Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 267


__ADS_3

Dirumah Arul. Dia dan Anisa beru saja beristirahat setelah seharian ini sibuk mengurusi baby Brian. Umur baby Brian sekarang sudah menginjak enam bulan dan baru tumbuh satu gigi membuat baby Brian demam dan sangat rewel. Semalam Arul sudah memanggil dokter anak di keluarganya dan menurut keterangan dokter itu hal ini wajar saat bayi baru tumbuh gigi. Seperti ibu lainnya, tentu Anisa cemas saat anaknya mendadak demam. Bahkan seharian ini baby Brian sangat rewel dan terus saja menangis membuat Anisa bingung dan sedih.


"Sayang kamu tidur aja ya! kamu pasti capek! atau mau aku pijitin?" tawar Arul yang melihat istrinya itu tampak kelelahan.


"Nggak dulu deh!" jawab Anisa.


"Atau mau makan? kamu seharian ini belum makan, nanti kamu ikutan sakit loh!" ucap Arul.


"Makan ya? emm, boleh deh!"


"Oke kamu mau makan apa biar aku beliin?" tanya Arul.


"Makan steak kayaknya enak deh!" ucap Anisa menatap suaminya.


"Kalau itu nggak usah beli! aku buatin khusus buat kamu!!" jawab Arul.


"Emang kamu bisa?" tanya Anisa meremehkan.


"Eittss jangan salah!!! gini-gini aku bisa masak loh! nggak banyak sih, cuma beberapa aja! kalau steik mah, cipilll!!" ucap Arul menjentikkan jarinya seolah memasak steak adalah hal sepele.


"Nggak percaya!" cibir Anisa meragukan.


"Lihat aja nanti!! dah aku mau masak dulu!!" ucap Arul menuju ke dapur.


Tidak lama kemudian Arul datang lagi.


"Kenapa? nggak jadi masak steak nya?" tanya Anisa.


"Jadi! ini, kamu makan potongan apel ini saja dulu buat mengganjal perut kamu!" ucap Arul memberikan sepiring apel yang sudah dikupas dan dipotong kecil.


"Aaa, so sweet banget sih kamuuu!!!" ucap Anisa senang.


"Kamu makan ya, aku masak dulu!!" ucap Arul sambil membelai rambut Anisa membuat Anisa salah tingkah.


Cukup lama Arul bergulat dengan bahan-bahan dan alat memasak di dapur hingga tercium aroma daging steak yang menggugah selera.


"Sayang!!! udah mateng belum? aku udah lapar banget nih gara-gara aromanya!!" ucap Anisa yang berada di depan dapur.


"Bentar lagi mateng kok!! kamu tunggu aja di meja makan!" ucap Arul masih sibuk dengan acara memasaknya.


"Steak istimewa ala chef Arul sudah siappp!!!" ucap Arul setelah beberapa saat kemudian.


"Yeeeee!!! hemmm, aromanya enak bangettt!!" ucap Anisa menghirup dalam-dalam aroma steak buatan Arul itu.


"Coba dongg!!! koreksi rasanya bagaimana?" ucap Arul.


Anisa mulai memotong steak itu menjadi bagian yang lebih kecil lalu meniupnya karena masih panas dan happ...


"Gimana enak nggak?" tanya Arul penasaran.


"Enak bangett!! aku nggak nyangka loh kalau kamu bisa masak enak kayak gini!!!" ucap Anisa jujur.


"Kalau begitu habiskan yaa? bila perlu makanan aku buat kamu aja kalau kurang!!!" ucap Arul.


"Nggak usah! ini aja udah cukup kok!!" ucap Anisa kembali menyuapkan daging steak.


Arul memotong setengah daging miliknya lalu meletakkan setengah bagian itu ke piring Anisa juga beberapa potong baby potato dan asparagus.

__ADS_1


"Loh kok..."


"Kamu makan yang banyak biar ada tenaga buat jaga baby Brian lagi nanti!! makasih ya sudah menjaga rumah dan anak kita dengan baik!" ucap Arul.


Ungkapan ini tulus dari hatinya dan entah mengapa membuat Anisa terharu. Sebuah ungkapan yang sederhana memang, tapi sangat berarti. Anisa merasa dia sangat dihargai dengan apa yang dia lakukan dan itu membuatnya kembali bersemangat. Arul sempat memiliki niat untuk mencarikan baby sitter untuk baby Brian, namun Anisa menolak dengan alasan dia ingin ada di setiap pertumbuhan putra pertama mereka. Arul pun menyetujuinya, apapun itu selama membuat Anisa senang akan Arul lakukan. Pun Arul juga sering membantu Anisa merawat baby Brian karena Arul paham, tugas menjaga anak bukan hanya menjadi tugas seorang ibu, melainkan tugas bersama.


********


Malam itu sudah sangat larut, namun Mentari tetap belum bisa tertidur. Dia melihat langit-langit kamarnya berharap bisa secepatnya tidur.


"Kamu kenapa? kok belum tidur?" tanya Darel yang terbangun dari tidurnya.


"Eh, maaf aku menganggu tidurmu!" ucap Mentari merasa bersalah.


"Nggak apa-apa! apa ada yang sakit sampai kamu nggak bisa tidur? atau kamu pengen apaa gitu?" tanya Darel.


"Em...boleh aku bicara?" tanya Mentari ragu-ragu.


Darel menautkan alisnya, bingung dengan sikap istrinya itu.


"Katakan sayang? apa yang menjadi kegelisahan hatimu?" tanya Darel selembut mungkin.


"Tadi, bi Surti datang kesini! dia minta agar suaminya diberi pekerjaan lagi di perusahaan mu!" ucap Mentari takut.


"Lalu? apa dia menghinamu lagi? kau tahu kan apa yang aku lakukan padanya semata-mata karena dia menghina dan memfitnahmu?" tanya Darel agak marah.


"A...aku tahu!! tapi...tapi...."


"Hufttt!!! apa kau takut aku akan marah jika kau mengatakan hal ini?" tanya Darel sudah mengatur emosinya menjadi lebih tenang.


"Iya!" ucap Mentari lirih sambil menundukkan pandangannya karena takut dengan tatapan mata Darel.


"Baiklah!! akan aku pertimbangkan lagi nanti jabatan apa yang cocok!" ucap Darel akhirnya.


"Sungguh?" tanya Mentari mendongakkan kepalanya menatap penuh tanya kepada suaminya.


"Iya sayang!! aku tidak mau kau gelisah lagi karena ini! kita lihat saja besok yaa? sekarang kita tidur!! ayo, sini aku peluk!!" ucap Darel membawa Mentari dalam dekapannya.


Nyaman, hangat, itulah yang dirasakan Mentari saat Darel memeluknya. Tidak terasa dia langsung terlelap dalam pelukan Darel.


Aku akan buat perhitungan jika kalian kembali mengganggu istriku!! tak kan aku beri ampun lagi jika ini terulang kembali!!! lihat saja besok!!! batin Darel.


********


Darel sudah duduk di kursi kebesarannya di kantor. Pagi ini dia sengaja berangkat lebih awal.


"Apa kau sudah menghubungi dia?" tanya Darel pada Wisnu.


"Sudah tuan!! mungkin dia sedang dalam perjalanan!!" jawab Wisnu.


"Adi, kau sudah melakukan apa yang aku perintahkan tadi pagi?" tanya Darel pada Adi yang berdiri didekat Wisnu.


"Sesuai perintah anda, tuan!! semua sudah beres!!" jawab Adi.


Tok...tok...tok...


"Permisi tuan! ada seseorang yang ingin bertemu dengan anda. Dia bilang anda yang mengundangnya untuk kemari!" ucap Nurul yang berdiri di depan pintu ruangan Darel.

__ADS_1


"Ijinkan dia masuk!!" perintah Darel.


"Selamat pagi, pak!" sapa pria yang berusia empat puluh lima tahun itu.


"Silahkan masuk, pak Abdulah!!" ucap Darel mempersilahkan tamunya masuk.


Tamu itu adalah pak Abdulah, paman Mentari. Seperti janjinya semalam Darel akan mempekerjakan pak Abdulah lagi ke perusahaannya. Hal itu dia lakukan agar istrinya tidak tertekan dengan bibinya jika dirinya tidak menerima paman Mentari bekerja di perusahaannya.


"Anda pasti sudah tahu kan tujuan anda dipanggil kesini?" tanya Darel dengan wajah datar.


"I....iya pak!! sebelumnya saya minta maaf atas kelancangan istri saya dengan menemui Mentari!! saya benar-benar tidak tahu kalau dia datang menemui Mentari dan meminta pekerjaan untuk saya di perusahaan anda!" ucap pak Abdulah.


Memang dia tidak tahu apa-apa. Dia baru tahu saat pagi ini seseorang meneleponnya dan memberitahu untuk datang di perusahaan utama Sanjaya Group.


# Abdulah POV #


Pagi ini seperti bagi biasanya aku bangun pagi lalu memetik beberapa sayuran untuk dimasak oleh Surti. Semenjak pemberhentian kerja oleh pak Darel tempo hari, aku belum lagi mendapatkan pekerjaan. Sudah ku coba melamar di beberapa tempat namun hasilnya nihil. Tidak ada satu pun tempat yang mau menerimaku bekerja. Ahh, Malang sekali nesibku inii. Belum lagi Aziz putraku yang sudah mendesak untuk secepatnya mengirimkan uang guna biaya kuliahnya. Aku memang tidak setuju sedari awal putraku itu berkuliah ditempat kuliahnya sekarang yang menurutku sangat mahal. Bayangkan saja satu bulan biayanya hampir menghabiskan hampir dua juta untuk keperluannya sendiri.


"Mass!!! ada telepon nih katanya penting!!!" teriak Surti.


Aku yang saat itu berada di halaman belakang bergegas mengambil air bersih guna mencuci tanganku. Tidak lupa juga sayuran yang tadi aku petik dibawa lalu diletakan dimeja dapur.


"Telepon dari siapa, dek?" tanyaku penasaran.


"Entahlah!! palingan juga dari perusahaan pak Darel!" ucap Surti.


Dari cara bicaranya dia terlihat sangat yakin dengan apa yang dia bicarakan. Ragu-ragu aku meletakkan ponsel itu ditelingaku.


"H..haloo, ya ini saya sendiri!! apa? pagi ini?!! jam delapan?? ahh baiklah-baiklah, terimakasih atas informasinya!!! baiklah, saya tidak akan terlambat!! terimakasih.... terimakasih!!!" ucapku kala bertelepon dengan pak Wisnu orang kepercayaan pak Darel diperusahaan.


Sejenak aku teringat dengan ucapan Surti saya dia mengatakan bahwa penelepon ini dari perusahaan pak Darel.


"Kamu tahu darimana kalau pihak perusahaan Sanjaya Group yang menelepon?" tanyaku penuh selidik.


Kulihat wajah Surti pucat karena pertanyaanku? apakah dia dalang dibalik pemanggilan aku ke kantor tadi? apa lagi yang dia lakukan sekarang?


"Jawab aku Surti!!!" ucap ku sedikit membentak.


Lagi! kulihat dia tersentak akibat bentakanku.


"Aku....aku...kemarin aku menemui Mentari dan memintanya untuk bicara pada pak Darel agar memasukkan mu ke perusahaan lagi." ucap Surti lirih namun masih bisa aku mendengarnya.


"Astaghfirullah hal'adzim, Surtiii!!! ulah apalagi yang kau buat sampai-sampai aku dipanggil datang ke perusahaan?! tidak cukup kau membuatku dipecat hari itu??? jadi saat kau bilang mau pergi ke rumah mas Andi itu bohong? terus makanan yang kamu bilang pemberian dari mbak Sari itu juga bohong??" tanyaku kesal.


Surti hanya menganggukkan kepalanya dengan terus menunduk. Astaghfirullah hal'adzim, kenapa dia bisa senekat ini dalam berbuat. Memang kemarin siang dia ijin untuk kerumah mbak Sari dan mas Andi, orang tua Daniar. Aku pun tidak menaruh curiga padanya bahkan tatkala dia meminta uang seratus ribu untuk ongkos pun aku tidak curiga sama sekali. Lalu saat dia pulang, dia membawa banyak plastik kresek. Kalian tahu apa isinya? ya, makanan yang enak-enak dan banyak lagi.


Tentu aku bertanya uang dari mana membeli semua ini. Karena tidak mungkin jika hasil dari pemberianku saat dia akan berangkat keluar karena aku yakin harga dari ini lebih dari seratus ribu. Saat aku tanya dia bilang diberi oleh mbak Sari. Aku pun tidak bertanya lagi karena percaya dengan ucapannya, namun hari ini aku tahu darimana makanan enak kemarin.


"Aku kan cuma bantu kamu, mas!! Azizi sudah merengek tuh untuk dikirimi uang!! masa kamu tega anakmu berhenti kuliah?" ucapnya tanpa rasa bersalah.


Aziz memang ngekos di dekat kampusnya. Cuma dia sering pulang juga.


"Makanya dulu aku bilang, kuliah ditempat yang biasa saja!! kamu nih ngeyel tetep menyekolahkannya di kuliah yang elit!! sekarang mau pakai apa kita bayarnyaa!! aku dipecat juga gara-gara kamu memfitnah Tari!!" ucapku kesal.


"Kok jadi aku sih yang salah, mas? aku begitu kan biar kita ada muka didepan tetangga!! malu lah kalau anak kita ini cuma tamatan SMA!!"


"Ya kalau dia pintar tidak masalah!! orang otaknya aja pas-pasan mau sekolah di manapun sama saja!!! dahlah, capek aku sama kamu!! aku mau mandi dulu!!" ucapku pergi.

__ADS_1


Tidak ku hiraukan panggilan Surti dan terus melangkah ke kamar mandi. Semoga saja aku dipanggil untuk bekerja lagi, bukan untuk dimarahi. Malu sekali aku jika benar aku dipanggil hanya untuk diceramahi atau lebih parahnya lagi dipermalukan didepan banyak orang atas kesalahan istriku itu.


__ADS_2