
Mobil Darel mulai memasuki gedung mewah tempat pesta kolega tuan Ardi. Saat melewati pos penjaga, mobil Darel berhenti lalu Darel membuka kaca mobilnya.
"Selamat malam, tuan Darel! silahkan masuk!" sapa penjaga yang mengenal dengan baik Darel.
"Terimakasih!" ucap Darel.
Mereka kembali menjalankan mobil dan berhenti tepat di depan tangga pintu masuk. Darel keluar dari mobil lalu memutari mobil dari belakang kemudian membukakan pintu untuk Mentari. Adi dan Harri kembali melajukan mobil menuju parkiran.
********
Di pesta itu banyak sekali kolega-kolega tuan Ardi dan juga Darel. Semuanya tampak berkelas. Apalagi wanitanya, anggun dan berkelas. Darel mengencangkan rangkulannya di pinggang Mentari lalu memberi isyarat pada Mentari bahwa semuanya akan baik-baik saja.
"Nahhh, itu dia Darel dan istrinya!" ucap Tuan Ardi pada rekannya.
"Kemari Darel!" panggil seorang rekan tuan Ardi yang punya pesta ini.
"Selamat atas pertunangan Shifa, om!" ucap Darel sembari memeluk pria itu.
"Terimakasih! oh ya, kau tidak memperkenalkan dia pada om?" ucap pria itu memandang ke arah Mentari.
"Ah, itu sih salah om sendiri! siapa suruh tidak datang di acara pernikahanku!" ledek Darel.
"Ahahaha, kau memang paling bisa bercanda! kau kan tahu bisnis om baru om di Dubai, jadi sangat sibuk belakangan ini! oh ya om sudah menyiapkan hadiah untuk kalian berdua. Anggap saja ini hadiah pernikahan kalian!" ucap pria itu yang bernama pak Farhan.
Prok...prok...prok...
Pak Farhan menepukkan tangannya di udara tiga kali lalu datang seorang pria membawa sebuah kotak.
"Bukalah!" ucap Pak Farhan pada Mentari sambil memberikan kotak itu.
"Apa itu om?" tanya Darel yang penasaran.
"Hadiah untuk kalian!" ucap pak Farhan.
Mentari membuka kotak itu. Matanya terbelalak saat melihat isi kotak itu begitu juga dengan Darel dan tuan Ardi.
"Hah, ini serius om buat kita?" tanya Darel.
"Apa perlu ini semua?" tanya tuan Ardi.
"Oh ayolah, dia ini sudah seperti anak ku sendiri! jadi aku rasa dia pantas mendapatkan hadiah ini dariku! kalau kalian mau berangkat hubungi saja aku, biar aku menyuruh orang untuk menyiapkan semuanya, oke?!" ucap pak Farhan.
"Kau memang om yang terbaik di dunia!" ucap Darel.
"Tentu saja!" ucap pak Farhan sambil menggerakkan kerah kemejanya.
Hadiah yang diberikan pak Farhan adalah sebuah villa mewah di Paris. Pasti harganya miliaran, tidak triliunan.
"Aku dengar kalian baru saja bertemu kembali setelah satu tahun. Ini momen yang pas bukan? itung-itung sekalian berbulan madu. Jadi nanti pulang-pulang membawa kabar baik. Berangkat dua orang pulang tiga orang!" ucap pak Farhan merangkul pundak tuan Ardi.
"Kau ini bisa aja!" ucap tuan Ardi.
"Ehem....selamat malam semuanya!" ucap seorang MC.
__ADS_1
Semua mata tertuju pada pria yang berdiri di atas podium itu dengan membawa segelas minuman ditangannya.
"Minta perhatiannya sebentar! ehemm..." ucapnya berdehem
"Untuk kesempatan kali ini, FO Group bekerja sama dengan Sanjaya Group telah menciptakan sebuah produk kecantikan sebuah sunscreen dengan harga yang ramah di kantong pelajar. Bukan hanya mencerahkan tapi juga membuat wajah kalian glowing. Manfaat produk ini bisa kalian rasakan dalam empat belas hari pemakaian. Bintang iklan dari produk ini sendiri adalah putra pertama tuan Sanjaya beserta sang istri, beri tepuk tangan dulu kepada tuan Darel dan nona Mentari!!!" ucap Mc.
Prokkkk....prokkk.....prokkk....prokkk....prokk....
Terdengar suara gemuruh tepuk tangan dari orang-orang yang datang di pesta itu.
"Kita?" tanya Mentari bingung.
"Iyaa! kamu diminta untuk menjadi BA produk ini! aku hanya membantu saja.
"Tapi....tapi....aku mana bisa?" tanya Mentari cemas.
Cup...
Kecupan singkat mendarat di kening Mentari. Entah mengapa itu seolah menjadi obat untuk Mentari hingga rasa cemasnya menguap begitu saja.
"jangan khawatir, ada aku!" ucap Darel lembut.
Mentari tersenyum manis.
"Bersulang untuk peluncuran produk baru kami!" ucap MC itu lagi sambil mengacungkan gelasnya ke atas diikuti yang lain.
Mereka serempak mengacungkan gelasnya ke atas lalu meneguknya sedikit.
Putri tuan Farhan dengan putra tuan Sandi naik ke atas podium lalu saling memasangkan cincin. Tepuk tangan meriah kembali terdengar memenuhi gedung itu. Pesta pun kembali digelar. Beberapa orang yang hadir menari diiringi alunan musik yang santai, ada juga yang mulai mengambil makanan yang tersedia disana. Makanan kelas atas yang sangat mewah.
Mereka semua menikmati acara itu dengan penuh tawa.
"Shifa, kemari!" panggil pak Farhan kepada putrinya.
Shifa dan juga Fairo berjalan mendekati mereka.
"Kak Darel?!" sapa Shifa.
"Hmm!" jawab Darel singkat.
"Sayang, yang sopan dong!" ucap Mentari setelah melayangkan sikutnya tepat di perut Darel membuat Darel sedikit meringis.
"Iya!" ucap Darel kemudian.
"Ini....." Shifa menunjuk ke arah Mentari dengan bingung.
"Istriku! Mentari Angeliska Tia!" ucap Darel memperkenalkan Mentari dengan bangganya seolah Mentari adalah suatu barang amat sangat langka di dunia ini.
"Oh hai, kak! aku Shifa! ini calon suamiku Iro!" ucap Shifa memperkenalkan Fairo.
Mereka saling berjabat tangan untuk sepersekian detik kemudian melanjutkan makan malam.
********
__ADS_1
"Sayang, kayaknya kamu tuh harus belajar bela diri deh!" ucap Darel sambil melepas kemejanya.
Mereka baru tiba di rumah pukul sebelas malam.
"Kenapa?" tanya Mentari bingung.
"Iya jadi kalau ada orang yang mau jahatin kamu, Kamu bisa bela diri kamu sendiri. Misalnya kamu dalam bahaya terus kamu lagi sendirian kan kamu bisa hajar mereka, aku juga lebih tenang kalau kamu bisa bela diri!" jelas Darel.
"Emm, tapi aku nggak terlalu bisa!" ucap Mentari.
"Makanya itu aku mau ajarin kamu bela diri. Yah, setidaknya bertarung sama nembak lah paling tidak." ucap Darel lagi.
"Emang harus yaa?"
"Iya dong sayang! aku nggak mau kamu kayak yang udah-udah! aku khawatir banget sama kamu apalagi bodyguard kita nggak selalu ada disamping kamu kann! Lukas aja juga lalai kok menjaga kamu dulu!" jelas Darel memberi pengertian.
"Ya udah aku ngikut kamu aja, gimana enaknya!" ucap Mentari pasrah.
"Nah, gitu dongg!!!" ucap Darel mengecup kening Mentari.
Kecupan singkat itu kemudian turun di kedua mata Mentari, kiri dan kanan secara bergantian kemudian di kedua pipi Mentari lalu berakhir di bibir merekah Mentari.
"Sayang, mauuuu..." ucap Darel dengan mata sayunya.
"Nggak capek apa gitu trusss?!"
"Enggak! nggak bakal capek kalau sama kamu mah! lagian kita kan juga punya misi paling penting di dunia ini sayang!" ucap Darel membuat Mentari membuat ekspresi yang menggemaskan.
"Iyaaa, bikinin cucu lagi buat jadi penerus Sanjaya Group! " ucap Darel mengerlingkan sebelah matanya.
"Dih dasar, adaaa aja cara bujuknya!" ucap Mentari.
"Hehehe, tapi kamu suka kan sayang!" tanya Darel.
"Ya sukalah! orang setiap gituan kamu yang minta nambah terus! bahkan kadang aku baru keluar sekali kamu udah keluar tiga kali!" ucap Darel sebelum Mentari menjawab pertanyaannya secara blak-blakan.
"Dasar kamu tuh yaaa!!!" ucap Mentari sambil menimpuk Darel dengan bantal.
"Wohh, mau main yaa!! liat aja nihh!!!" ucap Darel mengambil bantal lalu menimpuknya ke arah Mentari.
Mereka bermain perang bantal, saling memukul diselingi dengan tawa ceria dari keduanya. Kamar yang rapi dan bersih itu pun seketika berantakan dan dipenuhi bulu angsa putih yang keluar dari bantal-bantal itu.
Happ....
Darel berhasil membawa Mentari berada dibawahnya. Nafas mereka masih terdengar berat dan sesekali cekikikan.
"Boleh yaa?!" tanya Darel.
"Iyaa!" jawab Mentari.
Bak singa yang diberi makan daging segar, Darel langsung menerkam Mentari dengan penuh kenikmatan. Pakaian yang masih melekat di tubuh keduanya perlahan tapi pasti mulai tanggal dan dibuang ke sembarang arah. Berjam-jam mereka melakukan adegan panas itu hingga berkali-kali mereka mendapat pelepasan yang sangat nikmat hingga akhirnya mereka tertidur di pagi harinya dengan keringat yang bercampur dengan cairan-cairan kenikmatan mereka. Tubuh polos mereka terasa masih panas hingga di detik berikutnya mulai normal.
Mentari terlelap didalam pelukan Darel yang hangat. Pelepasan kali ini terasa begitu memuaskan bagi mereka berdua.
__ADS_1