Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 81


__ADS_3

Juna baru saja selesai mengantar Shiren. Mobilnya sudah melaju lagi memecah sepinya jalan raya.


"Darimana!" ketus seseorang pria saat Shiren baru saja memasuki rumahnya.


"Dari pergi sama Cindy." ucap Shiren sedikit gugup.


"Oh, sama Cindy? tapi kayaknya sama cowok tuh. Mana mobil kamu?" tanya pria itu.


"Dia tadi nolongin aku setelah nganterin Cindy pulang tadi mobilku mogok. Dan untung..." ucap Shiren terpotong.


"Alah! bilang aja kalau itu selingkuhan kamu kan! emang cewek nggak tau diuntung ya! sini kamu!" ucap pria itu sambil menarik lengan Shiren dengan kasar.


"Bram, jangan! Aduh, aku mau dibawa kemana!" berontak Shiren yang semakin ketakutan.


"Udah sini ikut, aku bakal bikin pelajaran karena kamu udah berani selingkuh!" ucap pria itu yang bernama Bram.


Shiren terus memberontak, namun karena tubuh Bram yang besar membuat upaya Shiren menjadi sia-sia saja. Sesampainya dikamar mandi, Bram langsung mengisi bathub dan menenggelamkan kepala Shiren saat air sudah tinggi.


Bram menarik dan menenggelamkan kepala Shiren berulang kali, bahkan dia terlihat sangat senang saat Shiren tersiksa.


"Byurrrr....emmmm ....emmmmm....emmmm!" Shiren berusaha berteriak saat kepalanya berada didalam air.


Belum puas hanya dengan menenggelamkan kepala Shiren di air, Bram juga membuka sabuknya dan mengarahkannya ketubuh Shiren.


"Aakkkhhhh!!!! tidakk, jangan Bram, akhhhhh aku sama sekali tidak selingkuh hiksss....hiks....hiks....." tangis Shiren saat sabuk itu mengenai kulitnya.

__ADS_1


"Lain kali kalau aku lihat kamu sama laki-laki lain, bukan cuma kamu tapi laki-laki itu juga yang akan menerima akibatnya, mengerti?!" ancam Bram.


Bram pun meninggalkan tubuh Shiren yang sudah lemah dan penuh luka setelah cukup lama mendapat pecutan dari sabuk Bram.


"Kenapa dia bisa setega ini sih? dulu dia baik banget padahal. Setelah berpacaran dia jadi kasar dan kayak psikopat!" gumam Shiren ditengah kesakitannya.


Shiren berjalan tertatih menuju kamar tamu. Karena kamarnya berada dilantai dua dan tidak memungkinkan untuknya naik keatas, makanya Shiren memilih tidur dikamar tamu saja. Bram juga sudah tidak ada dirumah Shiren.


Setelah mengobati lukanya, Shiren berganti baju dan langsung tidur dengan rasa perih disekujur tubuhnya.


********


Pagi itu Darel berangkat kekantor lebih awal lagi. Mentari yang saat itu ikut membantu menyiapkan sarapan dilalui begitu saja oleh Darel. Bahkan menoleh pun tidak.


Apa dia marah ya karena semalam? batin Mentari.


"Tuan, anda tidak sarapan lagi? sepertinya nona Mentari sudah masak, tadi saya lihat saat mau ambil minum." ucap Harri saat Darel baru saja masuk mobil.


"Tutup mulutmu itu, cepat jalan!" ketus Darel.


Entah kenapa suasana Darel hari ini sangat tidak bagus. Bahkan saat dikantor pun Darel terus-menerus membentak karyawan bahkan hanya karena masalah kecil saja. Wisnu dan Nurul juga tidak luput dari amarah Darel yang entah apa penyebabnya.


Siang itu, Mentari memutuskan untuk mengunjungi tokonya. Bahkan saat sarapan tadi Mentari memilih makan dikamar karena saking jenuhnya dirumah terlebih Darel yang bertingkah aneh padanya tadi pagi.


Mentari ditemani Lukas pun segera menuju toko Mentari, sekalian mau menitipkan toko kepada Laila selama dia ke Paris besok.

__ADS_1


"Laila, dimana Iwang?" tanya Mentari kepada Laila setelah baru turun dari mobil.


"Eh, Bu, ada didalam kantor ibu, lagi bersih-bersih." jawab Laila.


"Oh oke, makasih ya!" ucap Mentari lalu memasuki ruangannya.


Mentari melihat Iwang yang tengah membersihkan ruangannya.


"Kakak, sejak kapan datang?" tanya Iwang yang baru menyadari kehadiran Mentari.


"Baru saja sih. Iwang sudah makan belum?" tanya Mentari.


"Sudah kak, tadi kak Laila membelikan Iwang dan nenek sarapan ayam. Enak banget loh kak!" ucap Iwang senang.


Mentari ikut tersenyum mendengar celoteh Iwang. Setelah semua pekerjaan Iwang selesai, Iwang pun pamit pulang dan Mentari seperti biasa membawakan Iwang beberapa kue untuk dia makan.


Mentari tetap tinggal di toko, Lukas masih berjaga-jaga didalam toko namun dikursi sudut ruangan seolah sedang berjaga. Bagaimana tidak istri tuannya ini harus dia jaga dengan sungguh-sungguh karena Mentari sudah menjadi bagian dari keluarga Sanjaya, Lukas juga harus mengabdi kepadanya.


Didalam ruangan Mentari dan Laila sedang membahas keuangan toko yang semakin besar omsetnya.


"Oh ya, La, besok aku mau ke Paris, titip toko sama Iwang dan neneknya ya, kasihan mereka soalnya." ucap Mentari setelah selesai melihat laporan keuangan toko.


"Tentu saja bu, saya juga kasihan pada Iwang. Anak sekecil itu kenapa nasibnya buruk sekali ya? padahal Iwang itu anak yang pintar loh bu." ucap Laila.


"Yah, semoga saja ada manusia berhati malaikat yang mau membawa Iwang keluar dari kehidupan yang sekarang." ucap Mentari.

__ADS_1


"Aminnn." jawab Laila dengan semangat.


Semoga akan ada orang baik yang mengangkatmu dari hidup menyedihkan ini Iwang. batin Mentari


__ADS_2