan..."
"Apa pedulimu?! bukanya harusnya kau senang karena rencana ayahmu berjalan mulus?!! kau adalah ular paling berbisa yang pernah aku temui, Lula!!!" ucap Nina dengan emosi.
"Aku tahu kalian kecewa padaku! tapi ini berbeda, Hyuna akan dijual oleh Jafar!!" ucap Lula.
"Simpan sandiwaramu itu ditempat lain, Lula! jangan pernah kau tunjukkan wajah iba mu itu lagi pada kami!! kami tidak sudi melihat bahkan mendengar namamu saja membuat kami jijik!!" maki William.
"LULAA, APA YANG KAU LAKUKANNN?!!!" hardik Jafar yang baru datang bersama seorang pria dan yang lainnya.
"Ah, tadi mereka berisik sekali! jadi aku membantu melihat, takut mereka kabur!" elak Lula.
__ADS_1
"Ah, putriku memang sangat pintar! bagus-bagus!!!" puji Jafar.
"Nah, Jafar, mana barang yang kau maksud tadi?" tanya pria yang berdiri di samping Jafar.
"Itu tuan Boy!!" tunjuk Jafar.
"Dia sedikit melawan saat aku bawa kesini jadi sedikit memar! tapi kenikmatannya masih aku jamin kok, anda tenang saja!" ucap Jafar berkilah.
"Hemm, cukup bagus juga!!" ucap tuan Boy.
Tuan Boy menjentikkan jarinya, lalu anak buahnya menghampirinya sambil menunjukkan sebuah koper. Ketika dibuka, koper itu ternyata berisi uang.
"1 m! tidak lebih dan tidak kurang! berikan barang mu itu padaku!!" ucap tuan Boy.
Jafar menerima uang itu dengan mata berbinar.
"Cepat bawa bocah itu!" ucap Jafar.
Dua orang anak buah Jafar membawa Hyuna namun tangannya masih terikat, takut kalau Hyuna akan melakukan perlawanan lagi seperti semalam.
"Lepas!!! Hyuna mau dibawa kemana!!! lepaskan Hyunaa!!!" teriak Hyuna.
"Berhenti!!! lepaskan Hyuna!!!" teriak Artha.
Salah satu anak buah Jafar menendang Artha hingga dia tersungkur ke belakang.
"Kak Artha, tolong Hyunaa!!!" teriak Hyuna.
"DIAMMM!!!" bentak Jafar.
"Bawa dia, cepattt!!!" perintah Jafar kepada anak buahnya.
Hyuna dibawa keruangan itu. Ruangan dimana anak-anak akan memuaskan keinginan setiap pelanggan Jafar. Hyuna memberontak namun karena tangan dan kakinya kembali diikat dengan posisi terlentang membuat Hyuna menjadi sulit melepaskan diri.
"Tinggalkan aku sendiri dengan gadis ini!!" ucap tuan Boy menatap dengan tatapan menjijikan ke arah Hyuna.
Hyuna mulai ketakutan, dia mulai menangis. Tuan Boy perlahan mulai mendekat ke arah Hyuna sambil membuka satu persatu membuka kancing bajunya hingga dadanya yang masih bidang itu terlihat dengan jelas. Mungkin usia tuan Boy saat ini sudah menginjak lima puluh tahun, namun tubuhnya terlihat masih sangat bugar dengan perut kotak-kotak dan lengan yang berotot.
__ADS_1
"Lepaskan Hyunaa!!!" ucap Hyuna memohon.
"Menangis lah!! menangis yang kencang!!! itu semakin membuatku tidak tahan ingin mencicipi mu!!" ucap tuan Boy menyeringai seram.