
Satu hari telah berlalu. Darel sudah bersiap untuk pergi bersama Lukas, Adi dan Harri. Mentari juga sudah mempersiapkan baju-bajunya yang akan dia kenakan selama dirumah Daniar.
"Aku usahakan akan pulang secepatnya! kau tahukan kalau aku tidak bisa lama-lama jauh darimu!" sembari mencium leher Mentari.
Pemandangan itu disaksikan oleh Adi, Lukas dan Harri.
"Huekkkkk!!!" ucap mereka serempak seolah ingin muntah.
"Apa sih kalian ini! nggak bisa apa liat orang seneng!" ucap Darel yang semakin sengaja memperlihatkan kemesraannya dihadapan anak buahnya.
"Ah tuan udah tau kita ini jomblo masih aja dipamerin!" protes Harri.
"Hahahaha, makanya kalian cepetan cari pasangan biar nggak iri!" tawa Mentari.
"Cih! siapa yang iri!" ucap Harri pelan.
"Ya sudah ayo berangkat!" ucap Mentari.
Mereka berjalan menuju mobil yang sudah siap membawa mereka ke rumah Daniar. Seperti rencana awal bahwa mereka akan berkumpul dirumah Daniar seraya mengantarkan istri dan kekasih mereka untuk menginap disana.
Selama di mobil, Harri dan Adi yang satu mobil dengan Darel dan Mentari sayup-sayup mendengar suara-suara dari kursi belakang mobil. Mereka hanya bisa memikirkan adegan apa yang terjadi dibelakang sana karena Darel menaikkan sekat antara kursi depan dan belakang. Lukas berada di mobil lain bersama dengan ketiga anak buahnya yang ditugaskan untuk menjaga rumah Daniar selagi mereka pergi.
Didepan rumah Daniar ada sebuah rumah yang dijual dan rumah itu sudah Darel beli untuk tempat anak buahnya, Arul, Zanu dan Tomi. Mereka masing-masing membawa empat penjaga kecuali Darel yang hanya tiga penjaga. Pakaian mereka pun dibuat seolah-olah warga biasa dan bukan anak buah seorang bos mafia. Hal itu mereka lakukan sebagai penyamaran, bahkan Darel meminta pak RT setempat untuk mengatakan kalau mereka anak rantau jika ada warga yang bertanya.
********
Dirumah Daniar, semua orang sudah berkumpul tinggal menunggu helikopter menjemput mereka saja di tanah lapang. Didekat rumah yang dibeli Darel untuk para penjaga, dibelakangnya adalah tanah lapang. Biasanya anak-anak kecil bermain sepak bola atau bola voli disana.
"Ma, pa, kami titip Mentari dan yang lain, ya!" ucap Darel berpamitan mewakili sahabatnya.
"Kalian tenang saja, mereka aman kok disini! terutama nak, Anisa! kami akan menjaga dia sebaik mungkin!" ucap papa Daniar.
"Terimakasih ya, maaf kami merepotkan!" ucap Arul sedikit tenang.
__ADS_1
Tidak lama berselang dua buah helikopter mendarat di tanah lapang itu. Banyak warga yang berdatangan karena penasaran siapa pemilik helikopter itu. Ibu-ibu, bapak-bapak, anak-anak berbondong-bondong menuju tanah lapang untuk menyaksikan hal itu. Tak sedikit dari mereka yang mengabadikan momen tersebut lewat foto maupun video.
Pergilah suamiku! dan pulanglah dengan selamat! doaku selalu menyertaimu! batin Mentari tersenyum melepaskan kepergian suaminya.
"Emm, tante, saya..." ucap Anisa terpotong sesaat setelah helikopter itu pergi.
"Panggil saja mama, jangan sungkan ya! kalau kamu mau makan apapun tinggal bilang sama mama! wanita hamil itu kalau ngidam jangan ditahan nanti anaknya ileran!" ucap mama Daniar.
"Ah hehehe, sebenarnya Nisa mau makan mangga itu, boleh? dari awal datang kesini tadi udah pengen nyobain!" ucap Anisa sedikit sungkan.
"Oh mangga itu! kenapa tidak bilang dari tadi? kalau kamu mau kita bisa petik sama-sama terus kira ngerujak bareng gimana? setuju?" usul mama Daniar.
"Wahhh, ide bagus tuh! Tari nanti kita manjat ya, kayak dulu-dulu!" ucap Daniar bersemangat.
"Oke, siapa takut!" ucap Mentari.
"Ya sudah kalian mulai ambil mangganya aja, biar mama yang siapin bumbu rujaknya. Oh ya nak Anisa lihat aja dari bawah ya, terus agak jauh sedikit nanti takutnya kejatuhan buah mangga dari atas." ucap mama Daniar memperingati.
"Iya tante..eh...ma hehe!" ucap Anisa yang masih terbiasa memanggil tante.
"Shiren ayo naik! kita makan buah mangga dari sini dulu, enak lohh!" ajak Daniar.
"Emm, aku..." agak ragu.
"Kamu takut ketinggian?" teriak Mentari dari atas.
"Tidak kok!" teriak Shiren dari bawah.
"Yaudah ayo naik! buahnya besar-besar loh!" goda Daniar.
Shiren pun mulai memanjat pohon mangga itu sampai berada disamping Mentari. Sekarang posisinya Daniar berada diatas, sedangkan Shiren dan Mentari berasa dibawahnya. Anisa ingin ikut manjat tapi karena dia sedang hamil jadi hanya bisa melihat dari jauh.
"Eh itu-itu! yang itu, nah iya-iya!" teriak Anisa memberi arahan kepada Mentari untuk memetik buah mangga yang terlihat oleh Anisa dari bawah.
__ADS_1
Ayah Daniar sudah bersiap dengan tongkat yang diberi jaring di ujungnya untuk menampung buah mangga. Jadi nanti kalau mereka sudah mendapat beberapa mangga, mereka akan meletakkannya didalam jaring yang dibuat papa Daniar.
"Ini!" ucap papa Daniar sembari memberikan mangga yang sudah dipetik oleh ketiga anak wanitanya ke sebuah bakul.
"Wahhh, besar-besar ya buahnya!" ucap Anisa ngiler melihat buah mangga yang menggoda itu.
"Iya dong, kan papa yang menanamnya makanya bisa besar buahnya. Dan rasanya sangat manis loh!" ucap papa Daniar.
"Sudah banyakkah buah mangganya?" tanya mama Daniar dari dalam rumah sambil membawa cobek berisi sambal rujak.
"Sudah!" teriak mereka bersamaan.
"Ayo turun kita makan rujak sama-sama!" ajak mama Daniar.
Daniar, Mentari, dan Shiren bergegas turun lalu cuci tangan dan kaki kemudian ikut duduk di teras rumah Daniar. Dengan beralaskan tikar, mereka makan rujak mangga dengan bahagia penuh canda dan tawa. Karena Anisa sedang hamil, jadi mama Daniar membuatkan sambal rujak khusus untuknya yang mana tidak terlalu pedas. Meskipun Anisa suka sambal rujak yang pedas namun demi anak yang berada didalam perutnya, dia pun mengalah dan memakan rujaknya.
"Oh ya, Niar berikan ini kepada mereka! lagian ini banyak sekali! tidak akan habis kalau cuma kita yang makan!" ucap mama Daniar.
"Oh oke!" ucap Daniar.
Sebelum pergi Daniar memasukkan sepotong besar buah mangga kedalam mulutnya. Daniar berjalan ke rumah para penjaga sambil menenteng satu baskom berisi buah mangga dan satu wadah sedang berisi sambal rujak.
"Ini untuk kalian! dimakan ya! dan terimakasih karena sudah mau menjaga kami!" ucap Daniar memberikan buah mangga.
"Terimakasih nona! ini sudah tanggungjawab kami!" ucap salah satu dari mereka.
Setelah memberikan buah mangga, Daniar kembali ke rumahnya sedangkan buah mangga yang diberikan Daniar langsung habis diserbu para penjaga disana.
"Gimana, mereka suka?" tanya mama Daniar saat Daniar duduk di samping Mentari.
"Langsung diserbu tuh sama mereka!" ucap Daniar tertawa kecil.
"Syukurlah kalau mereka suka! ayo-ayo dihabiskan!" ucap mama Daniar.
__ADS_1
Mereka kembali menyantap rujak mangga buatan mama Daniar. Rasa asam manis dari buah mangga menyatu dengan pedas manisnya sambal rujak membuat mereka tidak bisa berhenti memakannya. Bahkan saking pedasnya keringat sampai keluar dari wajah mereka.