
Diluar ruang kerja tuan Ardi, Lukas dan anak buahya yang tadi ikut mengawal Mentari terlihat sangat gusar.
"Bagaimana jika nona ada dalam bahaya tadi?" tanya salah satu anak buah Lukas.
"Sepertinya begitu, hahhhh aku harap nona Mentari sedang baik-baik saja seperti yang dikatakan tuan besar!" ucap Lukas.
"Lukas!!" panggil pak Joni dari arah belakang.
Lukas dan yang lain segera menoleh ke sumber suara dan melihat pak Joni berdiri dibelakang mereka. Pak Joni mengisyaratkan untuk berbicara berdua saja dengan Lukas dan Lukas pun mengikuti ayahnya. Dia tau apa yang akan ayahnya katakan padanya, raut wajah kekecewaan itu terpancar jelas dari rona wajah sang ayah.
Haihhh, aku harus menerima akibatnya apapun itu!!! batin Lukas.
Benar saja, setelah sampai diruang kerja pak Joni, Lukas langsung didudukkan dikursi hendak disidang.
"Apa kau tahu kesalahan apa yang kau lakukan itu?" tanya Pak Joni datar.
Lukas menjawabnya dengan anggukan kepala.
"Kau tahu kan banyak musuh yang mencoba mendekati nona muda apalagi setelah pernikahannya dengan tuan muda?" ucap Joni lagi.
Lagi-lagi Lukas menjawabnya dengan anggukan kepala membuat Joni menghela nafas berat.
"Haihhhhh!!!! aku benar-benar tidak mengharapkan hal ini darimu Lukas!! kau tahu kan kenapa aku menyuruhmu untuk bersama tuan muda? agar kau bisa melindunginya dan kecilnya kelak. Lalu bagaimana aku bisa mempercayakan tugas itu kepadamu kalau menjaga nona muda saja kau tidak becus???"
Lukas masih terdiam.
"Kemasi barang-barang mu kau akan ikut Merish dalam mengambangkan keahlian mu. Jika kau sudah layak untuk mendampingi tuan muda lagi baru kau boleh kembali!!!" ucap Joni lalu keluar dari ruangannya meninggalkan Lukas yang masih termenung disana.
__ADS_1
Pelatihan? Bersama paman Merish?
Lukas dengan wajah lesunya kembali kerumah Darel dan mengemasi barang-barangnya. Beberapa anak buahnya yang sudah bertahun-tahun berada dibawah Lukas ikut mengantarkan kepergiannya. Merish sudah menunggunya didepan rumah, dan mereka pun masuk kedalam mobil. Dengan wajah sendu Lukas dibawa menuju pelatihan selanjutnya dimana hal itu ayahnya lakukan agar dia bisa semakin tangguh dalam menjaga keluarga Darel nantinya.
********
Disisi lain, mobil yang akan membawa mereka ke desa sudah sampai. Mereka pun bergegas memasuki mobil-mobil itu agar bisa segera kembali dan berkumpul bersama keluarga mereka. Mentari sebenarnya ingin menaiki mobil yang berbeda dengan Darel, rasa kecewanya terlalu dalam pada suaminya itu. Bukan hanya karena Mentari sudah merasa dibohongi, namun dia juga sudah sangat kecewa karena Darel yang tidak mau terbuka padanya sebagai sepasang suami-istri.
Akhirnya karena desakan sahabat-sahabat Darel agar mereka bisa membicarakan masalah mereka berdua, Mentari pun setuju satu mobil dengan Darel. Tentu saja ada Harri dan Adi yang menemani mereka.
Suasana sangat canggung dan sunyi. Baik Mentari maupun Darel, tidak ada yang enggan memulai obrolan untuk mengusir kecanggungan diantara mereka. Semua tengah sibuk dengan pikirannya masing-masing hingga akhirnya Darel mengalah dan memulai obrolan mereka.
"Bolehkah aku meminta maafmu?" tanya Darel dengan suara yang terdengar menyedihkan.
Mentari masih tidak menghiraukan perkataan Darel. Sudah cukup baginya rasa sakit yang dia rasakan. Dia hanya mau ketenangan untuk sekarang. Yah, ketenangan!!
"Tidak bermaksud menyakiti?? lalu ini apa? apa kamu lihat aku sedang bahagia sekarang!?" ucap Mentari kesal.
"Aku benar-benar tidak bermaksud kok! lagian kenapa kamu terlihat sangat marah? bukankah kamu sendiri yang mengatakan kalau kau tidak akan pernah mencintaiku? apa sekarang kau mulai ada rasa padaku?" tanya Darel.
Dekkkk.....
Benar, Mentari mulai memiliki rasa untuk Darel. Darel mulai memiliki tempat spesial dihati Mentari, itu sebabnya dia bisa semarah ini.
"Apa kau pikir aku akan semudah itu merasa kecewa jika aku tidak menyukai orang itu? yah, kau memang mulai memiliki tempat khusus dihatiku, namun aku pastikan sekarang tidak lagi!" ucap Mentari serius.
Mentari menatap tajam mata Darel. Adi dan Harri yang sudah pernah menyaksikan perdebatan Darel dan Mentari pun sudah mulai terbiasa. Bahkan kalau diingat-ingat pun ini bukan kali pertama untuk Darel dan Mentari bertengkar hebat seperti ini. Namun Adi memiliki firasat buruk akan pertengkaran ini. Dari raut wajah Mentari, terlihat jelas bahwa dia sangat kecewa dengan Darel. Seseorang tidak akan merasa kecewa kepada lawan jenisnya jika bukan karena ada sesuatu dihatinya. CINTA
__ADS_1
Cinta mulai tumbuh dihati Mentari, cinta itu pula lah yang membuatnya sangat kecewa dan merasa dibohongi oleh Darel. Rasa Cinta yang bahkan belum sempat dia utarakan harus dia matikan dan harus dia kubur kembali sedalam mungkin.
Aku akan mengakhiri ini semua! .Mentari
Sesampainya didesa, semua orang segera menghampiri mobil-mobil yang membawa keluarga mereka. Tuti langsung berlari memeluk ayahnya begitu pula pak kades yang langsung memeluk putri semata wayangnya ini.
Sebenarnya mereka ingin berlama-lama didesa itu, namun karena kondisi sedang tidak baik terlebih Zanu yang tengah berada dirumah sakit, Darel dan yang lain pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanannya ke kota.
Beberapa jam terlewati dengan cepat, namun Darel dan Mentari tetap membisu setelah percakapan terakhir mereka sebelum sampai di desa tadi. Begitu sampai dirumah Darel, Mentari langsung turun dari mobil dan bergegas menuju kamarnya, mengunci dirinya didalam kamar. Darel berusaha mengejar Mentari namun dia terlambat karena Mentari sudah lebih dulu mengunci pintu itu.
Darel sebenarnya ingin cepat-cepat menjelaskan semuanya kepada Mentari, namun karena dia harus menjenguk Zanu yang masih dalam kondisi tidak sadarkan diri akhirnya Darel meninggalkan Mentari dengan perasaan kacau.
"Tuan, apa menurutmu masalah ini akan terselesaikan?" tanya Adi khawatir.
Mereka sudah berada dijalanan menuju rumah sakit Bagas. Saat itu Bagas tidak bisa ikut menyelamatkan warga desa yang diculik karena keadaan rumah sakit yang mewajibkannya tetap berada disana.
"Kenapa?" tanya Darel singkat.
"Tidak tuan, hanya saja sepertinya nona sudah mulai mencintai anda, dan kalau itu terjadi bukankah itu berakibat buruk bagi pernikahan kalian? secara nona Mentari berpikir Anda membohongi dirinya dan berlaku tidak setia padanya? apakahhh...." Adi menghentikan ucapannya membuat Darel langsung membelalakkan matanya dan mendongakkan kepalanya keatas.
"Tidak, dia tidak akan berani untuk meminta cerai bukan?" Darel gusar.
"Maafkan aku tuan, meskipun aku ini jomblo sejati tapi aku tahu benar kalau wanita sudah mencintai seorang pria dengan tulus kesalahan sepele saja sudah mampu menggores luka dihatinya. Apalagi ini masalah besar loh tuan!" Harri menimpali.
"Diam kau bang**t!!!" Darel semakin kesal apalagi setelah mendengar perkataan Harri barusan.
Dia tidak akan berani kan? dia tidak akan memintai cerai bukan? tidak....tidak....dia tidak akan berani melakukan itu!!! batin Darel yakin.
__ADS_1