
Proses pencarian masih terus dilakukan bahkan pada malam hari namun tidak menemukan titik terang keberadaan Darel, Mentari beserta seorang pilot.
Mereka tidak mau menyerah dengan cepat, semua tenaga mereka kerahkan demi pencarian ketiganya atau setidaknya petunjuk tentang ketiganya selamat atau tidak dalam peristiwa itu.
Pagi hari kembali menyapa Bumi. Daniar yang tidak bisa tidur semalaman karena memikirkan nasib Mentari pun menuju rumah Sanjaya untuk menanyakan kabar mengenai mereka.
Jujur saja rasa khawatir yang menggerogoti hati dan pikirannya ini membuatnya tidak nyaman dan tenang. Dia harus mendapatkan kabar sahabatnya itu secepatnya.
"Selamat pagi nona, tunjukkan kartu identitas anda!" ucap seorang pengawal yang berjaga di gerbang rumah Sanjaya.
"Ini, saya sahabat Mentari, Daniar!" ucap Daniar sambil menunjukkan kartu identitas yang pernah diberikan dulu ketika pernikahan Mentari sebagai tanda pengenal bahwa dia diundang menjadi tamu dalam pesta itu.
"Baiklah, silahkan masuk nona!" ucap pengawal itu.
Daniar pun memasuki kediaman Sanjaya. Setelah menekan bel pintu, seorang pelayan membukakan pintu dan menyuruhnya untuk masuk kedalam rumah.
"Saya panggilkan nona muda dulu, nona." ucap pelayan itu sopan.
"Baiklah, terimakasih!' jawab Daniar ramah.
Pelayan itu pun meninggalkan Daniar sendirian, dan tidak lama kemudian datang Randita yang habis menangis. Hal itu terlihat dari matanya yang sembab.
"Kau sahabatnya adik iparku kan? Daniar?" tanya Randita yang samar-samar mengingat wajah Daniar.
"Benak nona, saya Daniar. Senang bisa bertemu nona lagi!" jawab Daniar sambil berdiri.
"Ah tidak perlu terlalu formal, panggil saja kak Randita atau kak Dita juga boleh." ucap Randita.
__ADS_1
"Baiklah kak Dita." ucap Daniar.
"Emm, apa kau mau membahas soal kecelakaan pesawat Darel dan Mentari semalam?" tanya Randita.
"Iya kak, aku sangat tidak nyaman, aku sangat khawatir akan keselamatan sahabatku. Apa mereka sudah ditemukan?" tanya Daniar penuh kekhawatiran.
Randita menarik nafas panjang dan menghembuskannya dengan kasar
"Belum! papa sudah mengerahkan semua anak buahnya, dibantu kepolisian dan juga tim SAR, namun sampai sekarang belum ada kabar apapun dari mereka!" ucap Randita mulai meneteskan air mata.
"Bisakah aku ikut mencarinya kak? aku mohon! aku sangat tidak nyaman disini sedangkan sahabatku entah ada dimana dia sekarang dan bagaimana keadaannya sekarang. Bisakah aku cuti untuk beberapa hari ini?" tanya Daniar.
Daniar tahu benar jika ini salah, mementingkan urusan pribadi di samping urusan pekerjaan. Namun apalah dayanya sekarang, batinnya terus disiksa jika dia dituntut untuk buta akan masalah Mentari dan dia tidak bisa itu.
"Baiklah, aku akan menelpon Wisnu dan memintakan cuti untukmu sampai mereka ditemukan. Tapi aku tidak meminta keringanan untukmu dalam masalah pekerjaan ya." ucap Randita sedikit mencairkan suasana.
"Baiklah, oh ya tadi Sahabat-sahabatnya Darel juga akan ikut dalam pencarian kau berangkatlah bersama mereka aku akan memberitahu mereka kalau kau mau ikut membantu juga." ucap Randita.
Tunggu, sahabatnya tuan Darel? berarti Zanu juga? batin Daniar.
Senyum yang sempat mengembang dibibir Daniar kini berangsur memudar. Entah mengapa mengingat Zanu dia menjadi aneh. Perasaannya benar namun kenapa Zanu malah mengacuhkannya setelah tahu perasaannya? apakah Zanu menjadi ilfil dengan Daniar karena menyatakan perasaannya terlebih dahulu sebelum Zanu mengatakannya? apakah Zanu berpikir Daniar wanita murahan? pikir Daniar saat itu.
Daniar memilih menganggukkan kepalanya meskipun hati dan pikirannya sedang beradu pemahaman.
Daniar yang saat itu tengah memakai rok selutut pun disuruh berganti celana panjang oleh Randita agar memudahkan Daniar dalam pencarian Darel dan Mentari. Daniar pun mengikuti saran Randita dan meminjam celana milik Randita.
Tidak lama kemudian tiga buah mobil datang bersamaan yang diyakini Daniar adalah mobil tuan-tuan muda sahabat Darel. Dan benar saja, Arul, Rohan, Tomi, Bagas, dan Zanu keluar dari mobil masing-masing.
__ADS_1
Randita mengatakan bahwa Daniar akan ikut bersama mereka berenam, dan meminta untuk membawa Daniar di salah satu mobil mereka.
Arul dan Tomi dalam satu mobil bersama Jack, sedangkan Rohan dan Bagas yang saat itu sedang bersama akhirnya pergi dengan satu mobil. Zanu mengendarai mobilnya sendiri, namun dia tidak tahu kalau Daniar juga akan ikut.
"Emmm, kau dengan Zen saja! dia sendiri tadi kasihan kan kalau dia mengendarai mobilnya sendiri!" ucap Tomi berusaha mendekatkan sahabatnya dengan wanita idamannya.
Mendengar ucapan Tomi barusan membuat Daniar merasa senang, mungkinkah dengan satu mobil bersama Zanu mereka bisa banyak waktu mengobrol nantinya? pikir Daniar.
"Gas, kau kendarai saja mobilku biar aku yang bersama Rohan." ucap Zanu tiba-tiba.
Jawaban Zanu bak petir yang menyambar hati Daniar. Sejijik itukah Zanu pada Daniar hingga tidak mau satu mobil dengannya? apa Daniar yang terlalu berharap perasaannya terbalas selama ini? batin Daniar.
"Tidak, kau saja yang mengendarai mobilmu! lagi pula mobilmu itu kan antik, jarang bisa aku gunakan nanti malah nabrak lagi kan tambah repot!" ucap Bagas bercanda.
Bagas sebenarnya ingin menerima tawaran Zanu, namun dia sadar yang diinginkan Daniar adalah berada didekat Zanu bukan dirinya.
"Sudahlah, Daniar kau masuk saja ke mobil Zanu! Zanu aku titip Daniar ya, awas saja kalau sampai lecet!" ucap Randita memperingati.
"Baik kak!" ucap Zanu pasrah.
"Ya, sudah kalau begitu kami pergi dulu!" ucap Arul.
Mereka pun memasuki mobil masing-masing dan berangkat menuju tempat jatuhnya pesawat yang ditumpangi Darel dan Mentari.
********
Sementara itu ditempat lain.....
__ADS_1
"Dimana aku......!" ucap seseorang dengan suara lemah.