Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 236


__ADS_3

"Sebaiknya kita bahas lain kali saja masalah ini. Saat ini kita fokus pada keselamatan Darel saja dulu!" ucap Zanu.


Beberapa anak buah yang luka-luka juga mendapat penanganan di rumah sakit ini. Tidak berbeda dengan para tuan muda, mereka yang juga mengalami luka ringan mendapatkan perban di beberapa tubuhnya.


Candra yang hanya mendapatkan memar saja langsung menghampiri Mentari. Hatinya begitu hancur ketika melihat Mentari dengan setia berdiri di depan pintu ruangan Darel. Terlihat jelas bagaimana khawatirnya Mentari terhadap pria itu.


Ceklekk.....


Pintu ruangan Darel terbuka membuat yang lain langsung berkerumun di samping Mentari kecuali Candra yang hanya mendengarkan dari jauh.


"Bagaimana keadaan suami saya dok?!" tanya Mentari begitu saja.


"Dia baik-baik saja. Luka di punggungnya sudah kami tangani. Emm, apakah sebelum ini dia mengalami luka akibat ledakan?" tanya dokter itu.


Mereka semua saling pandang.


"Iya dok, dia terkena ledakan hingga akhirnya kami menemukannya tidak jauh dari ledakan itu!" ucap Bagas.


"Oh, andaaa....." tanya dokter itu seolah pernah berjumpa dengan Bagas.


"Saya Bagas, seorang dokter juga!" ucap Bagas memperkenalkan diri.


"Ohhh dokter muda itu yaa? wahh senang sekali bisa berjumpa dengan anda!" ucap dokter berjabat tangan dengan Bagas.


"Ahh, tidak terlalu muda juga kok!" ucap Bagas merendah.


"Jadi bagaimana dengan kabarnya dok?" tanya Tomi tidak sabaran.


"Ah, iya mengenai pasien. Dia masih kritis, denyut jantungnya sangat lemah saat kalian bawa ke sini tadi. Tapi untungnya kalian membawanya tepat waktu, jika telat sedetik saja mungkin nyawanya tidak akan tertolong!" jelas dokter.


"Kalian jangan khawatir, kamu sudah memberikan penanganan yang terbaik. Untuk saat ini detak jantung pasien sudah mulai stabil namun masih dalam masa kritis. Kalian berdoa saja agar pasien bisa cepat sadar kurang dari 24 jam, atau nyawa pasien akan dalam bahaya." jelas dokter lagi.


"Apa kami boleh menjenguknya?" tanya Rohan.


"Boleh, tapi hanya bisa satu orang ya." ucap dokter.


"Kalau begitu saya permisi dulu!" ucap dokter pamit pergi.


Mendengar penjelasan dokter barusan membuat tubuh Mentari melemas. Untung saja Zanu, Tomi, dan Shiren yang berada di belakang Mentari segera menopang tubuh Mentari atau jika tidak Mentari akan terjatuh di lantai.


"Darel....." ucap Mentari kembali menangis.


"Tari, kamu harus kuat! kita berdoa saja supaya Darel bisa segera siuman. Karena jika tidak, aku tidak akan memaafkan kakakku!" ucap Shiren tanpa menoleh ke arah Jo yang sudah memasang raut wajah ketakutan.


"Sharina, kenapa aku yang dibawa-bawa?!" tanya Jo tidak terima jika harus kehilangan adiknya untuk kedua kalinya.


"Karena ini semua salah kakak! aku tidak menghakimi kakak, tapi kakak sudah kelewatan. Lihat mereka semua! berapa banyak orang yang luka akibat salah paham kakak? belum lagi yang meninggal akibat perang tadi. Itu juga karena kakak menerima Dendi sebagai sekutu kakak!" jelas Shiren marah.


"Tapi tidak sepenuhnya salah kakak, Sharina! kakak tidak terima kalau kamu memusuhi kakak. Hukuman lain akan kakak terima kecuali yang ini!" ucap Jo.


"Terserah kakak saja lah!" ucap Shiren kembali menenangkan Mentari yang masih menangis.


"Sabar, Tari!" ucap Shiren.


"Mentari, sebaiknya kau menemui Darel lebih dulu!" ucap Zanu.


"Ah iya!" ucap Mentari menghapus air matanya.

__ADS_1


Mentari mulai memasuki ruangan Darel. Sebelum mendekat ke arah Darel, Mentari di pakaikan baju khusus berwarna biru dan tubuhnya di sterilisasi terlebih dahulu agar membunuh kuman yang tidak sengaja terbawa dari luar.


"Terimakasih, sus!" ucap Mentari.


Mentari berjalan ke arah Darel yang tengah berbaring di ranjang rumah sakit dengan berbagai alat berada di tubuhnya. Melihat hal itu, air mata Mentari jatuh lagi mengenang di pipinya.


"Sayang..." panggil Mentari lembut sambil mengusap rambut Darel.


"Kamu cepat bangun dongg!! kamu nggak kangen sama aku? aku kangen banget nih sama kamuu! aku udah maafin kamu kok, aku juga nggak bakal ninggalin kamu lagi setelah ini. Aku janji! tapi kamu harus bangun dulu yaa! aku kesepian, sayangg!" ucap Mentari sambil memeluk lengan Darel.


Air mata Mentari jatuh membasahi lengan Darel.


"Kenapa kamu nekat banget sih tadi? harusnya kamu nggak perlu datang. Aku nggak bisa liat kamu kayak gini. Ayo bangunnn!" ucap Mentari semakin menangis.


Mentari terus menangis sambil memegangi lengan Darel hingga tidak terasa dia tertidur di sana. Para suster yang berada disana tidak menegur Mentari karena ini masih jam menjenguk pasien.


Diluar ruangan Darel, Rohan ijin untuk menjemput Suli yang berada di ruangan lain rumah sakit itu. Sahabatnya pun mengijinkan dia.


"Hai!" sapa Rohan saat memasuki ruangan Suli.


"Hai!" sapa Suli balik.


"Bagaimana keadaanmu?" tanya Rohan basa-basi.


"Sudah lebih baik! emm....bagaimana dengan tuan Darel?" tanya Suli khawatir.


"Ada yang aneh sih!" ucap Rohan.


"Hah, aneh bagaimana?" tanya Suli tidak mengerti.


"Iya aneh! seperti bukan Darel saja. Dia terlihat lebih lemah dari Darel yang aku kenal!" ucap Rohan menerawang.


"Ah sudahlah lupakan saja. Kau sudah boleh keluar belum?" tanya Rohan.


"Sudah dari tadi sih, tapi aku lagi asik melihat pemandangan disini jadi belum keluar." ucap Suli memperlihatkan dibalik jendela ruangan yang memperlihatkan resort Candra walaupun hanya sedikit bagian saja.


"Kalau begitu ayo kita keluar!" ucap Rohan ingin mengajak Suli ke ruangan Darel berkumpul dengan yang lain.


Namun Suli menyalahartikan perkataan Rohan. Suli pikir Rohan ingin mengajaknya jalan-jalan.


"T....tapi...."


"Ayo!" Rohan menarik lembut tangan Suli sehingga mau tidak mau Suli mengikuti langkah kaki Rohan.


Suli terus mengikuti langkah Rohan. Para suster dan orang-orang yang melihat mereka menatap tersenyum sambil berbisik-bisik.


"Eh liat deh cowoknya cool bangettt!!! mau deh punya cowok kayak gitu, lagi sakit digandeng tangannyaa!" bisik salah satu suster kepada rekannya yang didengar Suli.


Suli memang masih memakai baju rumah sakit berwarna biru, lengan pendek setinggi lutut yang masih agak kebesaran jika di pakai Suli.


"Bagaimana, Mentari belum keluar?" tanya Rohan yang sudah sampai di depan ruangan Darel.


"Belum!" jawab Tomi.


Mereka semua melihat ke arah lengan Rohan yang masih memegang erat tangan Suli. Rohan mengikuti arah pandangan sahabatnya itu dan tersadar kalau sedari tadi dia menggandeng tangan Suli.


"Ehh...maaf....maaf!!" ucap Rohan salah tingkah yang dengan cepat melepaskan tangan Suli.

__ADS_1


"Nggak apa-apa kok!" jawab Suli malu.


Arul dan Tomi saling melemparkan pandangan sambil tersenyum penuh arti, sedangkan Zanu dan Bagas terlihat memicingkan mata penuh selidik.


"Kalian pacaran yaa?!" tanya Bagas begitu saja.


"Apa?!! tidak kok!" jawab Rohan dan Suli hampir bersamaan.


"Gini nih kalau udah se hati, ngomong aja barengan!" ledek Arul.


"Harus donggg!!!" timpal Tomi ikut meledek Rohan.


"Sayanggg!!!" ucap Shiren menatap ke arah Tomi dengan tajam membuat Tomi langsung diam dari tertawanya.


"Hahahahaaa, belum apa-apa udah takut aja sama dia, gimana kalau udah jadi istri? bisa jadi suami takut istri dongg!!!" ledek Arul yang tertawa puas.


"Eh, gue tuh nggak takut! cuma menghormati aja! inget! menghormati!" ucap Tomi menekankan kata terakhirnya.


"Ya deh si paling menghormati!" ucap Arul masih tertawa.


"Emangnya lo nggak takut apa sama Anisa?" tanya Tomi seolah tidak terima diejek oleh Arul.


Arul terdiam saat Tomi menyebutkan nama Anisa.


"Yeee, gue mah nggak pernah takut sama bini! justru bini gue tuh yang takut sama gue! sekali gue angkat tangan, dia langsung tunduk dihadapan guee!!" ucap Arul sombong sambil mengacungkan jari telunjuknya menunjuk ke atas.


"Ohhh gitu yaa, bagusss!!! awas aja kalau pulang nggak aku kasih jatah tiga bulan!!" hardik Anisa yang berbicara melalui video call di ponsel Shiren.


Shiren sengaja menelepon Anisa ingin mengatakan kalau semuanya baik-baik saja agar yang di Jakarta juga bisa lebih tenang. Namun sayangnya Arul lebih dulu berkata seperti itu. Sebuah ketidaksengajaan yang menguntungkan bagi Tomi.


"Iya tuh, Nisa! kalau perlu satu tahun nggak usah dikasih jatah juga nggak pa-pa kok!" ucap Tomi mengompori.


"Eh, mata lo peak! mana tahan gue satu tahun nggak dikasih jatah!!" ucap Arul menampol kepala Tomi.


"Ehh, nggak gitu sayangku...cintaku....aku tadi cuma bercanda kokkkk, hehehe!" ucap Arul langsung merebut ponsel milik Shiren.


"Rasain tuh, ngatain gue takut bini lah dia sendiri juga samaa!!!" ucap Tomi tertawa.


Kini Arul sudah menjauh dari mereka. Membujuk Anisa masalah jatah ini mungkin.


Didalam ruangan Darel, Mentari terbangun karena ada suara bising dari luar. Mentari terfokus kembali menatap Darel yang masih saja setia terpejam.


"Sayang kamu belum bangun? aku kangen lohhh!! kamu nggak kangen apa sama akuu? nanti kalau kamu udah bangun aku janji mau ngelakuin apapun yang kamu mau dehhh!!" rengek Mentari.


"Janji?!"


"Loh?" terkejut.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Hai para reader setia novel SUAMIKU MR MAFIA. Hari ini author update dua bab yaa, sekalian buat nebus kemarin nggak bisa up. Jangan lupa dukung terus novel ini dengan like, komen, share+tips😉🥰


__ADS_2