Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 52


__ADS_3

Hallo kakak-kakak, ini adalah up terakhir dari aku ya. Untuk satu atau dua Minggu kedepan author tidak up ya karena sedang sibuk. Tapi jangan sedih karena aku bakal kasih extra part setelahnya 🙏😊 Jadi mohon maaf yang sebesar-besarnya atas ketidaknyamanannya ya🙏


********


Setelah makan siang itu, mereka mengantarkan Mentari pulang. Namun sebelum itu Darel memesan 2 kue matcha lagi untuk dibawa pulang Mentari memngingat bagaimana sukanya wanita itu pada kue matcha.


"Makasih ya!" ucap Mentari membuka obrolan.


"Untuk apa?" tanya Darel datar.


"Karena sudah membelikan kue matcha yang enak itu, baju yang indah dan sepatu." ucap Mentari tidak hentinya tersenyum.


Darel masih menatap kedepan, Adi dan Harri menajamkan telinga mereka menguping.


"Tidak masalah untukku! lagian itu hanya murah tidak akan membuatku bangkrut hanya dengan membeli segitu saja!" ucap Darel bernada sombong.


Yah walaupun terdengar sombong, namun apa yang dikatakan Darel memang benar apa adanya terlebih karena aset miliknya sendiri sudah tidak terhitung jumlahnya ditambah dengan aset milik keluarganya yang menambah jumlah saldo direkeningnya semakin tidak terhitung.


Dasar tuan muda sombong! bisa tidak sih nggak sombong gitu, aku kan cuma berterima kasih eh dia malah melambung tinggi. Awas jatuh, sakit loh nanti! batin Mentari sedikit kesal.


Mentari memilih diam tidak meneruskan obrolannya tidak ingin Darel semakin besar kepala karenanya.


Nah diam kan sekarang! tapi lebih cocok kalau cerewet sih dia, lebih imut hahaha! batin Darel.


Darel merasa puas sudah membungkam mulut cerewet Mentari. Dia pun sepanjang jalan hanya tersenyum sendiri.


Mentari melihat hal itu. Menurutnya hal ini sangat aneh mengingat tida ada hal yang lucu dari perjalanan ini.


Apa dia sudah gila? mungkin karena kebanyakan uang bingung mau diapakan makanya dia gila begini. Mana senyum-senyum sendiri lagi, dasar tuan muda aneh! batin Mentari.


Tidak butuh waktu lama, mobil Darel sudah sampai dirumah Mentari. Dengan cepat Mentari turun dari mobil namun masih menunggu diluar, sedangkan Adi dan Harri membawa belanjaan Mentari kedalam rumah.


"Oh ya, jam berapa acaramu besok?" tanya Darel dari jendela mobil yang terbuka.


"Jam 7 malam, kenapa" tanya Mentari.


"Tidak apa-apa. Aku pergi dulu!" ucap Darel datar.


Mentari merasa keheranan. Setelah Adi dan Harri meletakkan belanjaannya didalam rumahnya, mereka pun pergi dari rumah Mentari.


Setelah mobil Darel benar-benar menghilang barulah Mentari masuk kedalam rumahnya.

__ADS_1


"Hah, capek banget deh rasanya. Mendingan aku tidur siang saja sebentar." ucap Mentari sambil menuju kamarnya, merebahkan tubuh lelahnya dan tertidur.


********


"Tuan, sepertinya dugaanmu benar bahwa Erik dan Ozan sudah bersekongkol dengan kelompok Drago Mark!" ucap Harri sambil mengemudi.


"Apa kalian punya informasi terbaru mengenai kelompok itu?" tanya Darel datar.


"Belum tuan, kami masih berusaha mencari informasi lebih dalam. Selain itu tuan Arul dan Tomi juga ikut membantu. Apalagi dengan bantuan Jack pasti kita bisa mendapat informasi dengan cepat memngingat dia hacker terhebat yang kita punya!" jelas Adi.


"Hem, terserah kalian saja. Yang penting aku tidak ingin ada yang merusak kedua momen penting itu, mengerti!" ucap Darel tegas.


Harri dan Adi mengangguk mengerti. lalu suasana kembali hening.


Jika kalian mengganggu acara pentingku itu, akan aku pastikan kalian akan aku cari bahkan sampai ke lubang cacing sekalipun! batin Darel.


Mobil Darel melaju menuju rumahnya. Karena jalanan yang lumayan ramai jadi mereka mengendarai dengan pelan.


********


Zanu sedang berada di cafe langganannya. Bernostalgia setelah lima tahun tidak kesana. Banyak kenangan yang tersimpan ditempat itu.


Zanu melihat kearah wanita itu, begitu juga wanita itu juga melihat kearah Zanu.


"Kau? bukankah kau....emmm.....Zanu?" tanya wanita itu setelah mendekat ke kursi dimana Zanu duduk.


"Kau....Daniar bukan?" tanya Zanu berusaha mengingat.


Ya wanita itu adalah Daniar. Dia baru saja membeli baju untuk wawancara besok diperusahaan Sanjaya Group.


"Apa kau tinggal didekat sini?" tanya Daniar antusias.


"Ya, rumahku lumayan dekat dengan cafe ini." jawab Zanu.


Tidak berselang lama, pesanan Daniar datang. Mereka pun asyik mengobrol ditemani minuman masing-masing.


"Kau sepertinya habis belanja?" tanya Zanu yang melihat beberapa paper bag disamping Daniar.


"Hahaha, iya soalnya aku besok wawancara diperusahaan besar makanya harus tampil rapi, sedangkan aku tidak punya pakaian untuk dikantor, jadi ya sekalian beli!" jelas Daniar.


Apa dia benar jodohku? oh Ya Tuhan jantungku kenapa deg-degan gini sih?! batin Daniar.

__ADS_1


Mereka berdua duduk dicafe itu, menikmati minuman mereka hingga habis. Mereka memutuskan untuk pergi dari cafe itu dan Zanu menawarkan diri untuk mengantar Daniar pulang. Tentu saja dengan senang hati Daniar mau diantar oleh pria yang sudah mencuri hatinya itu.


Didalam mobil suasana hening, tidak ada yang berani membuka obrolan. Zanu terus fokus menyetir sednagkan Daniar, tangannya sudah mulai berkeringat dingin saking gugupnya.


Aku sudah sering dekat dengan teman cowokku, tapi kenapa dengan Zanu berbeda ya? apa benar aku jatuh cinta padanya? batin Daniar.


Sesampainya dirumah Daniar.


"Mampirlah dulu, waktu itu kau kan tidak bisa mampir!" ajak Daniar pada Zanu yang masih duduk dibelakang kemudi.


"Emm..." Zanu menimbang-nimbang.


"Ayolah, kau pasti juga belum makan siang kan? kita makan siang dirumahku saja!" bujuk Daniar.


"Emm, baiklah untuk menebus ajakanmu malam itu!" ucap Zanu menerima ajakan Daniar.


Daniar girang bukan main. Ingin rasanya ia berteriak saat itu juga. Namun karena akal sehatnya masih berfungsi dia pun mengurungkan niatnya itu. Wajahnya tampak tersenyum disertai pipinya yang berubah menjadi kemerahan.


Baru mau diajak mampir saja sudah sesenang ini apalagi nanti kalau dia juga suka padaku! batin Daniar sambil terus tersenyum.


Daniar dan Zanu turun dari mobil. Mereka masuk kedalam rumah Daniar yang disambut hangat oleh orang tua Daniar.


"Ma, pa, kenalin ini Zanu teman Niar!" ucap Daniar memperkenalkan Zanu.


"Siang om, tante!" sapa Zanu sopan.


"Siang nak, Zanu! wah kamu tampan sekali, seperti orang Korea saja, hehehe!" ucap mama Daniar menatap wajah Zanu intens.


"Ah, tante bisa saja!" ucap Zanu tersenyum.


Daniar menjadi tambah salah tingkah dengan ucapan mamanya itu yang mengatakan bahwa Zanu tampan meskipun memang Zanu tampan sih.


"Nak Zanu sudah makan siang belum? kebetulan kami lagi mau makan siang, nak Zanu ikut juga saja!" ajak mama Daniar.


"Benar itu, lagipula kamu kan baru datang kesini jadi harus ikut makan bersama kami!" tambah papa Daniar.


"Emm, baiklah kalau begitu om, tante." ucap Zanu setuju.


Mereka menuju meja makan. Zanu bersama keluarga Daniar makan dengan lahapnya. Sesekali mereka bercengkrama dan tertawa riang. Sungguh seperti keluarga yang harmonis.


Bahagianya bisa merasakan kehangatan keluarga lagi! batin Zanu.

__ADS_1


__ADS_2