
Wanita itu berjalan-jalan di mall, tempat biasa dia datangi dulu. Melihat-lihat barang yang ia sukai dan langsung membelinya tanpa melihat berapa harganya.
Brukkkk.....
Semua belanjaannya jatuh berceceran dilantai.
"Maaf-maaf! aku tidak sengaja!" ucap seorang pria.
"Kau?" mendongak keatas melihat siapa pria itu.
"Darel?" ucap wanita itu tidak percaya.
"Darel, ini benar-benar kau!!!! oh ya Tuhan aku sangat rindu padamu!!!" memeluk Darel tanpa aba-aba.
"Lepaskan!!! lepaskan aku!! Lepas!!!" teriak Darel.
"Darel ini aku! cintamu, Pretty!" ucap wanita itu yang bernama Pretty.
"Mau apa lagi kau datang kesini ha!" ucap Darel emosi.
"Ya, untuk menemuimu lah!" ucap Pretty seenaknya.
"Apa kau lupa bagaimana aku mengusirmu dulu dari kehidupanku?"
"Aku sudah menikah, dan aku harap kau tidak berbuat macam-macam atau aku akan memberikan hal yang buruk padamu!" bergegas pergi.
"Kau lihat saja apa yang bisa aku lakukan Darel!" ucap Pretty.
Dari kejauhan dia melihat wanita menggandeng tangan Darel. Wanita itu cukup cantik, tapi gaya pakaiannya terlihat membosankan.
Apa itu istri Darel yang Maya ceritakan tadi? bagaimana bisa Darel menikah dengan wanita membosankan seperti itu? cihhh!!! batin Pretty.
Pretty pergi menenteng tas belanjaannya dengan kesal.
Didalam mobil Darel.
"Siapa wanita itu tadi? kelihatannya kalian cukup akrab?" tanya Mentari yang melihat dengan sekilas.
"Siapa wanita itu tidak penting, yang penting jauhi dia, jangan pernah bicara dengannya okey?" ucap Darel memperingati.
"Memangnya kenapa?" tanya Mentari penasaran.
"Kau ini ya?" mendekat kearah Mentari.
Menutup sekat antara tempat pengemudi dan penumpang.
"Darel, apa yang mau kau lakukan?" tanya Mentari gugup.
"Aku mau kau!"
"Bekasmu tadi saja masih merah-merah loh di badanku, dan kau mau lagi?" mengerutkan keningnya.
"Kau menjadi canduku sekarang! dan yah, jangan panggil aku Darel." menempel didada Mentari.
"Lalu aku harus memanggilmu apa?" tanya Mentari.
"Sayang lah, atau honey lah, beb lah, yang penting jangan nama!" ucap Darel.
"Ya sudah iya, sayang!" malu-malu.
__ADS_1
"Apa? aku nggak dengar!" menggoda.
"Iya sayangggg!" berbisik di samping telinga Darel.
Langsung saja Darel menerkam Mentari, dan adegan romantis pun mereka lakukan didalam mobil itu. Suara-suara aneh mulai didengar oleh Adi dan Harri.
Aduh tuan, kalau main nggak liat tempat main nyosor aja! duhhh jadi pengen cepet-cepet nikah dehh! makkkk anakmu kebelet nikahhhh! batin Harri.
Apa sih tuan ini main didalam mobil, dikira kita tuli apa? huhhhhh!! batin Adi.
Mereka tetap melajukan mobil menuju rumah Darel meski suara-suara eksotis kerap kali menggelitik pendengaran mereka, tapi Adi dan Harri berusaha tidak mendengar apa-apa dan fokus ke jalanan.
Ketika sampai didepan rumah, Adi dan Harri menunggu agak lama hingga sekat mobil itu kembali turun.
Terlihat dari kaca spion, rambut dan baju mereka berdua terlihat acak-acakan yang membuat Adi dan Harri bergidik ngeri sendiri.
Benar-benar ya tuan ini, main tidak ngerti tempat! hadehhhh!!! batin Harri.
Semoga pilihan anda tidak salah lagi kali ini tuan! batin Adi.
"Oh ya Mentari, kau naik saja dulu. Aku masih ada urusan dengan Adi dan Harri!" ucap Darel.
"Emm, baiklah!" pasrah.
Mentari keluar dari mobil dan menuju kamar mereka, sedangkan Darel membawa Adi dan Harri menuju ruang kerjanya.
"Wanita itu!!! wanita itu sudah menunjukkan batang hidungnya!!!" ucap Darel begitu sampai diruang kerjanya.
"Lalu apa yang harus kami lakukan tuan?" tanya Adi.
"Kita lihat saja dulu kemana dia melangkah. Jika dia memilih untuk mendekatiku atau keluargaku, maka habis dia kali ini!!!" ucap Darel menahan emosi.
Beberapa hari telah berlalu semenjak pertemuannya dengan Pretty, Darel melarang Mentari keluar rumah tanpa ijin darinya. Kebetulan hari ini Daniar sedang cuti, dia berniat mengajak Mentari jalan-jalan berdua.
"Ayolah sayang, aku dan Daniar sudah lama tidak keluar bersama!" rengek Mentari.
"Baiklah, dengan satu syarat. Akan ada penjaga yang mengikuti kalian, bagaimana?" ucap Darel.
Dari semalam Mentari terus berusaha membujuk Darel agar mengijinkannya keluar bersama Daniar. Namun sayang bujukannya tidak berbuah manis.
"Yahhh, nggak asik dong kalau ada penjaganya! orang cuma sebentar doang kok, nggak lama!" masih bernegosiasi.
"Ya terserah kamu aja. Mau ada penjaga, atau nggak usah keluar sama sekali. Simpelkan?" ucap Darel dengan santainya.
"Ishhh kamu ini yaaa! iya deh iya, pakai penjaga!" ucap Mentari memanyunkan bibirnya kesal.
"Jangan manyun begitu, nanti bisa-bisa aku kurung kamu seharian dikamar yaaa!" ucap Darel menggoda Mentari.
Langsung saja Mentari membungkam erat-erat mulutnya yang membuat Darel semakin gemas dan ingin melahapnya. Ketika bibir mereka hampir berdekatan, Adi dan Harri datang mengacaukan adegan romantis mereka.
"Selamat pagi tuan!" ucap Adi dan Harri.
Kayaknya datang diwaktu yang nggak tepat lagi nih! batin Harri.
Sepertinya kita datang diwaktu yang tidak tepat?! batin Adi.
Darel menatap tajam anak buahnya ini, sedangkan Mentari mengulum senyum karena malu.
"Kalian ini bisa lihat situasi tidak sih? selalu saja mengganggu momen romantis ku!!" kesal Darel.
__ADS_1
"Emm, kami hanya ingin menyampaikan pesan dari tuan besar, tuan!" ucap Adi ngeri.
Nah kan, benar apa yang aku duga! batin Adi.
"Apa pesannya?" cuek.
"Tuan dan nyonya besar sedang ada acara di Surabaya tuan. Mungkin mereka akan kembali setelah beberapa hari." jelas Adi.
"Kenapa tidak langsung menelpon saja?"
"Hp tuan tidak aktif katanya."
Darel langsung mengecek ponselnya, dan benar saja ponselnya kehabisan baterai.
"Sayang, jaga bicaramu! yang halus sedikit kenapa sih? emang harus ya bentak-bentak gitu?" tanya Mentari.
"Eh, enggak kok. Ya sudah kalian boleh pergi!" ucap Darel selembut mungkin kepada Adi dan Harri.
"Baik tuan, permisi! permisi nona!" ucap Adi dan Harri kemudian berlalu pergi.
"Ya sudah aku bersiap-siap dulu ya!" ucap Mentari berlari ke kamar mandi.
Belum sempat menutup pintu kamar mandi, Darel menyusulnya dan mereka pun bermain cukup lama di kamar mandi.
********
Dirumah Daniar, Daniar sudah bersiap menjemput Mentari. Setelah sekian lama akhirnya mereka bisa pergi berdua lagi.
"Ma, aku berangkat dulu ya!" pamit Daniar.
"Iya sayang hati-hati ya! oh ya, sampaikan salam mama ke Mentari juga suaminya!" ucap mama Daniar dari arah Dapur.
"Siyap ma! ucap Daniar.
Daniar menuju rumah Darel dengan naik taxi online yang sudah dia pesan sebelumnya. Saat sampai dirumah Darel, Mentari ternyata belum selesai sehingga Daniar menunggu cukup lama.
"Aduh, maaf ya Niar! lama ya?" tanya Mentari terburu-buru.
"Enggak kok, santai aja!" ucap Daniar.
Kedua mata Daniar menangkap warna merah dileher Mentari, dia menahan tawa karena tahu apa itu.
"Iyaa, iyaa yang habis main berduaa!" goda Daniar.
Mentari langsung salah tingkah mendengar ejekan Daniar.
"Apaan sih! yuk jalan sebelum kesiangan!" ucap Mentari mengalihkan topik.
Mereka pun bergegas menuju mall untuk berbelanja.
"Sama mereka?" tanya Daniar menunjuk pada bodyguard yang menaiki motor itu.
"Dengan mereka atau tidak sama sekali!" mengulang perkataan Darel.
"Hahahaha, lucu banget sih kalian!" tertawa lepas.
"Ihhh, niarrr!!!"
Daniar dan Mentari pergi dengan menaiki salah satu mobil Darel. Yah, tentu saja ini atas perintah Darel. Dan tanpa mereka sadari, mobil itu sudah dilengkapi GPS sehingga Darel bisa mengetahui dimana lokasi mereka.
__ADS_1