
Darel menelepon Adi untuk menjemputnya dirumah Mentari. Adi dan Lukas pun segera menjemput tuan mereka.
"Maaf tuan, apakah anda lama menunggu?" tanya Lukas.
"Tidak!" ucap Darel datar.
Lukas dan Adi saling menatap ketika Darel mulai memasuki mobil.
"Jalan ke apartemen Pretty! aku ada urusan dengan wanita itu!" ucap Darel mengepalkan tangannya.
"Tuan, apakah nona masih marah dengan anda? apa anda sudah menceritakan semuanya? aku rasa kalau nona tahu yang sebenarnya dia tidak akan semarah ini dengan anda!" ucap Lukas.
"Haihhh! Lukas, kau bekerja padaku bukan baru satu tahun atau dua tahun, tapi sudah bertahun-tahun. Kau pikir Mentari akan memaafkanku jika aku jujur kalau aku dengan sengaja membuatnya meminum pil yang merusak ra*im wanita lain? kau pikir saja betapa marahnya dia nanti." ucap Darel melemparkan kekesalannya kepada anak buahnya.
"Maaf tuan!" ucap Lukas tertunduk.
"Sudahlah kalian diam! daripada aku memarahi kalian karena moodku yang sedang tidak baik." ucap Darel lalu menatap keluar mobil.
Adi dan Lukas berbicara dengan isyarat yang hanya mereka berdua saja yang tahu. Sepanjang perjalanan, Darel hanya diam dan melamun saja.
"Tuan kita sudah sampai!" ucap Adi yang berada dibelakang kemudi.
"Hemm!"
Darel langsung turun dari mobil disusul Lukas dan Adi. Mereka mulai berjalan menuju kamar apartemen Pretty.
"Tuan!" sapa Aqis saat Darel dan yang lain baru datang.
"Dimana wanita itu!" tanya Darel.
"Ada didalam tuan, tengah diikat!" ucap Aqis.
Darel hendak membuka pintu kamar namun dihentikan oleh Aqis.
"Maafkan saya tuan! saya tidak bisa menjaga rahasia ini. Jika saya berbohong nona akan semakin membenci anda. Saya tidak punya pilihan lain selain berkata jujur kala itu!" ucap Aqis merasa bersalah.
"Ini bukan salahmu! jangan merasa bersalah!" ucap Darel singkat lalu masuk ke dalam apartemen.
Lukas, Adi, dan Aqis ikut masuk kedalam mengikuti langkah Darel hingga dia berhenti dikamar Pretty. Darel melihat kearah Pretty yang tengah diikat kaki dan tangannya ke tiap ujung tempat tidur.
"Darel?! Darel sayang, lepaskan aku.. lihat anak buahmu mengikatku seperti hewan saja!" rengek Pretty saat melihat kedatangan Darel.
"Lepaskan dia!"
"Tapi tuan?!" ucap Aqis ingin berkomentar.
"Lepaskan dia!" ucap Aqis kepada bawahannya.
Empat orang bawahan Aqis mulai melepaskan ikatan di kaki dan tangan Pretty. Setelah lepas, Pretty langsung berlari kearah Darel dan memeluknya. Darel tetap diam tidak menanggapi atau menolak Pretty. Raut wajahnya seperti tengah meredam emosi yang sangat besar.
"Dia!!! dia yang memerintahkan untuk mengikatku seperti ini! beri dia pelajaran, sayang!!! lihat dia menyiksaku begitu parah!" rengek Pretty menatap kearah Aqis dengan tajam.
"Hei perempuan! jaga mulutmu atau kau akan aku...." terpotong.
__ADS_1
Plakkkkk.....
Sebuah tamparan yang sangat keras dilayangkan Darel kepada Pretty hingga wanita itu jatuh ke lantai cukup keras.
"Da... Darel?!" tanya Pretty memegangi pipinya yang panas akibat tamparan Darel.
********
Rohan sudah membawa Suli ke rumah sakit, dia sedang ditangani oleh Bagas dan timnya.
"Rohan!" panggil Tomi.
Tomi, Zanu, juga Jack datang berlari kearah Rohan yang posisinya tengah duduk di kursi tunggu.
"Apa benar mereka dari kelompok itu?!" tanya Tomi tidak sabaran.
"Aku rasa begitu! karena saat Suli menelepon ku dia mengatakan bahwa mereka anak buah dari Jo." ucap Rohan.
"Tapi bagaimana dia bisa sampai terluka?" tanya Zanu.
"Emmm, seperti ini..."
Rohan mulai menceritakan awal kedatangan Suli ke kantornya membawakan sarapan juga Abu yang dia minta untuk mengantarkan Suli pulang. Semua diceritakan Rohan dengan detail.
"Sepertinya kita tidak banyak waktu lagi. Mereka sudah terang-terangan menunjukkan diri disini." ucap Tomi.
"Tuan aku semalam menemukan informasi bahwa beberapa bayi yang hampir mirip dengan foto yang diberikan nona Suli ada di kota ini!" ucap Jack memberikan beberapa foto dan alamat bayi yang diduga hampir mirip dengan foto yang Suli perlihatkan saat dipulau Zanu.
"Wah, kerja bagus! kita bisa mulai dari yang terdekat!" ucap Zanu melihat foto-foto itu.
"Iyalah! siapa dulu bosnya!" ucap Tomi sombong.
"Dih, pede!" ucap Jack lirih namun bisa didengar semua orang.
"Apa kau bilang?!"
"Eh tidak-tidak tuan, hehehe!" ucap Jack cengengesan.
"Rohan!" panggil Bagas saat keluar dari ruang Suli.
"Bagaimana keadaannya?" tanya Rohan saat sudah mendekati Bagas diikuti yang lain.
"Alhamdulillah dia sudah melewati masa kritis. Untung saja pisau itu tidak terlalu dalam. Wanita itu sangat kuat, bahkan lebih kuat dari yang aku duga!" ucap Bagas.
Entah memuji atau apa, namun Rohan seperti tidak suka cara Bagas membicarakan Suli.
"Emm, boleh aku masuk?" tanya Rohan.
"Tidak untuk sekarang. Karena dia baru saja aku beri obat tidur. Mungkin satu jam lagi baru boleh!" ucap Bagas.
"Jangan khawatir aku tidak tertarik kok padanya!" bisik Bagas disamping telinga Rohan.
"Siapa yang khawatir? aku? tidak kok!" ucap Rohan berkilah.
__ADS_1
"Hahaha, wajahmu itu tidak bisa bohong, Rohan!" tawa Bagas.
"Hei, kalian ini membicarakan apa sih?" tanya Tomi yang berdiri agak jauh dibelakang Rohan.
"Ah, tidak apa-apa kok! ya kan, Gas!" ucap Rohan salah tingkah.
"Ya, tidak apa-apa!" ucap Bagas namun dengan ekspresi yang tidak menyakinkan.
Tomi menyipitkan matanya penuh selidik.
"Oke, sambil menunggu Suli, bagaimana kalau kita mencari dulu ke alamat- alamat ini!" usul Zanu.
"Ah, boleh juga! Gas, kau ikut?" tanya Tomi.
"Tidak dulu! aku masih ada beberapa pasien lagi." tolak Bagas.
"Baiklah! Rohan, kau bagaimana?" tanya Zanu.
"Aku ikut. Bagas kalau ada apa-apa hubungi aku ya!" ucap Rohan membuat ketiga sahabatnya melongo keheranan.
"Apa?!" tanya Rohan yang merasa ditatap dengan tatapan aneh.
"Kau benar Rohan kan?" tanya Tomi membuat ekspresi muka yang.....entahlah.
"Kau pikir siapa?!" tanya Rohan.
"Biarkanlah dia, biasa baru merasakan benih-benih cinta." ledek Zanu.
"Apasih, Zen! orang aku...aku cuma..."
Rohan memutar bola matanya kebingungan.
"Iya-iya aku mengerti kok! kita semua kan sudah pernah mengalaminya! syukur-syukur kalau kau juga ikut. Jadi kan personil kita sudah lengkap!" ucap Tomi merangkul pundak Zanu.
"Sudahlah ayo berangkat! pakai mobil kalian saja ya! aku tadi ikut mobil kantor soalnya!" ucap Rohan berjalan lebih dulu meninggalkan Zanu, Tomi, dan Jack.
"Yahhh, tuan polisi bucin baperan!!!" ledek Tomi.
"Ayo!" ajak Zanu ikut melangkah.
Mereka pun menuju mobil Zanu. Sebenarnya Zanu dan Tomi membawa mobil masing-masing, namun kali ini mereka memilih memakai mobil Zanu dan mobil Tomi ditinggal diparkiran rumah sakit.
********
Dirumah Arul. Arul menolak ikut menjenguk Suli karena dia terus digoda oleh Anisa. Sehari tidak bertemu sang suami membuat rindu Anisa menggunung. Hari ini mereka habiskan dengan memadu kasih sampai puas.
"Sayang bentar dulu! beri aku jeda! kau terlalu brutal kali ini!" ucap Arul mulai kewalahan.
"Kenapa?! aku sudah tidak menarik lagi ya? atau aku sudah jelek yaa?!" tanya Anisa sudah mau menangis.
"Tidak! bukan begitu, sayang! aku hanya lapar! tenaga ku sudah habis terkuras dengan aktivitas panas ini! lagi pula kau kan tidak boleh telat makan. Ingat ada calon anak kita yang tumbuh di perutmu!" ucap Arul selembut mungkin.
"Ah iya kita sarapan saja dulu, habis itu lanjut lagi yaa!" goda Anisa.
__ADS_1
"Sesuai permintaanmu tuan putri!" ucap Arul menatap penuh cinta wanitanya.