Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EXTRA PART VII


__ADS_3

Hari ini Hyuna sengaja datang lebih awal karena ada jadwal piket. Sesaat sebelum memasuki ruangan kelasnya, Hyuna tidak sengaja melihat Alvaro yang berjalan cukup jauh darinya. Alvaro membawa tas dengan posisi diletakkan disalah satu bahunya. Kebiasaannya memang seperti itu. Namun itu terlihat begitu cool bagi Hyuna. Entahlah, apapun itu jika tentang Alvaro, maka akan terlihat wah dimata Hyuna. Ibarat Alvaro matahari dan Hyuna adalah Bumi yang berputar mengelilingi matahari.


"Kak Varo!!!" panggil Hyuna.


Namun karena jarak mereka yang semakin jauh, Alvaro pun tidak mendengarkan panggilan Hyuna. Alvaro menghilang dibalik dinding diujung lorong kelas.


"Kak!!! Kak Varoo!!" panggil Hyuna.


Hyuna berlari mengejar Alvaro. Sampai ke ujung lorong tempat Alvaro menghilang tadi, Hyuna sempat melihat sekelebat yang berjalan ke lorong kecil disana. Lorong itu menuju ke gudang sekolah. Untuk apa Alvaro ke gudang? pikir Hyuna saat itu. Hyuna terus berjalan hingga dia sampai didepan gudang sekolah.


Terdengar oleh Hyuna, beberapa orang yang tengah tertawa. Hyuna mengendap-endap seperti seorang pencuri menuju ke jendela yang ada didekat sana. Hyuna melihat ada ramai orang didalam gudang itu, dan salah satunya adalah Alvaro.


"K...kak...Varo?!" lirih Hyuna.


Mata Hyuna membulat sempurna saat menyaksikan apa yang ada dihadapannya ini. Terlihat oleh Hyuna bahwa Alvaro duduk di meja yang tidak terpakai sambil tangannya memegang sebuah roko*. Kepulan asap roko* keluar dari mulut Alvaro, dan terlihat benar bahwa Alvaro menikmati kegiatannya itu.


BRAK....


"SIAPA DILUAR ITU?!" teriak suara dari dalam gudang.


Hyuna begitu terkejut melihat Alvaro yang seperti itu hingga tanpa sengaja dia menabrak meja yang telah rusak hingga menimbulkan suara yang keras membuat keberadaannya diketahui oleh Alvaro dan yang lainnya.


"Kau?!" tanya Alvaro saat mereka semua keluar dan melihat Hyuna disana.


"M...maaf!" ucap Hyuna lirih.


Alvaro mencekal lengan Hyuna dengan sangat kuat hingga membuat Hyuna meringis kesakitan.


"Awas saja kalau sampai kamu mengadukan perbuatan ku ini sama mami!" ucap Alvaro.


"A...aku...aku janji nggak akan bilang sama tante Niar, kak!" ucap Hyuna terbata.


"Pergi!!! jangan pernah lihatin muka lo lagi dihadapan gue!!" usir Alvaro.


Cekalan tangannya di lengan Hyuna dilepaskan oleh Alvaro dengan sangat kuat hingga tangan Hyuna terhempas begitu saja.


"Kak, kenapa kakak begini? itu nggak baik buat kesehatan kakak." ucap Hyuna.


"Berisik!!! udah sana pergi!!! muak gue liat muka sok polos lo itu!" usir Alvaro.


Hyuna sakit hati dengan perkataan Alvaro lalu memutuskan untuk pergi dari sana dengan perasaan sedih.


"Eh, kayaknya dia suka sama lo!" ucap salah satu teman Alvaro.


"Suka?! jijik gue lihat muka dia!! dia perebut kasih sayang ibu gue! gue benci banget sama dia!" ucap Alvaro.


********


Hyuna baru saja memasuki kelas lalu menuju mejanya untuk meletakkan tasnya disana. Raisa yang melihat kedatangan Hyuna langsung menghampiri gadis kecil itu.


"Hyuna kamu kemana aja? kok baru datang? hari ini kan jadwal kita piket?" tanya Raisa.


"Oh, iya! tadi aku ada urusan sedikit." ucap Hyuna.


"Urusan apa?" tanya Raisa kepo.


"Eh, mana yang belum dibersihkan? biar aku yang bersihkan." ucap Hyuna mengalihkan pembicaraan.


"Tinggal lap jendela sama buang sampah aja sih." ucap Raisa.


"Oh, oke!" ucap Hyuna.


Hyuna pun mulai mengambil lap dan pembersih kaca. Tidak sampai tiga puluh menit, semua kaca sudah bersih mengkilat.


********


Saat bel istirahat, Hyuna berjalan keluar kelas untuk menemui Alvaro. Hyuna tidak ingin Alvaro terbawa pengaruh buruk dari teman-temannya. Alvaro nya, adalah anak laki-laki baik, bukan seperti tadi.

__ADS_1


"Kak, bisa kita bicara?" tanya Hyuna.


Saat ini Alvaro duduk di pojok belakang ruang kelasnya. Banyak siswa-siswi yang berkerumun di sampingnya menatap Hyuna dengan tatapan tidak suka.


"Ngomong apa?" tanya Alvaro cuek.


Hyuna menatap ke sekeliling lalu kembali menatap Alvaro.


"Bisa kita bicara di tempat lain?" tanya Hyuna.


"Heh, lo tuh ganggu aja deh!! pergi sana lo!" usir salah satu siswi.


Hyuna tidak memperdulikan perkataan siswa-siswi di samping Alvaro. Hyuna terus menatap Alvaro dengan dalam, meminta agar pria itu mau berbicara berdua dengannya.


"Udah lah, Hyuna! lo pergi aja! lagian gue males lihat wajah lo itu!" usir Alvaro.


"Tapi kak.."


"Lo nggak denger Varo bilang apa tadi? atau lo bude* yaa!" ucap wanita tadi mengatai Hyuna.


Dengan berat hati Hyuna akhirnya pergi dari ruang kelas Alvaro.


********


"Hyuna, kamu kemana aja sih? baru juga bel istirahat berbunyi udah pergi aja?" tanya Raisa.


"Aku...dari...kamar mandi! iya dari kamar mandi, kebelet soalnya!" kilah Hyuna.


"Ohh, terus kok nggak ngajak-ngajak aku? biasanya juga minta ditemenin. Ah sudahlah! ini, aku tadi dibawakan bekal makan siang sama mama, terus dibawain lebih katanya suruh bagi sama kamu. Ayo makan!" ucap Raisa.


Raisa memberikan sebuah kotak bekal kepada Hyuna. Dengan senang hati Hyuna menerima bekal dari sahabatnya itu. Begitu kotak bekal dibuka, aroma semerbak menyeruak membuat mereka berdua semakin lapar. Terlihat seporsi spaghetti lengkap dengan bola-bola daging tersaji disana.


Hyuna mulai menyantap spaghetti itu dengan penuh semangat.


"Raisa?!" panggil Hyuna disela makannya.


"Bagaimana rasanya memakan makanan yang disiapkan oleh seorang ibu?" tanya Hyuna membuat Raisa menghentikan aktivitas makannya.


Dia menatap kasihan pada Hyuna. Raisa tahu kalau Hyuna sudah tidak memiliki seorang ibu. Bahkan dia belum pernah merasakan kasih sayang seorang ibu. Raisa juga telah memberitahu mamanya mengenai keadaan Hyuna, maka dari itu mama Raisa sering membawakan bekal ekstra kepada Raisa agar bisa dibagi dengan Hyuna.


"Hyuna..." lirih Raisa.


"Aku hanya bertanya saja kok." ucap Hyuna.


"Menyantap masakan yang dibuat oleh seorang ibu itu sangat membahagiakan, Hyuna. Kau tahu kan, walaupun ayahku seorang koki di restoran bintang lima, tapi aku rasa tetap masakan mamaku yang paling enak. Walaupun banyak makanan mewah dan lezat-lezat diluar sana. Aku yakin tidak akan kalah lezat dengan masakan mamaku." ucap Raisa dengan bangga.


"Aku iri padamu, Raisa! kau punya seorang ayah dan ibu yang kuat. Aku juga ingin punya ibu." ucap Hyuna.


"Sudahlah! kan kasih ada papamu! walaupun aku belum pernah melihat papamu sih. Tapi aku rasa dia juga keren kok!" hibur Raisa.


Hyuna tersenyum mendengar ucapan Raisa.


"Ayo cepat habiskan, nanti keburu bel masuk." ucap Raisa.


Mereka menyantap bekal mereka dengan tergesa-gesa karena jam istirahat hampir usai.


********


Darel tengah pusing dengan rancangan terbaru yang akan dia luncurkan dalam beberapa hari kedepan. Baju ini mengambil tema natal dan tahun baru. Darel terus berkutat dengan desain-desain yang telah bertumpuk di meja kerjanya.


"Tuan, ini kopi anda." ucap Wisnu.


"Terimakasih, Wisnu!" jawab Darel tanpa mengalihkan perhatiannya dari lembaran kertas desain itu.


"Tuan, kalau saya boleh menyarankan, mungkin salah satu anak anda bisa membantu kita dalam memecahkan masalah ini." ucap Wisnu.


"Anakku? maksudmu Iwang dan Hyuna?" tanya Darel.

__ADS_1


"Benar sekali tuan. Tuan muda Iwang dan juga nona muda Hyuna sangat ahli dalam menilai trend fashion masa kini. Mungkin kita membutuhkan pendapat dari mereka berdua?" usul Wisnu.


"Wahh, kenapa aku tidak terpikirkan hal itu sebelumnya?!" ucap Darel menepuk keningnya merasa bodoh.


"Oke, aku akan bawa ini pulang untuk menemui mereka nanti dan meminta saran mereka." ucap Darel.


"Tentu saja tuan!" ucap Wisnu dengan wajah senang.


********


Pukul tujuh lebih lima menit, Darel baru saja pulang dari kantornya. Hyuna, Kaivan, dan Shaki langsung berlari menghampiri Darel saat mendengar deru mobil Darel.


"Papi!!!! papi pulang!!!!" ucap ketiganya.


Hyuna dan Kaivan berlomba-lomba untuk sampai lebih dulu kepada Darel, sedangkan Shaki hanya berjalan dengan santainya. Anak itu terlihat lebih cuek dari yang lain, namun juga lebih perduli.


"Kalian sudah makan?" tanya Darel setelah mencium pipi putra-putrinya.


"Belum papi, nunggu papi pulang. Lagian kak Iwang juga lagi belajar tuh." jawab Shaki.


"Oh, ya sudah nanti kita makan sama-sama yaa. Papi mau mandi dulu, kalian panggil kak Iwang buat makan malam, oke?" ucap Darel.


"Oke, papiii!!" jawab Kaivan dan Hyuna.


Darel naik ke kamarnya, bergegas mandi lalu turun untuk makan malam. Dimeja makan sudah ada putra-putrinya yang tengah menunggunya.


"Papi, lama banget sih?! perut Ivan udah keroncongan nihh!!" keluh Kaivan.


"Huuu kak Ivan lemah!! Hyuna aja kuat kok!!" ledek Hyuna.


"Biarin welkk!!" ucap Kaivan menjulurkan lidahnya mengejek Hyuna.


"Maaf ya, yaudah ayo kita makan bersama. Oh ya Hyuna sama kak Iwang nanti keruangan papi ya, papi ada perlu sama kalian." ucap Darel.


"Oke papi!" ucap Hyuna.


"Iya, ayah!" ucap Iwang.


Setelah selesai makan, Iwang juga Hyuna menuju ke ruang kerja Darel seperti yang diminta Darel.


Tok...tok...tok...


"Masuk!" jawab Darel dari dalam ruangannya.


"Papi?!" panggil Hyuna sambil memasuki ruang kerja Darel.


"Oh kalian! ayo duduk!" ucap Darel.


Iwang dan Hyuna pun duduk berhadapan dengan Darel.


"Ada apa yah, kok tiba-tiba meminta kita berdua kesini?" tanya Iwang.


"Gini, ayah punya kesulitan dalam rancangan desain baju yang akan ayah jual. Ayah bingung desain mana yang cocok dan sekiranya laku dipasaran. Apa kalian bantu ayah?" tanya Darel.


"Boleh yah, mana desainnya?" tanya Iwang.


Darel mengeluarkan desain-desain yang tadi dia bawa, menunjukkan hasil itu dihadapan Iwang dan Hyuna.


"Kalau Hyuna suka model baju yang ini, pi! terlihat sederhana tapi unik. Tapi Hyuna kurang suka sama bagian lengannya. Coba kalau bagian ini dihilangkan, atau dibuat tanpa lengan mungkin jauh lebih bagus." Sarah Hyuna.


"Aku juga suka model yang itu, sama yang ini!" ucap Iwang.


"Oke, terimakasih ya sudah menolong papi! ya sudah kalian kembali ke kamar, belajar lalu tidur ya! kak, jangan begadang terus, oke?" ucap Darel pada Iwang.


"Iya, ayah!" jawab Iwang.


Mereka pun keluar dari ruang kerja Darel, meninggalkan Darel disana sendirian, berkutat dengan laptop nya.

__ADS_1


__ADS_2