
"Ya rumahku ada dipaling ujung!" jawab Mentari memberi arahan.
Mobil Wisnu baru saja memasuki halaman rumah Mentari.
Mentari langsung turun dari mobil lalu berjalan memutar menuju tempat duduk Wisnu.
"Terimakasih untuk tumpangannya!" ucap Mentari sambil tersenyum ramah.
"It's okey! harusnya aku yang berterimakasih padamu!" jawab Wisnu.
Mata Wisnu dan Mentari saling menatap lama sekali hingga akhirnya Wisnu memutuskan untuk pulang karena hari memang sudah larut.
Sebelum Wisnu pergi dia meminta nomor ponsel Mentari agar suatu saat Wisnu bisa mengajaknya pergi lagi. Mentari pun memberikan nomor ponselnya lalu masuk kedalam rumah setelah mobil Wisnu benar-benar sudah menghilang dari pandangannya.
"Eh, neng Mentari baru pulang neng? dianter sama siapa tadi? terus motornya dimana?" tanya salah satu tetangganya.
"Eh, iya pak baru pulang. Tadi dianter teman saya karena motornya saya tinggal dilapangan, bapak besok bisa bawain nggak?" tanya Mentari pada pria paruh baya itu.
"Yah bisa dong neng, bapak ini kan sudah seperti bapaknya eneng, jadi jangan sungkan!" ucap pria itu tersenyum tulus.
"Terimakasih pak, kalau begitu saya masuk dulu!" ucap Mentari kemudian memasuki rumahnya setelah mendengar jawaban dari tetangganya itu.
Pria yang baru saja menyapa Mentari tadi adalah istri dari ibu-ibu tempo hari yang rumahnya berada di samping rumah Mentari.
Mereka memang tidak memiliki seorang putri makanya mereka menganggap Mentari seperti anak mereka sendiri. Sedangkan anak kandung mereka sudah bekerja diluar kota selama 1 bulan terakhir, entah kapan akan pulang.
Pria tetangga Mentari yang bernama pak Joko itu memang setiap pagi olah raga biasanya lari pagi atau sepedahan. Jadi ya pastinya melewati lapangan tempat motor Mentari ditinggalkan.
"Ya ampun gimana sih aku ini, bagaimana bisa pak Joko membawa motorku kalau kuncinya ada bersamaku!" ucap Mentari menepuk jidatnya keras.
Mentari langsung keluar dan menuju rumah pak Joko.
"Permisi! Bu Joko..." panggil Mentari dari luar rumah.
Ceklekkk.....
Pintu terbuka memperlihatkan wanita paruh baya yang sedikit gemuh namun tidak mengurangi wajah mulusnya yang sudah mulai berkeriput.
"Eh, mbak Tari, ada apa mbak?" tanya ibu itu ramah.
"Ini saya cuma mau memberikan kunci motor saya ke pak Joko, tadi kelupaan soalnya." ucap Mentari sambil merutuki kebodohannya dalam hati.
"Oalah, yaudah ayo masuk dulu, kami baru saja mau makan malam!" tawar ibu itu.
__ADS_1
"Ah, tidak usah bu, saya sudah makan tadi masih kenyang. Lagian saya juga masih ada kerjaan jadi lain kali saja ya, hehehe!" tolak Mentari halus.
"Baiklah, kapan-kapan mampir ya!" ucap ibu itu sambil mengambil kunci motor Mentari.
Mentari langsung kembali kerumahnya dan membuka laptop meneruskan pekerjaannya yang sempat tertunda tadi.
Laporan keuangan tokonya, untuk mengetahui berapa besar laba toko selama sebulan dan membandingkannya dengan laba bulan sebelumnya. Mentari sibuk menatap layar laptopnya sampai akhirnya dia memutuskan untuk tidur karena matanya sudah tidak bisa diajak kompromi.
********
Darel makan malam sedikit terlambat tadi karena kepala pelayannya sedang sakit sehingga tidak ada yang memberi instruksi tentang apa yang harus dimasak malam ini.
"Maaf tuan, kami sedikit terlambat!" ucap pelayan wanita penuh sopan.
Pelayan dirumah Darel takut karena kemarahan Darel akibat terlambatnya jam makannya. Namun ternyata yang mereka pikirkan salah besar. Darel bahkan dengan santainya menyantap makanannya membuat mereka bisa bernafas dengan santai.
"Apa mbok Tini masih sakit? apa perlu dibawa kerumah sakit?" tanya Darel datar sambil menyantap makan malamnya.
"Mbok Tini bilang hanya masuk angin biasa tuan, tidak perlu dibawa kerumah sakit!" jawab wanita yang menyajikan makanan tadi.
Darel hanya mengangguk pelan lalu melanjutkan menyantap makan malamnya. Para pelayan memilih undur diri dan membiarkan tuannya makan dengan tenang.
Kenapa pikiranku terus memikirkan gadis bodoh itu sih!
Pyarrrr.....
Sebuah piring pecah menatap dinding rumah Darel yang kokoh. Para pelayan yang berada didapur terkejut dan langsung menghampiri meja makan dimana Darel duduk.
"T...tuan, ada apa? ap...apa makanannya tidak enak?" tanya pelayan laki-laki yang mulai gemetaran.
Darel tersadar dari emosinya, melihat kekacauan yang baru saja dia ciptakan.
"Tidak, tidak ada!" Darel mengelak.
Para pelayan semakin bingung dengan sikap Darel yang cepat berubah akhir-akhir ini. Kadang jinak seperti kucing lucu, kadang penuh emosi yang meledak-ledak, kadang juga bertingkah sangat aneh seperti saat menyuruh untuk menanam bunga ditamannya.
Apa yang terjadi pada tuan Darel? batin para pelayan itu.
"Cepat bersihkan itu, aku mau kekamar saja!" ucap Darel langsung pergi.
Kamar Darel berada dilantai 2, para pelayan menatap setiap langkah kaki pria itu sampai Darel masuk kedalam kamar.
"Aku rasa ada yang aneh pada tuan!" ucap salah seorang wanita pada rekannya.
__ADS_1
"Mungkin saja, akhir-akhir ini dia terlihat sangat aneh!" jawab rekannya.
"Jangan-jangan wanita yang tadisudah mengguna-gunai tuan lagi!" jawab yang lain sambil menutup mulutnya.
Yang lain pun mulai menyangkut pautkan keanehan tuan mereka dengan kedatangan wanita tadi, yang tidak lain adalah Mentari.
Mereka berpikir bahwa tuan mereka,Darel sudah diguna-guna oleh Mentari maka dari itu sikap Darel berubah akhir-akhir ini.
********
Didalam suatu markas Drago Mark, banyak anak buah yang berjaga-jaga disekeliling markas.
"Tuan, saya punya harta karun besar untuk anda!" ucap Dendi menyeringai pada tuannya, bos besar Drago Mark.
Pria dengan tato naga ditangan kirinya itu mengambil amplop coklat panjang yang dibilang Dendi sebagai harta karun.
Pria itu membuka amplop coklat ditangannya, setelah membaca isi amplop itu dia tertawa penuh arti.
"Hahahahaha bagus-bagus, ini baru namanya harta karun! sudah lama aku tidak bertemu dengan musuh lamaku dan tahu-tahu dia sudah ingin menikah?" ucap pria itu sambil tersenyum licik dengan niat jahat pada Darel.
Dendi mendengar hal itu juga ikut tersenyum licik. Mereka berdua merencanakan hal buruk dihari besar keluarga Sanjaya itu.
"Dendi, cari tahu calon istri Darel itu! aku mau informasi itu secepatnya!" perintah ketua Drago Mark pada Dendi.
"Dengan senang hati tuan!" ucap Dendi tersenyum.
Aku akan lihat seperti apa calon istrimu, Darel! dan kita lihat apa yang bisa aku lakukan sebagai hadiah hari besarmu itu, hahahaha! batin ketua Drago Mark disusul bibirnya yang tersungging penuh arti.
Aku akan membalaskan dendam ku yang dulu pada keluarga mu Darel, tidak akan aku biarkan kau hidup dengan tenang dan bahagia diatas dukaku yang tidak akan pernah bisa sembuh ini! batin Dendi dengan raut wajah penuh emosi dan dendam.
*
*
*
*
*
Sebenarnya Dendi ini siapa ya? dan apa yang akan dilakukan kelompok Drago Mark pada acara pertunangan dan pernikahan Darel dan Mentari? apa nyawa Mentari akan terancam karenanya? yang penasaran ikuti terus kisahnya ya🤗😉
Jangan lupa dukung novel SUAMIKU Mr. MAFIA dengan cara like, vote, dan komen. Dukungan kalian sangat mempengaruhi untuk memberi semangat aku buat up terus ceritanya😊ðŸ¤
__ADS_1