Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 229


__ADS_3

Pagi itu, hujan sudah mulai reda. Rohan yang tengah sibuk di kantor berangkat pagi dari rumahnya. Andre dan Suli masih tinggal dirumah Rohan mengingat keselamatan mereka yang tengah terancam oleh kelompok Nerezza.


"Jangan biarkan orang lain masuk selagi aku kerja! pastikan semua pintu dan jendela sudah terkunci dengan rapat! dan satu lagi, segera hubungi aku jika ada apa-apa!" ucap Rohan ketika hendak berangkat.


"Iyaa baiklah!" jawab Suli sembari menunjukkan gigi gingsulnya.


"Hem, baiklah aku pergi dulu!" ucap Rohan.


Dengan mengendarai motor kesayangannya, Rohan mulai meninggalkan rumahnya. Setelah memastikan Rohan sudah pergi, Andre dan Suli pun memasuki rumah lalu menguncinya dari dalam sesuai perintah Rohan.


"Sepertinya ini waktu yang tepat untuk menyerang!" ucap Syen.


"Baguss!! kita jalankan sesuai rencana! hahahahaa!" ucap pria misterius dengan tawa yang menyeramkan.


Mereka mulai menjalankan rencana yang telah mereka buat sebelumnya dimana Syen dan pria misterius itu akan berpura-pura menjual sesuatu kemudian melumpukan Andre dan Suli.


Ding...dong....


Bel rumah Rohan berbunyi.


"Loh siapa yang bertamu sepagi ini?" tanya Andre.


"Apa mungkin tuan Rohan?" tanya Suli.


"Kalau itu tuan Rohan, kenapa nggak langsung masuk aja? kan dia yang punya rumah ini?" tanya Andre.


"Haha, kau lupa ya kalau kunci rumahnya sudah dia berikan kepadaku?" tanya Suli memperlihatkan lima buah kunci rumah.


"Wohhh iyaa-ya! lupa aku!" ucap Andre menepuk jidatnya sendiri sambil cengengesan.


"Tapi kenapa dia kembali? kan dia baru saja pergi?" tanya Andre lagi.


"Mungkin dia kembali karena ada sesuatu yang tertinggal! entahlah! coba aku lihat dulu!" ucap Suli mulai berjalan menuju pintu depan.


Ceklekkk....


"Ya tuan Ro......" terpotong.


Suli terkejut melihat Syen dan pria misterius yang tengah menyamar itu.


"Eh, kalian ini siapa?" tanya Suli penuh selidik.


Andre yang berada tidak jauh dari sana memperhatikan tangan Suli yang berada dibelakang punggungnya. Tangan Suli membentuk sebuah isyarat SOS, sebuah sinyal yang meminta pertolongan. Andre yang cerdik pun mengirim pesan kepada Rohan melalui telepon genggamnya.


"Maaf kalau tidak ada keperluan, silahkan kalian pergi saa....akhhh!!!"


"Kakakkkk!!!!!" teriak Andre.

__ADS_1


"Jangan biarkan ada saksi mata! habisi saja dia sekalian!" perintah pria misterius.


"Dengan senang hati!" ucap Syen.


Pria misterius itu memapah tubuh Suli yang terluka akibat obat bius.


"Berhentiii!!! mau kau bawa kemana kak Suli!" teriak Andre.


"Diamlah kau bocah ingusan!" hardik Syen.


"Kak!!! kak Suliii!!! kakakkkk!!!" panggil Andre.


Suli terus dibawa oleh pria misterius hingga hilang dari pandangan Andre.


"Hihhh!! kau bawa kemana kakak ku haaaa!!" ucap Andre marah.


"Hah, rileks lah! kami tidak akan berbuat apa-apa sama kakak mu itu! palingan cumaaa..." ucap Syen sembari menggerakkan tangannya seperti tengah menebas lehernya.


"Jangan apa-apakan kakakkuuu!!!" teriak Andre hendak menyerang Syen.


Syen yang berbadan lebih besar dan lebih tinggi dari Andre menopang kepala Andre menggunakan telapak tangannya hingga pukulan Andre tidak bisa mengenai tubuhnya.


"Huammmm!!!! jingin ipi-ipikin kikikki!!" ejek Syen sembari mengulang perkataan Andre barusan.


"Woi cepatlah!" perintah pria misterius kepada Syen.


Syen menoleh sebentar lalu...


"Aaaa!!!!" teriak Andre kesakitan.


"Heh! lemah!" ejek Syen sebelum keluar dari rumah Rohan.


Andre merangkak dengan sekuat tenaga. Perutnya terus mengeluarkan darah akibat tusukan dari Syen tadi.


"J....jangan......bawa....kak...kak kuuuu!!!" ucap Andre lemah ketika pintu rumah tertutup.


********


Hari ini, Darel berdiam diri dirumah. Semua urusan yang penting-penting sudah dia kerjakan kemarin. Hari ini Darel hanya ingin menyendiri saja. Rasanya dia sangat ingin menghabiskan seharian ini mengenang kenangan indahnya bersama Mentari.


Untuk kalian ketahui juga, kondisi nenek Iwang sudah mulai membaik setelah dilakukan operasi. Namun karena masih dalam masa pemulihan, nenek Iwang diharuskan untuk tetap dirumah sakit untuk mendapatkan penanganan yang lebih maksimal. Selama nenek Iwang dirumah sakit, Iwang menginap di rumah Abu.


Abu juga senang ketika Iwang tinggal dirumahnya karena memang dirinya menginginkan mempunyai seorang adik. Ibu Abu juga sama senangnya seperti Abu. Iwang sudah mereka anggap seperti anak mereka sendiri.


"Tuan, tuan Rohan mengirimi pesan untuk segera datang ke rumah sakit!" ucap Adi memberitahu pesan Rohan.


"Haihh, aku ingin menyendiri satu hari aja nggak bisa tenang!" omel Darel sambil berdiri.

__ADS_1


"Apa sih?" tanya Darel.


"Suli tuan! Suli telah diculik! dan mereka juga melukai Andre sebelum mereka pergi!" ucap Lukas.


"Apaa?!! kenapa nggak bilang dari tadiii!!! cepat kita pergi!" ucap Darel kelabakan.


Mereka semua bergegas menuju ke rumah sakit yang sudah dikirimkan oleh Rohan alamatnya.


Darel tidak sempat berganti baju, dia keluar hanya dengan memakai kaos berwarna army dan celana joget hitam saja.


Begitu sampai dirumah sakit, Darel langsung berlari menuju ruang operasi yang sebelumnya juga sudah diberitahu oleh Rohan.


"Bagaimana Suli bisa sampai diculik?" tanya Darel yang baru saja datang.


Arul, Tomi, Zanu,dan Rohan hanya terdiam saja. Saat ini Bagas tengah menangani Andre. Meskipun luka tusukan itu tidak terlalu dalam, namun saat dilakukan pemeriksaan terdapat serpihan kecil pisau yang tertinggal disana sehingga mengharuskan melakukan operasi kecil.


"Sepertinya kelompok yang sama yang telah menyerang dia sebelum ini!" ucap Tomi yakin.


"Apa kau sudah berhasil melacaknya?" tanya Rohan khawatir.


"Sayangnya, belum! Jack mendapat kesulitan untuk meretas beberapa CCTV yang ada disekitar rumahmu. Kemungkinan ini juga ulah mereka agar identitas mereka tidak bisa terlacak." jelas Tomi lagi.


"Huftt! jadi, kita harus diam saja begitu?" tanya Zanu.


"Sepertinya mereka mengincar sesuatu!" ucap Darel menerka.


"Maksudmu?" tanya Rohan.


"Yah, Suli bilang dia hanya mengambil foto anak perempuan kedua dari Jo kan? jika benar tidak akan mungkin sampai seperti ini dia diincar! jika masalahnya hanya karena dia penembak jitu, bukankah Andre juga sama? kenapa tidak dibawa sekalian?" jelas Darel.


Mereka semua memikirkan kembali perkataan Darel yang terdengar masuk akal.


"Rohan, bagaimana ceritanya tadi? kenapa Andre bisa sampai terluka?" tanya Darel yang memang belum tahu ceritanya.


"Aku tidak tahu kejadian pastinya. Sesaat setelah aku tiba di kantor polisi, Andre mengirimiku pesan bahwa mereka dalam bahaya. Aku langsung bergegas kembali pulang lagi. Saat aku tiba dirumah, keadaan Andre sudah bersimbah darah dan Suli sudah tidak ada disana." jelas Rohan.


"Bukankah dirumahmu ada CCTV?" tanya Zanu.


"Baru dua hari yang lalu aku lepas untuk diperbaiki!" ucap Rohan menyesal.


Andai saja dia tidak melepaskan CCTV dirumahnya, mungkin masih ada secercah harapan untuk menemukan Suli.


"Tunggu, bukankah aku pernah memberikanmu gantungan dream catcher? disana ada kamera pengintai kecil! kau masih menyimpannya kan?" tanya Darel.


Yah, memang beberapa bulan yang lalu Darel sempat memberikan Rohan benda yang dipikirnya tidak berguna itu.


"Sungguh? aku menggantungnya didepan kamar Suli karena Suli menyukai benda itu!" ucap Rohan.

__ADS_1


"Bagus, cepat bawa kesini dan akan aku panggil Jack juga ke sini!" ucap Tomi mulai mengambil ponselnya didalam saku celananya.


"Oke!" ucap Rohan berlari meninggalkan tempat itu.


__ADS_2