
Shiren berhasil menarik kakaknya menjauh dari Tomi. Rada kekanakan emang kakak dan kekasihnya ini kalau deket. Berasa kayak kucing sama tikus aja mereka ini.
"Kakak nih apa-apaan sih kayak anak kecil aja!? lagian aku kan ngomongnya jujur kak, aku akan jadi wanita paling bahagia kalau bisa menikahi Tomi. Kak, kakak tuh wali aku sekarang! dan aku mau saat aku menikah nanti aku mau kakak juga ikut andil didalamnya!" ucap Shiren.
"Kamu bilang kakak kekanak-kanakan? dia duluan Sha, yang mulai!" ucap Jo tidak terima jika Shiren membela Tomi.
"Duhh, kakak tuh emang nggak suka sama Tomi dari awal, jadi ya wajar dong kalau aku bela dia, secara dia juga calon suami aku!" ucap Shiren.
"Nggakk!!! nggak bisa gitu dongg!! kakak aja belum terima dia sebagai adik ipar kakak kok!" ucap Jo.
"Makanya jangan jadi kuda liar! jinakan dikit napa!" ucap Tomi yang tiba-tiba datang langsung merangkul pinggang Shiren membuat Jo terbakar api cemburu.
"Jauh-jauhhh ya lo dari adek gue!" ucap Jo memisahkan Tomi dan Shiren.
"Apa-apaan sih lo! ganggu aja!! iriiii....bilang bossss!!!!" goda Tomi yang kembali melingkarkan tangannya di pinggang Shiren.
Tomi memeluk Shiren dari belakang kemudian menyandarkan kepalanya di bahu mulus Shiren. Hal itu semakin membuat Jo terbakar cemburu.
"Eh kingkong! lepas!! tuh adek gue nggak bisa nafas nantiii!!!!" ucap Jo yang kembali memisahkan Tomi dan Shiren namun tidak berhasil.
"Aduhhh, kalian ini bisa nggak sih sehariiii aja nggak ribut! capek tau dengernya!!! pusing nih kepalaku!!" ucap Shiren yang menjaga jarak dari kedua pria itu.
"Ada apa kak?" tanya Ajid yang baru saja datang.
"Dahlah, ayo kita dansa aja!" ucap Shiren menggandeng lengan adiknya.
"Loh tapi merekaaa....." ucap Ajid yang menoleh menatap dua pria yang tengah melongo.
"Biarin ajalah mereka!" ucap Shiren lalu membawa Ajid berdansa.
Bukan hanya Shire dan Ajid, semua orang yang memiliki pasangan ikut berdansa dibawah gemerlap lampu yang berwarna-warni. Mereka berdansa dengan gembira seolah ikut bahagia dengan kembalinya Shiren di keluarga Jo.
"Ini semua gara-gara lo tuh! liat adek gue jadi dansa sama yang lain! sial*n lo emang!" ucap Jo kesal sambil menyikut lengan Tomi.
"Kok gue sih! lo tuh yang salah karena nggak ngerestuin cinta abadi kita!!" ucap Tomi mambalas menyikut perut Jo.
"Kak, mereka masih berantem tuh!" ucap Ajid yang kini berdansa dengan Shiren.
"Biarin aja lah mereka! paling nanti kalau capek berhenti sendiri!" ucap Shiren.
********
Malam harinya, Darel dan Mentari baru pulang saat sudah tengah malam. Acara Jo tadi benar-benar seru hingga mereka lupa waktu. Adi sudah kembali ke apartemennya sedangkan Harri mengantar Laila pulang lebih dulu.
"Sayang, kamu kenapa?" tanya Darel yang melihat Mentari termenung.
"Ah nggak apa-apa kok!" jawab Mentari.
"Ada masalah? cerita aja! aku kan suamimu!" ucap Darel yang kini telah duduk di samping Mentari.
"Baby Brian lucu yaa!"
"Kamu mau?"
"Kalau kamu mau kita bisa bikin kok yang lebih lucu! tapi syaratnya harus setiap hari, setiap saat, setiap jam !" ucap Darel lagi.
__ADS_1
"Ihh, kamu mah!" Mentari memukul dada bidang Darel membuat Darel semakin terkekeh gemas.
"Ya gimana lagi kalau nggak begitu?! kamu kan pengen punya anak, syarat punya anak kan harus rajin-rajin bercocok tanam sayang! kalau nggak gitu mana bisa jadi dedek bayi?!"
"Tauk lah aku males sama kamu!"
"Loh kok malah marah sih! aku kan bener! fakta loh sayang!"
"Bodo!!!!"
********
Dua minggu kemudian, Darel sudah bersiap untuk berangkat ke kantor. Pagi ini dia bangun terlambat karena kelelahan habis berladang bersama sang istri. Pukul delapan kurang seperempat pagi Darel baru saja bangun dari mimpi indahnya.
"Selamat pagi sayang, aku berangkat dulu yaa!!" ucap Darel lirih di samping telinga Mentari yang masih terlelap kemudian mengecup singkat kening Mentari.
Sebelum keluar kamar, Darel menarik selimut hingga menutupi pundak Mentari yang masih polos.
"Mbok nanti kalau Tari sudah bangun bawa saja makanannya ke atas ya! dia pasti capek!" ucap Darel memberi perintah kepada mbok Tini.
"Baik tuan!" jawab mbok Tini.
Darel pun berangkat dengan ditemani Adi dan Harri. Sesampainya di kantor, Darel tidak sengaja bertemu dengan Daniar yang juga baru saja datang saat keluar dari mobil. Daniar saat itu baru saja diantar oleh Zanu.
Sebenarnya Zanu sudah mengatakan kepada Daniar untuk resign saja dari pekerjaannya. Toh uang Zanu juga lebih dari cukup untuk delapan turunan mereka, namun karena Daniar menolak, Zanu pun tidak bisa memaksa istrinya. Apapun akan Zanu lakukan selagi itu bisa menyenangkan hati Daniar.
"Niar, baru tiba?" tanya Darel basa-basi.
"Oh, iya! soalnya dari tadi pagi aku muntah-muntah terus!" jawab Daniar.
"Ah nggak mungkin lah dia seperti itu! lagian aku sudah lebih baik kok! makanya ini baru datang ke kantor." ucap Daniar.
"Oh ya sudah kalau begitu! kalau kamu merasa tidak enak badan lagi langsung beritahu aku, atau Adi atau Harri! jangan sungkan-sungkan!"
"Iya terimakasih!" ucap Daniar.
Darel pun memasuki perusahaan disusul oleh Adi, Harri dan Daniar. Daniar masuk ke dalam lift khusus untuk karyawan sedangkan Darel masuk ke dalam lift khusus untuknya.
"Huekk!!! huekkk!!!! duhhh kenapa lagi sih?! padahal tadi udah nggak mual-mual loh!" ucap Daniar menahan muntahnya sambil mengusap pelan dadanya.
Tingg....
Begitu lift terbuka, Daniar langsung berlari menuju kamar mandi di sana untuk memuntahkan isi perutnya.
"Loh Daniar, kamu kenapa?!" tanya Rasya yang tidak sengaja melihat Daniar berlari menuju kamar mandi.
"Eh Ca ikut aku!" panggil Rasya kepada Ica.
"Kemana?!"
"Itu si Daniar tadi datang langsung lari gitu aja ke kamar mandi! takutnya ada apa-apa lagi!" ucap Rasya.
Tanpa pikir panjang, Rasya segera menarik tangan Ica dan berlari menuju kamar mandi.
Dok.....dok....dok....dok.....
__ADS_1
"Daniar!! kamu didalam? kamu kenapa?! buka pintunya Daniarr!!!" panggil Rasya sambil menggedor-gedor pintu kamar mandi yang tertutup, kemungkinan Daniar ada didalam sana.
"Huekkk.....huek.....huekk....." terdengar suara orang muntah dari dalam kamar mandi itu membuat Rasya dan Ica semakin panik.
"Daniar kamu kenapa?! Daniar buka pintunya, Daniar!!! kamu nggak apa-apa kan!!" tanya Ica dan Rasya khawatir.
Ceklekk....
"Daniar!!!" Rasya dan Ica langsung memegang tubuh Daniar.
Wajah Daniar terlihat pucat meskipun sudah memakai make up walaupun tipis. Tubuhnya juga terasa lemas hingga Rasya dan Ica harus memegangnya takut tiba-tiba jatuh begitu saja.
"Daniar, kamu sakit?! kalau sakit kenapa nggak ijin aja? wajah kamu udah pecat banget tuh lo!" ucap Ica yang berdiri disamping kanan Daniar.
"Aku cuma masuk angin aja kok! tiap malam harus lembur sampai pagi soalnya!" ucap Daniar lemah.
Rasya dan Ica membopong Daniar keluar dari kamar mandi lalu mendudukkannya di kursi yang ada di dekat sana.
"Duhh, kalau gitu aku antar ke ruang kesehatan aja yaa?! kamu kayaknya kurang fit banget loh! atau mau aku telfonin suami kamu?" tanya Rasya.
"Enggak! nggak usah! aku ke ruang kesehatan aja! mungkin tidur sebentar juga udah baikan!" ucap Daniar hendak berdiri.
Belum sempat Rasya dan Ica hendak membantu Daniar, Daniar sudah terjatuh pingsan lebih dulu ke lantai.
"Loh, Daniar!! sayang, Daniar!!!" ucap Nurul panik.
Nurul dan Wisnu tadi hendak memberikan obat dan teh hangat untuk Daniar atas perintah Darel. Tadi salah satu karyawan bilang Daniar berlari ke kamar mandi makanya mereka menyusul ke sana takutnya terjadi sesuatu. Dan benar saja, dari jauh mereka melihat Daniar yang jatuh pingsan di depan kamar mandi.
"Kenapa dia?! Niar....Niar bangun, Niar!!" ucap Nurul panik sambil menepuk-nepuk pipi Daniar namun tidak bangun juga.
"Kita bawa ke rumah sakit sekarang!" ucap Wisnu.
"Aku angkat dia kalian tolong bukain pintu ya!" ucap Wisnu mulai menggendong Daniar.
Rasya, Ica dan Nurul berlari di depan Wisnu membukakan pintu untuk mempersingkat jalan Wisnu. Hingga sampailah mereka di dekat mobil Wisnu, Nurul langsung membukakan pintu penumpang agar Wisnu bisa merebahkan tubuh Daniar di sana. Mereka pun bergegas menuju rumah sakit dengan Rasya yang ikut bersama mereka sedangkan Ica tetap tinggal di kantor.
"Hallo, tuan! Daniar pingsan di kamar mandi, tuan! ini saya dan Wisnu akan membawanya ke rumah sakit tuan Bagas!" ucap Nurul memberi kabar kepada Darel setelah mereka keluar dari pekarangan kantor.
"Apa?! kok bisa?! oke, kalian ke sana dulu nanti aku menyusul!" ucap Darel langsung berdiri dari kursinya.
"Ada apa tuan" tanya Adi setelah telepon dimatikan.
"Daniar pingsan di kamar mandi! Harri, kamu jemput istriku sekarang lalu antarkan ke rumah sakit Bagas! Adi kau ikut denganku!" ucap Darel bergegas keluar dari ruangan Darel.
*
*
*
*
*
Hai para reader, hari ini aku update empat episode yaa, semoga kalian bisa menikmati alur ceritanya. Oh ya untuk kisah hidup Mentari masih dalam teka-teki yaa. Apa sebenarnya yang terjadi dengan orang tua Mentari, siapa Mentari sebenarnya, dan siapa teman masa kecil Mentari akan author upload di episode mendatang. Ikuti terus kelanjutan cerita novel SUAMIKU MR MAFIA, jangan lupa like, komen, share+tips 😉🥰
__ADS_1