Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 234


__ADS_3

Dendi menatap penuh kebencian dan dendam ke arah Darel.


"Kau dan keluargamu harus menerima akibatnya karena sudah menghancurkan keluargaku!" ucap Dendi.


Sringggg......


"Darelll!!!!" Tomi dan Rohan.


"Tuannn!!!!" teriak Adi, Harri dan Lukas.


"Tidakkkkkkk!!!!!!!!!" teriak Mentari menangis.


Darel ditusuk dari belakang oleh satu anak buah Dendi. Dengan tawa yang menyeramkan Dendi dan juga anak buahnya puas melihat darah yang keluar dari punggung Darel.


Dor.....


"Hah?!" Dendi melihat anak buahnya yang menusuk Darel telah tewas ditembak seseorang. Dia adalah Zanu yang sudah bangun dari pingsannya. Zanu menggunakan pistol milik Bagas untuk menembak anak buah Dendi.


Melihat itu, Dendi menggerutukan giginya geram. Dendi melangkah mendekati Mentari lalu meletakkan pedangnya didekat leher Mentari.


"Tari!" teriak Darel disela kesakitannya.


"Hahahaha.....kau tidak akan bisa mengalahkan aku Darel Sanjaya! jika aku harus mati saat ini, maka akan aku bawa kekasihmu ini bersamaku!" ucap Dendi tertawa puas.


"Jangan! akan aku lakukan yang kau mau asalkan kau melepaskan dia!" ucap Darel memberi tawaran.


"Ohhh menarik!" ucap Dendi.


"Tidak! habisi saja aku, tapi jangan sakiti dia!!" ucap Mentari tidak ingin Darel terluka lagi.


"Kau jangan gila Tari!" hardik Darel.


"Aku tidak gila! biar aku yang berkorban, asalkan kau selamat! aku tidak bisa melihatmu terluka lagi Darel, mengertilah!" ucap Mentari berlinang air mata.


"Jika kau mengorbankan dirimu demi hidupku, kau hanya akan menyelematkan ragaku tapi bukan jiwaku, Tari! jiwaku akan ikut mati bersama jasadmu!" ucap Darel bersungguh-sungguh.


"Tidak Darel!" Mentari menggelengkan kepalanya sambil terus menangis.


Darah terus saja keluar dari tubuh Darel membuat Mentari juga ikut teriris melihatnya. Tidak bisa dipungkiri bahwa Mentari juga masih mencintai Darel. Sampai kapanpun itu akan tetap seperti ini.


"Sudah!!! hentikan drama kebucinan kalian ini! aku muak melihatnya!!" hardik Dendi menggoreskan sedikit pedangnya mengenai kulit leher Mentari.


"Hentikan!!!! kau ingin nyawaku bukan!! aku siap menyerahkannya padamu, asal kau lepaskan dia!!!" ucap Darel masih bernegosiasi.


Lima anak buah Dendi yang masih ada disana segera menyerat Darel, menendangnya, memukulnya, meninjunya atas perintah Dendi.


Bukkk....bukkkk....bukkk.....buk.....

__ADS_1


"Berhenti!!! jangan kalian bergerak dari tempat kalian sekarang...akhh....." perintah Darel kepada anak buahnya yang hendak melawan termasuk Adi, Harri, dan Lukas.


Mereka tidak tega melihat Darel dikeroyok seperti itu, terlebih Darel baru saja mendapatkan luka yang cukup parah di punggungnya.


"Berhentiii!!! tidakkk!!! jangan sakiti Darel lagi aku mohonnn!!!! habisi saja aku, jangan Darelll!!!!" teriak Mentari histeris.


"Adi! Harri! kak Lukas! kalian jangan diam saja!!! selamatkan tuan kalian!!!" ucap Mentari memanggil tangan kanan Darel itu yang hanya bisa menunduk pasrah.


Sementara itu Darel terus saja dikeroyok oleh kelima anak buah Dendi. Jo yang melihat itu juga hanya pasrah tidak bisa berbuat apa-apa karena janji yang sudah dia ucapkan pantang dia ambil kembali.


"Kak, bantu tuan Darel, kak!! tolong diaa!!!" bujuk Shiren kepada kakaknya.


"Maafkan kakak, Sharina!! kakak tidak bisa berbuat apa-apa! kakak sudah terikat dengan janji yang kakak buat!" ucap Jo pasrah.


"Kalau begitu berjanjilah padaku kalau kakak akan membantu tuan Darel!" ucap Shiren.


Jo menatap mata sang adik yang belasan tahun ini terpisah dengannya lalu menatap sahabat Darel yang sudah siuman menatap getir ke arah Darel yang tengah dikeroyok.


Jo berjalan ke arah sahabat Darel lalu melepaskan ikatannya.


"Hah, kau..." ucap Arul bingung.


"Selamatkan sahabat kalian! lewat kalian aku bisa memenuhi janjiku kepada adikku namun tidak melanggar janjiku kepada Dendi!" ucap Jo.


"Terimakasih!" ucap Zanu yang dibalas dengan anggukan kepala oleh Jo.


"Lepaskan akuuu!!!! hentikannn!!! Darel lawanlah merekaaa!!!! jangan diam saja!! aku tidak ingin kehilanganmu Darell!!! bangunlahhh!!!" teriak Mentari memberontak ingin melepaskan diri.


Mendengar kata sayang yang diucapkan Mentari seolah memberi semangat yang besar kepada Darel.


"Huaaaaaaa!!!!" Teriak Darel.


Darel berhasil menghempaskan kelima anak buah Dendi yang mengeroyoknya tadi. Tangannya terkepal mengalirkan tenaga yang besar ke satu titik di kepalan tangannya.


Bukk.....


Darel meninju anak buah Jo yang hendak menyerangnya dengan sekali tinju di perutnya.


"Tunggu dulu, sepertinya kita tidak perlu membantunya!! binatang buas yang tertidur didalam dirinya selama ini sudah bangun!" ucap Arul menghentikan sahabatnya yang hendak membantu Darel. Mereka semua pun melihat kearah Darel yang tengah membalas serangan anak buah Dendi dengan sangat buas.


"Emm, sepertinya kau benar juga! kita melihat saja lah!" ucap Tomi sambil cengengesan.


Zanu, Bagas dan Rohan hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah dia sahabatnya ini.


Darel mengambil pedangnya dan menebaskan pedangnya ke anak buah Dendi hingga pedang yang berwarna silver itu menjadi merah akibat terkena darah.


"Heh, kau memang harus aku sendiri yang mengurus Darel!" ucap Dendi mulai menyerang Darel.

__ADS_1


"Sayang, hati-hati!" ucap Mentari memperingati.


Darel tersenyum ke arah Mentari sebentar lalu kembali fokus melawan Dendi. Serangan demi serangan yang dilayangkan oleh Dendi berhasil ditangkis oleh Darel. Pedang mereka berdua saling beradu di udara membuat siapapun yang melihat menahan nafas saking tegangnya.


Sringggg.....prangg....


Darel berhasil menghempaskan pedang yang dipakai Dendi.


"Dulu kau kalah, sekarang pun kau kalah, Dendi! kau ditakdirkan tidak bisa mengalahkan ku selamanya!" ucap Darel tajam dengan nada ngos-ngosan.


Dendi tidak kehabisan akal. Dirinya membuka baju yang tengah dia pakai.


"Bomm?!" ucap Tomi terkejut melihat benda yang menempel di tubuh Dendi.


"Hahahahaaa, siapa bilang aku akan kalah Darel! aku akan menang kali ini!" ucap Dendi langsung memeluk Darel.


"Darelll!!!!! tidakkkkk!!!!" teriak Mentari..


BOMMMMMM......


Bom itu meledak dengan sangat kuat menyisakan debu yang berterbangan.


"Darelll!!! Dwiiiiii" teriak sahabat Darel.


"Tuannnnnn!!!" teriak Adi, Lukas, dan Harri juga anak buah Darel yang lain.


"Tidakkkkkk.........Sayangggggggg!!!!" teriak Mentari histeris.


Air matanya mengalir sangat deras. Semua orang disana ikut menangis melihat hal itu. Shiren berlari ke arah Mentari, melepaskan ikatan di tangan dan kaki Mentari. Setelah terlepas dari ikatan itu, Mentari langsung berlari ke arah bom tadi meledak. Mentari mencari Darel seperti orang gila.


"Darell.....sayang......hikss.....hikss....sayang!!!" teriak Mentari histeris.


"Tuan, saya menemukan tuan Darel!" teriak salah seorang anak buah Jo.


Mereka langsung berlari menuju sumber suara. Mentari juga yang mendengar itu kelabakan lari ke sumber suara. Matanya sendu menatap tubuh Darel yang tidak sadarkan diri dengan luka yang cukup parah.


"Darelll!!!" teriak Mentari langsung duduk dan memangku kepala Darel.


"Sayang jangan tinggalkan akuu!!! bangun Darelll!!!" teriak Mentari sambil menepuk-nepuk pipi Darel berharap Darel bisa bangun.


"Tunggu biar aku periksa!" ucap Bagas yang datang dari kerumunan.


Bagas memeriksa denyut nadi Darel di tangannya.


"Bagaimana, Gas?" tanya Zanu.


"Masih ada denyut nadinya, tapi sangat lemah! dia harus segera dibawa kerumah sakit!" ucap Bagas.

__ADS_1


"Biar aku gendong dia, kalian siapkan mobil!" ucap Tomi yang memang berbadan lebih besar.


Tomi menggendong tubuh Darel yang lemah seperti menggendong beras. Langkahnya cepat menuju mobil milik Jo.


__ADS_2