
Sesampainya didepan rumah, Darel membangunkan Iwang lebih dulu, karena hari sudah sore saat mereka tiba dirumah. Setelah membangunkan putranya, Darel menggendong Mentari yang masih terlelap. Iwang mengerti ibunya ini kelelahan. Iwang bersikap sangat dewasa dalam berpikir meskipun usianya masih kecil.
"Loh, tuan, nona kenapa?" tanya mbok Tini yang datang setengah berlari ke arah Darel.
"Nggak apa-apa, mbok! hanya tidur aja!" jawab Darel.
Mentari dibawa ke kamarnya. Dengan hati-hati Darel merebahkan tubuh istrinya itu ke ranjang yang empuk lalu memakaikan selimut hingga dada.
Setelah cukup lama memandangi wajah istrinya, Darel teringat akan masalahnya dan dia pun keluar dari kamar menuju ruang kerjanya dimana Adi, Harri, dan Lukas menunggu disana.
Ceklek....
"Bagaimana? apa kabar terbarunya?!" tanya Darel langsung pada intinya.
Darel duduk di kursi kebesarannya dimana dihadapannya telah duduk tiga anak buahnya. Ketiga anak buah Darel saling pandang seolah bertanya siapa yang mengatakannya lebih dulu kepada tuan mereka.
"Emm, begini tuan!"
Akhirnya Adi yang mengalah dan mengatakan lebih dulu kepada Darel.
"Tuan Mario adalah pemilik salah satu saham terbesar di perusahaan kita. Beliau adalah mantan dari bos mafia bersama dengan tuan besar."
"Papa?! maksud kalian, papaku?" tanya Darel terkejut.
"Benar tuan, awalnya kami juga terkejut sama seperti anda. Tapi memang inilah kenyataannya." ucap Lukas.
"Lalu?" tanya Darel semakin penasaran.
"Iya tuan, setelah tuan Mario memutuskan untuk keluar dari kelompok mafia itu, dia menanamkan saham ke perusahaan kita dibawah kepemimpinan tuan besar. Sahamnya cukup besar hingga 60%. Jumlah ini terbilang paling besar diantara para investor lainnya. Namun ada kejanggalan disini!" ucap Adi lagi.
"Kejanggalan? kejanggalan apa maksud kalian?" tanya Darel semakin penasaran.
"Saham milik tuan Mario tiba-tiba menghilang dan bercampur menjadi satu di dalam kas perusahaan. Tidak ada nama investor bernama tuan Mario Wicaksono didalam daftar para investor. Bahkan Wisnu saja juga tidak mengetahuinya kalau ada investor bernama Mario Wicaksono. Ini file lama, dan saya menemukan informasi ini didalam file lama tersebut." ucap Adi menyerahkan sebuah map berisi file.
Map itu sudah sangat usang, dan diujungnya sudah rusak karena terbakar seperti sengaja dibakar.
"SIAPA PUN YANG MENEMUKAN FILE INI, TOLONG JAGA DARI "NYA"! DIA BERUSAHA MENGHANCURKAN FILE INI?" Darel membaca tulisan di awal map yang sudah pudar namun masih bisa dia baca.
"Apa maksud dari tulisan ini? dan siapa "NYA" itu?" tanya Darel tidak mengerti.
"Kami juga tidak tahu tuan. Namun sepertinya ada sangkut pautnya dengan karyawan pengarsipan di saat-saat tuan besar masih memimpin." ucap Harri menyodorkan beberapa foto pria yang telah beranjak tua.
"Siapa mereka?" tanya Darel memperhatikan foto-foto itu.
"Itu adalah staf pengarsipan yang telah pensiun tuan. Mereka adalah kepala bagian, dan karyawan tetap saat tuan besar menjalankan kepemimpinan. Tidak ada yang tahu mengapa mereka tiba-tiba mengundurkan diri dari perusahaan." ucap Lukas.
"Kalian sudah menemukan alamat rumah mereka?" tanya Darel.
"Sudah tuan! ada dibalik foto itu alamatnya!" ucap Harri.
"Kenapa di balik foto? kan tadi aku sudah bilang tulis saja dikertas!!" ucap Adi.
"Ya maaf, soalnya nggak ada kertas kosong tadi, yaudah pakai itu aja. Lagian sama saja kan?" ucap Harri cengengesan membuat Lukas dan Adi hanya bisa menggelengkan kepalanya.
"Oke, kita mulai siapa?" tanya Darel.
__ADS_1
"Dari yang terdekat saja, tuan!" ucap Lukas memajukan sebuah foto.
Foto-foto berisi lima orang staf pengarsipan tadi dijejer secara horizontal.
"Baiklah, mumpung Mentari masih tidur kita kesana sekarang saja!" ucap Darel.
Adi memasukkan kelima foto itu ke dalam saku jasnya kemudian mereka berjalan dibelakang Darel keluar ruangan.
"Oh ya, Lukas! suruh dua atau tiga orang untuk berjaga disekitar makan orang tua Mentari." perintah Darel.
"Memangnya ada apa tuan?" tanya Lukas.
"Ada pria misterius yang membawa jenazah ayah dan ibu mertuaku untuk dimakamkan disana, juga pria itu setiap bulannya selalu datang untuk berkunjung. Dan yang paling parahnya, pria itu bilang bahwa anak dari mertuaku sudah tiada! aku penasaran siapa pria itu!" ucap Darel.
"Ah, baiklah tuan!" ucap Lukas.
Lukas mengambil ponselnya disaku celananya kemudian mengetikkan beberapa kata lalu memasukkan ponselnya lagi kedalam saku.
"Sudah?" tanya Darel.
"Sudah tuan!" jawab Lukas.
"Ayo kita pergi!" ucap Darel.
Mereka kembali pergi menuju mantan staf pengarsipan yang jaraknya paling dekat dengan rumah Darel sekitar tiga puluh menit.
Sesampainya di alamat yang dituju, Darel melihat-lihat ke arah sekitar. Rumah ini tidak terlalu besar untuk ukuran seseorang yang pernah bekerja di perusahaan Sanjaya Group.
Tok...tok...tok...
Tok...tok... tok....
"Permisiii!" ucap Lukas lagi.
Hingga panggilan ke tiga baru pintu rumah itu dibuka dari dalam.
"Cari siapa ya?" tanya seorang wanita yang sudah berumur.
"Kami mencari bapak Tejo, apa beliau ada?" tanya Darel seramah mungkin.
"Silahkan masuk!" ucap wanita berambut setengah putih itu.
Darel, Adi, Harri, dan Lukas pun masuk secara beriringan.
"Silahkan duduk, biar saya panggilkan bapak!" ucap wanita itu.
Darel dan yang lain pun duduk di kursi yang terlihat sudah sangat lama.
"Siapa ya?" tanya seorang pria yang datang menatap ke arah mereka.
Pria berumur tujuh puluh tahun itu duduk dihadapan Darel dengan memakai sarung dan kaos berwarna putih. Peci di kepalanya berwarna hitam dan berkumis.
"Apa bapak yang bermana pak Tejo?" tanya Darel.
"Benar, saya sendiri! ada perlu apa kalian mencari saya?" tanya pak Tejo.
__ADS_1
"Saya Darel dari...."
"Darel?! Darel Sanjaya?" tanya pak Tejo.
"Benar, saya..."
"Kenapa tuan bisa sampai kerumah saya ini? tunggu sebentar!"
Pak tejo mengambil kemoceng lalu membersihkan tempat duduk Darel kemudian mempersilahkan Darel untuk duduk kembali.
"Apa yang bisa saya bantu, tuan muda?" tanya pak Tejo.
"Begini, saya perlu bertanya beberapa hal kepada bapak. Apa bapak mengenal pria di foto ini?" tanya Darel menyodorkan foto yang tadi ada di saku Adi.
"Ohh, ini rekan dan juga atasan saya, tuan! memang ada hal apa sampai-sampai taun bertanya soal mereka?" tanya pak Tejo.
"Saya tengah menyelidiki sesuatu. Dan saya menemukan file ini diruang pengarsipan. Apa bapak tahu siapa beliau?" tanya Darel menyodorkan map tadi.
"Ini, tuan Mario!" ucap pak Tejo setelah membuka map itu.
"Apa bapak tahu siapa beliau?" tanya Darel lagi.
"Beliau ini salah satu investor terbesar di perusahaan waktu itu. Beliau juga sahabat baik tuan besar. Saya ingat betul saat tuan Mario mendatangi kantor untuk mengajak tuan besar makan siang, atau hanya sekedar mengunjungi sahabatnya." jelas pak Tejo.
"Lalu, apa bapak tau kenapa maka tuan Mario bisa hilang dari daftar investor?" tanya Darel.
"Setahu saya setelah tuan Mario menghilang secara mendadak, semua dana investor miliknya dipindahkan menjadi dana perusahaan. Lalu beberapa bulan setelahnya kami baru mengetahui kalau tuan Mario beserta istrinya telah meninggal dunia. Tapi saya tidak tahu dimana kuburannya." jelas pak Tejo.
"Lalu, kenapa bapak dan rekan-rekannya bapak bisa mengundurkan diri diwaktu yang bersamaan?" tanya Darel lagi.
"Emm, sebenarnya...." ucap pak Tejo bimbang.
"Tidak apa-apa pak, katakan saja semuanya!" ucap Adi yang melihat keraguan diwajah pak Tejo.
"Haihhh... sebenarnya hanya kami berlima yang masih mengenal tuan Mario diperusahaan." ucap pak Tejo lirih.
"Kenapa hanya kalian berlima saja? apa karyawan yang lain tidak mengetahui bahwa tuan Mario juga salah satu investor diperusahaan?" tanya Darel bingung.
Apa yang terjadi di perusahaan saat itu sebenarnya? Tari, kenapa mengulik identitas mu sangat susah sekali? batin Darel.
"Kalau itu saya kurang tahu, yang jelas hanya kami berlima saja yang mengetahui tuan Mario sebagai investor. Oh ada lagi satu orang kepala bagian keuangan. Tapi saya tidak tahu dimana keberadaannya saat ini. Kami berenam mengundurkan diri dihari yang sama." ucap pak Tejo.
"Lalu siapa yang kemungkinan mengetahui dimana dia, pak?" tanya Darel.
"Mungkin kepala bagian tahu keberadaannya. Mereka adalah sahabat dari desa yang sama setahu saya!" ucap pak Tejo.
"Baiklah kalau begitu, terimakasih atas informasinya, pak! kami pamit pulang dulu!" ucap Darel.
"Apa tidak menunggu sebentar lagi? tidak baik maghrib begini dijalan." ucap pak Tejo.
"Maaf pak, tapi istri saya sedang menunggu dirumah!" ucap Darel.
"Ah, baiklah! sampaikan salam saya pada tuan besar dan nyonya besar!" ucap pak Tejo.
Pak Tejo mengantarkan Darel sampai halaman rumah. Mobil mewah Darel perlahan-lahan mulai meninggalkan rumah kan Tejo. Teka-teki ini masih belum menemukan titik terang. Namun Darel yakin kunci dari semua permasalahan ini ada pada kepala keuangan. Semoga saja Darel bisa secepatnya menemukan pria itu dan membongkar rahasia yang mungkin ada dibaliknya.
__ADS_1