
"TIDAK USAH MUNAFIK KAU, KAK!!!! AKU TAHU KAU DIAM-DIAM JUGA MENCINTAI KAJ!!! KAU MEMANG ULAR BERBISA!!! AKU YANG MENOLONGMU AGAR LEPAS DARI PRIA TOXIC SEPERTI KAK ALVARO, TAPI KAU MALAH MEREBUT CINTAKU!!!!! APA SALAHKUU???!!!!" teriak Naru.
"Tidak, Naru! Aku benar-benar lupa, aku...." terhenti.
"Jangan meminta maaf lagi! Bukan kau yang salah, tapi dia!" ucap Shaki yang langsung menarik tangan Hyuna agar kembali duduk. Tatapan mata tajam Shaki tertuju pada Naruka.
"KALIAN SEMUA HANYA PERDULI DENGAN KAK HYUNA! KALIAN SEMUA HANYA MENYAYANGI KAK HYUNA!! BAHKAN PAPI SENDIRI JUGA LEBIH MENYAYANGI KAK HYUNA DARIPADA AKU YANG PUTRINYA SENDIRI!!! SETIAP ADA ACARA, ORANG-ORANG PASTI SELALU MEMBICARAKAN KAK HYUNA. HYUNA, HYUNA, HYUNA, HYUNA, DAN HYUNA!!!! AKU MUAK DENGAN NAMA ITU!!!! AKU MUAK DENGAN KATA ITU!!!!"
"KENAPA BUKAN AKU? AKU JUGA MODEL TERKENAL!! KENAPA ORANG-ORANG TIDAK MEMBICARAKANKU? KENAPA KALIAN TIDAK BISA MENYAYANGIKU SEPERTI KALIAN MENYAYANGI KAK HYUNA?! KENAPA?!! KENAPAAA?!!!!"
Tangis Naruka pecah. Dia muak dibedakan. Dia hanya ingin disayangi, dihargai, dan dianggap, namun kenapa tidak seorangpun yang melihatnya, menyayanginya, menghargainya. Semua karena Hyuna. Apa kurang Naruka dibandingkan dengan Hyuna? Naruka juga tidak kalah cantik! dia juga memiliki tubuh yang indah karena memang seorang model harus menjaga bentuk tubuh. Lalu apa kurangnya Naruka?! Kenapa semua orang hanya menatap ke arah Hyuna.
"Lihatkan?! Semua ini karena Naruka mencintai Kaj. Dia bahkan lebih dulu mengenal Kaj daripada Hyuna. Kau juga Hyuna!!! Kenapa kau bisa lupa kalau sepupumu mencintai Kaj?! Kau sengaja ingin menghancurkan hatinya, iya?!!!" tanya Rangga.
"Tidak uncle! Aku benar-benar lupa!! Aku..." terhenti.
"HYUNA TIDAK MUNGKIN SENGAJA MENYAKITI NARUKA!!! BERHENTI MENYALAHKAN ADIK SAYA!!!!" bentak Shaki menatap tajam ke arah Rangga.
"BAHKAN KALIAN MASIH BISA MEMBELA KAK HYUNA?! AKU YANG SAKIT DISINI!!!! KENAPA TIDAK ADA SEORANG PUN YANG MEMBELA KU?!!! KENAPA?!!" tanya Naruka.
"Sayang, sudah jangan menangis!!! Mama selalu ada disamping kamu!! Mama akan selalu membela kamu!!" ucap Zoe.
Zoe membawa Naruka kedalam pelukannya mencoba menenangkan Naruka yang menangis sesenggukan.
"Uncle juga selalu membela kamu, Naru!" ucap Rangga.
Randita menyipitkan matanya. Sejak tadi, Rangga sibuk membela Naruka padahal ini tidak ada sangkut pautnya dengannya.
"Perjodohan ini harus berakhir!! Hyuna dan Kaj tidak bisa menikah karena Naruka yang lebih dulu bertemu dengan Kaj. Jadi. Naruka lah yang pantas menikah dengan Kaj!!" ucap Rangga.
Rangga mati-matian membela Naruka.
"Cih!!! Tebal sekali mukanya itu!!!" geram Adi.
Nakala sedari tadi menggenggam tangan Adi. Nakala tahu Adi sangat emosi. Mencegah sesuatu yang buruk terjadi, Nakala lebih memilih terus menggenggam tangan kekasihnya itu.
Prok....prok....prok....
"Hebat, hebattt!!!" ucap Darel sembari bertepuk tangan.
"Kakak, apa kau tidak curiga dengan suamimu ini?!" tanya Darel berdiri menatap Randita.
Randita menatap adik dan suaminya bergantian. Sedangkan Arya. Arya menatap nanar ke arah Rangga. Sejak tadi, Arya menatap ke arah papanya itu namun Rangga tidak menyadari tatapan Arya karena terlalu fokus pada Naruka. Arya tersenyum getir karena sebuah fakta telah dia ketahui dan sebentar lagi, seluruh keluarga ini akan tahu fakta itu.
"A...Apa maksudmu?!" tanya Rangga tiba-tiba gugup.
Zoe juga sama halnya. Dia takut kalau Darel mengetahui rahasianya. Bisa-bisa reputasinya sebagai model hancur karena masalah ini juga pernikahannya.
"Kau kira aku tidak tahu apapun?! Kau pikir sudah hebat karena aku diam saja selama ini dan berpikir kelakuanmu tidak tercium olehku?" tanya Darel semakin mendesak Rangga.
Suhu dirumah Darel terasa dingin karena AC yang menyala 24 jam di setiap sudut rumah, namun Rangga merasakan gerah saking paniknya. Keringat dingin juga bercucuran dari keningnya.
"Darel, apa maksudmu?" tanya Randita.
"Dia mati-matian membela Naruka, karena Naruka itu...." terhenti.
"Haruskan aku katakan?!" tanya Darel menatap ke arah Rangga dan Zoe yang sudah terlihat pias.
Celaka!!! Darel sepertinya sudah mengetahui rahasianya!!!! Zoe mendadak tubuhnya menegang. Wajahnya juga ikut bercucuran keringat.
"Apa maksudmu, kak?! Kenapa dengan Naruka?!" tanya Juna.
__ADS_1
"Juna! Anak yang selama ini kau sangka anak kandungmu. Dia...." terhenti.
Semua orang menunggu kalimat lanjutan dari Darel. Namun seolah bermain teka-teki, Darel menjeda lama sekali kalimatnya.
"Dia bukan anak kandungmu!!!" ucap Darel setelah cukup lama menggantungkan kalimatnya.
Duar.....
Bagai disambar petir. Kata-kata Darel barusan bak panah yang menembus tepat ke jantung Juna dan Randita. Randita bahkan sampai berdiri dari duduknya menatap syok ke arah Darel. Naruka bukan anak kandung Juna?! Lalu apa hubungannya dengan Rangga?! Apa Rangga... dan Zoe?!! Tidak-tidak!!! Itu pasti tidak benar!!! Batin Randita.
"Apa yang kau katakan, kak?! Naruka....bukan...putriku?!" tanya Juna.
"Jangan bercanda, kak!!! Aku...aku sendiri yang menyaksikan kehamilan Zoe!!!" ucap Juna tidak percaya.
"Aku bicara begini bukan tanpa bukti! Lukas!!!" panggil Darel pada Lukas.
"Lukas menyerahkan bukti-bukti perselingkuhan Zoe dengan Rangga. Dalam foto-foto itu, Rangga dan Zoe terlihat begitu mesra dan romantis. Foto itu diambil saat Zoe dan Rangga sebelum adanya Naruka, lebih tepatnya awal-awal mereka berselingkuh. Randita dan Juna bergantian melihat foto-foto tersebut sedangkan Zoe dan Rangga semakin pucat pasi karena perselingkuhannya terkuak oleh Darel. Naruka sendiri menjadi bingung. Jika papa Juna bukan papanya, lalu siapa papanya?! Pikir Naruka.
"Oh, tidak cuma itu! Ada lagi! Adi!!!" panggil Darel pada Adi.
"Ini, tuan!" ucap Adi.
Adi memberikan ponselnya dimana terdapat beberapa video adegan panas Rangga dan Zoe ketika di hotel.
Randita menangis melihat fakta-fakta ini. Tubuhnya lemas hingga hampir saja terjatuh namun Arya lebih dulu menangkap tubuh mamanya.
"Ma, mama baik-baik saja?!" tanya Arya.
Arya tidak tega melihat mamanya sehancur ini karena ulah papanya. Arya juga sama hancurnya ketika Darel memperlihatkan bukti-bukti ini.
"Papamu, Arya!! Dia..."
Randita tidak kuasa menahan tangis. Bahkan untuk berbicara saja rasanya dadanya sesak sekali. Tenggorokannya tercekat sampai tidak bisa berbicara.
"Siala* kau Zoeee!!!!!!" Randita berdiri lalu menghampiri Zoe dan melayangkan tamparan berkali-kali juga tendangan hingga Zoe tersungkur dilantai.
"AKU MENIKAHKANMU DENGAN ADIKKU, NAMUN KAU MALAH BERSELINGKUH DENGAN SUAMIKU!!! SIALA* KAUUU!!!! AKU AKAN MEMBUNU* MUUU!!!!!" teriak Randita kesatenan.
Randita menarik paksa rambut Zoe menyeretnya menuju dinding.
BRUKKKK....
"RANDITA, APA YANG KAU LAKUKANNNN?!!!" teriak Rangga panik.
Randita membenturkan kepala Zoe ke dinding berkali-kali dengan kerasnya hingga kepala Zoe mengeluarkan darah. Arya dan Juna berusaha menghentikan Randita, namun Randita justru dengan mudah menghempaskan mereka berdua. Rangga juga berusaha menghentikan Randita namun Randita justru menendang bagian intinya lalu untuk sebentar, Randita melayangkan pukulan pada Rangga. Rangga juga dibenturkan kepalanya didinding oleh Randita hingga Rangga kehabisan tenaga melawan Randita.
Naruka yang melihat mamanya dihajar habis-habisan oleh Randita mencoba membawa kabur mamanya saat Randita sibuk menghajar Rangga.
"MAU KEMANA KALIANNN?!!!!" teriak Randita kala melihat Naruka hendak membawa Zoe pergi.
Randita meraih vas bunga yang ada disampingnya lalu melemparkannya tepat mengenai belakang kepala Naruka.
"Akhhh!!!!" teriak Naruka terjatuh merasakan pening yang tiba-tiba melanda kepalanya.
"Naru?! Sayang?! Kamu baik-baik saja?!" tanya Zoe khawatir.
"JANGAN SAKITI PUTRIKU!!!!" teriak Zoe.
"AKU JUGA AKAN MEMBUNU* PUTRIMU BERSAMAAN DENGAN KALIAN BERDUA!!!" tunjuk Randita pada Zoe dan Rangga.
"BUKAN AKU YANG MENGGODA SUAMIMU!!! DIA YANG DATANG PADAKU LALU MERAYUKU KARENA KAU TIDAK BECUS MELAYANINYA!!!!!" teriak Zoe.
__ADS_1
"KALAU KAU BECUS MELAYANI NAFSUNYA, TIDAK MUNGKIN DIA DATANG PADAKU!!!! KAU YANG TIDAK BISA MENJAGA SUAMIMU, JADI JANGAN SALAHKAN AKU!!!!" teriak Zoe lagi.
"TUTUP MULUTMU WANITA MURAHA*!!!!!!"
Randita kembali menyerang Zoe. Kali ini semakin beringas, bahkan sampai hidung, dan bibir Zoe mengeluarkan darah. Naruka yang lemah karena kepalanya mengeluarkan darah itu hanya bisa melihat mamanya disiksa dengan derai air mata. Tidak ada yang mau menolongnya dan mamanya. Bahkan Juna juga Darel hanya diam saja, tidak bereaksi apapun.
"Ma, sudah ma!" ucap Arya menarik tubuh Randita menjauh dari Zoe.
Keadaan Zoe begitu berantakan. Rambut yang acak-acakan, wajah yang penuh luka dan cakaran, baju yang sobek dibeberapa bagian. Sungguh mengenaskan. Naruka langsung mendekat ke arah mamanya dengan susah payah. Mereka saling berpelukan sambil menangis meratapi nasibnya.
"Kai, apa kau sudah merekamnya?!" tanya Arya menatap ke arah Kaivan.
"Sudah, bang! Ini!" ucap Kaivan memberikan ponselnya kepada Arya.
"Di ponsel Kaivan ada rekaman dimana kau mengatakan dengan jujur kalau kau seorang pelako*!!! Aku akan menyebarkan video itu ke internet agar kau menjadi viral. Kau akan bebas dari dalam penjara setelah beberapa tahun. Tapi hukum masyarakat akan tetap ada bahkan sampai kau mati sekalipun. Kau akan kehilangan pekerjaan, kehormatanmu sebagai seorang wanita dan seorang ibu, putrimu juga akan diblacklist dari dunia model, nama dan reputasi kalian akan hancur." ucap Arya.
Arya tidak sekejam itu. Tapi karena rasa sakit yang teramat dalam dia rasakan juga yang Randita rasakan, itu masih belum seberapa dengan apa yang Zoe dan Naruka dapatkan.
"Tidak!!! Jangan!!!! Jangan lakukan ituuu!!!" teriak Zoe.
"Aku mohon, jangan viralkan itu!!!! namaku dan putriku akan hancur. Kami akan hidup seperti sampah di masyarakat!" ucap Zoe.
"Kau tidak memikirkan ini dulu sebelum kau berselingkuh dengan papaku dan menghancurkan keluarga kecil kami! Bahkan kau sampai punya anak darinya!" ucap Arya.
"Bang, aku adik kandungmu sekarang. Walaupun lahir dari rahim yang berbeda! Aku mohon jangan lakukan itu, bang!" mohon Naruka.
"Aku selalu menyayangimu, Naru! Tapi aku tidak bisa menerima kehadiranmu yang ada karena dosa ayahku dan mama mu!!! Maafkan aku!!" ucap Arya.
Arya menangis, seiring dengan dia mengirim rekaman itu ke sebuah acara televisi.
"TIDAKKKKKK!!!!!" teriak Zoe.
"Nikmatilah masa hukuman kalian!" ucap Arya.
"Aku kita pergi, ma!" ajak Arya pada mamanya.
Arya merangkul tubuh Randita. Meski dia bar-bar tadi, namun tidak bisa dipungkiri dia sangat terluka. Orang bilang semakin dalam kau mencintai seseorang, maka semakin dalam juga rasa sakit yang orang itu tinggalkan saat dia menyakitimu. Dan itu dirasakan oleh Randita. Dia dan Rangga menikah karena cinta, namun cinta juga yang telah menghancurkan bahtera rumah tangganya. Cinta terlarang antara Rangga dan Zoe hingga membuahkan seorang putri, Naruka.
Satu persatu seluruh keluarga meninggalkan ruangan itu. Kini tersisa Zoe, Naruka dan Rangga.
"Impianku, pekerjaanku, karir ku! Semua telah hancur, ma!!!" isak Naruka.
Naruka menangis di pelukan mamanya.
"Semua hancur!!! Tidak ada yang bisa diselamatkan lagi!!!" isak Naruka menangis.
"Maafkan mama, sayang!! Maafkan mama!!!" ucap Zoe.
"Aku benci mama!" Naruka melepaskan pelukan Zoe padanya, menatapnya penuh kebencian.
"Tidak, sayang! Jangan benci mama! Jangan!!!" ucap Zoe.
"Semua ini karena mama!!! Karena mama dan om Rangga berselingkuh hingga aku hadir. Kalian telah menghancurkan karirku!!!!! Aku telah hancur karena kaliannnnn!!!" teriak Zoe.
"Aku tidak ingin mengenal kalian lagi!!!! Aku akan menganggap aku tidak memiliki siapa-siapa lagi!!! Aku akan menganggap orang tuaku sudah mati!!! Aku benci kalian!! AKU BENCI KALIANNN!!!!" teriak Naruka.
Naruka pergi dari rumah Darel dengan derai air mata. Dia berlari sejauh mungkin yang dia bisa, tanpa tujuan. Rangga dan Zoe juga mengejar Naruka. Mereka takut Naruka benar-benar meninggalkan mereka.
"Ini semua karena kamu, mas!!!" ucap Zoe menyalahkan Rangga.
"Maafkan aku, aku menyesal! Aku janji akan bertanggungjawab padamu, juga putri kita! Sekarang kita harus mencari Naruka." ucap Rangga memeluk Zoe.
__ADS_1
"Aku sangat mengkhawatirkannya, mas! Aku khawatir dengan keadaan putriku!" ucap Zoe teriak dalam pelukan Rangga.
"Putri kita, dia juga putriku! Aku juga mengkhawatirkan keadaannya!!" ucap Rangga.