Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 277


__ADS_3

Kini Darel tengah fokus pada berkas penting diruang kerjanya.


Tok...tok... tok...


"Masuk!" ucap Darel masih menatap lembaran file itu.


"Permisi tuan!" ucap Adi.


Adi, Harri, dan Lukas datang secara beriringan memasuki ruang kerja Darel.


"Bagaimana? apa kalian menemukan titik terang?" tanya Darel yang sudah mengalihkan fokusnya ke arah anak buahnya itu.


"Sudah tuan! kami sudah menemukan kuburan mereka! mereka dikuburkan di alamat ini!" ucap Adi menyodorkan sebuah alamat ke arah Darel.


"Lalu, tugas yang lain bagaimana?" tanya Darel kembali menatap anak buahnya secara bergantian.


"Untuk itu kami masih belum bisa memastikan secara pasti tuan! kami masih perlu bukti yang kuat dengan argumen kami! tapi sepertinya, nona Mentari bukan dari kalangan orang miskin!" ucap Lukas.


"Maksudnya?" tanya Darel tidak mengerti.


Darel memang meminta ketiga anak buahnya itu untuk mencari dimana kuburan orang tua Mentari juga siapa sebenarnya Mentari. Darel mulai merasa janggal dengan siapa istrinya itu ketika latihan menembak tempo hari, dimana latihan itu memerlukan waktu yang tidak sebentar. Namun nyatanya sekali tembak, Mentari bisa mengenai tepat sasaran, termasuk saat sasaran itu bergerak.


"Kami menemukan sebuah bukti kalau nona Mentari keturunan seorang pensiunan mafia." ucap Harri mulai mode serius.


"Apaaa!!! tapi...dia....tidak mungkin!!!" ucap Darel tidak percaya.


Mentari anak seorang mafia? bagaimana bisa? ini terlalu membingungkan bagi Darel.


"Maka dari itu kami masih menyelidiki hal ini tuan! tapi sepertinya memang begitu adanya!" ucap Lukas.


"Hufttt! baiklah, kalian bisa keluar!" ucap Darel memijit pelipisnya yang pusing.


Sepeninggal anak buahnya, Darel masih memikirkan perkataan Harri kalau Mentari kemungkinan seorang mafia. Jika benar Mentari memiliki darah mafia, tidak heran jika dia bisa membidik tepat sasaran waktu itu.


Darel pun keluar dari ruang kerjanya menuju kamar Iwang, dimana istri dan anaknya berada disana.


"Sayang!" panggil Darel lirih.


Wajah Darel tampak lesu. Darel takut istrinya tidak bisa menerima kenyataan siapa dirinya dan bisa jadi hal itu berimbas pada calon anak yang berada didalam kandungannya.


"Kamu kenapa? sakit?" tanya Mentari tatkala Darel sudah duduk bersandar di pundaknya.


Mentari menempelkan telapak tangannya ke kening Darel, memeriksa suhu tubuhnya.


"Tidak demam kok! kamu kenapa?" tanya Mentari.


"Tidak apa-apa! hanya ingin begini saja! letih tadi banyak sekali tugas kantor!" jawab Darel berbohong.


"Kamu jangan capek-capek dong! nanti kalau kamu sakit siapa yang bakal jaga kami?" ucap Mentari.


"Iya-iya! oh ya sayang!"

__ADS_1


"Hem?"


"Kamu.....em....boleh aku tanya sesuatu?" tanya Darel menatap wajah cantik istrinya.


"Tanyakan saja!"


"Apa kau tahu dimana letak kuburan orang tua mu?" tanya Darel dengan hati-hati.


"Kuburan orang tua ku?"


"Aku.....tidak tahu!"


"Sudah mencoba mencarinya?" tanya Darel.


"Tidak! belum! aku belum berani kembali ke tempat itu! bayangan diusir dari desa itu hingga akhirnya aku terdampar di kota asing itu membuat dadaku sesak! aku tidak ingin kembali ke sana!" ucap Mentari dengan mata berkaca-kaca.


Mentari tidak ingin menangis. Dia tidak mau di cap cengeng. Tapi mengapa air mata ini jatuh begitu saja.


"Besok ikut aku ya!" ajak Darel.


"Kemana?" tanya Mentari.


"Ada kejutan istimewa buat kamu! Iwang ikut juga yaa? kan besok hari minggu." ajak Darel.


"Wahh, boleh yah!" ucap Iwang senang.


Meskipun Iwang belum tahu tujuan mereka nanti, namun dia tetap saja terlihat sangat gembira.


"Iya?"


"Aku pengen makan gado-gado!" ucap Mentari.


"Gado-gado? yaudah aku suruh mbok buat masakin itu ya?" ucap Darel hendak berdiri namun tangannya dicekal oleh Mentari.


"Kenapa? katanya mau gado-gado?"


"Maunya yang didepan toko roti itu! nggak mau buatan mbok!" ucap Mentari sudah mulai berkaca-kaca.


"Tapi kan sama aja sayang! sama-sama gado-gado!" ucap Darel.


"Aku suruh mbok buatin yaa!" ucap Dar tidak mengindahkan keinginan Mentari.


Darel tetep kekeh meminta mbok Tini untuk membuatkan Mentari seporsi gado-gado. Tidak butuh waktu lama seporsi gado-gado pun jadi karena dibantu banyak koki lainnya. Darel membawa piring berisi gado-gado itu ke kamar Iwang.


"Sayanggg!! nih gado-gado nya! ayo cepat dimakan mumpung masih anget-anget!" ucap Darel memberikan piring itu ke Mentari.


"Huekkkkk!!! huekkkk!!!"


"Nggak mau....huekkk!!!"


Mentari mual-mual mencium aroma gado-gado buatan rumahnya sendiri itu. Entah mengapa melihat penampilannya dia jadi tidak berselera makan. Dia hanya ingin makan gado-gado yang dijual didepan toko kue miliknya. Bumbu kacang yang hitam kental dengan sayuran segar ditambah satu buah telur setengah matang, kerupuk dan juga tahu sudah terbayang berapa enaknya makanan itu saat masuk ke dalam mulutnya.

__ADS_1


"Tapi kan tadi kamu bilang mau makan gado-gado, sayang! ini udah dibuatin gado-gado nya!"


"Nggak mauu!!! maunya yang di depan toko ku itu!! pokoknya mau yang disana, nggak mau yang ituu!" ucap Mentari.


"Yaudah nanti kita beli yaa! sekarang habisin ini aja dulu oke?"


Darel menyuapkan sesendok gado-gado ke mulut Mentari dan dengan terpaksa Mentari membuka mulutnya.


Hap....


Gado-gado itu telah masuk ke dalam Mulut Mentari. Begitu mengunyahnya, Mentari langsung menangis membuat Darel kebingungan.


"Sayang kenapa nangis? ada yang sakit, hem? apanya yang sakit, bilang sayang! perut kamu sakit?" tanya Darel panik karena Mentari tiba-tiba menangis dan air matanya keluar semakin deras.


"Loh, Tari? Darel Tari kenapa bisa nangis?" tanya Randita yang baru saja datang.


Randita sengaja berkunjung ke rumah Darel karena tadi dia membeli rujak buah yang sangat enak lalu kepikiran Mentari yang tengah hamil ponakannya. Randita pun membeli juga untuk Mentari.


"Aku mau makan gado-gado kak, tapi Darel nggak bolehin...hiks...hiks.." ucap Mentari masih menangis.


"Lah itu kan gado-gado?"


"Bukan gado-gado yang ini! aku udah bilang mau makan yang didepan toko ku, tapi Darel maksa makan itu! aku nggak mau, tapi tetap disuruh makannn!!" adu Mentari seperti anak yang mengadu ke ibunya.


"Aduh, Darel kamu tuh gimana sih? ibu hamil kalau pengen apa-apa itu harus diturutin! kamu mau anak kamu ileran karena pas ngidam nya nggak keturutan? mau?" ucap Randita.


"Loh, jangan dong kak! habisnya aku pikir daripada jauh-jauh kesana bisa dibuatin dirumah! lagipula sama gado-gado nya kok!" kilah Darel.


Randita hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah adiknya itu.


"Yaudah, Tari! ayo kita makan di warung yang mau maksud itu! Iwang kalau mau juga boleh ikut. Kita makan sepuasnya yaa, gimana?" ajak Randita.


"Serius kak?"


"Serius dongg!! tapi udah dulu nangisnya, jelek loh!" ucap Randita.


Mentari pun mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya dengan senyum manis mengembang di bibirnya.


"Lah, terus aku gimana kak?" tanya Darel.


"Kamu?" tanya Randita yang dibalas anggukan kepala oleh Darel.


"Kamu dirumah aja, terus makan gado-gado ini sampai habis! ayo, Tari, Iwang!" ucap Randita.


Mereka bertiga keluar kamar secara bergantian melewati Darel yang berontak ingin ikut.


"Kak, aku juga pengen ikut!! kakak!!! Sayang aku mau ikuttt!!! sayanggg....." teriak Darel saat mobil yang dikendarai oleh Randita berhasil pergi dari rumahnya.


"Yahh ditinggal dehhh!!!" keluh Darel.


Karena kesal, gado-gado yang masih ada ditangannya dia makan sendiri. Ternyata orang hamil itu sangat merepotkan yaa? banyak permintaannya. Tapi cowok tidak akan tahu rasanya badan remuk semua karena mengandung. Sulit bergerak seiring bertambahnya umur janin yang dikandungnya. Merelakan tubuh menjadi gemuk agar janin tetap sehat. Wajah menjadi jerawatan dan masih banyak yang lain. Suami mah mau enaknya aja. Tinggal tanam benih habis itu udah, sisanya ditanggung oleh istri.

__ADS_1


__ADS_2