Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 221


__ADS_3

Tomi mengumpulkan sahabat-sahabatnya di rumahnya. Sedikit aneh bagi sahabat Tomi karena tidak biasanya pria itu membicarakan sesuatu hal di dalam kediamannya.


"Aku sudah tahu dimana dan siapa anak itu!" ucap Tomi menatap lurus ke bawah.


"Sungguh? dimana kau menemukannya! wahh harus dikasih imbalan gede nih yang dapat informasi ini! bahkan Jack saja belum bisa melacak keberadaan anak itu!" celoteh Arul.


Arul menyempatkan diri untuk hadir dalam pertemuan kali ini. Sebelum dia berangkat tadi Anisa tengah beristirahat dan anaknya yang baru saja menyusui juga tengah tertidur lelap sehingga Arul bisa meninggalkannya sebentar.


"Apa ada masalah, Tom?" tanya Zanu yang menangkap gelagat aneh dari Tomi.


"Anak itu....."


"Siapa?" tanya Darel.


"Anak itu..........Shiren!" ucap Tomi setelah terkesan cukup lama sambil menunduk.


"AAPAAAA?!!!!" teriak ke lima sahabat Tomi sambil reflek berdiri dari duduknya.


"Bagaimana bisa? bukannya Shiren ada keluarga? dan anak itu kan ada di panti asuhan?" tanya Arul tidak percaya.


"Jangan bercanda Tomi, masa Shiren adalah adik dari Jo?" tanya Rohan.


"Aku tidak bercanda! aku serius! Shiren sendiri yang mengakui bahwa foto anak kecil yang ditunjukkan Suli adalah dirinya waktu kecil!" ucap Tomi ikut berdiri.


"Sama seperti kalian bahkan aku sendiri juga terkejut saat dia mengatakan hal ini. Jangankan aku, Shiren saja tidak tahu kalau dia adalah anak adopsi!" ucap Tomi frustasi.


Kelima sahabat Tomi terdiam berusaha mencerna informasi itu.


"Apa kau yakin dia orangnya? kita perlu memastikan hal ini lebih dulu bukan?" tanya Darel yang terlihat lebih tenang dari yang lain.


"Aku sudah berencana mendatangi rumah orang tua Shiren! kami akan berangkat sore ini! semoga saja ini tidak benar! kasihan Shiren!" ucap Tomi menatap ke arah pintu kamar Shiren yang tertutup.


"Sabar bro! kamu selalu mendukungmu!" ucap Arul menepuk pundak Tomi.


"Terimakasih!" ucap Tomi berkaca-kaca.


********

__ADS_1


Matahari mulai mengeluarkan sinar jingganya pertanda malam hampir tiba. Shiren dan Tomi memasuki mobil dimana mereka akan menuju rumah Shiren untuk menanyakan kebenaran tantang siapa Shiren sebenarnya.


Membutuhkan waktu sekitar dua setengah jam hingga akhirnya mereka tiba dirumah orang tua Shiren. Shiren menatap nanar rumah yang menyimpan kenangan indah di masa kecilnya itu.


"Sayang, apa kau baik-baik saja?" tanya Tomi.


"Tidak!" jawab Shiren menatap sendu pria nya.


"Jangan takut! aku selalu ada untukmu!" ucap Tomi sembari memeluk Shiren dengan erat, menguatkan wanita yang telah berhasil mencuri hatinya itu.


"Aku takut, Tomi! aku takut! bagaimana kalau yang terjadi seperti yang kau ceritakan!" ucap Shiren terisak.


"Husttt! mau siapapun kamu, aku akan tetap menerimamu dan tidak akan pernah bisa merubah perasaanku kepadamu!" ucap Tomi sambil menyeka air mata Shiren.


"Terimakasih karena selalu mendukungku!" ucap Shiren.


"Itu sudah menjadi kewajibanku!" ucap Tomi tersenyum tulus.


Setelah menghela nafas beberapa kali, akhirnya mereka memutuskan untuk menekan bel rumah. Beberapa kali bel berbunyi namun tidak ada jawaban dari sana, hingga pada bel ke lima pintu rumah dibuka dari dalam.


"Iya cari siap...." tanya seorang wanita berusia empat puluh lima tahunan yang membuka pintu.


"Shiren!!!!" panggil wanita itu langsung memeluk Shiren.


"Ibu!" panggil Shiren seraya ikut memeluk ibunya yang ternyata hanya ibu angkatnya.


"Nak, kamu kemana saja! kami sudah lama mencarimu!" ucap wanita itu dengan mencium beberapa kali pipi dan kening Shiren.


"Sayanggg, Shiren pulangg!! Ajid, kakakmu pulangg!" teriak wanita itu.


Tidak lama berselang dua orang pria keluar dari dalam rumah. Mereka ikut terkejut melihat Shiren sudah berada didepan pintu. Dengan kompak mereka saling memeluk satu sama lain.


"Oh putri sulungku! kau kemana saja nak! kamu mencarimu dimana-mana! kau baik-baik saja kan? apa ada yang terluka? apa pria breng*ek itu menyakitimu lagi?!" tanya pria berusia lima puluh tahun dengan sangat geram.


"Bisa kita masuk dulu, ada hal yang harus aku bicarakan kepada kalian!" ucap Shiren pelan.


"Oh tentu! ayo masuk sayang!" ucap wanita itu.

__ADS_1


Mereka berlalu memasuki rumah begitu pula dengan Tomi.


"Jadi, kemana saja kamu selama ini?" tanya ibu angkat Shiren.


"Sebelum itu, perkenalkan bu, ayah, Jid, ini adalah pacarku, Tomi. Dia yang menyelamatkan aku dari Bram!" ucap Shiren memperkenalkan Tomi.


Tomi mengangguk sopan ketika mendapatkan tatapan dari keluarga Shiren. Shiren mulai menceritakan awal pertemuan mereka hingga benih-benih cinta mulai dirasakan keduanya. Juga dia yang baru saja mengetahui kalau selama ini dirinya hanyalah anak adopsi di keluarga ini.


"Jadi, boleh aku tanya siapa aku sebenarnya? apa benar jika selama ini aku hanyalah anak yang diadopsi dari sebuah panti asuhan?" tanya Shiren.


Ibu dan ayah Shiren terlihat saling melempar pandangan.


"Huhh...mungkin ini saat yang tepat untukmu mengetahui semua ini, nak!" ucap ayah Shiren.


"Dulu kami berdua sepakat untuk mengadopsi seorang anak dari panti asuhan Pelita Kasih. Hal itu karena Ayu, ibumu belum bisa mengandung setelah sepuluh tahun pernikahan kami. Awalnya ayah menolak karena yang ayah butuhkan adalah kehadiran ibumu disepanjang sisa hidup ayah, tidak penting mau ada ataupun tidak ada anak." ucap ayah Shiren yang bernama Farhan memulai cerita.


"Saat itu ibumu terus membujuk ayah, katanya dia ingin sekali merasakan bagaimana rasanya menjadi seorang ibu. Setelah diskusi panjang dengan orang tua kami masing-masing, akhirnya semua sepakat untuk mengadopsi seorang anak. Kamu datang ke panti asuhan itu dan ibumu langsung menyukaimu yang saat itu berusia satu tahunan. Langkah kakimu yang mungil dan tawa ceriamu membuat rumah ini menjadi lebih hidup. Kami semua bertekat untuk tidak membahas hal ini dan menganggap kamu adalah putri kandung kami." jelas Farhan lagi.


"Jujur pertama kali ibu melihatmu, ibu sangat sayang sekali padamu, nak! makanya ibu mengadopsi dirimu!" tambah Ayu.


"Apa boleh kami meminta alamat panti asuhan itu?" tanya Tomi mewakili Shiren.


Shiren tampak terkejut mendengar penuturan ayah dan ibunya mengenai jati dirinya yang sebenarnya.


"Boleh! sebentar!" ucap Ayu seraya mengambil sesuatu dari dalam dompet berbahan kulit itu lalu mengeluarkan sebuah kartu nama.


"Ini, lengkap dengan alamat dan nomor ponsel juga!" ucap Ayu memberikan kartu nama.


Dalam kartu nama itu terdapat sebuah nama bernama bu Yayuk sebagai pemilik panti asuhan beserta nomor telepon beliau.


"Terimakasih!" ucap Tomi.


"Ini sudah sangat gelap. Rumah kalian juga jauh, sebaiknya menginap saja disini semalam!" tawar ayah Shiren.


"Iya. Walaupun kami bukan orang tua kandung kamu, tapi kami sangat menyayangimu, Shiren! kamu akan tetap menjadi anak sulung keluarga kami!" ucap Ayu.


"Dan kakak akan tetap menjadi kakak ku!" ucap Ajid yang sedari tadi hanya mendengarkan saja.

__ADS_1


Shiren menatap kearah Tomi. Dia tidak bisa memutuskan untuk tinggal dirumah ini tanpa persetujuan darinya. Setelah mendapat anggukan dari Tomi, Shiren pun mengiyakan tawaran kedua orang tuanya untuk bermalam disana.


"Oh ya kalian pasti belum makan malam! ibu mau masak dulu, sekalian merayakan kepulangan mu, Shiren!" ucap Ayu kemudian berlalu menuju dapur.


__ADS_2