
Beberapa hari sudah berlalu, persidangan ibu tiri Wanda juga sudah dilaksanakan kemarin. Karena bukti foto yang ditemukan di dalam buku diary milik nyonya Adas. Dalam foto tersebut menampilkan ibu tiri Wanda yang menggali lubang dengan sebuah mayat laki-laki disampingnya.
# FLASHBACK ON #
Belasan tahun yang lalu, disebuah malam. Rintik hujan mulai berjatuhan menambah suasana dingin. Wanda kecil saat itu terbangun karena haus. Dia berjalan mendekat ke arah dapur ketika sebuah suara menarik perhatiannya. Yah, suara itu berasal dari belakang rumah. Karena penasaran yang teramat mendalam, Wanda kecil memberanikan diri mengintip dari balik jendela dapur.
"Hah....hah....hah!!!" ucap seorang wanita terengah-engah sembari menggali sebuah lubang.
"Ahh, akhirnya!" tersenyum dengan seram menatap kearah samping bawahnya.
"Dasar laki-laki tidak berguna! kalau bukan karena misiku, tidak akan sudi aku menikah denganmu! huh!" melempar mayat itu masuk kedalam lubang yang baru saja dia gali.
"Selamat beristirahat dengan istri tercintamu pak tua!" lambai ibu tiri Wanda setelah mengubur mayat itu.
Wanda kecil tidak bisa melihat dengan jelas apa yang dilakukan ibu tirinya. Yang jelas dia tahu kalau ibu tirinya tengah mengubur sesuatu. Karena takut ketahuan, Wanda kec akhirnya memutuskan untuk kembali ke kamarnya.
Kembali ke ibu tiri Wanda. Dia yang baru saja selesai mengubur mayat suaminya, ayah kandung Wanda ingin memasuki rumah dan menyembunyikan cangkul yang dia pegang.
"Astaga, ibu!!!!????" panik ibu tiri Wanda.
"Kau? apa yang kau lakukan pada suamimu, Ra? apa kau membunuhnya?" panik nyonya Adas.
Nyonya Adas tidak menyangka anak tunggalnya ini akan melakukan hal seperti ini. Dia akui memang sedari kecil anaknya dididik dengan keras oleh suaminya, tapi dia benar-benar tidak menyangka kalau seperti ini jadinya.
"Bu, jangan sampai ibu lapor ke polisi! atau jika tidak ibu akan melihat jasadku! mengerti bu?!" ancam Ira, ibu tiri Wanda.
"Sadar, Ra! istighfar! ini dosa besar!" mulai menangis.
"Sudahlah Bu, jangan bawa-bawa dosa ya! sudah muak aku mendengar ceramah ibu! memang dengan ceramah ibu bisa makan enak? enggak kan?" emosi Ira.
"Tapi nak, dia suamimu! imammu! kau tega melakukan hal ini kepadanya?" berusaha menyadarkan Ira bahwa yang dia lakukan adalah salah.
__ADS_1
"Buk, aku sudah tidak perduli siapa dia! mau dia suamiku, ayahku, atau orang terpandang pun aku tidak peduli! yang penting tugasku sudah selesai dan aku bisa mendapat banyak uang!" tersenyum bangga.
"Astaghfirullah hal'adzim, sadar nak! ini salah besar, ibu tidak akan tinggal diam!" hendak melangkah pergi.
"Tunggu, Bu! sekali lagi ibu melangkah maka aku akan mengakhiri hidupku dihadapan ibu!" mengembik pisau lalu meletakkannya dilehernya.
"Jangan! jangan nak, jangan lakukan itu ibu mohon!" mengemis dengan air mata terus berjatuhan dibpipinya.
Nyonya Adas tidak berdaya, dia terpaksa bungkam. Dia tahu ini salah, tapi dia juga tidak ingin melihat anak semata wayangnya meninggal didepannya. Ibu mana yang mau melihat kematian anak yang dia sayangi mengakhiri hidupnya tepat dihadapannya. Ibu mana yang tidak ingin anaknya berumur panjang? bahkan aku yakin semua ibu diseluruh dunia selalu mendoakan anaknya agar berumur panjang. Apapun akan mereka lakukan bahkan mereka sanggup mengorbankan nyawa mereka sendiri demi kehidupan anak mereka.
"Baiklah, ibu tidak akan melaporkan hal ini kepolisi! tapi tolong buang pisau itu nak, buangg!!" ucap nyonya Adas pasrah.
Dia kalah! dia kalah dari perasaannya sendiri. Dia kalah dari egonya yang tidak ingin kehilangan Ira. Dia kalah, benar-benar kalah.
Ira membuang pisau itu ke sembarang arah. Batinnya tersenyum penuh kemenangan melihat ketidakberdayaan sang ibu.
"Ibu pulanglah, bersikap seolah ibu tidak melihat apapun malam ini! awas kalau sampai ibu beritahu orang lain mengenai hal ini, siapapun itu!" ancam Ira.
"Ibu akan pergi!" ucapnya lesu.
Air mata nyonya Adas kembali menetes tatkala melihat hasil tangkapannya melalui kamera tersebut. Sebuah foto yang memperlihatkan dengan jelas anaknya tengah mengubur suaminya sendiri.
"Maafkan aku suamiku! aku sudah gagal menjadi ayah sekaligus ibu bagi putri kita!!" tangis pilunya sembari mengelus foto itu.
"Andai kau tidak memperlakukannya seperti seorang laki-laki. Anda kau tidak terobsesi memiliki anak laki-laki, mungkin putriku tidak akan seperti ini! hiks...hiks...hiks....!" memeluk foto itu sambil menangis kencang.
Malam itu juga, nyonya Adas memutuskan pergi dari kampungnya. Entah kemana langkah kaki membawanya, asalkan dia bisa pergi jauh dari tempat itu dan anaknya.
# FLASHBACK OFF #
Sekarang, Ira sudah ditahan didalam penjara dengan dijatuhi hukuman seumur hidup. Kondisi Wanda dirumah sakit juga sudah mulai membaik. Dia juga ikut menyaksikan pengadilan memberikan keadilan terhadap kedua orang tuanya. Saat pengadilan menjatuhkan vonis seumur hidup kepada ibu tirinya, Wanda menangis terharu. Dia bahagia! kebahagiannya tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata lagi. Dia sudah lega sekarang.
__ADS_1
Didalam ruangan Rohan.
"Bisa kau katakan padaku siapa pelaku yang membuatmu sampai harus masuk rumah sakit?" tanya Rohan.
Wanda sudah berada dihadapannya. Setiap kali Rohan menanyakan pertanyaan itu, Wanda selalu diam seribu bahasa membuat Rohan frustasi sendiri. Abu juga sudah menyelidiki Riya, memantau setiap gerak-geriknya. Namun karena bukti utama itu belum ditemukan, yaitu sabuk yang dia gunakan untuk menghajar Wanda.
"Maaf, pak! tapi..." terpotong.
"Aku sudah tahu siapa dia, Wanda! aku hanya perlu bukti! apa kau tidak ingin menghukumnya? dia pantas dihukum! apa kau juga ingin temanmu yang lain merasakan hal serupa?" kesal Rohan.
Wanda menggelengkan kepalanya ragu. Dia sudah banyak salah selama ini dan dia ingin menebus semua kesalahannya dengan menjalani hukumannya dipenjara ini.
"Kalau begitu katakan siapa dia!" mulai kehabisan kesabaran.
"Bu....Riya!" jawab Wanda lirih.
"Hah! akhirnya kau mengatakannya, kau tahu siapa saja yang ada disana waktu itu?" tanya Rohan.
Wanda menyebutkan beberapa orang rekannya satu sel juga beberapa bawahan bu Riya yang memang berada disana menyaksikan kekejian bu Riya terhadapnya.
"Baiklah, kembalilah ke sel mu! Abu dan aku akan mencari bukti yang lebih kuat lagi!" ucap Rohan.
Wanda mengangguk lalu pergi dari ruangan Rohan. Baru saja Wanda keluar dari ruangan Rohan, Abu langsung masuk dengan membawa sebuah ikat pinggang yang telah rusak. Rohan langsung berdiri menghampiri Abu dengan antusias.
"Dari mana kau mendapatkan itu?" tanya Rohan bersemangat.
"Dari tempat sampah! ini dibungkus didalam plastik hitam sehingga tidak ada yang curiga. Aku menemukannya saat pemulung mengorek-ngorek sampah kita dan tanpa sengaja plastiknya sobek. Mataku yang jeli langsung menghampiri pak-pak tua itu dan mengambil sabuknya. Sepertinya dia berusaha melenyapkan barang bukti yang paling berharga ini!" jelas Abu.
"Bagus, bawa ini ke rumah sakit Bagas untuk diambil sampelnya, mungkin ada DNA milik Wanda di sabuk ikut dan itu bisa kita jadikan bukti yang kuat!" perintah Rohan.
"Baik, pak!" jawab Abu.
__ADS_1
Abu pun pergi memenuhi perintah Rohan. Sementara Rohan, dia mengirimkan pesan kepada Zanu kalau mungkin urusannya akan selesai dalam tiga hari dan setelah itu mereka kembali ke pulau Zanu untuk mencari Suli.
Beres! tidak akan aku biarkan siapapun bertindak semena-mena dikantorku! manusia berhati iblis! batin Rohan.