Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 188


__ADS_3

Rohan dan juga Abu bergegas kembali ke kantor polisi. Begitu mereka tiba dikantor polisi, mereka langsung pergi mencari Riya yang kebetulan tengah bersantai di ruangannya dengan ditemani salah satu bawahannya yang terlihat memijit pundak Riya.


Rohan datang bersama Abu dan melihat pemandangan tidak pantas itu. Riya memaksa seorang bawahannya untuk melayaninya serta memijit pundaknya sedangkan dia bersandar di kursinya dengan posisi kaki berada diatas meja.


"Nahh, ya bagian itu!!! uhhh enak sekalii! lebih kuat lagi!!!" omel Riya.


Rohan yang melihat hal itu langsung menyuruh Abu untuk merekam adegan itu untuk menambah bukti sedangkan bawahan Riya yang melihat kedatangan Rohan dan Abu hendak bersuara. Rohan langsung mengisyaratkan agar wanita itu diam saja dengan menempelkan telunjuknya ke bibirnya sendiri. Wanita itu pun mengangguk patuh.


"Hei apa yang kau lakukan! cepat berikan aky air panas, aku mau minum!" bentak Riya masih tidak menyadari kehadiran Rohan.


"Ah, i...iya Bu!" ucap bawahan Riya.


Riya mengambil gelas yang diberikan bawahannya, namun karena suhu air yang terlalu panas membuat lidahnya ikut melepuh saat meneguknya.


"Kau bo"oh atau gimana sih?! kau mau membakar mulutku yaa!!!" marah Riya sembari menyiramkan air panas itu ke wajah bawahannya.


"Ahhhh, panas!!! panasss!!!! hiks...hiks...panassss!!!!" teriak bawahan Riya kesakitan.


"CUKUPPPP!!!!" teriak Rohan marah.


Riya langsung menoleh ke arah Rohan, wajahnya terlihat pucat tatkala melihat atasannya itu sudah berada disana.


"P...pak....Rohan?! an...anda? sejak kapan anda berdiri disana?" tanya Riya ketakutan.


"Abu, bawa wanita itu untuk diperiksa!" perintah Rohan kepada Abu.


"Siap pak!" ucap Abu.


Abu langsung mendekati wanita itu dan menuntunnya untuk diobati karena lukanya yang hanya mengenai pipi kirinya. Setelah kepergian Abu dan bawahan Riya, Riya terlihat lebih pucat dari sebelumnya. Matanya tidak berani menatap kearah Rohan dan selalu mengalihkan pandangannya ke bawah, sedangkan Rohan terus menatap wanita tidak tau malu itu dengan tatapan tajam.


Rohan, dia memang pria paling sabar dan baik hati diantara sahabat Darel yang lain. Pemikirannya yang dewasa membuatnya disegani oleh yang lain. Namun sempat satu atau dua kali Rohan terlihat marah besar dan jangan ditanya apa yang dia lakukan ketika dipenuhi amarah itu. Kemarahan Rohan bahkan jauh lebih buruk daripada kemarahan Darel sendiri. Jika Darel melampiaskan amarahnya dengan meluluhlantakkan semua yang ada disekitarnya, Rohan justru berfokus pada penyebab kemarahannya dan dengan pi*tol kesayangannya dia menghabisinya tepat dijantung orang itu.


"Wah....wah....wah!!! polwan Riya Senara! salah satu bawahan ku, bertindak bak ratu dikantorku?" mendekat kearah Riya dengan tatapan yang mengerikan.


Sesekali Riya melirik ke arah wajah Rohan berharap mimik wajah itu akan berubah, namun semakin dia melihatnya semakin ciut nyalinya berhadapan dengan Rohan.


"Emm....sa....saya....cuma....cuma..." tergagap mencari alasan.


Brakkkkk.....


Rohan memukul meja di samping Riya dengan sangat marah bahkan suaranya hingga terdengar sampai luar kantor polisi.


"KAU SUDAH MERASA HEBAT KAH SAMPAI-SAMPAI KAU BERTINGKAH SEOLAH KAU ITU RATU DISINI?!!!!" teriak Rohan melampiaskan amarahnya.


Abu dan salah satu bawahan Riya yang terkena air panas tadi kembali ke ruangan Riya. Bawahan Riya sudah mendapat penanganan dari salah satu polisi wanita disana yang kebetulan dia pernah mengikuti organisasi PMR di sekolahnya dulu.

__ADS_1


"Pak...saya tidak sengaja! saya....sayaaa!" masih hendak berbohong.


"TIDAK SENGAJA KAU BILANG?!!!" menatap semakin tajam kearah Riya.


Riya semakin ketakutan karena ekspresi Rohan yang seolah-olah hendak memakannya hidup-hidup.


"Abu bawa koper itu kemari!" perintah Rohan kepada Abu.


"Baik, pak!" ucap Abu.


Abu langsung memberikan apa yang Rohan minta.


"Ini pak!" ucap Abu sembari memberikan koper yang Rohan minta.


Rohan membuka koper itu. Perlahan mulai terlihat apa saja yang ada didalam koper tersebut.


"Hahh!!! i...ini...ini!!!!" terkejut.


Sial, aku sudah membuangnya ke tempat sampah dan sudah menyembunyikannya didalam kantung plastik hitam dan sudah aku tumpuk di bagian yang tidak akan terlihat orang!! bagaimana mereka bisa menemukannya?! batin Riya semakin takut.


"Kau tau apa ini kan?!" tanya Rohan menurunkan nada suaranya namun aura mencengkeram masih menyelimuti ruangan itu.


"I...itu...." gugup.


"Itu sabuk milikku, pak! tapi bagaimana bisa dengan anda, hehehe!" berusaha mengalihkan rasa takutnya.


Rohan terus menatap Riya dengan tatapan mengintimidasi, ingin dia lihat sekuat apa mental wanita dihadapannya ini.


Disisi lain, wanita bawahan Riya hendak membantu Riya, namun ditahan oleh Abu.


"Jangan sekarang jika kau tidak mau ikut diamuk oleh pak Rohan!" peringatan Abu.


Wanita itupun mengurungkan niatnya dan melihat apa yang akan Rohan lakukan kepada Riya.


"Oh ternyata mentalmu kuat juga ya!" ucap Rohan sambil mengangkat sabuk yang Riya gunakan untuk mencabuk Wanda.


"M...maksud pak Rohan apa?" gemetar ketakutan melihat sabuk miliknya berada ditangan Rohan.


"Aku pikir setelah melihat benda berharga ini kau akan ketakutan dan memohon pengampunan dariku! hahaha ternyata aku salah!" ucap Rohan.


"Ku beri kau waktu sepuluh detik untuk mengakui kejahatan mu, atau jika tidak tanggung sendiri akibatnya!" ucap Rohan sembari menekankan setiap kata yang dia ucapkan.


"10!" Rohan mulai berhitung mundur.


"9!" ucapnya setelah beberapa saat.

__ADS_1


"8!"


"7!"


"6!" ucapnya sembari bersandar pada meja Riya.


"5!"


Riya masih bingung apakah dia harus mengakui perbuatannya atau tidak. Namun melihat reaksi dan ekspresi Rohan, kelihatannya pria ini tidak sedang main-main dengan ucapannya.


"4! Mengakulah Riya, masih ada waktu dan aku akan mengurangi hukumannya!" ucap Rohan.


"3!" kesabaran Rohan sudah mulai habis.


"2!" Rohan berdiri dengan tegap dan mulai berjalan menghampiri Riya yang tengah berkeringat dingin.


"Sa..."


"Baiklah pak! saya mengaku!" teriak Riya sebelum Rohan menyelesaikan hitungannya yang terakhir.


"Baguslah kalau kau sadar!" kembali duduk.


"Jelaskan!" perintah Rohan.


"W...waktu itu saya dan beberapa bawahan saya memberi makan siang kepada para tahanan. Dan saat sampai di sel wanita itu dia....dia menolak makan! bahkan sarapan pagi itu saja masih utuh tidak tersentuh. Karena mood saya juga lagi tidak bagus saya...saya tidak sadar dan mencabuknya. Tapi sungguh pak, saya benar-benar khilaf! saya tidak sengaja melakukannya!" mulai mengeluarkan air mata buaya.


"Benarkah begitu?" tanya Rohan dengan ekspresi menyepelekan.


"Abu! panggil dia kesini!" perintah Rohan.


"Siap pak!" jawab Abu.


Siapa? siapa lagi yang dia panggil? batin Riya ketakutan.


Tidak berselang lama Abu membawa bawahan Riya yang lain, dia adalah wanita yang ikut menemani Rohan dan Abu saat membawa Wanda kerumah sakit beberapa hari yang lalu.


Sial! kenapa wanita itu! awas saja kalau dia berani membuka mulut, akan aku habisi dia! batin Riya geram.


"Baiklah, tolong ulangi apa yang kau katakan tadi Bu Riya!" ucap Rohan.


"E...iya, saya tidak sengaja memukul wanita itu karena mood saya sedang tidak bagus dan karena dia menolak makan makanan yang sudah disediakan!" ucap Riya.


Rohan menatap wanita yang berada di samping Abu. Kedua wanita itu merupakan bawahan Riya dan menjadi saksi peristiwa kekerasan yang dilakukan Riya terhadap Wanda.


"Apakah benar begitu?" tanya Rohan.

__ADS_1


__ADS_2