Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 58


__ADS_3

Acara baru saja selesai. Kini didalam toko tersisa Mentari, Darel, Adi, Harri, dan para karyawan. Mereka membereskan sampah yang berserakan toko seperti semula agar bisa digunakan untuk bekerja keesokan harinya.


Darel, Adi, dan Harri juga ikut membantu. Awalnya mereka hanya melihat saja, namun akhirnya mereka juga ikut membantu.


Tidak butuh waktu lama toko kue itu terlihat seperti semula. Karena gotong royong dari banyak orang, maka pekerjaan sulit bisa diatasi bersama.


Para karyawan pun memutuskan untuk pulang. Mentari memberikan mereka bingkisan berupa kue dari perayaan tadi yang ternyata masih sisa banyak. Mentari memberi mereka masing-masing 1 kotak berukuran sedang.


"Terimakasih bu Mentari. Semoga toko ini bisa lebih maju lagi!" ucap salah satu karyawan mewakili rekannya.


"Iya, sama-sama. Saya juga berterima kasih karena kalian membantu saya mengembangkan toko ini sampai bisa sesukses sekarang!" ucap Mentari tersenyum hangat.


Setelah berpamitan, karyawan pun meninggalkan toko ini yang hanya tersisa 4 orang sekarang.


Mentari menghampiri Darel yang tengah duduk dikursi karena kelelahan.


"Terimakasih!" ucap Mentari yang sudah berdiri disamping Darel.


Darel mendongak menatap wajah Mentari yang tengah tersenyum padanya.


"Untuk apa?" tanya Darel.


"Karena sudah datang hari ini, dan karena sudah mau membantu membereskan toko tadi, terimakasih ya!" ucap Mentari langsung duduk dihadapan Darel sambil tersenyum.


Deg....deg....deg...deg...


Suara detak jantung Darel menggebu melihat senyum manis Mentari. Entah perasaan apa yang sedang dia rasakan saat ini, yang jelas dia merasa sangat senang mendapat senyuman itu.


Kenapa jantungku berdetak kencang begini? hei, hentikan itu jangan sampai wanita ini mendengar detakannya yang sangat keras itu! batin Darel.


Darel berusaha menyembunyikan rasa yang asing dalam kehidupannya. Dia tidak inginada yang tahu kalau saat ini jantungnya berdetak sangat cepat, terlebih Mentari.


"Hah, jangan kegeeran dulu. Aku hanya sedang lewat saja tadi, jadi jangan pede dulu kamu!" ucap Darel mengalihkan pandangannya kesisi lain.


Harri dan Adi yang berada tidak jauh dari tempat duduk Darel dan Mentari pun ikut mendengar pembicaraan mereka.


"Loh tuan, bukannya tuan sendiri tadi yang bilang ingin kesini?" tanya Harri spontan.


Darel langsung menatap Harri dengan tajam seolah mengatakan bahwa riwayatnya akan berakhir saat keluar dari toko ini.


Harri yang ditatap dengan tatapan yang mengerikan itupun langsung terdiam dan menunduk, tidak berani berkata lagi.


Apa lagi salahku sekarang? kan aku hanya bertanya saja? lagi pula yang aku tanyakan ini benar kok, kenapa tuan marah? batin Harri.


Mentari yang Mendengar ucapan Harri tadi langsung menatap Darel seolah ingin meminta penjelasan.


"Apa?" tanya Darel yang merasakan ada sepasang mata yang menatapnya.


"Bukankah kau berhutang penjelasan padaku saat ini?" cecar Mentari memojokkan Darel.

__ADS_1


Darel diam sesaat, memutar otak mencari alasan yang tepat.


"Ckckck sudah ku bilang kalau aku tidak sengaja lewat dijalan ini. Lagi pula aku ingin menemui mama dan ingin membawakannya kue makanya aku mampir." ucap Darel berbohong.


"Mama suka kue yang bagaimana? biar aku saja yang buatkan. Kenapa kau tidak bilang dari tadi sih, pasti mama sudah lama menunggumu!" kesal Mentari.


Begitu mendengar kata 'mama' membuat Mentari menjadi sangat antusias. Dia pun merasa kesal karena Darel tidak memberitahukan alasannya mampir ke tokonya sedari tadi meskipun itu hanya alasan Darel saja.


Dasar gadis bodoh! Begitu saja dia percaya, hahaha sangat menggemaskan! batin Darel.


Mentari pun bergegas menuju Dapur, dimana masih ada beberapa bungkus kue yang masih sisa.


Sebenarnya Mentari ingin memberikan sisa kue itu pada pengemis dijalanan nanti. Namun karena dia tidak ingin membuat mama Darel menunggu lebih lama, dengan berat hati Mentari memberi kue itu.


"Mama suka kue apa?" tanya Mentari saat melihat Darel menghampirinya.


"Dia suka Cheese cake, sama kue pukis mu itu pasti mama akan suka, mungkin!" ucap Darel.


Ucapan Darel dirasa mengambang bagi Mentari. Tidak mengandung kepastian.


Huh, nada bicaranya terdengar sangat menyakinkan, tapi diakhir katanya ada kata 'mungkin' bagaimana sih dia ini! umpat Mentari dalam hati.


"Yang bener yang mana nih, nanti mama malah tidak suka lagi sama kue nya!" kesal Mentari.


"Ya itu! sudahlah kamu bungkuskan saja cheesecake sama beberapa kue pukis itu, aku yakin kau juga tidak akan makan semua ini sekaligus!" ejek Darel sambil menggembungkan pipinya.


Mentari semakin kesal dengan tingkah Darel.


Darel merasa geli dengan cubitan Mentari meski ada sakit sedikit dari bekas cubitan itu.


"Hahaha, iya-iya sudah ampun hahahaha!" tawa Darel karena kegelian.


Mentari puas mencubit perut Darel. Dia pun memasukkan kue untuk mama Darel sesuai permintaan Darel tadi dengan bibir yang mengerucut karena masih kesal.


Sangat menggemaskan!


"Ini!" ucap Mentari memberikan dua buah bingkusan berisi kue tadi.


"makasih, oh ya jangan lupa besok aku jemput jam 10 untuk fiting baju! awas saja kalau sampai lupa!" ucap Darel langsung berlalu meninggalkan toko kue bersama Adi dan Harri.


Mentari hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Darel.


Pria yang aneh! oh tidak, bukan aneh, tapi super duper aneh! kadang kasar, kadang lembut, kadang baik, kadang juga penuh emosi! aku benar-benar tidak mengerti jalan pikirannya! batin Mentari.


Mentari memutuskan untuk pulang dengan membawa beberapa bingkisan berupa kue.


Dengan menaiki motor kesayangannya, Mentari pulang dengan hati yang bahagia. Entah karena apa, namun hatinya sedang bahagia saat ini.


Tak lupa juga Mentari memberikan bingkisan itu kepada setiap pengemis yang dia temui, terlebih anak kecil.

__ADS_1


"Terimakasih kak, semoga kakak bisa bahagia terus!" ucap seorang anak kecil yang tengah memungut sampah mencari sisa-sisa makanan untuk sekedar mengganjal perut mungilnya.


Mentari tersentuh dengan perkataan anak laki-laki ini. Matanya mulai mengembun dan siap menumpahkan air mata kapan saja.


"Dek, kenapa kamu disini sendiri? orang tua kamu kemana?" tanya Mentari sambil mengusap pipi anak itu dengan lembut.


Mendengar pertanyaan Mentari membuat anak itu tidak kuasa menahan tangisnya.


"Orang tua saya sudah ada disurga kak. Nenek bilang bapak dan ibu sudah jadi bintang diangkasa!" ucap anak itu sambil mengusap air matanya dengan baju lusuhnya.


Mentari langsung memeluk anak itu. Entah karena senasib atau karena kasihan dengan kisah hidup anak itu, namun yang jelas hal itu membuat hati Mentari ikut teriris hingga dia ikut meneteskan air mata.


"Dek, nenek kamu benar. Orang tua kakak juga ada dilangit. Kakak bisa menemui mereka sepanjang malam jadi adek juga jangan sedih. Orang tua adek selalu mengawasi adek dari jauh kok. Oh ya nama kakak Mentari, kalau adek siapa?" tanya Mentari mencoba mengalihkan pembicaraan agar tidak hanyut dalam kesedihan.


"Emmm, Iwang!" jawab anak itu yang bernama Iwang.


"Nah Iwang, sekarang bagaimana kalau kamu membantu kakak saja ditoko? nanti kakak gaji kamu dengan uang dan roti seperti ini!" tawar Mentari.


"Sungguh kak? kakak nggak bohong kan?" ucap Iwang antusias.


Iwang langsung menghapus air matanya saat mendengar kata Mentari, membuatnya sangat senang.


"Iwang mau kak, kerja apa saja Iwang mau asal bisa bawa makanan untuk nenek saat pulang nanti!" ucap Iwang menggenggam tangan Mentari dengan semangat.


"Emm, besok Iwang datang saja ke toko kakak. Ada diujung saja, namanya toko Mentari! besok kakak kasih tahu pekerjaan Iwang, ya!" ucap Mentari sama senangnya.


"Iya kak, bener nih ya kakak nggak bohong!" tanya Iwang lagi dengan sangat antusias.


Mentari menganggukkan kepalanya. Iwang sangat senang hingga dia melompat-lompat kegirangan.


"Yeeee Iwang besok kerja....yeeee Iwang besok bisa dapat makanan....yeyeye...makasih kak Iwang pulang dulu, besok Iwang pasti datang! ye...ye...ye....yee....!" teriak Iwang kegirangan.


Mentari tersenyum melihat tingkah lucu anak itu. Setelah Iwang pergi, Mentari langsung pulang dengan hati yang semakin gembira dari sebelumnya.


Terimakasih Tuhan, Engkau masih memberiku kecukupan hingga aku bisa memberi sebagian rejeki ku kepada orang yang membutuhkan! batin Mentari sambil tersenyum.


********


Saat kamu sedang putus asa, lihatlah kebawah. Masih banyak orang yang ingin berada diposisi mu sekarang. Dan saat kau sedang berangga diri, lihatlah keatas. Diatas langit yang tinggi masih ada langit yang lebih tinggi.


*


*


*


*


*

__ADS_1


Hallo kakak-kakak, udah beberapa hari ini aku jarang up karena sangat sibuk. Tapi aku usahakan untuk tetap update buat para reader ๐Ÿ˜‰ jangan lupa dukung author dengan like, komen, dan vote + tips ya๐Ÿค— buat yang sudah like, komen dan vote, aku ucapkan terimakasih banyak buat kalian๐Ÿ˜˜๐Ÿ˜˜


__ADS_2