
Seperti yang sudah direncanakan. Weekend Mentari dan karyawan tokonya mengadakan rekreasi bersama. Sebenarnya orang tua Darel ingin ikut, namun karena ada teman bisnis mereka yang datang berkunjung jadi tidak enak jika ditinggal. Zanu dan Daniar juga tidak bisa ikut. Mungkin kecapekan saat pulang dari puncak kemarin sehingga Daniar sedikit demam badannya.
Akhirnya Mentari hanya pergi bersama Iwang dan Darel saja untuk menemani berekreasi.
Pukul sembilan pagi semuanya sudah berkumpul di toko milik Mentari. Mereka pergi dengan bis yang membawa mereka ke puncak waktu itu.
Karena jarak yang ditempuh tidak terlalu jauh, hanya membutuhkan waktu empat puluh lima menit saja hingga akhirnya mereka sampai di tempat tujuan.
Khusus hari itu karyawan Mentari seolah melepaskan penat akibat pekerjaan mereka. Mereka terlihat sangat menikmati rekreasi kali ini. Pukul dua siang mereka pergi dari aquarium air laut dan menuju restoran milik keluarga Darel yang berada didekat sana untuk makan siang. Setelah kenyang dan membungkus beberapa makanan untuk keluarga mereka, mereka melanjutkan perjalanan menuju ke Anco*. Berbagai permainan mereka coba hingga akhirnya mereka menghabiskan waktu sore itu di kolam renang. Iwang juga tidak kalah senangnya seperti karyawan Mentari. Sesekali mereka terlihat berselfi ria dengan ponsel yang diletakkan disebuah tongkat hitam panjang.
"Mereka terlihat bahagia sekali yaa!" ucap Darel menatap anak dan karyawan Mentari yang asik bermain air.
"Iya! yahh, sekali-kali menyenangkan mereka. Itung-itung sedekah juga kan!" ucap Mentari tersenyum dengan tatapan yang tidak lepas dari karyawan dan anak angkatnya.
"Hatimu terbuat dari apa sih, sayang?" tanya Darel menatap lekat wajah ayu disampingnya.
Untuk sesaat Mentari menatap suaminya itu dengan tatapan aneh. Aneh atas pertanyaan yang aneh juga.
"Kenapa tanya seperti itu?" tanya Mentari bingung.
"Iya! kau itu baik sekali! bahkan pada orang yang tidak kau kenal! aku beruntung bisa mendapatkanmu!" ucap Darel diselingi dengan ucapan romantis.
"Gombal!" ucap Mentari.
"Eh, es krimmm...." ucap Mentari yang fokusnya sudah teralihkan pada kedai es krim
"Kamu mau?" tanya Darel.
Mentari hanya membalas dengan anggukan kepala.
"Oke tunggu disini yaa!" ucap Darel lalu pergi menuju kedai es krim disana.
Tidak berselang lama, Darel berjalan ke arah Mentari dengan membawa dua cup es krim ditangannya.
"Ini!" ucap Darel memberikan satu cup ke pada istrinya.
"Aaa makasihhh!!! ucap Mentari dengan suara yang imut.
"Sama-sama sayangkuhh!!" jawab Darel.
"Tuan Darel?!" sapa seorang wanita cantik dengan pakaian yang kurang bahan dimana-mana.
Darel dan Mentari saling pandang, terlebih tatapan Mentari saat ini sangat sulit diartikan oleh Darel.
"Maaf, siapa yaa?" tanya Darel yang memang sepertinya tidak mengenali wanita dihadapannya ini.
"Apa tuan lupa sama saya? saya salah satu wanita penghibur anda!!" jawab wanita itu penuh semangat.
Darel hanya nyengir kuda mendapati tatapan tajam sang istri setelah tahu siapa wanita ini.
"Ah, maaf saya tidak ingat!" ucap Darel sekenanya.
"Ah tidak mungkin anda lupa! orang servis saya kan yang paling terbaik buat dedek anda ini!!" ucap wanita tidak tahu malu itu.
Mentari mendengus kasar mendengar perkataan sensitif wanita yang telah duduk diantaranya dan Darel. Bahkan es krim ditangannya sudah meleleh kemana-mana.
"Mbak, seru sekalii!!! lain kali kita jalan-jalan lagi yaa!!" ucap salah satu karyawan Mentari diikuti yang lain juga Iwang.
"Sudah puas mainnya? kita balik sekarang yaa, saya capek banget nih, gerahhh juga!!" sindir Mentari menekan kata gerah sambil mendelik ke arah Darel membuat Darel menelan salivanya takut.
"Ibu capek? ayo Iwang bantu ke bis! ibu kan nggak boleh capek-capek! nanti nenek marah loh!" ucap polos Iwang.
"Iya sayang! cuma capek sedikit aja kok!" ucap Mentari.
Mereka semua pun pergi meninggalkan Darel bersama wanita tadi. Agak aneh sebenarnya namun karyawan Mentari tidak berani berbicara. Sesampainya didalam bis, Mentari langsung mendudukkan Iwang disebelahnya. Iwang yang merasa kalau orang tua angkatnya ini tengah bertengkar pun memilih diam saja.
__ADS_1
"Sayang!!" panggil Darel yang sudah berada dihadapan Mentari.
Mentari cuek saja dengan panggilan Darel, menatap pun ogah.
"Sayanggg, maaf!!! itu kan masalalu!! kamu jangan marah dongg, kan sekarang aku nggak gitu!!" bujuk Darel.
"Enak sekali yaa, servisnyaa?!" ucap Mentari menekan kata servis membuat Darel kelabakan sendiri.
"Dah ah jangan deket-deket!! sana!!!" usir Mentari.
Karena mendapatkan penolakan dari Mentari, Darel berjalan dengan sempoyongan menuju ke belakang dan duduk sendiri di sana.
"Tuan, anda baik-baik saja?" tanya Harri yang sedari tadi hanya jadi penonton saja bersama Adi.
"Baik-baik saja mata lo!!! nggak liat tuh istriku marah kayak gitu!!!" omel Darel.
"Yeee, itu mah salah tuan sendiri suka jajan sembarangan! untung sekarang udah insyaf!" ucap Harri.
"Lama-lama kau tuh pengen aku bunuh yaa Harrii!!!" ucap Darel menatap tajam Harri sedangkan Adi hanya diam menyimak.
"Lagian kenapa bisa ketemu sama wanita itu sih? aku aja udah lupa siapa dia!!" gumam Darel namun masih bisa didengar oleh Adi dan Harri.
Untuk sesaat Adi dan Harri saling melempar pandangan.
"Anda mungkin lupa tuan, tapi dia mungkin ingat anda. Secara anda orang terkenal." ucap Adi.
"Dah lah!! nanti kalian pikirkan caranya biar aku bisa masuk kamar lagi! udah beberapa malam nih aku tidur di kamar Iwang!!" gerutu Darel.
"Pefttt!!!!" Adi dan Harri terlihat menahan tawa mendengar keluh kesah Darel.
"Tawa!!tawa!!tawa!!! ayo ketawaaa!!! biar aku potong leher kalian biar nggak bisa ketawa lagi, mau?!!" ancam Darel.
"Tidak!!! tidak mau tuan, tidak mau!!!" jawab Adi dan Harri cepat.
"Tidak usah repot-repot tuan, hehehe!!" ucap Harri kemudian.
"Baik tuan kami permisi!" ucap Adi dan Harri.
Mereka pun meninggalkan Darel yang duduk sendiri di kursi belakang.
Malang sekali nasibmu, Rel!!! sudah tidak dijatah beberapa hari, sekarang malah dimusuhi lagi!! apess....apesss!!! keluh Darel meratapi nasibnya.
********
Beberapa hari semenjak bertemu dengan wanita di Anco*, Mentari terus mendiami sang suami. Entah bawaan hamil atau memang dia kesal sehingga dia tidak mau berdekatan dengan Darel. Setiap kali berdekatan atau bahkan melihat wajah Darel, Mentari akan mual-mual.
Hari ini Darel dan Iwang sudah pergi dari rumah. Darel mengantar Iwang ke sekolah barunya lalu Darel berangkat ke kantor. Tinggalah Mentari sendirian dirumah besar itu.
"Saya ini bibinya Tari!!! biarkan saya masuk!!" teriak seorang wanita.
Mentari yang saat itu berada di taman mendengar keributan dari arah gerbang depan dan memutuskan untuk menghampirinya.
"Ada apa, kak?" tanya Mentari pada Lukas yang berdiri tidak jauh dari gerbang depan.
Terlihat beberapa pengawal Darel berdebat dengan seorang wanita. Dibilang seorang wanita karena terlihat memakai rok meski tidak terlihat jelas wajahnya karena tertutup oleh tubuh pengawal Darel yang besar.
"Ada emak-emak ngamuk pengen ketemu kamu! katanya bibimu!" jawab Lukas.
"Bibiku? siapa?" tanya Mentari celingukan penasaran dengan wanita yang mengaku bibinya itu.
"Eh, kamu mau kemana?" tanya Lukas saat mendapati Mentari hendak menghampiri keributan itu.
"Mau lihat!"
"Jangan!! disini saja! kalau terjadi apa-apa denganmu, tuan Darel bisa menghabisiku!!" cegah Lukas.
__ADS_1
"Nah, itu dia!! Tarii, suruh pria-pria ini membukakan gerbang untukku!!" teriak wanita itu yang melihat kehadiran Mentari disana.
"Bi Surti?!"
"Pak bukakan saja gerbangnya!" ucap Mentari.
"Tapi nona..."
"Nggak apa-apa, buka saja!" ucap Mentari.
Akhirnya pengawal itu pun membuka gerbang membiarkan Surti masuk.
"Huuu, gitu napa dari tadi!!! luntur nih bedak saya gara-gara kena panas!!!" omel Surti pada pengawal itu.
"Heh, Tari aku mau ngomong! ajak masuk kek!" omel Surti pada Mentari sambil mengelap keringat di dahinya menggunakan lengannya.
"Ah, maaf, bi! mereka ini hanya mematuhi perintah suamiku untuk tidak membiarkan orang asing masuk!" ucap Mentari ramah.
"Jadi kamu bilang aku ini orang asing begitu? aku ini bibi Daniar, orang yang sudah mengangkat derajatmu yang tidak tahu asal-usulnya ituu!! kamu tuh berhutang budi sama dia, berarti juga punya hutang budi kepadaku!!!" cerocos Surti.
Lukas yang tidak terima Surti berkata seperti itu kepada nonanya pun ingin sekali memenggal kepala wanita itu. Namun belum juga dia melangkah tangan Mentari sudah menghentikannya membuatnya kembali ke posisi berada dibelakang Mentari dengan tatapan tajam yang tidak lepas dari wanita itu.
"Bukan begitu maksudku bi! ah sudahlah ayo masuk dulu!" ajak Mentari.
Serba salah memang dia berbicara dengan Surti.
Saat memasuki rumah, mata Surti celingukan menyapu setiap sudut rumah mewah itu.
"Waahhh, ini rumah apa istana??? cakep bener!!! kalau aku bisa tinggal disini, behhh enak hidupku!!! nggak usah kerja, tiap hari makan enak terus, tinggal ongkang-ongkang kaki ajaa!!!" ucap Surti lirih.
"Mbok!!!" panggil Mentari.
Mbok Tini dengan langkah cepat menghampiri Mentari dari arah dapur.
"Iya, non?"
"Tolong buatkan jus jeruk yaa buat tamu saya! oh ya bawakan juga beberapa camilan. Terimakasih!" ucap Mentari.
"Baik, non! sebentar yaa!" ucap mbok Tini.
"Eh-eh!! tunggu dulu!!!" ucap Surti menghentikan langkah mbok Tini.
"Kasih gula sedikit saja ya jusnya!!! oh yaa bawakan semua camilan yang enak-enak disini!! sama emmm bawakan makanan juga yaa saya lapar!!" perintah Surti tidak tahu malu.
Mbok Tini menatap ke arah Mentari seolah meminta ijin dengan apa yang diperintahkan Surti. Setelah mendapatkan anggukan kepala, mbok Tini pun pergi ke dapur lalu kembali bersama beberapa pelayan membawakan segelas jus jeruk, beberapa camilan dan makanan enak sesuai pesanan Surti.
Lukas yang sedari tadi berdiri didekat mereka ikut jengah dengan tingkah Surti yang tidak punya malu itu.
"Silahkan!" ucap mbok Tini setelah meletakkan jus jeruk ke meja di hadapan Surti.
"Silahkan dimakan bi!" ucap Mentari.
Mbok Tini juga membawakan sepiring strawberry dan anggur untuk camilan Mentari. Surti yang disuguhi makanan enak-enak dihadapannya itupun ngiler dan mencoba semuanya satu persatu. Gaya makan Surti itu sudah seperti orang kelaparan berbulan-bulan tidak makan. Rakus sekalii. Bahkan Lukas yang melihatnya pun sampai enek saking rakusnya wanita itu makan.
"Eh, tolong bawakan plastik dong biar bisa saya bungkus untuk pulang!!" ucap Surti dengan mulut penuh makanan.
"Ah, iya-iya! mbok minta plastik yaa!" ucap Mentari.
Salah seorang pelayan menuju ke dapur lalu kembali membawakan sebungkus plastik lalu memberikannya kepada Mentari.
"Ini, bi!" ucap Mentari memberikan sebungkus plastik itu kepada Surti yang masih setia memasukkan makanan kedalam mulutnya yang terlihat sudah penuh itu.
"Oh ya, apa yang membawa bibi kesini?" tanya Mentari.
"Jadi gini! aku mau kamu meminta pada tuan Darel untuk memasukkan pamanmu ke perusahaannya lagi! kamu tahu kan sekarang dia menganggur gara-gara kamu!!" ucap Surti masih terus makan.
__ADS_1
"Benar-benar wanita tidak punya adab!! urat malunya sudah putus kali yaa!!" geram Lukas lirih.