
Candra menghentikan langkahnya, menoleh sebentar ke arah Sri yang terlihat sekali tengah kecentilan kepadanya lalu mengalihkan pandangannya lagi.
"Sate lilit, rendang ayam, sambal goreng kentang, hati dan ampela, lalu buat juga camilan yang enak-enak!" perintah Candra.
"Hah, rendang ayam? sambal goreng? bukannya anda nggak biasa makan makanan kayak gitu?" tanya Alfi.
Selama ini Alfi melihat Candra memakan makanan kelas restoran bintang lima itu sebabnya dia terkejut saat Candra menyebutkan nama-nama makanan tadi.
"Rio, panggil Mentari saat masakan sudah siap!" perintah Candra tanpa mengindahkan pertanyaan Alfi membuat Alfi tersinggung.
"Tuan, mau saya buatkan teh hangat atau kopi?" tanya bi Inem.
"Coklat panas saja bi! saya mau mandi dulu!" jawab Candra terus berjalan menuju kamarnya tanpa menoleh ke belakang.
Bi Inem dengan senang segera menuju ke dapur namun langkahnya terhenti disamping Sri yang masih memandangi tuan mereka itu.
"Jaga mata dan pakaianmu! anak gadis kok kelakuan kayak lon*e! ndak bakal mau juga tuan sama kamu kalaupun wanita di dunia ini tinggal kamu seorang!" ucap bi Inem.
"Apa sih sibuk aja!" omel Sri.
"Udah ayo cepat masak! masih banyak kerjaan tuh! sama-sama pembantu kok mau enaknya aja!" ucap bi Inem sembari menarik paksa tangan Sri.
"Lebih baik lo jangan ganggu tuan Candra dulu deh, moodnya lagi kurang bagus kayaknya!" ucap Rio memperingati Alfi.
Rio meninggalkan Alfi setelah mengatakan hal itu. Dia tidak melihat raut wajah kesal yang ditunjukkan Alfi sambil menghentakkan kakinya. Karena kesal, Alfi pun berjalan memasuki kamarnya, bersiap secantik mungkin untuk menarik perhatian Candra.
Waktu menunjukkan pukul tujuh malam. Hujan yang begitu lebat tadi sudah mulai mereda meninggalkan rintik-rintik hujan. Rio sudah memanggil Mentari untuk makan malam. Dia menggunakan payung yang besar untuk menuju ke resort Mentari. Mereka berdua pun berjalan ke resort Candra dengan satu payung berdua.
"Ehemm!!!" Candra berdehem menghadang langkah Rio dan Mentari yang tengah berdiri di depan pintu.
Candra menatap ke arah mereka dengan raut wajah yang tidak bisa diartikan sambil bersidekap dada.
"Apa-apaan ini?!" tanya Candra lagi.
"Kan tuan tadi yang menyuruh saya memanggil nona Mentari untuk makan malam? tuan lupa yaaa?" tanya Rio.
"Bukan itu maksud saya!" ucap Candra memainkan satu alisnya membuat Rio dan Mentari bingung.
"Apa tidak ada payung lain hingga harus satu payung begini?!" tanya Candra yang sudah tidak tahan.
"Hahhh?!" Rio melongo dengan pertanyaan Candra barusan.
"Kak!" panggil Mentari ragu.
"Yah, Tari!" jawab Candra langsung berubah raut wajahnya menjadi lembut seperti biasa.
Rio yang melihat itu kesal karena sifat Candra yang pilih kasih terhadap Mentari.
"Jangan marah lagi sama Rio, lagian payung ini juga cukup kok untuk kita berdua!" ucap Mentari menjelaskan.
"Oh baiklah kalau begitu! ayo makan, kakak udah suruh bi Inem masak makanan kesukaan kamu!" ucap Candra menggandeng tangan Mematri masuk meninggalkan Rio.
BRAKKKKK....
Candra menutup pintu dengan sangat kuat saat Rio hendak masuk hingga tidak sengaja wajah Rio membentur pintu itu dengan cukup keras.
__ADS_1
Rio masuk kedalam rumah dengan mengelus hidungnya yang sedikit mancing itu.
"Tuan nih kira-kira napa kalau mau tutup pintu! sakit nihhh!!" keluh Rio masih mengelus hidungnya yang masih sakit.
"Rasain!" ucap Candra lirih namun bisa didengar Rio dan Mentari.
"Kakak! kan kasian Rio!" ucap Mentari.
"Huhh, iya-iya! ayo makan!" ajak Candra.
********
Darel sudah sampai di markasnya. Tempat yang sudah sangat lama tidak dia kunjungi karena Mentari.
"Tuan!" sapa Adi dan Lukas.
"Dimana dia?" tanya Darel langsung duduk di kursi kebesarannya.
"Woi bawa dia kesini!" suruh Lukas.
satu orang membawa pak Handoko yang masih mengenakan boxer dan kaos oblong saja.
Lukas menendang lutut pak Handoko hingga membuat pak Handoko berlutut di tanah.
"Tuan, maafkan saya tuan!! ampun tuan!! saya janji tidak akan melakukannya lagi tuan!!!" rengek pak Handoko.
"Heh, kau berani menghinaku kan tadi! Adii!!" ucap Darel.
Adi mengangguk mengerti lalu meninggalkan tempat itu dan tidak lama kemudian kembali dengan membawa sebuah pisau.
"Ini tuan!" ucap Adi seraya memberikan pisau itu kepada Darel.
"Bagaimana rasanya jika pisau yang sangat tajam ini menembus ke dadamu!" gertak Darel.
"Jangan tuan!! jangan lakukan itu, saya mohon!!" mohon pak Handoko.
Darel berjalan mengitari pak Handoko yang semakin ketakutan.
"Adi, Harri!" perintah Darel dengan mengunakan isyarat matanya.
Adi dan Harri mengangguk patuh. Mereka langsung berjalan ke arah pak Handoko lalu memegangnya dengan sangat kuat.
"Apa yang akan kalian lakukan! tolonggggg!!!!! lepaskan akuu!!!! jangan apa-apakan aku!!!! tolonggg!!! siapa saja tolong akuuuu!!!" teriak pak Handoko ketakutan.
Adi dan Harri semakin kuat memegangi tubuh pak Handoko.
"Lukas!"
Lukas pun mengangguk lalu membuka mulut pak Handoko yang terus saja bergerak memberi perlawanan.
"Tidakk....tidak.....jangan.....aaakkkkhhhhhhhhhhh!!!!!" teriak pak Handoko yang terdengar tidak jelas.
Wusss....
Pisau itu berhasil memotong lid*h pak Handoko hingga terputus. Adi, Harri, dan Lukas yang melihat itu serasa ingin muntah namun tertahan. Apalagi saat melihat banyak darah keluar dari mulut pak Handoko.
__ADS_1
Brukkk....
Darel melemparkan lid*h pak Handoko ke sembarang arah. Menyaksikan kesakitan yang teramat sangat hebat dari pak Handoko membuat Darel puas. Sangat puas.
"Jangan main-main denganku! hari ini mungkin lid*hmu hilang, tapi besok bisa saja nyawamu yang akan hilang kalau kau berani menghinaku atau keluargaku lagi!!" ancam Darel.
"Dasar biad*p!!!! kau bukan manusia!! kau adalah ibliss berwujud manusia!!! kembalikan lid*ahku!!!!" teriak pak Handoko.
Meski dengan suara yang tidak terlalu jelas pengucapannya namun seperti itulah kira-kira yang terdengar.
"Kau adalah iblis!!! kau bukan manusia!! patutnya kau ada di neraka!! kau tidak pantas ada disini!! semoga kau mendapatkan karma atas apa yang kau lakukan padaku!! aku berdoa semoga kau selalu dalam kemalangan! kau tidak akan bahagia! wanita yang kau cintai akan mati, dan itu semua karena ulahmu sendiri!" ucap pak Handoko mengucapkan sumpah serapahnya.
Blessss.....
"Akhhhhhh....."
Brukkk....
Tubuh pak Handoko ambruk ke tanah dengan bersimbah darah. Cairan merah itu mulai menggenang di sekeliling tubuh pak Handoko.
Darel terlihat sangat murka saat mendengar ucapan pak Handoko. Darel marah dan takut. Marah karena pak Handoko mengatai orang yang dia cintai. Takut karena dia tidak bisa membayangkan bila ucapan pak Handoko akan terbukti nantinya dan Mentari meninggalkannya untuk selamanya.
Maka dari itu Darel langsung menusukkan pisau itu tepat ke jantung pak Handoko. Darel langsung menumpas masalah sampai ke akarnya walaupun sebenarnya dia tidak ingin melakukannya tadi.
"Bereskan mayat itu! juga anak buahnya." perintah Darel.
"Baik tuan!" jawab Adi dan Lukas.
Harri dan Darel pergi dari tempat itu. Mereka menuju rumah Darel.
********
"Aku ingin membuat perjanjian denganmu!" ucap seorang pria.
"Perjanjian?" tanya Jo, pemimpin kelompok Nerezza.
Saat ini mereka tengah berada di salah satu markas Nerezza yang ada di Jakarta.
"Yah! aku akan membawa Suli kepadamu! sebagai gantinya aku mau kau membantuku membalaskan dendam ku kepada Darel Sanjaya!" tawar pria misterius itu.
"Apa jaminannya jika rencanamu ini akan berhasil?" tanya Jo.
"Aku pastikan rencanaku berhasil!" ucap pria misterius itu menyunggingkan bibirnya.
"Kalau sebaliknya?"
"Kau bisa memenggal kepalaku jika aku gagal!" ucap pria itu.
"Heh, menarik juga!" ucap Jo tersenyum.
"Baiklah aku setuju! bawa wanita sial*n itu kehadapanku dan akan aku bantu kau membalaskan dendam mu kepada Darel Sanjaya! aku Jo, seorang ketua Nerezza menjanjikan itu padamu. Aku tidak pernah mengambil kembali apa yang sudah keluar dari mulutku ini!" ucap Jo tegas.
"Bagus!!! kalau begitu aku butuh beberapa orang untuk menjalankan rencanaku!" ucap pria itu.
"Syen, bawa beberapa anak buahmu bersamanya!" perintah Jo.
__ADS_1
"Baik tuan!" ucap Syen merupakan salah satu tangan kanan Jo.
Pria misterius itu juga beberapa orang dari anak buah Jo mulai meninggalkan tempat itu. Sepertinya mereka akan menjalankan rencana mereka dalam waktu yang dekat.