
Sepanjang perjalanan Mentari dan Darel hanya diam tidak ada yang ingin membuka obrolan.
"Nona Mentari sepertinya tuan dan nyonya besar sangat menyukai anda tadi!" ucap Harri membuka obrolan.
"Yah, aku rasa juga begitu. Mereka sangat baik padaku!" jawab Mentari yang teringat perlakuan hangat papa dan mama Darel.
Aku merasa kehangatan yang diberikan mama dan papa seperti kehangatan yang diberikan orang tuaku sendiri. batin Mentari tersenyum.
"Apa karena mereka terlalu baik padamu jadi kau memanfaatkan kebaikan mereka, begitu?" bentak Darel tiba-tiba.
Mentari langsung menatap Darel tidak percaya. Wajah ceria yang tadi hilang begitu saja diganti dengan wajah marah.
"Aku tidak akan pernah memanfaatkan kebaikan mereka, aku menganggap mereka seperti orang tuaku sendiri!" ucap Mentari menahan emosi.
Ya Tuhan Harri lihat apa yang kau lakukan sekarang! sudah kubilang untuk diam saja, sekarang akan ada perang ketiga dimobil ini! batin Adi.
"Oh ya, kau menganggap orang asing seperti orang tuamu? apa kau pikir aku bodoh tidak bisa melihat wanita ular sepertimu ingin merusak keharmonisan keluargaku!" ucap Darel penuh penekanan.
Mentari menghiraukan perkataan Darel barusan. Darel merasa tidak senang dengan diamnya Mentari kemudian memancing lagi.
"Berapa uang yang kau mau?" hina Darel.
Mentari tetap diam. Darel semakin marah.
"Adi berikan selembar cek kosong padaku!" ucap Darel dengan suara meninggi.
Mentari menutup mata secara spontan mendengar suara meninggi Darel.
Sampai kapan dunia akan menyiksaku seperti ini? apa aku wanita yang serendah itu sampai-sampai setiap orang ingin membeli harga diriku? batin Mentari.
Mentari masih menahan air mata yang ingin mengalir dari matanya. Adi yang mendengar perintah tuannya itu kemudian memberikan selembar cek kosong kepada Darel.
Darel memberikan tanda tangan namun tempat nominalnya masih dikosongkan.
"Ini! ambil dan segera pergi dari keluargaku! kau bisa mengisi cek ini semaumu, tapi kau harus pergi jauh-jauh dari kota ini bahkan negara ini!" pelan namun seperti menghina.
"Hentikan mobilnya!" ucap Mentari tiba-tiba.
"Tapi nona, nyonya sudah menyuruh kami untuk..." ucap Harri terpotong.
"Aku bilang hentikan mobilnya, sekarang!" teriak Mentari.
__ADS_1
Mobil berhenti dipinggir jalan.
Mentari langsung keluar dari mobil, Darel yang mengrjar Mentari keluar untuk memberikan cek kosong itu.
"Tunggu, kau belum mengambil cek ini!" meletakkan cek itu kedada atas Mentari.
Cek itu jatuh, namun tatapan marah Mentari masih tidak teralihkan dari Darel.
Plakkkk....
Satu tamparan keras melayang di pipi Darel. Darel melihat Mentari dengan tatapan sangat marah.
Mentari memilih untuk menjauh dari Darel namun Darel masih mengejar Mentari.
"Hai wanita ular, kau tidak mengambil cek mu? apa om-om yang menyewamu sudah memberimu banyak uang?" hina Darel dengan berteriak.
Mentari berbalik, air mata yang sedari tadi dia tahan kini jatuh begitu saja dipipinya.
Darel mengampiri Mentari sambil membawa cek yang jatuh tadi.
Darel menunjukkan cek itu didepan wajah Mentari membuat Mentari semakin marah.
"Heh, jangan sok munafik didepan ku, aku tahu benar apa yang dibutuhkan wanita sepertimu!" ucap Darel pelan sambil mendekatkan wajahnya kearah Mentari.
"Apa kau pikir semua hal bisa dibeli dengan uang?!" mendorong tubuh Darel hingga terdorong beberapa langkah kebelakang.
"Kau berani mendorongku? aku? Darel Dwi Sanjaya?" ucap Darel terdengar sombong.
"Jangankan mendorongmu, aku bahkan sudah berkali-kali menampar wajah tidak tahu malu mu itu!" teriak Mentari.
Berani sekali dia!!! batin Darel.
Adi dan Harri hanya melihat dari kejauhan, tidak berani mendekat.
"Harusnya kau diam saja tadi! lihat sekarang hasil karya mulutmu yang cerewet itu!!" ucap Adi menatap Harri kesal.
"Ya aku tidak tahu kalau akan begini jadinya, dari pada diam-diaman terus kan!" bela Harri.
Adi hanya menggelengkan kepala kesal.
Sementara Mentari dan Darel masih terlihat dikelilingi emosi satu sama lain.
__ADS_1
"Aku juga tidak tahu kalau tuan Sanjaya adalah papa mu! kalau aku tahu aku tidak akan menyetujui untuk datang saat Robi dan Bowo mengirimkan undangan tuan Sanjaya padaku! aku juga tidak percaya pada mereka awalnya aku...aku pikir mereka akan menculik dan membawaku ke luar kota. Tapi ini bahkan lebih buruk dari itu!" ucap Mentari tidak bisa menahan air mata dan emosinya lagi.
Hinaan yang diberikan Darel hari ini membuat dadanya menjadi sesak hingga untuk bernafas saja sangat susah.
Robi? Bowo? bagaimana wanita bodoh ini tahu dengan anak buah papa?
"Aku juga menolak awalnya! tapi mereka terus memaksaku untuk datang karena tuan Sanjaya ingin sekali bertemu denganku! jadi kalau kau ingin marah jangan marah padaku tapi marahlah pada papa mu sendiri sana!!" teriak Mentari.
"Berani-beraninya kau mengatai papaku wanita ular!!! kau akan menyesali perkataan mu!" ancam Darel.
"Aku tidak takut, aku bahkan tidak ingin dijodohkan dengan orang yang tidak aku kenal terlebih dia tidak punya hati, sombong, dan tidak menghargai wanita sepertimu!!" ucap Mentari kemudian berlalu pergi.
Darel mengejar Mentari dan menggenggam tangan Mentari kuat-kuat.
"Lalu kenapa kau mengatakan mau menikah dengan ku tadi sambil tersenyum ha? kau pikir aku tidak melihat keterpaksaan yang kau ucapkan tadi!!" teriak Darel .
"Orang sepertimu memang tidak pantas untuk diberi penjelasan! aku sangat kasihan pada wanita dikeluargamu karena kelakuanmu yang sudah menghina seornag wanita dan sama saja itu menghina mereka juga! dan cek ini!" mengambil cek kosong yang terjatuh akibat dorongan Mentari tadi.
Mentari merobek cek itu sampai sobekan terkecil lalu membuangnya kewajah Darel.
"Aku tidak butuh cek mu itu!" ucap Mentari meninggalkan Darel.
Darel yang merasa sangat marah berlalu menuju mobilnya.
"Ayo pergi!" ucap Darel setelah memasuki mobil.
"T...tapi tuan nona Mentari bagaimana?" tanya Adi khawatir.
"Tinggalkan saja dia!" ucap Darel menahan emosi.
"Ta...tapi t...tuan, jalanan ini sangat sepi dan dijalan ini juga sangat rawan, tuan. Lagi pula jarak rumah nona Mentari masih sangat jauh, apa tidak sebaiknya..." ucap Harri terpotong.
"Kau mau aku pecat sekarang, Harri? jalan kan mobil ini sekarang!" teriak Darel yang entah emosi karena apa.
Harri menuruti perintah Darel dan melajukan mobilnya.
Kenapa aku bisa hilang kendali tadi! aku akan bertanya pada Robi dan Bowo nanti! batin Darel.
Disisi lain Mentari terus berjalan entah kemana kakinya melangkah. Dia tidak tahu dimana dia sekarang, bahkan kendaraan yang melintas pun juga tidak ada.
"Kenapa nasibku sangat buruk sih, mana ponselku tertinggal di mobil pria sombong itu lagi! sekarang aku tidak tahu arah jalan pulang!" ucap Mentari sambil meneteskan air mata mengenang nasib buruknya hari ini.
__ADS_1