Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 242


__ADS_3

Benar saja apa yang dikatakan, Lukas, Adi dan Harri bahwa mereka akan kembali melihat keromantisan sepasang suami-istri yang tengah dimabuk asmara. Seperti sekarang ini, Adi dan Harri terpaksa kembali mendengar erangan nikmat dari arah kursi penumpang. Siapa lagi pelakunya kalau bukan Darel?! pria itu seolah tidak memberikan peluang Mentari untuk pergi dari sisinya, lagi!


"Adi, kayaknya lain kali kita harus beli penyumbat telinga deh!" ucap Harri setengah berbisik ditengah erangan erotis dari belakang.


"Hemm, kayaknya nggak buruk juga ide itu! dari pada harus mendengar suara-suara ini, bikin kepala pecah aja!" sahut Adi yang bergidik ngeri.


Dalam benak Adi dan Harri mereka tengah membayangkan betapa gagahnya tuan mereka bercocok tanam. Dulu saat masih suka "jajan", Darel memang terkenal sangat mahir dalam hal ranjang. Hal itu membuat mereka penasaran yang teramat sangat sebab ******* Mentari sedari tadi lebih mendominasi. Apakah senikmat itu "milik" tuan mereka hingga membuat Mentari menjerit kenikmatan?! pikir Adi dan Harri.


Begitu sampai dirumah, mereka tidak langsung turun. Mereka menunggu permainan tuan mereka selesai dulu. Tiga puluh menit mereka menunggu, hingga akhirnya sekat dia tengah mobil diturunkan oleh Darel. Darel sana jugalah Adi dan Harri melihat begitu banyak cap merah di leher Mentari.


Hemmm, sepertinya permainan ini belum berakhir?! batin Adi dan Harri melihat mesum ke arah stempel kepemilikan dari Darel.


"Kenapa kalian tersenyum begitu?! jangan mesum yaa!" hardik Darel yang tanpa sadar melihat anak buahnya itu tersenyum ke arah mereka.


"Ehh, ti....tidak kok tuan! hehehe!" ucap Harri spontan.


"Sudah! ayo kita turun!" ucap Darel.


Darel menyuruh Mentari untuk tunggu dulu dimobil. Darel yang sudah turun terlebih dahulu memutari belakang mobil lalu membukakan pintu untuk Mentri.


"Terimakasih!" ucap Mentari dengan senyum yang malu-malu.


"Ini tidak gratis loh!" ucap Darel tersenyum genit.


"Mulai dehhhh!!!" ucap Adi dan Harri.


"Ayo masuk! rumah ini tampak sepi saat kau tidak ada!" ucap Darel menggendong Mentari.


"Ehh, turunkan akuu! aku bisa jalan sendiri!!! turunkan akuu, sayang!!" Tari memberontak.


Lebih tepatnya malu sih, karena dia tidak biasa di perlakukan seperti ini didepan orang banyak. Orang banyak disini adalah Adi, Harri, dan para pelayan juga pengawal di rumah itu yang menatap mereka dengan senyum penuh arti.


"Sudah diam! kali ini kau tidak akan bisa lepas dariku!" ucap Darel membawa tubuh Mentari menuju kamar mereka.


Ceklekkk....

__ADS_1


"Wahhhh!!!! ini.....kamu yang buat?!" tanya Mentari terkagum-kagum.


Kamar mereka dihias sedemikian rupa dengan bunga mawar yang memenuhi ruangan itu. Bukan itu saja, taburan bunga mawar juga dihias berbentuk hati di atas ranjang, persis seperti kamar pengantin baru. Membahas pengantin baru, Mentari jadi ingat saat dirinya tanpa sengaja mendengar suara ghaib dari kamar Daniar dimalam pertamanya. Tanpa sadar Mentari menggigit bibir bawahnya. Suasana terasa menghangat disekitarnya.


Cup...


Sebuah kecupan kecil mendarat di bibir manis Mentari.


"Jangan gigit bibirmu seperti itu! biar aku saja yang melakukannya!" ucap Darel setelah berhenti mengecup bibir Mentari.


Kini bukan hanya kecupan yang Mentari dapatkan, namun juga ******* dan hisapan di bibirnya. Sepertinya malam ini akan menjadi malam yang panjang untuk mereka. Sepertinya juga dia akan lembur selama beberapa hari kedepan. Yah, lembur untuk membuat dedek emezz tentunya.


********


Di rumah Arul, Anisa masih marah kepada suaminya itu. Bagaimana bisa Arul berpikir kalau Anisa takut pada dia. Anisa bukannya takut, tapi lebih ke menghormati. Istrilah takut dengan menghormati itu adalah dua hal yang berbeda di dunia ini.


"Sayang, udah dong marahnya!! aku kan udah minta maaf!" ucap Arul mengiba.


Entah sudah berapa kali Arul mencoba membujuk istrinya itu untuk tidak memberinya hukuman. Bagi Arul, satu minggu tidak mendapat jatah saja itu sudah sangat menyiksa, apalagi harus sampai satu bulan yang artinya empat minggu dia tidak akan mendapatkan jatah.


Saat ini mereka tengah berada di dalam kamar Brian. Bayi tampan nan menggemaskan itu terbangun dari tidurnya dan tengah menyusu. Arul yang melihat putranya tengah menyusu dengan lahap itu pun menelan salivanya. Tentu saja hal itu membangkitkan sesuatu berharap bisa mendapatkan kenikmatan.


Dengan iseng, Arul membuka resleting Anisa sepenuhnya hingga menampilkan buah dada yang menggelantung dengan indahnya.


"Eh, kamu mau ngapain! ini kan jatah buat anaknya, kok diembat juga?!" ucap Anisa.


"Ini kan ada dua, ayahnya satu, anaknya satu! impas kan?!" ucap Arul seperti tidak punya dosa.


Arul memposisikan dirinya telentang menghadap ke buah dada istrinya yang tengah menggelantung itu lalu memasukkannya kedalam mulutnya. Karena posisinya Anisa tengah menyusui jadi ada asi di dalamnya. Terasa hambar namun entah mengapa Arul menyukainya.


"Ahh....jangan usil dongg!! nanti Brian bangun lagi, kan repot!" ucap Anisa yang tidak sadar menikmati sedotan suaminya di buah dadanya.


"Kamu taruh aja dia didalam boxnya, lagian dia udah tidur! terus kamu gantian menyusui aku!" ucap Arul enteng.


"Nggak bisa, ini dia belum lelap banget! kalau ditaruh di dalam box bayi nanti dia bisa bangun!" ucap Anisa.

__ADS_1


Arul bangun dari posisinya. Dia mengambil bantal dan meletakkannya ke sandaran tempat tidur lalu menyuruh Anisa untuk bersandar di sandaran tempat tidur dan kembali ke posisi semula untuk melahap buah dada istrinya.


"Ahhh, kamu nih nakal banget sihh!! udah dongg!!" ucap Anisa mulai menikmati sedotan Arul.


"Sayang, aku mauuu!!!" pinta Arul dengan mata sayu.


"Janji jangan gitu lagi!" ucap Anisa melotot.


"Janji!!" ucap Arul spontan dengan suara yang agak keras membuat Brian menggeliat karena terganggu.


"Ehh, iyaa-iya, maaf!" ucap Arul lirih karena mendapat tatapan tajam dari sang istri.


"Janji!" ucap Arul mengulangi perkataannya namun dengan nada yang lirih bahkan hampir berbisik.


Malam itu menjadi malam penyatuan bagi mereka yang sudah menikah. Begitu pula dengan Zanu dan Daniar. Setelah makan malam, mereka berada di dalam kamar tidak keluar sama sekali.


Mama dan papa Daniar memaklumi hal itu karena mereka kan pengantin baru, juga baru saja bertemu setelah dua hari pastinya kangen. Yah semoga saja dengan begitu mereka bisa segera mendapatkan cucu.


"Tuh, Galih! lihat adikmu, udah bahagia sama pasangannya! kamu kapan cari wanita buat dinikahi? jangan bilang kamu masih punya perasaan buat Mentari!" ucap mama Daniar.


Papa, mama, dan Galih posisinya tengah berada di depan televisi.


"Kamu nggak mungkin mau menjomblo seumur hidup kan?" tanya mama Daniar lagi.


"Ya enggak lah, ma! aku akan nikah kok! tapi nanti kalau udah ketemu calon yang pas!" ucap Galih.


Galih sebenarnya tidak begitu suka saat orang tuanya membahas masalah pernikahan dengannya. Pasalnya hati Galih masih setia untuk Mentari meskipun Galih tahu hal mustahil memiliki Mentari sekarang karena hatinya sudah sepenuhnya milik Darel.


"Jangan kelamaan nanti jadi jaka tua loh!" ucap mama Daniar memperingati anaknya.


Orang tua mana sih yang tidak cemas saat anaknya belum juga menikah?! terlebih usia Galih yang sudah matang untuk menikah. Namun bagaimana lagi, setiap membahas masalah pernikahan dan wanita, Galih selalu mengalihkan pembicaraan seolah menghindar dari kata tersebut.


Andai aku bisa menggapai mu, Tari! namun mau bagaimana lagi, jarak kita sudah terlalu jauh sekarang. Ibarat kau bintang dan aku Bumi! terlalu jauh hingga aku tidak bisa menggapaimu! batin Galih.


Acara televisi malam itu tidak lagi menarik bagi Galih. Matanya mungkin terfokus ke layar televisi, namun pikirannya berkelana entah kemana.

__ADS_1


__ADS_2