
"Benarkah begitu?" tanya Rohan.
kedua wanita yang berada disamping kanan dan kiri Abu saling menatap seolah memberikan isyarat haruskah mereka jujur?
"Sekali lagi aku tekankan jika kalian berbohong dalam penyelidikan yang sedang dilakukan kepolisian maka hukumannya sama dengan pelaku kejahatan!" ucap Rohan menekankan setiap katanya sambil memijit pelipisnya.
Kedua wanita itu ragu-ragu menjawab pertanyaan Rohan. Tanpa sengaja mata mereka menatap kearah Riya. Mata Riya melotot kearah kedua bawahannya ini seolah sedang mengancam mereka jika mereka berbicara jujur.
"Jangan takut padanya! dia tidak akan bisa menyentuh kalian selama kalian berbicara jujur!" ucap Rohan tiba-tiba.
"T..." menunduk takut karena Riya menatapnya sangat tajam.
"Baiklah!" berdiri dari duduknya.
"Kalau kalian tidak mau berbicara maka aku tidak punya pilihan lain!" ucap Rohan memasukkan tangannya kedalam saku celananya.
"Abu, masukkan mereka juga dalam pelaku kekerasan terhadap Wanda!" perintah Rohan.
"Baik pak!" jawab Abu.
"Tidak pak jangan penjarakan kami! kami tidak bersalah!" mohon wanita yang terkena siraman air dari Riya
"Apa? tidak pak kami tidak bersalah! Bu Riya! Bu Riya yang melakukannya! semua yang dia katakan tidak sepenuhnya benar!" ucap bawahan Riya yang lain.
"Kalau begitu jelaskan! kenapa kalian berdiam saja dari tadi? kalian tau ini sangat membuang-buang waktuku! kalian pikir aku tidak punya pekerjaan lain selain mengurusi drama kalian HAAA!!" geram Rohan.
Emosi Rohan sudah tidak bisa ditahannya lagi. Dia sudah cukup sabar menanti kejadian yang sebenarnya namun mereka seolah enggan mengatakannya.
"Memang hari itu Wanda tidak ingin makan! dia merasa terpukul karena jasad kedua orang tuanya sudah ditemukan! dan saat jam makan siang, kami mengantarkan makan siang untuk mereka. Saat tiba didalam sel hanya makanan milik Wanda yang tidak tersentuh. Karena marah dan kesal, Bu Riya langsung menghajarnya membenturkan kepalanya Kedinding hingga terluka, dan mencabuknya hingga Wanda terkulai lemah! kami sangat takut untuk mengatakan kebenarannya karena Bu Riya mengancam kami. Aku dan dua orang lainnya membantu mengobati luka Wanda sebelum pan Abu datang untuk membawanya bertemu anda, pak rohan!" jelas bawahan Riya.
Rohan dan Abu tercengang mendengar pernyataan dari bawahannya ini. Sedangkan Riya semakin ketakutan karena sudah pasti Rohan tidak akan mengampuninya setelah apa yang dia perbuat terlebih lagi dia sudah berbohong tadi.
"Abu, kau sudah merekamnya?" tanya Rohan secara tiba-tiba.
Tanpa terduga, sedari tadi abu sudah siap dengan ponselnya untuk merekam pernyataan kedua wanita yang berada disampingnya sebagai bukti tambahan.
"Sesuai perintah mu, pak!" ucap Abu.
__ADS_1
"Bagus! kau memang selalu bisa diandalkan!" menyunggingkan bibirnya.
"Apa? kau menjebakku pak?!" teriak Riya marah.
"Menjebakmu?" beralih menatap Riya dengan sorot mata tajam.
"Aku hanya ingin keadilan untuk siapapun!"
"Hanya untuk seorang napi?" serobot Riya tidak mau kalah.
"Bahkan jika itu adalah seekor hewan pun yang tertindas maka aku tetap akan mendapatkan keadilan atasnya apalagi seorang manusia??!!" ucap Rohan serius.
"Kau pikir para napi disini itu adalah hewan peliharaan yang bisa kau pukul sesuka hatimu begitu?!" mulai emosi lagi.
"Bahkan seekor anjing saja diperlakukan sangat baik dipenangkaran! dirawat, diobati jika sakit, diberi makan! lalu kenapa kau memperlakukan manusia lebih buruk daripada itu?!" teriak Rohan.
Riya tidak berani membantah. Emosi Rohan sudah sangat membuatnya ketakutan. Belum pernah dia melihat amarah Rohan sebesar ini.
Sial aku terpojok! aku harus bagaimana ini?!
"Kau tanyalah pada dirimu sendiri, apa kau masih pantas disebut manusia?! bahkan hewan saja tahu bagaimana cara mengasihi kenapa kau yang memiliki akal dan pikiran bertingkah layaknya hewan yang menjijikan?!!!"
"M....maaf pak! saya....saya...khilaf..." ucap Riya memelas.
"Khilaf? setelah nyawamu berada diujung tanduk baru kau meminta bantuan? JANGAN HARAP!" ucap Rohan pasti.
"Pak, saya punya anak yang masih harus saya hidupi, kalau saya dipenjara bagaimana nasib anak saya nanti! saya mohon jangan penjarakan saya pak, saya mohonnn!!!" ucap Riya mulai luluh.
Riya mulai menangis mengingat putri kecilnya.
"SEHARUSNYA KAU PIKIRKAN NASIB ANAKMU SEBELUM KAU MELAKUKAN KESALAHAN INI!" ucap Rohan menekankan setiap kata yang dia ucapkan.
Riya bersujud memohon pengampunan dari Rohan. Tapi sudah terlambat, kesempatan yang Rohan berikan sudah dilewatkan oleh Riya ketika dia berbohong mengenai kronologi kejadian hari itu. Sekarang Rohan sudah tidak perduli dengan nasib wanita itu. Rohan, Abu dan dua bawahan Riya meninggalkan Riya yang masih meraung-raung menyesali perbuatannya.
Semuanya sudah terlambat, sangat terlambat. Hanya penyesalan yang harus Riya terima sekarang. Bayangan putri kecilnya terus hadir dipikirannya. Senyum manis putrinya dalam sekejap berubah menjadi air mata pilu.
********
__ADS_1
Disisi Arul, dia baru saja mendapat telepon dari Bagas kalau tiga hari lagi mereka akan pergi ke pulau Zanu. Arul sempat ragu, dia tidak tega meninggalkan sang istri sendirian apalagi dia tengah mengandung anaknya.
"Sayang, ada apa? kok habis terima telfon wajahnya cemberut gitu? apa ada masalah?" tanya Anisa sembari memakan buah delima yang Arul bawakan.
"Tidak kok, hanya masalah sedikit!" menghampiri Anisa dan duduk disebelahnya.
"Emmm, sayang...." panggil Arul ragu.
"Ya?" tanya Anisa.
Anisa tahu pasti ada masalah yang terjadi karena jika tidak suaminya ini pasti tidak akan ragu untuk berbicara kepadanya.
"Katakan saja apa masalahnya? aku tidak keberatan mendengarkannya!" ucap Anisa menatap wajah teduh sang suami.
"Maafkan aku sebelumnya, tapi aku harus pergi bersama yang lain selama beberapa hari. Aku...aku tidak tahu bagaimana cara mengatakannya padamu, aku khawatir padamu dan calon anak kita, aku tidak ingin meninggalkanmu tapi mereka juga membutuhkanku. Sedangkan aku sendiri juga tidak tahu kapan aku kembali. Sungguh aku sangat mencemaskan kalian jika aku pergi nanti!" ucap Arul tidak berani menatap balik wajah istrinya.
Anisa sedikit tercengang dengan pengakuan Arul. Tidak munafik, dia juga tidak ingin Arul meninggalkannya terlebih dimasa yang seperti ini. Tapi Anisa harus tetap merelakan suaminya karena Anisa tahu ini juga untuk kebaikannya.
"Hei, lihat aku!" mendongakkan wajah Arul lalu menangkupnya dikedua tangannya.
"Aku yakin kau akan memberikan yang terbaik untuk kami! aku juga yakin kau akan kembali! berjanjilah padaku kau akan kembali mengerti!?" ucap Anisa lirih.
Arul mengangguk patuh.
"Pergilah! kami akan selalu mengunggu mu! aku dan calon anak kita akan baik-baik saja, kau tenang saja oke!" ucap Anisa menghibur Arul juga dirinya.
"Kau yakin?" tanya Arul.
"Tentu saja!" mengangguk dengan yakin.
"Emm bagaimana kalau kau tidur dirumah Daniar saja, pacarnya Zanu? disana juga ada Mentari dan Sheren juga. Angel tetap pulang kerumahnya karena jarak rumahnya dengan rumah sakit lebih dekat daripada rumah Daniar ke rumah sakit." usul Arul.
"Boleh, jadi kau tidak khawatir lagi pada kami karena ada orang tua Daniar yang akan menjaga kami dan yang pasti mereka lebih berpengalaman dalam menjaga wanita hamil. Pergilah, suamiku! sahabatmu membutuhkan mu!" ucap Anisa menyakinkan.
"Baiklah, aku akan pergi tiga hari lagi setelah Rohan menyelesaikan tugas terakhirnya." ucap Arul.
"Baiklah, tapi sebelum itu kau harus berada di dekatku, memelukku, dan manjakan aku selama tiga hari penuh ya!" ucap Anisa manja.
__ADS_1
"Tentu saja sayang, aku akan terus berada didekatmu dan dia!" ucap Arul sembari memeluk Anisa dan tangannya mengelus perut Anisa yang masih rata.