
Mentari dan Daniar sampai dirumah Iwang. Kebetulan waktu itu Iwang baru saja pulang sekolah. Wajah gembira langsung terpancar di wajahnya tatkala melihat Mentari datang kerumahnya.
"Kak Mentari!!!!" panggil Iwang sembari berlari menghampiri Mentari dan langsung memeluknya erat-erat.
"Woww, kamu baru pulang sekolah yaa?" tanya Mentari yang menyambut hangat pelukan anak kecil itu.
"Iya kak, kakak tau tidak aku punya banyak teman loh disana! ada Iza, Fairus, Anjar, sama Jordan! mereka baik sekali sama Iwang kak!" ucap Iwang dengan penuh semangat setelah melepaskan pelukannya.
"Wahh, bagus dong! jadi Iwang tidak kesepian lagi kalau mau main!" ucap Mentari ikut senang.
"Ehemm...ehemmm!!!!"
"Eh, Niar! sampai lupa!" ucap Mentari menatap Daniar yang berdiri dibelakangnya.
"Gini nih kalau udah ngebet pengen punya anak! buruan buat gih, biar aku juga punya keponakan nantinya!" goda Daniar.
"Niarrr!!!!" malu-malu.
Lukas disamping mobil hanya tersenyum tipis mendengar ejekan Daniar kepada Mentari membuat Mentari semakin malu.
"Oh iya Iwang, kakak punya banyak makanan loh buat Iwang sama nenek. Ayo kita masuk!" ucap Mentari.
"Iya-iya, ayo masuk kak!" ucap Iwang sembari menggandeng tangan Mentari agar mengikutinya masuk rumah.
Didalam kamar nenek Iwang.
"Uhukkkk....uhukkk....uhukkkk!" nenek terbatuk sambil menutup mulutnya.
Ketika dia melihat telapak tangannya, terdapat sedikit darah disana.
"Ya Allah, jangan kau ambil nyawaku sekarang! aku belum siap meninggalkan cucuku sendirian Ya Allah!!" menangis sembari menatap tangannya yang terdapat darah.
"Nenek!" panggil Iwang dari luar kamar neneknya.
Dengan sigap nenek Iwang langsung mengusapkan telapak tangannya ke sembarang tempat membersihkan darah itu.
"Iya?" tanya nenek.
"Ada kak Mentari dan kak Daniar di depan!" ucap Iwang.
"Oh baiklah, ayo kita keluar!" berjalan dengan dibantu Iwang.
Sesampainya di ruang tamu, Iwang membantu neneknya untuk duduk.
"Nak, Mentari dan nak Darel bagaimana kabar anda?" tanya nenek dengan lembut.
__ADS_1
"Saya dan Darel baik-baik saja nek! nenek sendiri?" tanya Mentari dengan tersenyum.
"Alhamdulillah, kami juga baik-baik saja disini! nak Daniar?" bertanya kepada Daniar.
"Baik juga nek!" jawab Daniar.
Mereka bercengkrama cukup lama. Iwang bercerita panjang lebar kepada Mentari, seperti seorang anak yang menceritakan hal apa saja yang dia alami saat disekolah kepada ibunya. Melihat Iwang yang sangat nyaman dan bahagia didekat Mentari membuat nenek Iwang bersedih. Siapa yang akan mengurus cucunya nanti jikalau sang Maha Kuasa mengambil nyawanya?
"Ya kan nek?" menatap neneknya yang berkaca-kaca.
"Loh, nenek menangis? kenapa menangis?" tanya Iwang khawatir.
"Ah tidak kok, nenek hanya menangis karena bahagia saja!!" mengelus pucuk kepala cucuknya.
Mentari merasakan sesuatu dengan sikap nenek Iwang. Seolah ada sesuatu yang berusaha dia sembunyikan dari semua orang. Tapi entah apa itu.
Setelah hampir satu jam mereka mengobrol dan bermain dirumah Iwang, Mentari dan Daniar pun akhirnya pamit pergi. Disepanjang perjalanan, Mentari terlihat melamun saja. Entah apa yang dia pikirkan.
"Kita mau kemana lagi nona?" tanya Lukas.
Tidak ada jawaban dari Mentari. Bahkan Lukas mengulang kembali pertanyaannya sampai tiga kali, namun tetap tidak ada jawaban dari Mentari.
"Mentari?!" menepuk pelan pundak Mentari dan membuat Mentari sangat terkejut
"Eh, iya ada apa?" linglung.
"Masak sih?" tanya Mentari.
"Iyaa, bahkan tuan Lukas bertanya berkali-kali padamu saja kau tidak menjawabnya!" ucap Daniar.
"Niar, kayaknya ada sesuatu deh yang disembunyikan neneknya Iwang!" jelas Mentari teringat gelagat aneh nenek Iwang.
"Kenapa kamu bisa mengatakan hal itu?" tidak mengerti.
"Apa kau tidak perhatikan tadi waktu dia menangis? sepertinya dia menangis bukan karena bahagia!" jelas Mentari.
"Jangan begitu, lebih baik kamu fokus untuk memberikanku keponakan kecil yang lucu saja, hahahaha!!!" menggoda Mentari.
"Ihhh, Niarr!!!!" memukul pelan pundak Daniar.
Lukas yang didepan ikut tersenyum mendengar ucapan Daniar.
Jika tuan muda memiliki anak nantinya pasti akan sangat lucu bukan? wajahnya mirip nona tapi sifatnya mirip tuan, hehehehe!!!! pasti sangat menggemaskan!! batin Lukas.
********
__ADS_1
Disisi lain di kamar Darel. Darel tengah gelisah dan berkeringat akibat obat perangsang yang diberikan Pretty secara diam-diam kedalam minuman Darel. Tadi sewaktu Mentari baru saja pergi, Darel meminta pelayan membawakannya jus jeruk.
Pretty yang tahu hal itu menunggu pelayan lengah dan menjauh dari jus Darel. Ketika kesempatan itu didepan matanya, Pretty langsung memasukkan obat perangsang kedalam minuman Darel dan menunggu reaksi Darel.
Mengetahui obat itu sudah mulai bekerja, Pretty memasuki kamar Darel dengan pakaian sexy miliknya. Dia berjalan mendekati Darel dan duduk diatas paha Darel. Pretty mulai menyentuh tangan Darel, semakin keatas hingga berhenti di dada bidang milik Darel.
Sentuhan itu tentu saja membangkitkan gairah Darel. Dengan cepat Pretty mencium bibir Darel. Ciuman itu berakhir dengan lum***n.
"Ahhh!!!! hah...hahh.... tidakkk!!!! jangan dekati akuuu!!! pergi dari siniii!!!! pergiiii!!!!" menahan gejolak di tubuhnya.
"Darel sayang, aku hanya mau membantumu saja!" kembali menyentuh leher Darel.
Darel mendorong Pretty dengan keras. Membukakan pintu dan menyuruhnya keluar dengan paksa.
Sial, bisa-bisanya aku terkena pengaruhnya!!! batin Darel.
Darel berjalan dengan sempoyongan menuju kamar mandi. Mendinginkan tubuhnya dengan air dingin. Darel berendam cukup lama hingga efek obat itu hilang dari tubuh Darel.
Tidak! aku tidak bisa membiarkan dia tinggal lebih lama disini! aku harus memikirkan cara lain untuk bisa menghancurkannya dari jauh!! batin Darel.
"Akan terjadi kesalahan yang fatal jika terus membiarkan wanita tidak tahu diri itu tinggal disini!" ucap Darel.
Darel keluar dari kamar mandi, mengganti pakaiannya yang basah lalu memanggil Adi dan Harri ke kamarnya. Tidak butuh waktu lama, Adi dan Harri datang ke kamar Darel.
"Apa ada yang harus kami lakukan tuan?" tanya Adi setelah berdiri didepan Darel.
"Aku mau kalian membelikan sebuah apartemen untuk Pretty!" ucap Darel.
Adi dan Harri sangat terkejut mendengar kalimat Darel barusan.
Tunggu, apartemen? apa tuan sudah terkenal oleh rayuan wanita ular itu lagi? batin Adi.
"Ap.... apartemen tuan?" tanya Adi dan Harri bersamaan.
"Kenapa harus apartemen tuan?" tanya Harri.
"Kalian tahu kan aku masih ada urusan dengan wanita itu. Setelah kejadian ini tidak akan aku biarkan dia lolos begitu mudah. Aku akan dengan mudah mengendalikannya jika dia ada dalam genggamanku." jelas Darel.
"Lalu bagaimana dengan nona Mentari tuan? bukankah hal ini bisa memicu kesalahpahaman?" tanya Adi.
"Mentari biarlah menjadi urusanku!"
********
Disebuah markas rahasia.
__ADS_1
"Hahahahahaaa...kau ingat bisa membunuhku dengan mudah Darelll!!! aku akan kembaliii! akan aku pastikan kau membalas semua yang sudah aku alamiii!!!" menyeringai.