Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 178


__ADS_3

Mentari dan Sasa membawa Daniar keluar dari kamarnya. Begitu kaki Daniar melangkah keluar kamar, semua mata langsung tertuju pada kecantikan Daniar. Bahkan Zanu tidak mengedipkan matanya bahkan sampai Daniar sudah duduk disampingnya.


"Ehemmm, emm baiklah kita mulai saja lamaran hari ini. Bagaimana Zanu?" tanya paman Zanu sembari sedikit menggoda ponakannya itu.


"Eh, i..ya paman!" jawab Zanu gugup lalu curi-curi pandang kearah Daniar.


Ditatap dengan tatapan penuh sayang dan bangga oleh Zanu membuat hati Daniar meleleh. Dia tersipu malu. Apalagi tatkala Zanu melingkarkan cincin di jarinya membuat Daniar bahagia bukan kepalang.


Setelah acara pemasangan cincin, para tamu dipersilahkan untuk menikmati jamuan yang sudah disediakan. Mentari juga sengaja mengajak karyawannya untuk menghidangkan aneka kue mereka disana.


"Woiii, cielahhh yang baru aja lamaran nih yaaa, selamat broo!" ucap Arul yang datang bersama Anisa sembari memeluk sahabatnya.


"Makasih-makasih!!!" sambut Zanu.


"Oh ya aku ada kabar bahagia nih buat kalian!" ucap Arul.


Arul memandang sebentar kearah Anisa yang membuat wanitanya malu hingga menyembunyikan wajah cantiknya.


"Guee.... bakal....jadi....ayahhhhh!!!!" ucap Arul bahagia.


"Seriusss?!" tanya sahabatnya yang lain kecuali Bagas dan Angel.


"Wahh selamat Nisa, sudah berjalan berapa minggu?" tanya Mentari sembari memeluk Anisa dan mengusap lembut perutnya yang rata.


"Baru tiga minggu, terhitung dari awal kami menikah kemarin karena pada saat itu aku sedang masa subur!" jawab Anisa tidak bisa menyembunyikan rasa bahagianya.


"Wahh, syukur Alhamdulillah!!! kami ikut senang mendengarnya!" ucap Daniar ikut bahagia.


"Wahh, selamat broo! kau langsung tancap gas saja ya rupanya?! tidak mau memberi celah sedikitpun!" goda Tomi sembari mengalungkan lengannya dipundak Arul.


"Yah begitulah aku! kalau bisa cepat kenapa harus melambat hehehe?!" ucap Arul.


"Selamat Arul, emm begini saja sebagai hadiah dariku dan Mentari kau bebas memilih perhiasan dari mall milikku yang manapun kau mau Anisa!" ucap Darel sembari merangkul pinggang Mentari.


"Sungguh? benarkah itu?" tanya Anisa tidak percaya.


"Tentu saja! dan selamat atas kehamilanmu ya! Arul!" memanggil Arul yang masih bercanda dengan Bagas dan Tomi.


"Ya?!" menoleh kearah Darel.

__ADS_1


"Jaga istrimu baik-baik oke! kau akan mendapatkan pekerjaan ganda selama sembilan bulan lebih." tersenyum mengejek.


"Kau tenang saja, aku akan dengan senang hati melakukannya, benarkan sayang?!" mengedipkan satu matanya dengan genit.


"Sayang aku mau makan kue itu!" menunjuk salah satu kue buatan karyawan Mentari.


"Yang itu?" memastikan.


"Iya, tolong ambilkan!" ucapnya manja.


"Siap! asalkan jatahku ditambah ya!" mengedipkan mata lagi.


"Ishhh!"


"Oh ya Nisa, sejak kapan kamu tahu kalau kamu hamil?" tanya Shiren.


"Baru beberapa hari yang lalu. Sebelum itu aku merasa sedikit aneh. Sering lapar dan porsi makanku bertambah banyak. Aku juga sering mual apalagi kalau waktu pagi dan mencium bau parfum. Ayahku juga curiga waktu itu lalu menyuruhku untuk periksa ke dokter. Aku dan Arul menemui Angel untuk memeriksa, tapi ternyata bukan penyakit yang dia temukan justru janin yang berkembang di rahimku!" jelas Anisa sembari mengelus perutnya.


"Lalu Aku menyarankan dokter spesialis kandungan yang paling bagus untuk memeriksa dengan pasti kehamilan Anisa, dan ya janin itu sudah berkembang tiga minggu." ucap Angel ikut menjelaskan.


"Wahh, jadi terharu aku mendengarnya!" ucap Shiren.


Ditengah kebahagiaan ini, Mentari terlihat sedih sembari mengelus perutnya. Darel menyadari hal itu dan dengan segera langsung membawa Mentari kedalam dekapannya yang hangat. Seolah menguatkan wanitanya yang tengah rapuh.


Disisi lain Abu dan bawahannya yang diperintahkan untuk mencari ibu Adas. Saksi yang kuat yang bisa menunjukkan kejahatan ibu tiri dari Wanda. Beberapa kali polisi hendak menanyainya pasal jasad kedua orang tua Wanda, namun dengan ketus ibu tirinya menolak memberikan informasi membuat polisi semakin mencurigai dirinya.


"Terakhir kali dia terlihat berada di panti jompo ini pak!" ucap anak buah Abu.


"Hemm, ayo kita tanya. Mungkin saja dia ada disini!" ucap Abu.


Mereka mulai memasuki halaman rumah panti jompo itu. Banyak orang tua lanjut usia di sana dengan didampingi pengawasan dari perawat.


"Emm, permisi!" sapa Abu kepada salah satu perawat yang lewat.


"Iya, ada yang bisa saya bantu?" tanya perawat itu.


"Bisa tolong tunjukkan ruangan Bu Irma? kami ada perlu dengan beliau!" ucap Abu.


"Oh ruangan Bu Irma berada diujung lorong ini sebelah kiri! kalau boleh saya tahu bapak-bapak ini darimana ya? ada perlu apa dengan Bu Irma?" tanya perawat itu.

__ADS_1


"Kami ada keperluan menyangkut penyelidikan yang kami lakukan. Oh ya apa anda mengenal nyonya Adas?" tanya Abu.


"Nyonya Adas?" dengan raut wajah penuh selidik.


"Ya saya mengenal beliau! dia salah satu perawat disini sebelumnya. Tapi sekarang beliau sudah...." terpotong.


"Hei, sudah waktunya makan siang loh cepat siapkan makanan kepada mereka!" teriak salah satu perawat juga mungkin dia lebih senior.


"Iya maaf kak!" jawab perawat itu lalu segera berlari.


Nah kan benar dia lebih senior batin Abu dan bawahannya.


"Ayo kita segera keruangan Bu Irma dan menyelesaikan tugas rumit ini!" membenarkan kerahnya lalu berjalan menuju ruangan Bu Irma.


Di ruangan Bu Irma.


"Nah ini dia! Nyonya Sarah Sechany atau kami biasanya memanggil dia dengan suster Chan. Belasan tahun lalu, dia datang seperti orang linglung!" ucap bu Irma sembari membuka file orang-orang yang pernah bekerja di panti jompo ini.


"Linglung?" tanya Abu tidak mengerti.


"Iyaa dia seperti ketakutan, tidak tahu mau kemana. Hampir tiga jam lamanya dia berdiri didepan gerbang hingga akhirnya aku mengajaknya untuk menjadi perawat disini. Dia wanita yang baik. Tapi...." terhenti.


Abu dan bawahannya masih setia menunggu penjelasan dari Bu Irma.


"Tapi dia sering mengigau dimalam hari. Sempat beberapa kali aku menanyakan tentang mimpinya tapi dia seolah enggan mengetakan atau lebih tepatnya menyembunyikan sesuatu." ucap bu Irma mengingat-ingat.


"Mengigau?" tanya Abu.


"Iya mengigau. Jauhkan mayat itu! jauhkan mayat itu dariku!!!. Seperti itulah. Aku masih mengingat kata-katanya karena cukup aneh di telingaku saat itu." jelas bu Irma.


"Apa nyonya Adas pernah mengetakan sesuatu hal mengenai anaknya?" selidik Abu.


"Sepertinya tidak! dia cukup misterius bagiku. Tidak ada satupun yang tahu tentang keluarganya lebih rinci kecuali yang tertulis di biodata ini. Tapi oh ya!" mencari sesuatu di lacinya.


"Dia sering menulis buku diary. Buku ini aku simpan setelah dia meninggal dunia!" memberikan buku diary milik nyonya Adas yang terlihat kuno, bahkan beberapa tulisannya sudah pudar tapi masih bisa dibaca.


"Baiklah kalau begitu kami pamit dulu, jika ada sesuatu yang perlu kami akan menemuimu lagi!" ucap Abu.


"Ya dengan senang hati aku membantu kalian. Lagi pula ini juga pesan terakhir perawat Chan lima tahun yang lalu . Katanya jika suatu saat ada polisi yang menanyakan keberadaannya aku diminta untuk memberikan buku diary ini, oleh sebab itu aku menyimpannya sampai sekarang." jelas bu Irma.

__ADS_1


"Kami permisi dulu!" ucap Abu sopan.


Mereka berlima pergi dari panti jompo itu kembali ke kantor polisi untuk melaporkan penemuan mereka kepada Rohan.


__ADS_2