
Rohan membawa Bram menuju kantor polisi, memasukkannya kedalam sel tahanan bersama dengan kriminal lain.
"Hei!!! lepaskan aku!!! aku bakal balas perbuatan kalian bre****k!!!! cepat keluarkan aku dari sini!!!!" teriak Bram didalam sel tahanan.
"Kau tunggu saja nasib baikmu! tapi aku rasa, kau tidak akan mendapatkan itu!" ucap Rohan.
Ditangannya sekarang ada bukti-bukti kejahatan yang dilakukan oleh Bram. Selain dia sudah menyiksa Shiren dengan sangat keji, Bram ternyata juga pernah memukuli seorang pria hingga meninggal hanya karena berebut parkiran disebuah mall.
Semua itu Rohan dapatkan dari Tomi menurut cerita Shiren semalam. Dulu Shiren tidak berani melaporkan Bram ke polisi atas kejadian itu dan membiarkan saja pria yang tengah sekarat hingga akhirnya meninggal. Rasa bersalah itu terus menghantui Shiren hingga dia tidak kuat lagi memendam perasaan bersalahnya dan menceritakan semuanya kepada Tomi. Dengan berbagai bukti tersebut, Bram pasti akan mendekam sangat lama di penjara.
Di rumah Tomi, Shiren sudah mulai sadar dari pengaruh obat bius namun kepalanya masih agak pusing.
"Bram? dimana dia?" tanya Shiren teringat pada Bram.
Yah, siapa lagi yang bisa berbuat hal senekat ini kalau bukan Bram pikir Shiren saat itu.
"Dia sudah ditangani pihak berwajib. Kamu tenang saja, semua bukti kejahatannya sudah aku serahkan pada sahabatku yang polisi dan secepatnya dia akan mendapat hukuman yang setimpal atas perbuatannya." ucap Tomi menenangkan hati Shiren.
Tanpa diduga Shiren yang terharu mendengar perkataan Tomi langsung memeluk Tomi dengan air mata bahagia menetes di pipinya.
"Terimakasih Tomi! aku tidak tahu lagi harus bagaimana lepas darinya kalau kau tidak ada!" ucap Shiren.
"Kau tidak perlu seperti itu. Aku memang paling tidak suka wanita diperlakukan sekasar ini oleh pria lain." ucap Tomi.
"Aku yakin, wanita yang akan menjadi istrimu pasti akan menjadi wanita paling beruntung di dunia!" ucap Shiren.
Aku harap itu kau!
********
Diruang tunggu kantor polisi, Mentari terdiam seribu bahasa menatap tajam pria dihadapannya. Pria dengan tangan diborgol dan mengenakan pakaian tahanan itu tidak berani menatap mata indah Mentari yang dipenuhi tanda tanya dan kekecewaan.
"Kenapa?" tanya Mentari setelah keheningan cukup lama tercipta diantara mereka.
__ADS_1
"Kenapa kau melakukan itu kak?" tanya Mentari dengan mata yang memanas hendak menangis.
Mentari sekarang berada di kantor polisi. Dia dan keluarga Daniar mengunjungi Galih yang menjadi tersangka percobaan pembunuhan terhadap dirinya. Awalnya Darel dan keluarga Daniar tidak mengijinkan Mentari ikut mengingat kondisi Mentari yang belum pulih total.
Namun karena paksaan Mentari yang ingin bertanya hal penting dengan Galih, akhirnya mereka pun memperbolehkan Mentari ikut ke kantor polisi.
"Jawab aku kak! aku butuh jawaban bukan kebisuan seperti ini!" ucap Mentari frustasi.
"Maafkan aku Mentari! ak....aku....aku tidak bermaksud melukaimu ataupun bayimu. Aku hanya...." terpotong.
"Apa kau berusaha mencelakai suamiku kak?" telak Mentari.
Degg.....
Kata suami itu menunjukkan betapa berharganya Darel dihidup Mentari sekarang.
"Apa kau sungguh menganggap suamimu?" tanya Galih menggenggam tangan Mentari.
Daniar yang memang ditugaskan untuk menjaga Mentari mulai bereaksi ketika kakaknya dengan lancang menyentuh tangan wanita yang sudah beristri.
Galih dengan lesu melepaskan tangan Mentari, menjaga jarak aman untuk mereka sembari menatap wajah wanita yang kini terlihat sangat kecewa terhadapnya. Sungguh bukan niat Galih menyakiti Mentari, dia hanya berniat memisahkan Mentari dari Darel. Hanya itu saja.
"Tari...." Terpotong.
Baru juga mau bicara, Mentari langsung menyerobot perkataan Galih.
"Kakak tau kan bagaimana susahnya aku dan Darel sampai dititik ini? meskipun aku tidak membenarkan dirinya yang menyentuhku tanpa ijin, yah karena memang itu salahku sendiri. Tapi kak...." terdiam sesaat menata hati dan nafasnya yang tiba-tiba sesak.
"Anak ini tidak ada salah apa-apa padamu! kenapa kau tega melakukan itu padanya yang bahkan baru saja terbentuk dirahimku? sebenci itukah kau pada suamiku hingga buah cintanya pun ingin kau singkirkan?" cecar Mentari.
Daniar yang mendengar perkataan Mentari ikut merasa sesak di dadanya, tenggorokannya terasa tercekat hingga susah menelan air liur. Suasana berubah menjadi haru disekeliling Daniar saat ini.
Mentari tidak kuasa menyembunyikan kesedihannya kehilangan calon buah hatinya dengan Darel. Terbukti saat ini ujung matanya mulai berkaca-kaca.
__ADS_1
"Kak, aku tahu niat awalmu ingin melukai Darel. Maka dari itu kau datang ke mall itukan? tapi rencana Tuhan memang tidak bisa diduga, aku justru menabrak mu hingga kecelakaan itu terjadi dan...." Mentari ngos-ngosan sendiri.
Air matanya jatuh begitu saja mengingat kejadian mengerikan itu. Bayangan suram hadir begitu saja diingatkannya.
"Dan aku dinyatakan keguguran! hikss....hiks....hiksss....." tangis Mentari.
"Maafkan aku Mentari, aku benar-benar tidak bermaksud melakukan itu. Sungguh, percayalah padaku, aku mohon!" ucap Galih tidak tega melihat Mentari menangis.
"Kak, kenapa kau sangat membencinya? apa benar bahwa selama ini kau menganggap ku lebih dari seorang saudara?" tanya Mentari.
Suasana langsung hening seketika. Cukup lama hingga waktu besuk sudah habis dan Galih dibawa kembali kedalam jeruji besi.
"Mentari, sebaliknya kita pulang saja. Mama sama papa udah nunggu diluar." ajak Daniar.
Mentari langsung memeluk Daniar, menangis sejadi-jadinya. Daniar juga ikut menangis sembari memeluk erat sahabatnya itu. Tadi waktu Daniar dalam perjalanan pulang, begitu diberitahu bahwa Mentari sudah kembali ke Indonesia dan mengalami keguguran hingga harus dirawat beberapa hari di rumah sakit, Daniar tanpa pikir panjang langsung menyuruh Zanu mengantarkannya ke rumah Darel. Padahal saat itu merek sudah dekat dengan rumah Daniar.
Pertama kali melihat Mentari dalam kondisi seperti ini membuat Daniar syok dan prihatin.Dia lebih syok lagi ketika mendengar bahwa kakaknya lah yang menyebabkan semua kemalangan itu menimpa Mentari. Rasa marah, dan kecewa terhadap kakaknya membuat Daniar ingin segera bertemu kakaknya dan menanyakan kenapa dia bisa setega itu kepada Mentari yang sudah seperti anggota keluarga mereka sendiri. Waktu itu juga Daniar dan orang tuanya menuju ke kantor polisi.
"Kenapa Niar, kenapaaa Hiksss....hikss..... kenapa semua hal yang membuatku bahagia harus direnggut dengan cara yang sangat menyakitkan seperti ini?? hiks...hiks ..hikss...." Isak tangis Mentari pecah dipelukan sahabatnya.
"Kau harus sabar Mentari, aku yakin ada hikmah dibalik semua kejadian ini. Mungkin Tuhan punya rencana yang lebih bagus dan indah untukmu." ucap Daniar menghapus air mata Mentari yang terus mengalir di pipinya.
Daniar membawa Mentari menuju mobil orang tuanya yang sedari tadi sudah berada diluar menunggu mereka. Orang tua Daniad tidak banyak mengobrol selama perjalanan, terlebih ketika melihat Mentari yang datang dengan derai air mata membuat mereka merasa bersalah juga.
Sesampainya dirumah Darel, Mentari langsung dibawa ke kamarnya untuk istirahat, sedangkan Daniar masih tinggal disana bersama Zanu yang dari tadi menunggu dirumah Darel bersama sahabatnya yang lain.
"Bagaimana?" tanya Zanu ketika Daniar duduk disebelahnya.
Daniar menjawabnya dengan gelengan kepala menandakan semua tidak baik-baik saja.
"Apa saja yang dikatakan Mentari sewaktu bertemu dengan Galih?" tanya Darel.
Daniar menceritakan semuanya dari awal hingga akhir.
__ADS_1
"Kayaknya kau harus bekerja extra deh minggu-minggu ini man, soalnya kakak ipar sudah pengen banget punya bayi!" goda Tomi.
"Nah, aku setuju! mumpung udah halal kan, langsung tancap gas, hahahha!" timpal Arul diikuti gelak tawa semua orang.