
"Ma, coba mama lihat Mentari. Perempuan yang rela suaminya punya hubungan gelap dengan mantan kekasihnya? apalagi sampai diberikan fasilitas mewah seperti itu. Jangan hanya karena kaya uang lalu seenak jidatnya dia memperlakukan Mentari! aku tidak terima ya dia berbuat seperti itu kepada Mentari. Jika bukan karena ada mama dan papa juga ada Zanu tadi sudah aku cakar-cakaran tuh si Darel! gemes banget deh sama tuh orang! apalagi si nenek lampir tuh! udah jelek sok cantik lagi. Cihhh!" ucap Daniar lagi.
"Niar, jaga ucapanmu! jangan memperkeruh suasana!" ucap mama Daniar.
Meskipun dia setuju dengan apa yang diucapkan anaknya barusan, namun mama Daniar tetap memberikan nasehat-nasehat terbaik untuk Mentari. Melepaskan atau melanjutkan hubungan pernikahannya dengan Darel. Tentu saja mama Daniar akan dengan senang hati jika Mentari memilih untuk melepaskan Darel terlepas dari kebahagian yang sudah Darel berikan. Namun melihat kondisi terpuruk Mentari saat ini, mama Daniar merasa kebahagiaan yang Darel berikan selama ini masih belum cukup untuk membayarnya.
"Papa tau dia sudah sangat keterlaluan. Geram juga rasanya saat papa melihat dia. Apalagi mengingat dia memperlakukanmu sedemikian rupa. Tapi pertimbangkan lagi keputusanmu dengan kepala dingin." ucap papa Daniar.
Di luar rumah. Darel mulai menggigil diterpa hujan deras, ditambah lagi perutnya belum terisi dari tadi pagi.
"TARIIIIII!!!! AKU TIDAK AKAN PERGI SAMPAI KAU MAU MENEMUIKUU DAN MAU MENDENGARKAN PENJELASANKUU!!!" teriak Darel ditengah derasnya hujan malam itu.
Didalam rumah, Mentari yang mendengar teriakan Darel langsung berjalan dengan cepat menuju jendela.
"Loh, pa, ma, dia masih ada disana? ini kan lagi hujan lebat! mana kelihatannya dia sudah pucat sekali lagi!" ucap Mentari mulai khawatir.
"Kami kasihan?!" tanya Daniar mendekati Mentari.
"Bukan Niar! aku memang marah padanya. Tapi pada sikapnya dan bukan pada raganya. Semarah apapun aku terhadapnya tidak bisa menutupi bahwa aku mencintainya!" ucap Mentari menatap Daniar sendu.
"Tari sadarr!!!" ucap Daniar mengguncangkan tubuh Mentari beberapa kali.
"Jangan buat kesalahan yang kesekian kalinya! dulu dia bisa melakukannya dan meminta maaf. Sekarangpun dia juga melakukannya bahkan jauh lebih parah. Sampai kapan kau akan lemah dengan cintamu! ingat Tari, cinta bukan kelemahan, cinta tidak membuat seseorang lemah tapi justru sebaliknya cinta adalah kekuatan! jika kau terus lemah dihadapan cintamu terhadap Darel, mau sampai kapan kamu menerima kesakitan yang dia berikan untukmu? Mentari, sampai mati pun aku tidak rela jika kamu disakiti lagi olehnya!" ucap Daniar.
Panjang lebar dia berbicara, berharap sahabatnya ini mengerti jika Darel melakukan kesalahan yang sangat fatal hingga untuk memaafkannya Mentari harus pikir panjang terlebih dahulu. Bukan untuk mengarahkan yang buruk. Daniar hanya tidak ingin bahkan takut jika sahabatnya ini terluka lagi ulah Darel.
"Tapi...."
Mentari tidak melanjutkan kalimatnya. Dia beralih menatap keluar jendela tempat Darel berdiri.
Bruk........
"Darel!!!???" teriak Mentari.
Mentari langsung berlari tanpa memperdulikan diluar tengah hujan lebat.
"Darel!!!!??? Darel bangunnn?!!!! Darell!!!!" panggil Mentari yang saat ini sudah menopang kepala Darel di pahanya.
"Pa, bantu aku bawa dia kedalam!" ucap Mentari khawatir kepada papa Daniar.
"Ayo!" ucap papa Daniar.
Mereka membawa tubuh lemas Darel ke dalam rumah. Mentari menyentuh kening Darel. Panas. Darel demam. Mungkin itulah yang membuatnya pingsan ditengah guyuran hujan. Daniar mengambilkan handuk, baju kering kakaknya dan selimut tebal untuk Darel. Papa Daniar membantu menggantikan baju untuk Darel.
"Biar mama ambilkan kompres!" ucap mama Daniar berlalu menuju dapur.
Tidak lama kemudian mama Daniar keluar dengan membawa alat kompres. Sebuah handuk kecil juga wadah berisi air hangat untuk mengompres kening Darel.
Mentari mengambil alat kompres yang dibawa mama Daniar lalu memasukkan handuk kedalam air hangat kemudian memerasnya dan menempelkannya ke kening Darel.
"Ma, pa, biarkan dia tidur disini dulu sampai dia sembuh." ucap Mentari terdengar seperti memohon.
"Haihhh, kenapa kau baik sekali Mentari! bahkan kepada orang yang telah menjahatimu?" tanya papa Daniar tidak habis pikir.
"Aku tidak tahu pa, hanya saja separuh nyawaku ada pada Darel. Jika dia terluka, aku pun ikut merasakannya!" ucap Mentari.
Sekilas Mentari menatap kearah Darel yang terlelap dengan wajah pucat. Sesekali juga Mentari membayangkan adegan panas Darel dan Pretty.
"Sebaiknya kita tinggalkan saja dia, toh juga sudah dikompres." ucap mama Daniar seperti acuh.
"Ide bagus! ayo Tari, kita istirahat! kamu pasti sangat lelah!" ucap Daniar.
"Tapi.....Niar....."
Mentari hendak protes namun secepat kilat Daniar menarik tangannya menuju kamar lalu tidur. Mentari tidak bisa berbuat banyak.
Didalam kamar Daniar.
"Niar tunggu...." panggil Mentari.
"Tari, kamu masih mau perhatian sama cowok kayak dia? sadar Mentari....sadarrr!!!! banyak diluar sana cowok yang rela mengantri buat dapetin kamu! yang lebih kaya bahkan jauh lebih baik daripada pria brengsek itu!" ucap Daniar kesal.
"Tapi Niar, aku..." terpotong.
"Karena kamu cinta sama dia?! mau sampai kapan kamu memaafkan semua kesalahannya dengan beralaskan rasa cinta?! sudah aku bilang banyak diluar sana yang mencintai kamu lebih dari Darel. Kamu tuh kenapa sih Tari? jangan mau dibodoh-bodohi sama pria nggak tau diri itu! waktu sehat aja berlaga sok nggak butuh, giliran udah sakit gini aja...haihhhh!" ucap Daniar menghela nafas berat.
"Maaf Niar! rasa ini....aku nggak bisa membohongi perasaanku! aku kecewa memang. Tapi melihat dia seperti itu rasanya...." memelas.
Mentari berlalu duduk di tepi ranjang.
"Ya kamu harus tegas dong, Tari! jangan kelihatan lemah dihadapannya! kalau kamu kayak gini terus, bisa-bisa dia terus berulah."
Benar. Ini keputusan yang sangat sulit. Haruskah dia melepaskan Darel dan mengubur semua rasa dalam hatinya?
"Sudahlah! lebih baik kita tidur saja daripada mengurusi pria itu!" ucap Daniar.
__ADS_1
Daniar sudah lebih dulu memposisikan dirinya untuk tidur. Namun Mentari masih terlihat berpikir.
"Tari...ayo tidur!!" ucap Daniar.
"Ah iya-iya!" ucap Mentari ikut tidur.
********
Rohan baru saja selesai mandi. Dia sampai dirumahnya saat hujan baru saja turun dengan deras. Untuk sekejap Rohan lupa jika dirumahnya ada penghuni baru, yaitu Suli dan Andre. Rohan keluar dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk untuk menutupi pusakanya hingga sebatas lutut. Dengan santainya Rohan berjalan menuju kamarnya yang harus melewati ruang televisi sambil mengeringkan rambutnya yang basah menggunakan handuk kecil.
Prakk....
"AAAAAAAAAAAAA!!!!!!" teriak Suli terkejut.
"AAAAAAAAAAA!!!!" teriak Rohan ikut terkejut.
Buru-buru Rohan masuk kedalam kamarnya lalu mengenakan pakaian tidurnya.
# POV SULI #
Aku baru saja dari dapur membuat teh hangat. Karena tadi terguyur hujan tentu saja minuman hangat yang kami butuhkan sekarang.
Prakk....
nampan berisi gelas yang aku pegang terlepas dari pegangan.
"AAAAAAAAAAAAA!!!!!!" teriakku terkejut.
"AAAAAAAAAA!!!!" teriak tuan Rohan ikut terkejut dengan teriakanku.
Bergegas dia memasuki kamarnya. Duhh jantungkuu, kenapa berdetak sangat kencang begini yaa? aku berusaha menstabilkan detak jantungku. Duhh, nggak bisa nih kalau aku salah tingkah dihadapnnya nanti.
"Tunggu!" panggilnya saat aku hendak melangkah pergi.
"I...iya?" tanyaku salah tingkah.
Huhhh...huh...huh.... beberapa kali aku menarik dan menghembuskan nafas mengatur perasaanku.
"Kau..." terpotong.
"Aku tidak lihat apapun!" ucapku cepat.
"Hah?!"
Loh, dia tidak tanya aku tahu apapun? aduhhh, kenapa bo*oh banget sih kamu Sulii!!! pasti tuan Rohan berpikir macam sekarang. Aduhhh begoo....begoo...begoooo!!! umpatku dalam hati merutuki kebodohanku.
"Tidak... tidak...tidak....tidak ada kok!" jawabku cepat.
Malu banget!!! rasanya ingin menghilang aja dari muka Bumi iniii!!
"Jangan pernah bahas masalah ini lagi! mengerti?!" ucapnya terdengar seperti perintah.
Dengan cepat aku menganggukkan kepalaku mengiyakan perkataannya. Dia langsung berlalu menuju ruang televisi dimana ada Andre disana tengah terlelap.
Akhirnya pergi juga dia! malu banget rasanya kalau lama-lama didekat dia. batinku saat ini.
Aku berlalu mengambil sapu dan pel untuk membersihkan kekacauan yang aku buat. Sekali lagi aku membuat teh hangat dan membawanya ke depan televisi. Hanya ada dua gelas saja sekarang karena Andre sudah tidur.
"Tuan, minum dulu!" ucapku menyodorkan segelas teh hangat ke depannya.
"Hem, terimakasih!" ucapnya kaku.
Mungkin masih terpikirkan kejadian barusan. Sepanjang acara televisi itu kami hanya diam saja hingga kami masuk kedalam kamar masing-masing untuk tidur karena hari sudah mulai larut.
Aku pun mulai memejamkan mata karena sudah mengantuk berat. Semoga besok dia sudah lupa dengan kejadian tadi.
********
# AUTHOR POV #
Rohan tidak bisa tidur malam ini. Hanya berguling-guling saja diatas ranjangnya. Kejadian tadi dengan Suli sulit lepas dari ingatannya. Bayangan wajah Suli yang memerah saat terkejut melihat tubuhnya begitu menggemaskan bagi Rohan.
"Baru kali ini aku tertarik pada wanita. Hahaha kalau diingat -ingat juga lucu ya ekspresinya! menggemaskan sekali hahaha!" gumam Rohan diselingi tawa.
Malam telah berlalu. Suli bangun dari tidurnya lalu keluar kamar. Melihat sekeliling, hanya ada Andre didepan televisi.
"Loh, Ndre, tuan Rohan kemana?" tanya Suli kepada Andre.
"Oh sudah berangkat ke kantor kak! dari tadi pagi!" jawab Andre tanpa menoleh kearah Suli.
"Loh, nggak sarapan dulu?" tanya Suli.
"Enggak, katanya nanti saja sekalian makan siang!" jawab Andre lagi.
"Duhh!" ucap Suli.
__ADS_1
Suli berlalu menuju dapur mencari sesuatu untuk dimasak. Untung dikulkas masih ada bahan masakan. Suli memanfaatkan bahan yang ada untuk dimasak. Dengan cekatan Suli mengolah bahan mentah itu menjadi makanan yang menggugah selera. Bahkan aromanya mampu menggelitik indra penciuman Andre yang berada di depan televisi.
"Kakak masak apa?" tanya Andre.
"Tahu orek telur, sama bakwan jagung . Oh ya kamu sarapan aja dulu, kakak mau antarkan ini buat tuan Rohan. Minta alamat kantornya dong!" ucap Suli mulai memasukkan nasi dan lauknya kedalam rantang plastik.
"Ini!" ucap Andre memberikan sebuah kertas berisi alamat kantor Rohan.
Tadi sebelum berangkat, Rohan memberikan alamat kantornya kepada Andre untuk berjaga-jaga sekalian nomor ponselnya juga.
"Oke! jaga rumah baik-baik!" ucap Suli lalu berlalu pergi.
Suli memesan ojek online dari aplikasi hijau. Tidak lama berselang, ojek yang dia pesan datang juga. Mereka pergi sesuai alamat yang sudah Suli kirimkan ke aplikasi tersebut.
"Sudah sampai kak!" ucap pengemudi ojek online setelah mereka sampai depan kantor Rohan.
"Ini ya mas!" ucap Suli memberikan uang tiga puluh ribu rupiah.
"Terimakasih kak!" ucap pengemudi ojol itu kemudian berlalu pergi.
Suli mulai memasuki kantor Rohan. Banyak mata yang menyertai sepanjang dia berjalan masuk. Entah itu dari para polisi pria ataupun wanita. Suli sedikit gugup namun langkahnya tidak mau berhenti, tanggung batinnya.
"Eh, nona! mau cari siapa? atau ada masalah apa?" tanya seorang pria.
Abu. Begitu nama pengenal yang terpasang di baju pria itu.
"Ah, saya ingin bertemu tuan Rohan. Apa dia ada?" tanya Suli canggung.
"Pak Rohan? hemmm" Abu bersidekap menatap Suli dari atas ke bawah begitu hingga berulang kali.
"Ada hubungan apa anda dengan pak Rohan? seperti yang saya tahu dia tidak terlalu punya hubungan spesial terhadap wanita?" tanya Abu sedikit menyelidiki.
"Tidak kok, saya hanya kenalannya saja!" ucap Suli sekenanya.
"Owhhh! mari saya antar!" ucap Abu.
"Boleh-boleh, terimakasih dan maaf sudah merepotkan!" ucap Suli santun.
"Bukan masalah!" ucap Abu.
Abu membawa Suli menuju ruangan Rohan.
Tok...tok...tokk...
"Masuk!" ucap Rohan dari dalam ruangan.
Abu dan Suli memasuki ruangan Rohan. Suli melihat Rohan masih fokus dengan pekerjaannya sampai-sampai tidak menyadari kedatangannya kesini.
Setelah menyelesaikan pekerjaannya, Rohan menatap kearah depan. Matanya membelalak saat menangkap sosok wanita yang tidak asing.
"Kau? kenapa kau ada disini? lalu Andre dengan siapa? kau dengan siapa kesini? naik apa?" tanya Rohan khawatir.
Mata Abu menyipit tatkala mendengar penuturan atasannya itu. Jarang bahkan tidak pernah Rohan berucap sedemikian rupa kepada wanita kecuali ibu dan adiknya.
"Saya kesini naik ojol! Andre ada dirumah kok!"
"What? rumah? maksud anda rumah pak Rohan? kalian tinggal satu atap begitu?" teriak Abu syok.
Apa benar pak Rohan tinggal satu atap dengan seorang wanita asing. Bahkan Abu saja baru melihat wanita itu sekarang, tidak mungkin rasanya mereka langsung tinggal satu atap.
"Ini, aku bawakan sarapan! Andre bilang anda belum sarapan tadi saat berangkat. Maaf kalau makanannya sederhana, saya hanya memasak yang ada dikulkas saja. Semoga lidah anda sesuai dengan masakan saya!" ucap Suli menyodorkan rantang yang dia bawa.
Mata Abu semakin membelalak lebar mendengar ucapan Suli. Jadi benar mereka tinggal satu atap? pertanyaan itu terus berputar dikepalanya. Pusing sendiri Abu memikirkannya.
"Ya sudah kalau begitu aku pulang dulu! lagi pula kasian Andre ditinggal sendirian dirumah!" ucap Suli.
Siapa Andre? apa anak mereka? lalu wanita ini datang darimana? kenapa akrab sekali dengan pak Rohan? pikir Abu melihat keanehan pada diri pak Rohan.
Tersenyum malu-malu? oh Tuhan, bukan sifat pak Rohan seperti ini kepada wanita biasanya! sudah jelas pasti ada sesuatu diantara mereka berdua pikir Abu melihat reaksi Rohan yang aneh baginya.
"Tunggu biarkan Abu yang mengantarmu pulang!" ucap Rohan.
"Ap...apa? saya pak? kenapa saya?" tanya Abu cepat.
"Yah karena kau kan banyak pertanyaan, bisa saja kau tanyakan kepadanya!" ucap Rohan santai.
Benar juga. Dia bisa mengorek informasi dari wanita ini batin Abu. Sedangkan Suli dibuat bingung dengan ucapan Rohan.
"Oh baiklah kalau begitu!" ucap Abu tersenyum penuh arti.
Suli berkali-kali menatap Abu juga Rohan bergantian. Tidak mengerti arti tatapan kedua pria ini yang membingungkan baginya.
"Ayo nona! saya antarkan ke rumah pak Rohan!" ucap Abu lalu dengan berlagak membungkukkan tubuhnya seperti seorang pengawal bagi Suli.
"Aku pulang dulu!" ucap Suli kikuk.
__ADS_1
"Hati-hati!" ucap Rohan.
Mereka berdua meninggalkan ruangan Rohan. Sesuai perintah, Abu mengantarkan Suli kembali ke rumah Rohan.