Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 239


__ADS_3

Di rumah utama keluarga Sanjaya, Joni dan Merish memberitahu tuan Ardi bahwa Darel pergi ke Bali untuk menyelamatkan Mentari yang disandra oleh anak buah Jo dari kelompok Nerezza.


"Begitu menurut informasi yang saya dapat tuan! mungkin besok mereka akan sampai di Jakarta!" ucap Joni selesai berbicara.


"Hmmmm, aku senang mereka sudah baikan lagi! semoga seterusnya bisa seperti ini!" ucap tuan Ardi.


Tidak ada kekhawatiran diwajahnya padahal pak Joni dan Merish mengatakan Darel mengalami luka dipunggung ya akibat tusukan dari anak buah Dendi. Mengenai Dendi, dia sudah hancur berkeping-keping akibat bom yang berada di tubuhnya. Untuk itu tadi Harri, Adi, Lukas, dan Jack datang terlambat karena ikut membantu membereskan kekacauan ulah Dendi. Tidak mungkin kan mereka membiarkan orang banyak menemukan gumpalan daging yang berbau gosong di pantai yang indah itu?


"Pantai saja dia dari jauh! selagi tidak terlalu mengancam keselamatannya dan Darel masih bisa mengatasinya, kita jangan ikut campur!" ucap tuan Ardi.


"Baik tuan! em...tapi...apa ini tidak termasuk dalam ancaman tuan?" tanya Merish yang justru lebih khawatir kepada Darel daripada tuan Ardi.


"Hahaha.... Merish....Merish....kau lupa siapa Darel itu? bahkan malaikat maut saja tidak bisa mencabut nyawanya tanpa persetujuan dari Darel, apalagi manusia!!!" ucap tuan Ardi membanggakan Darel.


"Oh, maaf tuan!" ucap Merish.


"Rapikan saja rumah Darel juga buat senyaman mungkin di kamar mereka. Buat seperti kamar pengantin baru! aku yakin mereka akan menghabiskan berjam-jam di dalam kamar!" ucap Tuan Ardi membuat pak Joni dan Merish saling pandang kemudian tersenyum penuh arti.


"Semoga setelah ini anda bisa secepatnya diberikan cucu lagi, tuan!" ucap pak Joni tersenyum ke arah tuan Ardi.


"Hah, itu harus!" ucap tuan Ardi disambut gelak tawa oleh pak Joni dan Merish.


********


Darel dan yang lain memilih untuk bermalam di penthouse milik Darel. Entah kapan Darel membeli penthouse itu, yang jelas dari informasi Adi bahwa dia memiliki sebuah penthouse di Bali. Setelah menempuh perjalanan hampir tiga jam, akhirnya rombongan mereka tiba di penthouse milik Darel di lantai dua puluh. Ada banyak kamar di sana hingga cukup untuk menampung semuanya termasuk Jo.


Darel dan Mentari tidur dalam kamar utama tentunya. Rohan, Tomi, Zanu, Bagas, dan Arul tidur dalam satu ruangan yang cukup luas sehingga tidak sesak ditempati mereka berlima. Shiren dan Suli tidur di ruangan yang sama, kamar mereka tidak terlalu besar dan tidak terlalu kecil karena hanya ditempati dua orang saja. Sedangkan Adi, Harri, Lukas, Jack dan Jo tidur di satu kamar yang sama.


Awalnya Jo menolak karena merasa direndahkan dengan di kelompokkan oleh para bawahan Darel. Namun Shiren langsung menghardik dirinya jika dia tidak ingin tidur bersama Lukas dan yang lain, Jo bisa pergi dari sini dan tidur di hotel dengan kamar yang luas. Tentu saja Jo tidak mau dan memilih tetap tinggal. Berada di dekat Shiren sekarang adalah hal yang paling ingin Jo lakukan.


"Huhh.....gerahhh!!! geser sana dikit napaaa!!!' keluh Jo yang tidur satu ranjang dengan Jack.


Jo tidur satu ranjang dengan Jack, sedangkan Adi, Harri dan Lukas berada di satu ranjang yang luas.


"Ish, berisik paman tua!" ucap Jack jengah.


Telinga Jack rasanya panas karena terus-menerus mendengar keluhan Jo.


"Paman tua kau bilang!!! cowok tampan kayak gue gini lo bilang paman tuaa?!!" ucap Jo duduk dari tidurnya menatap tajam ke arah Jack.


"Terus kalau nggak boleh dipanggil paman tua mau dipanggil apa?! bayi gede gitu?!" cibir Jack.

__ADS_1


"Wahhhh, ngajak berantem bilangg!!!" ucap Jo tersulut emosi.


Jo menaikkan lengan nya hingga memperlihatkan otot-otot lengannya.


"Cih pamer! gitu doang gue juga bisa!" ucap Jack melepas kaosnya memperlihatkan dada bidang dan otot yang sama besar dari milik Jo.


"Ehh, kenapa jadi buka-bukaan sih! kalau mau mesum diluar aja!" ucap Lukas.


"Nih, orang ini nih yang mulai duluan!" ucap Jack kembali memakai kaosnya.


"Lo nyalahin guee?!!"


"Terus siapa lagi? gue gitu?! orang yang dari tadi ngeluh terus dia sendiri kok! ini tuh penthouse mahal, harganya triliunan rupiah! masa dibilang gerah sih?! lo aja paling yang kebanyakan setannya makanya jadi panas kalau deket orang alim!" cibir Jack.


"Orang alim? siapa?" tanya Adi dan Lukas bersamaan.


"Aku lah siapa lagi?! hehehe!" ucap Jack cengengesan menatap ke arah Lukas dan Adi yang menatapnya jengah.


"Alim banget yaaa!" cibir Lukas dan Adi merotasi bola matanya jengah.


"Tuan, kalau kau merasa gerah disini! gimana kalau aku saranin tempat yang nyaman?!" tanya Harri yang terbangun dari tidurnya.


Jack, Adi, dan Lukas menatap bingung ke arah Harri sedangkan yang ditatap mengedipkan matanya seolah memiliki rencana yang bagus.


"Ayo...ayo! kita ke tempat yang nyaman itu!" ajak Harri menuntun Jo ke depan pintu.


BRAKKKKK....


Harri menutup pintu kamar lalu menguncinya dari dalam.


Dok....dok....dok....


"Woi....buka woi!!!! bukaaa!!!! sial*n ya lo! masa gue disuruh tidur di luar!!! woii... bukaaa!!" teriak Jo dari luar kamar.


"Hahahahaa, makan tuh tempat ternyaman?! malam ini lo tidur aja di luar!" ucap Jack tertawa lepas diiringi gelak tawa dari Adi, Harri dan Lukas.


"Udahlah, yuk tidur! biarin aja dia diluar semalaman! siapa suruh bikin ulah!" ajak Adi.


Dia langsung tidur di tempatnya bersebelahan dengan Lukas.


"Lo ngapain disini?!" tanya Adi saat Harri hendak berbaring di sampingnya.

__ADS_1


"Tidurlah! buta matamu?!" ucap Harri.


"Tidur aja sama Jack sana! kan pas tuh dua-dua!" ucap Adi.


"Ishhh, iya...iyaa!!!" ucap Harri malas.


Harri turun dari ranjang Adi dan Lukas lalu mulai berbaring di samping Jack. Malam mereka terasa nyaman dengan tidak adanya Jo yang terus saja mengeluh.


Karena setiap kamar itu memiliki alat peredam suara, sehingga teriakan Jo tidak didengar oleh yang lain. Karena sudah lelah menggedor-gedor pintu namun tidak ada jawaban dari Adi, Harri, Jack, ataupun Lukas membuat Jo terpaksa duduk di sofa di ruangan itu.


"Hoaaammmm!!" Jo mulai mengantuk.


Tidak terasa Jo tertidur di sofa itu sambil memeluk bantal sofa.


********


Pagi itu, penthouse Darel dikejutkan dengan keadaan Jo yang tertidur di sofa sambil memeluk bantal sofa. Mereka berkerumun menatap penuh tanya ke arah Jo yang masih tertidur lelap.


Ceklekkk....


"Hoammmm, selamat pagi semuaaa!" sapa Jack sembari merenggangkan otot-otot tubuhnya disusul oleh Harri, Lukas dan Adi.


"Heh, kalian apain dia sampai tidur disini?" tanya Arul berbisik setelah menarik lengan Jack dengan kasar.


"Hahaha, itu gara-gara dia usil tuan Arul!" ucap Jack dengan wajah yang tidak punya dosa.


"Usil gimana?" tanya Shiren.


"Salah sendiri dia ngeluh terus! bikin terlingaku panas, kita semua jadi nggak bisa tidur denger ocehannya dia! makanya kita suruh dia tidur di luar aja, hahaha!" ucap Harri sembari mengulurkan telapak tangannya meminta tos ke Jack dan disambut oleh Jack.


"Dasar kalian ini yaa! semalam kan dingin banget! kalau dia sakit gimana?!" ucap Mentari.


"Loh, kok kamu tahu Tari, semalam dingin?" tanya Shiren penasaran.


"Ehh... ya...kan...itu...." tergugup.


"Ya jelaslah dia kan habis lembur! makanya bisa tau!" ledek Arul menatap sinis ke rambut Mentari yang mengkilap seperti baru saja keramas.


"Udahlah biarin aja dia tidur dulu. Kita sarapan habis itu balik ke Jakarta!" ucap Rohan.


Darel meminta Lukas dan Harri untuk membelikan sarapan untuk mereka. Setelah beberes, mereka menyantap sarapan yang sudah dibeli oleh Harri dan Lukas. Lontong sate dan gado-gado menemani sarapan mereka pagi ini.

__ADS_1


"Kok kalian udah sarapan aja?! kenapa nggak bangunin aku tadi?!!" ucap Jo marah.


Mereka menatap Jo yang baru saja bangun tidur.


__ADS_2