Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 215


__ADS_3

Pagi ini Suli sudah boleh pulang dari rumah sakit. Lukanya sudah lebih baik dari semalam, juga karena Suli terus merengek untuk dirawat dirumah saja. Rohan yang notabenenya sangat jarang meladeni wanita entah mengapa iya-iya saja saat Suli merengek meminta pulang. Bagai tersihir, semua omongan Suli seperti perintah untuk Rohan. Tentu saja Bagas, Tomi, Zanu dan Arul yang saat itu ada disana melongo dengan sikap sahabatnya itu.


"Ingat kata Bagas, kau belum boleh terlalu lelah dulu. Kau harus banyak istirahat! kalau butuh apa-apa bilang padaku atau pada Andre saja!" ucap Rohan yang menuntun Suli menuju kamarnya dengan hati-hati.


"Iya-iya!" ucap Suli malas.


"Jika aku melihatmu turun dari ranjang ini, jangan salahkan aku kalau aku membawamu kembali dirawat dirumah sakit sampai kau sembuh!" ucap Rohan pelan tapi tegas.


"Apa kau pikir aku selemah itu? aku ini pernah membunuh banyak orang dengan peluruku! hanya saja waktu itu aku lupa membawa senjata. Lagian siapa juga yang menduga kalau akan ada tamu tak diundang mencegatku!" ucap Suli hendak protes.


"Huhhh....aku tidak mau tahu pokoknya kau harus mengikuti perintahku! ini rumahku dan kau harus menurut peraturan pemilik rumah!" ucap Rohan tidak ingin dibantah.


Suli yang mendengar penegasan akhir Rohan langsung cemberut dengan memanyunkan bibirnya menambah kesan imut dari wajah yang cantik itu.


"Kak!" ucap Andre.


Kemarin saat mendengar Suli ditusuk oleh anak buah Jo, Andre dilarang keras oleh Rohan untuk keluar rumah. Saat Suli baru pulang tadi, Andre dengan cepat membuatkan sesuatu untuk dimakan wanita yang dia anggap kakaknya itu.


"Apa itu?" tanya Suli menatap mangkuk yang dibawa Andre.


"Ini bubur ayam!" ucap Andre.


"Biar aku saja yang menyuapinya! oh ya Andre. Emmm, apa kau juga sama seperti Suli?" tanya Rohan.


Andre memiringkan kepalanya dengan satu alis yang terangkat.


"Oh, iya kak!" ucap Andre setelah beberapa saat.


"Kecil-kecil begini bisa apa?" tanya Rohan seolah meremehkan.


Suli langsung menarik kasar lengan Rohan membuat badan Rohan condong kearah Suli.


"Tuan, dia itu juga salah satu penembak jitu loh! usianya memang masih muda dan kadang terlihat polos tapi aslinya dia itu sangat berbahaya. Bahkan keahliannya dalam bidang tembak menembak hampir setara dengan ku!" bisik Suli.


"Kak, aku bisa mendengarmu!" dengus Andre.


"Ah, iya maaf kakak lupa kalau kau sangat ahli dalam hal itu hehehe!" ucap Suli salah tingkah.

__ADS_1


Rohan yang tidak mengerti memainkan mimik wajahnya membuat Suli yang melihat itu hampir saja tertawa namun masih bisa dia tahan.


"Iya, bahkan penglihatan anak kecil ini sangat tajam lebih tajam dariku!" ucap Suli memuji kepintaran Andre.


"Ah, kakak ini berlebihan!" ucap Andre malu.


"Ya sudahlah! Andre, selama saya bekerja tugasmu adalah memastikan kakakmu ini untuk tidak turun dari tempat tidur! juga kau harus bisa menjaganya selagi saya tidak ada! jika ada apa-apa langsung telfon saya!" ucap Rohan yang masih khawatir dengan keselamatan mereka berdua saat dia tidak ada dirumah.


"Tuan tenang saja! aku bisa menjaga kakakku! itu adalah tugasku!" ucap Andre membuat Suli tersentuh.


"Baiklah aku ke kantor dulu. Banyak pekerjaan yang tertunda beberapa hari ini!" ucap Rohan yang sedikit ragu meninggalkan mereka.


"Pergilah tuan, kami baik-baik saja kok!" ucap Andre.


Setelah cukup lama akhirnya Rohan memutuskan untuk meninggalkan mereka. Namun dia tetap menyuruh beberapa bawahannya untuk menjaga disekitar rumahnya kalau-kalau ada anak buah Jo yang datang kesana. Mungkin saja bukan?


********


Di rumah sakit.


"Kak Candra kenapa bisa ada disini?" tanya Mentari bingung.


"Dan maaf, kakak tidak sengaja menabrak mu! kakak akan bertanggung jawab untuk itu!" ucap Candra merasa bersalah.


"Kakak tidak usah meminta maaf, itu juga salahku! oh ya kakak sekarang menetap di Indonesia?" tanya Mentari mengalihkan pertanyaan Candra.


"Huhh, meskipun kakak tahu kamu hanya mengalihkan pertanyaan kakak barusan tapi yahh, sepertinya kakak akan tinggal lama di Indonesia!" ucap Candra sambil memasukkan kedua tangannya disaku celananya menambah kesan berkharisma pria dua puluh delapan tahun itu.


"Maaf kak!" ucap Mentari tertunduk.


Mustahil menutupi apapun dari pria dihadapannya ini. Sebuah gerakan kecil dari lawan bicaranya saja sudah bisa membuat Candra mengerti banyak hal.


"Kakak tahu kamu lagi ada masalah. Kakak dengar kau sudah menikah. Maaf kakak tidak bisa datang waktu pernikahanmu karena kakak sangat sibuk. Kalau kamu butuh teman cerita, jangan sungkan untuk berbagi dengan kakak!" ucap Candra.


Candra Winatama, adalah anak pertama keluarga Winatama sekaligus kakak dari Sasa sahabat Daniar. Karena urusan bisnis papanya yang hampir bangkrut saat ditinggal meninggal oleh orang tuanya karena kecelakaan pesawat saat hendak menuju ke Washington, Amerika, membuat Candra yang kala itu masih berumur delapan belas tahun mengambil alih bisnis papanya hingga berkembang sangat pesat seperti sekarang.


Candra pernah memiliki perasaan spesial kepada wanita dihadapannya ini. Namun rasa itu sempat dia kubur dalam-dalam karena tahu Galih menyukai Mentari. Pergi ke luar negeri sembari menyibukkan diri dengan pekerjaannya membuat Candra sedikit lupa dengan perasaannya. Tapi setelah malam kemarin dia dengan tidak sengaja menabrak Mentari yang tengah menyebrang jalan, membuat rasa yang dulu sempat hilang kembali menyeruak ke permukaan.

__ADS_1


Candra yang memiliki kuasa yang cukup kuat langsung memerintahkan Rio asistennya untuk mencari informasi mengenai Mentari. Setelah mendapat informasi yang diminta Candra, Rio langsung mengirimkannya kepada Candra.


"Tuan, nona Mentari sudah menikah dengan anak kedua keluarga Sanjaya yaitu Darel Sanjaya. Dia pernah keguguran saat berada di Korea dan menurut informasi yang saya dapat penyebab hal itu adalah tuan Galih, sahabat anda yang tidak sengaja mendorong nona Mentari di sebuah mall hingga terjatuh dari eskalator. Juga kabarnya nona dengan tuan Darel sedang mengalami masalah dimana tuan Darel diketahui memberikan mantannya yaitu nona Pretty apartemen mewah juga kartu kredit. Sesuai kabar yang saya dapat, nona Mentari memberikan dua pilihan kepada tuan Darel. Yang pertama bercerai atau memberikan waktu nona Mentari dua tahun untuk menyendiri tanpa boleh diganggu. Sebelum dua tahun itu berlalu tuan Darel juga diminta tidak mencari nona Mentari, jika melanggar maka nona Mentari akan meninggalkan tuan Darel selamanya."


Penjelasan Rio waktu itu terus terngiang-ngiang di telinganya. Tanpa sadar tangannya terkepal. Bagaimana bisa bidadarinya mendapat perlakuan sekeji itu. Mentari tidak pantas mendapatkan perlakuan buruk itu, dan Darel juga tidak pantas Mendapatkan Mentari.


"Kak!" panggil Mentari membuat Candra tersadar dari lamunannya.


"Eh, iya? kau butuh sesuatu? biar kakak carikan untukmu!" tanya Candra.


"Aku hanya sedang lapar saja!" ucap Mentari.


Dia sudah sarapan makanan rumah sakit tadi, namun itu tidak membuatnya kenyang. Tidak ada rasanya di makanan itu membuat Mentari tidak bernafsu saat memakannya.


"Oh, lapar! kau mau makan apa biar kakak belikan!" tanya Candra.


"Boleh aku minta soto babat kak? kayaknya enak deh!" ucap Mentari.


"Tumben langsung bilang mau apa. Biasanya juga terserah kakak gitu!" sindir Candra.


"Ihhh, kakak! yaudah deh terserah kakak aja!" ucap Mentari merajuk.


"Hahahaha, gemas sekali sih bonekaku iniiii!!" ucap Candra gemas sembari mengusapkan telapak tangannya mengacak-acak pucuk rambut Mentari seperti anak kecil.


"Kakak!!! jangan gitu ihhh!" ucap Mentari kesal.


Perawat yang melihat keseruan mereka mengira mereka adalah sepasang kekasih. Tubuh Candra yang atletis, tinggi dan tampan tentunya sangat cocok jika disandingkan dengan Mentari yang cantik dan mungil. Tinggi Mentari jika disandingkan dengan Candra hanya sampai sebatas bahunya saja. Begitu mungil wanita itu bagi Candra, namun entah mengapa Candra menyukai wanita itu.


"Ya sudah kakak carikan dulu ya! tunggu sebentar!" ucap Candra.


Setelah mendapat anggukan cepat dari Mentari, Candra pun keluar dari ruang VVIP untuk mencari pesanan Mentari. Kebetulan didekat rumah sakit itu ada warung soto daging, soto ayam dan soto babat. Candra memasuki warung soto babat dan memesan satu porsi dengan nasi. Saat tengah mengantri, fokus Candra teralihkan saat melihat plang nama di samping warung itu.


Toko kue? pasti Mentari akan senang jika aku bawakan kue matcha kesukaannya! batin Candra.


"Mbak saya tinggal sebentar ya!" ucap Candra.


"Oh iya pak!" ucap mbak penjaga warung.

__ADS_1


Candra keluar dari warung soto babat kemudian masuk ke toko kue membeli sebuah kue rasa matcha favorit Mentari lalu masuk kembali ke warung soto mengambil pesanannya. Candra kembali ke ruangan Mentari dengan membawa pesanan Mentari ditambah kue ditangannya.


Jika bersama suamimu menjadi penyakit untukmu! ijinkan aku menjadi obatnya, Mentari! batin Candra saat menuju kamar Mentari di ruang VVIP.


__ADS_2