
Dari dalam rumah, Daniar, mama, papanya juga yang lain ikut mendengarkan keributan dari luar rumah. Yah, keributan Darel dan kekasih mereka masing-masing. Semakin mereka bertengkar membuat Daniar semakin ingin menghajar Darel karena semua yang terjadi secara tidak langsung dijelaskan dalam pertengkaran itu. Sekilas Daniar melihat kearah papanya. Rona wajah merah padam dan tangan mengepal. Ya Tuhan, papanya terlihat sangat marah. Benar-benar marah! mamanya menggenggam tangan papa agar bisa menurunkan amarahnya namun sepertinya itu tidak berlaku lama.
Karena geram dengan Darel yang sok suci, Daniar dengan kasar langsung membuka pintu.
"Oh jadi begitu ya kamu dibelakang sahabatku?! kurang puas dengan 'servis' Mentari sampai-sampai kau mencari ja*ang lain untuk kau tiduri?!!!" teriak Daniar marah.
Emosinya sudah memuncak, tidak bisa dia bendung lagi mengingat wajah sendu sahabatnya akibat ulah Darel. Jika membunuh tidak berdosa mungkin itu yang akan Daniar lakukan kepada Darel meskipun tahu siapa Darel sebenarnya karena Zanu sudah bercerita semuanya kepadanya.
"Dimana Mentari?!" tanya Darel saat melihat pintu terbuka namun tidak melihat wanitanya.
"Dimana wanitakuu?!!!" bentak Darel.
Buk.....
Sebua bogem mentah diterima Darel dengan gratis dari papa Daniar.
"Wanitakuuu?? begitu kau memanggil putriku dan kau menyakitinya?! aku sudah mempercayakan dia untuk kau buat bahagia, tapi seperti ini caramu memperlakukan dia?!!! dimana tanggungjawab mu sebagai seorang laki-laki dan pemimpin keluarga?!!!" ucap papa Daniar marah.
Darel menyeka ujung bibirnya yang berdarah. Perih, namun masih bisa dia tahan. Rasa sakit di ujung bibirnya dikalahkan dengan rasa kesal pada dirinya sendiri.
Kau bodoh Darel!!!! seharusnya kau menurut dengan pendapat Zanu dan yang lain namun kau tidak melakukannya dan inilah yang terjadi!!! batin Darel.
"Jawab aku seperti inilah kau memperlakukan putrikuuu?!!!!! jika aku tahu kau akan berbuat sedemikian rupa untuk menyakitinya, tidak akan pernah aku biarkan kau hadir dalam hidupnya?!!! bahkan bayang-bayang mu pun tidak akan aku ijinkan!!!!!" ucap papa Daniar geram.
Emosi memuncak membuat papa Daniar ingin lagi dan lagi menghajar Darel. Namun sayang istrinya menahannya untuk berbuat lebih jauh sehingga hanya lontaran kata saja yang bisa dia lakukan.
"Maafkan aku pa, tapi aku juga tidak mau seperti ini. Pretty hanya...." terdiam.
"Apa?! hanya pemuas na*sumu saja?! kau pikir mentari itu robot? kau pikir dia tidak punya perasaan? kau pikir hatinya terbuat dari batu? kau pikir dia boneka yang hanya akan diam saja jika kau sakiti? jangan samakan sahabatku dengan wanita mura*anmu itu! dia terlalu berharga untuk dia yang hanya seonggok batu jalanan!" ucap Daniar.
"Darel temui Mentari dan bicarakan masalah kalian berdua! dia ada dikamar!" ucap mama Daniar melerai.
"Ma, kenapa mama mau mempertemukan dia dengan Tari? mama mau Tari disakiti lagi? usir saja pria brengsek yang tidak cukup dengan satu wanita ini!!! membiarkan dia menginjak rumah kita saja itu sudah untung baginya, tidak perlu menemui Mentari karena tidak akan aku biarkan dia mendekati sahabatku lagi!!" ucap Daniar menatap tajam kearah Darel.
"Iya ma, kalau perlu biar papa hajar dia!!!! dia pikir dia siapa seenaknya mempermainkan putri kita! aku masih hidup untuk membelanya sebagai seorang ayah!!" ucap papa Daniar kembali mengepalkan tangannya geram.
"Pa, Daniar! aku mohon biarkan aku menemui Tari! aku ingin meluruskan masalah ini saja!" ucap Darel memohon.
Darel tahu dia salah. Berkilah pun tidak ada gunanya karena ini murni kesalahannya meskipun niatnya untuk menghancurkan Pretty.
"Niar, papa, biarkan dia menemui Mentari. Ini urusan rumah tangga mereka. Biarkan mereka yang menyelesaikan masalahnya. Jika mereka tidak bisa kita sebagai orang tua harus jadi penengah. Mama tidak membenarkan sikap Darel kepada Mentari, tapi mama juga tidak membenarkan papa untuk memisahkan suami-istri. Dosa jika kita ikut campur masalah rumah tangga mereka tanpa diminta!" ucap mama Daniar terlihat meredam emosinya.
Disaat-saat seperti ini, berpikir dengan kepala dingin sangat dibutuhkan. Karena terbawa emosi bisa saja membuat kita tidak berpikir jernih.
__ADS_1
"Makasih, ma atas pengertiannya!" ucap Darel hendak melangkah masuk.
Baru saja satu langkah memasuki rumah, mama Daniar menghentikan langkah Darel.
"Jangan berterimakasih padaku, aku seperti ini karena tidak mau menanggung dosa atas apa yang kau lakukan. Jika mengingat semua yang sudah kau perbuat kepada putriku yang lain, sebagai ibunya aku tidak akan pernah menerimanya. Lillahi ta'ala, sebagai seorang ibu aku bisa mengutukmu dengan kesengsaraan karena sudah mendzolimi putriku!"
Deg...
Kalimat sederhana namun berhasil menusuk sangat dalam ke hati Darel. Meski dengan wajah datar mama Daniar mengucapkannya, namun terdengar seperti sumpah serapah seorang ibu untuk orang yang telah terlalu dalam melukai putrinya. Darel tidak terkejut jika keluarga Daniar sangat menyayangi Mentari. Namun dia hanya iri, karena kasih sayang mereka ditunjukkan dengan berusaha membahagiakan Mentari. Justru kasih sayang Darel membuatnya secara tidak langsung menyakiti Mentari. Dia malu. Sangat. malu dengan perbuatannya.
Darel kembali melangkahkan kakinya memasuki rumah Daniar, menuju kamar tempat Mentari menyembunyikan dirinya dari orang lain. Darel tahu saat ini Mentari pasti tengah menangis dalam kegelapan, menyembunyikan tubuhnya yang rapuh dari terangnya dunia luar.
Tok...tok...tok......
"Tari! buka pintunya sayangg!!!! Mentari, aku mohon dengarkan aku dulu!!! sayangg!!! ini akuuu, buka pintunya!!!" teriak Darel berusaha memanggil Mentari berulang kali namun tidak ada jawaban dari dalam sana.
"Tari!!! dengarkan aku dulu, aku mohon!" ucap Darel memohon.
Air matanya tanpa terasa jatuh begitu saja. Perih, sakit, merasa bersalah, seperti itu yang tertangkap dari sorot mata Darel. Mau bagaimana lagi, semuanya sudah terjadi. Kini menjelaskan semua kepada Mentari adalah jalan satu-satunya berharap Mentari mengerti dan memaafkannya.
"Tari, aku mohon buka pintunya sayang!!!" ucap Darel lagi.
"PERGIIII!!!! PERGI DARI SINI!!!! AKU TIDAK INGIN MELIHAT WAJAHMUUU!!! PERGIIIIII!!!" teriak Mentari dari dalam kamar.
Suaranya terus bergema ditelinga Darel. Ibarat pisau yang langsung tembus ke jantungnya. Seperti itulah ucapan Mentari tadi, sangat melukainya.
Darel menempelkan keningnya ke daun pintu dengan masih mengetuk pintu itu berharap Mentari membukakan pintu. Percuma. Mentari tetap kekeh tidak ingin keluar kamar. Mungkin terlalu dalam luka yang dia perbuat saat ini hingga melihatnya saja Mentari tidak mau. Jijik. Mungkin itu yang Mentari rasakan jika melihat atau bahkan mengingat Darel. Begitu pikiran Darel.
"Sayang....tolong buka pintunya...aku bisa menjelaskan semuanyaaa....aku mohon dengarkan aku satu kali saja...aku mohon..." ucap Darel sendu.
Ya Tuhan, seorang Darel menangis? demi orang yang sama? sungguh pemandangan yang sangat langka. Bahkan terlalu langka. Semua orang sudah berada diruang tamu sekarang. Menanti Darel dengan cemas. Ada rasa marah, kesal, namun juga kasihan. Ah itu akibatnya tidak jujur kepada istri sendiri. Dalam setiap hubungan, kepercayaan adalah kuncinya. Ibarat pondasi jika diibaratkan sebuah rumah. Kokoh tidaknya bangunan rumah nantinya tergantung bagaimana pondasinya. Jika pondasinya kuat maka rumah itu akan berdiri kokoh hingga puluhan tahun. Jika pondasi rumah hanya asal-asalan saja, palingan tidak sampai satu tahun juga sudah roboh.
********
Merish baru saja mendapatkan telepon. Wajahnya langsung berubah setelah mendapatkan telepon itu. Terlihat oleh tuan Ardi dia berkali-kali menghela nafas panjang seolah mengatur suasana hatinya.
"Ada apa Merish? apa ada masalah?" tanya tuan Ardi.
Mereka sekarang tengah berada diluar negeri karena urusan bisnis.
"Tuan, sepertinya kita harus kembali k Indonesia secepatnya!" ucap Merish.
"Kenapa? apa ada masalah?" tanya tuan Ardi menghentikan ketikannya di laptop.
__ADS_1
"Tuan muda dan nona Mentari berselisih paham lagi, tuan!" ucap Merish.
"Apa?! apa lagi yang dilakukan bocah tengik ituu??!!!" ucap tuan Ardi yang langsung menduga Darel lah penyebab masalah itu. Lagi.
Merish menceritakan semua yang dilaporkan anak buahnya ditelepon tadi. Wajah tuan Ardi langsung berubah seperti menahan marah. Tangannya mengepal, seolah anak kandungnya itu adalah Mentari dan bukan Darel. Atau mungkin karena tuan Ardi sudah tahu sifat dan sikap Darel selama ini hingga membuatnya berpihak kepada Mentari yang baik dan lebih bersikap dewasa.
"Benar-benar anak itu!! aku dengan tenang meninggalkan mereka dan kesini karena percaya dia akan mengurus semuanya termasuk menjaga Mentari. Tapi dia malah....." ucap Tuan Ardi tidak melanjutkan kembali kata-katanya.
Mungkin saking geramnya dia hingga kehilangan kata-kata untuk Darel.
"Siapkan pesawat jet, kita kembali ke Indonesia sekarang!" perintah tuan Ardi.
"Baik tuan!" ucap Merish.
"Dimana istriku?" tanya tuan Ardi kepada Joni.
Yah, pak Joni juga ikut bersama dengan Merish sebagai kaki tangan tuan Ardi.
"Ada diruang tengah tuan!" jawab pak Joni.
"Baiklah!" ucap tuan Ardi berdiri dari duduknya setelah menutup laptopnya.
Tuan Ardi menghampiri istrinya yang tengah duduk ditemani teh dan camilan.
"Ma!" panggil tuan Ardi.
"Eh, pa! sini! kita makan kue!" ajak mama Darel.
"Tidak dulu!" ucap tuan Ardi duduk disamping istrinya.
"Ada apa, pa? kok mukanya ditekuk gitu? apa ada masalah?" tanya nyonya Ardi.
"Kita kembali ke Indonesia sekarang!" ucap tuan Ardi.
"Apa? loh kenapa? emang urusan papa sudah selesai?" tanya nyonya Ardi.
"Belum! hanya saja Darel membuat masalah dengan Mentari hingga terjadi cekcok diantara mereka!" jelas tuan Ardi.
"Apa? ya Tuhan, Darel berbuat apa lagi sih sampai-sampai mereka bertengkar lagi?! bukannya sebelumya mereka baik-baik saja?" tanya nyonya Ardi.
"Iya maka dari itu kita kembali sekarang sekalian cari tahu apa yang dilakukan Darel sekarang. Jangan-jangan seperti masalah yang dulu!" ucap tuan Ardi.
"Ya sudah mama siap-siap dulu kalau begitu. Kalau sudah kita langsung pulang!" ucap nyonya Ardi berdiri.
__ADS_1
Nyonya Ardi memasuki kamar untuk bersiap-siap pulang. Ada perasaan khawatir mengenai anak dan menantunya ini. Jangan sampai karena masalah ini Darel kehilangan Mentari untuk selama-lamanya.
Ya Tuhan, lindungilah anak dan menantuku! jaga rumah tangga mereka agar baik-baik saja. Aminn! batin nyonya Ardi.