
Beralih kepada Wanda. Semenjak jasad kedua orang tuanya ditemukan, dia menjadi pendiam. Bukan hanya didalam sel saja tapi bahkan ketika berada diluar sel. Wanda memilih menyendiri, jauh dari tahanan lain dan sering melamun.
"Ini makan siang kalian!" ucap para polisi wanita sembari memberikan makan siang kepada para tahanan di setiap sel.
"Kau tidak mau makan lagi? kalau mau mati ya mati saja! jangan menyusahkanku begini!!!" maki polisi wanita itu kepada Wanda.
Polisi wanita itu kesal karena setiap kali melihat makanan dipiring milik Wanda masih utuh tidak tersentuh. Wanda tidak menggubris ucapan polisi itu membuat si polisi semakin naik pitam.
"Ohhh, kau berani ya tidak mendengarkan aku?! buka selnya sekarang!!!" teriaknya marah kepada bawahannya.
Bawahan polisi wanita itu segera membuka pintu sel Wanda. Didalam sel itu ada empat orang termasuk Wanda. Begitu pintu terbuka, dengan langkah tegas dia menghampiri Wanda, menarik rambutnya kasar hingga wajahnya mendongak menatap polisi wanita itu.
"Kau hanya tahanan disini, jadi jangan sok belagu!" ucapnya menekankan setiap katanya.
"Aaa!!!! hiks....hiks...." teriak Wanda kesakitan.
Brukk.....
Polisi wanita itu menghempaskan tubuh Wanda hingga terbentur dinding sel. Belum puas juga, polisi perempuan itu kembali menarik rambut Wanda dan membenturkan wajahnya ke dinding hingga kening dan hidungnya mengeluarkan darah.
Masih belum puas juga, polisi wanita itu melepaskan ikat pinggang yang melilit di pinggangnya dan dicabuknya tubuh Wanda dengan keras. Polisi lain yang melihat hal itu merasa kasihan namun mereka tidak bisa berbuat apa-apa selain menonton hal keji itu.
"Aaa!!!! ampunnn!!!! aaaa!! hiks...hiks....aaa!!!" teriak Wanda tatkala ikat pinggang itu menyentuh tubuhnya dengan keras.
Suara pecutan ikat pinggang polisi itu menggema hingga sel-sel lain membuat para tahanan lain ngeri sekaligus ngilu.
"Hah..hah...hah! ingat jika lain kali kau tidak menghiraukan perkataan ku lagi, aku akan membuatmu hidup didalam neraka. Kau paham ituuu!!!" ancam polisi wanita ketika sudah puas menghajar Wanda.
"Obati lukanya, sebentar lagi pak Rohan akan datang dari makan siangnya. Jika diantara kalian ada yang mengadu tentang masalah ini jangan harap kalian bisa lepas dariku!" ucapnya sembari menatap tahanan lain dengan tajam.
Setelah kepergian polisi wanita itu, polisi dan rekan satu sel Wanda langsung menghampirinya. Wanda terlihat sangat lemas, luka cabukan terlihat jelas ditubuhnya ditambah kening dan hidung Wanda yang juga mengeluarkan darah akibat dibenturkan ke dinding tadi.
Polisi wanita yang lain merasakan pilu ketika mengobati luka Wanda. Begitu juga dengan rekan satu sel Wanda yang ikut menangis merasakan kesakitan wanita malang itu.
"Hiks...hiks..hisk...ibuuu...aku ingin bersama ibu....dunia ini terlalu kejam untukku, bu...hiks....hiks!!" ucap Wanda tersedu-sedu.
Hal itu membuat polisi dan rekannya semakin pilu. Air mata semakin deras mengalir di pipi mereka. Terlihat jelas kedukaan yang Wanda rasakan.
Pantaskah seorang narapidana diperlakukan sekeji ini? bukankah mereka juga sudah menebus kesalahan mereka dengan dipenjara sesuai kesalahannya? lantas mengapa masih saja ada perundungan yang mereka terima ketika didalam tahanan? entah dari rekan sesama tahanan ataupun polisi disana.
Luka Wanda sudah diobati semua, Bajunya juga sudah diganti karena bajunya yang lama sudah robek. Polisi wanita yang mengobati Wanda meninggalkan Wanda bersama rekannya untuk beristirahat.
Rohan, setelah mendapat kabar bahwa Abu dan bawahannya tengah menuju ke kantor dengan buku diary yang mungkin saja bisa menjadi barang bukti pun langsung bergegas kembali ke kantor. Dia awalnya tengah menyantap makan siang disalah satu warung yang lumayan jauh dari kantor. Rohan mengendarai motornya dengan cepat dan sampai di kantor polisi bersamaan dengan Abu dan anak buahnya yang juga baru sampai dengan mobil polisi.
"Bagaimana, apa yang kalian dapat dari sana?" tanya Rohan penasaran.
__ADS_1
"Sebaiknya kita bicarakan ini didalam, pak!" ucap Abu.
Rohan menganggukkan kepalanya lalu bergegas menuju ruangannya.
"Ini pak, sebuah buku diary dari nyonya Adas atau yang biasa dipanggil suster Chan oleh orang-orang di panti jompo." jelas Abu sembari mengeluarkan buku diary nyonya Adas dari tasnya dan memberikannya kepada Rohan.
Rohan menerima buku itu dengan raut wajah bingung. Bagaimana sebuah buku diary bisa menjadi alat bukti?
"Baiklah kau pergi saja dulu, aku akan mencari tahu apa isi dari buku diary ini!" ucap Rohan tanpa mengalihkan pandangannya dari buku diary itu.
"Baik, pak!" ucap Abu.
Setelah Abu keluar dari ruangannya, Rohan mulai membuka buku diary itu.
"Pak teh anda!" ucap Abu yang kembali memasuki ruangan Rohan dengan membawa secangkir teh.
"Letakkan saja disana!" ucap Rohan.
Karena tidak hati-hati, Abu tanpa sengaja menumpahkan teh panas itu di atas file-file milik Rohan. Sontak saja Rohan menjatuhkan buku diary itu dan mulai mengambil file-filenya yang ketumpahan teh panas.
"Kau ini bisa hati-hati nggak sih! ini masih harus kita selidiki lagi tau!" ucap Rohan kesal.
"Ma...maf pak, saya tidak sengaja!" ucap Abu merasa bersalah.
Mata Rohan terfokus kepada sesuatu yang berada dibawahnya.
"Pak...pak....ada apa, pak?" tanya Abu yang melihat Rohan seperti tengah terkejut.
Rohan menatap kearah Abu, sedangkan orang yang ditatap bingung setengah mati mengapa Rohan menatapnya dengan tatapan aneh.
"Abu!"
"I...iya, pak!" jawab Abu gugup.
Rohan menunduk seolah mengambil sesuatu di bawahnya.
"Kau tahu apa yang aku temukan?" tanya Rohan masih tidak berekspresi.
"Tidak pak, memangnya apa? jangan membuatku takut pak!" ucap Abu.
"Ini!" menunjukkan sebuah foto-foto lama.
Abu mengamati foto itu dengan seksama. Matanya langsung membulat ketika melihat dengan jelas apa yang terpampang difoto-foto itu.
"HAHHH!!! pak, ini....ini serius?" tanya Abu syok.
__ADS_1
"Kau tahu artinya bukan?" mulai tersenyum.
"Kau panggilkan Wanda keruang interogasi sekarang, cepat!" perintah Rohan.
"Baik pak!" ucap Abu tersenyum lebar lalu segera keluar dari ruangan Rohan.
"Titik terang! keadilan aku pastikan berada di pihak yang benar, Wanda!" ucap Rohan kembali menatap foto-foto itu.
Abu segera memanggil Wanda di selnya. Dia begitu terkejut ketika melihat kondisi Wanda yang sangat menyedihkan dengan tubuh penuh luka.
"Apa? apa yang terjadi dengannya?" tanya Abu panik.
"D...dia....dia...emm...." ucap salah satu rekan sel Wanda gugup.
"Dia berkelahi tadi, pak!" ucap polisi wanita yang membuli Wanda tadi.
"Bagaimana bisa ini terjadi? duhhh, bisa gawat kalau sampai pak Rohan tahu!" memegang keningnya bingung.
"Dan kalian! kalian ini disini juga tahanan, kenapa bisa berbuat seperti ini kepada sesama tahanan HAAA!" marah Abu.
"Kami...kami...tidak!!" terhenti ketika sepasang mata menatap tajam kearah mereka.
"Maaf pak!" ucap mereka pasrah.
"Bu Riya, bagaimana anda menjaga para tahanan hingga sampai bisa berkelahi seperti ini?" tanya Abu.
"Saya juga tidak tahu, pak! saya juga tengah menyantap makan siang ketika kerusuhan itu terjadi!" bohong polisi wanita itu yang bernama Riya.
"Ahh, sial! bisa marah besar pak Rohan nanti pada kita!" frustasi sendiri.
Dengan berat hati, Abu memapah tubuh lemas Wanda. Dia masih bisa bicara walau dengan nada lemah, namun masih belum bisa berjalan sendiri karena luka di tubuhnya masih membuatnya lemas.
"Pak!" panggil Abu sembari membawa Wanda memasuki ruang interogasi.
Rohan yang awalnya menatap kearah lain, langsung menatap kearah pintu tempat Abu datang bersama Wanda. Namun Rohan terkejut ketika melihat luka-luka ditubuh Wanda dan langsung menghampirinya lalu membawanya duduk dikursi.
"Abu, apa yang terjadi? kenapa dia bisa seperti ini?" tanya Rohan panik.
"Aku juga tidak tahu, pak! ketika aku menjemputnya dia sudah seperti ini keadaannya!" jelas Abu.
"Wanda, katakan padaku apa yang terjadi? kenapa kau bisa sampai seperti ini?" tanya Rohan.
"D...di...dia.....diaaa...." pingsan.
Wanda tidak sadarkan diri dan langsung digendong Rohan untuk dibawa kerumah sakit. Rohan dan Abu juga salah satu polisi wanita yang mengobati luka Wanda tadi bergegas membawanya kerumah sakit. Polisi wanita itu tidak diajak oleh Rohan melainkan menyarahkan diri untuk menemani mereka dan Rohan menyetujuinya. Sesampainya dirumah sakit milik Bagas, Wanda langsung ditangani oleh Bagas dan Angel.
__ADS_1