Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 225


__ADS_3

Hingga subuh tiba Mentari masih belum bisa memejamkan matanya lagi. Segala cara sudah dia coba agar kembali tidur, namun hasilnya nihil.


"Duhhh kenapa jadi gini sihhh!!!" keluh Mentari merutuki otaknya.


"Nggak.... nggak....ngakkk!! Tari, kamu harus fokus, jangan mikir yang aneh-aneh!" ucap Mentari memberi motivasi kepada dirinya.


"Aaaaa tapi nggak bisaaa!" rengek Mentari yang kemudian merebahkan dirinya diatas kasur.


Karena saking lelahnya atau memang sudah mengantuk lagi, Mentari mulai tertidur dengan posisi telentang dan kaki yang menjuntai ke lantai.


Tok....tok....tok....


Suara ketukan pintu mengagetkan Mentari. Mentari pun sempoyongan sembari membuka pintu.


"Huahhhhhmmm, apa sih kakkk?!" tanya Mentari malas sambil menguap.


"Kamu masih tidur jam segini? sakit? atau apa? nggak biasanya loh kamu bangun jam segini?" tanya Candra.


Yah, Candra mengetuk pintu kamar Mentari untuk mengajaknya sarapan pagi. Candra disuruh oleh mama Daniar untuk mengajaknya sarapan.


"Jam berapa sih emangnyaa?!" tanya Mentari masih dengan mata terpejam.


"Jam setengah delapan!" ucap Candra menekankan setiap katanya.


"AAPAAA???!!!! kenapa kakak nggak bangunin dari tadi sihh, akhhh!" omel Mentari.


Brakkk....


Mentari menutup pintu kamarnya dengan sangat kencang membuat Candra yang berdiri diluar terpaku bingung.


"Kenapa sih tu anak?" tanya Candra bingung.


"Cepat yaa, udah ditunggu tuh sama yang lainn!" teriak Candra di depan kamar Mentari.


"Yaa!" sahut Mentari dari dalam kamar.


Candra kembali ke meja makan dimana ada papa dan mama Daniar yang tengah meletakkan makanan diatas meja.


"Loh, Tari mana, Can?" tanya mama Daniar.


"Cuci muka mungkin, tan! tumben tuh anak baru bangun jam segini!" ucap Candra mengambil roti tawar lalu mengoleskan selai strawberry diatasnya.


"Loh tumben? biasanya dia bangun pagi loh! sakit mungkin?" tanya mama Daniar.


"Nggak tau, tan! tapi kayaknya enggak deh, orang tadi nutup pintunya kenceng banget kok!" ucap Candra.

__ADS_1


Lima belas menit berlalu, Mentari ikut bergabung di ruang makan. Disana hanya Mentari, Zanu, dan Daniar saja yang belum datang sehingga mereka menunggu ketiga orang itu.


"Ma, maaf ya Tari tadi nggak bantuin mama!" ucap Mentari merasa bersalah.


Mentari masih berdiri di belakang Candra.


"Iya nggak apa-apa kok! kamu pasti capek kan habis perjalanan jauh!" ucap mama Daniar.


Mentari tersenyum kikuk mendengar ucapan mama Daniar.


"Loh Niar sama Zanu mana ma?" tanya Mentari yang tidak melihat pasangan pengantin baru itu.


Mentari mulai duduk di kursi dekat Candra dan berseberangan dengan Galih.


"Biasalah pengantin baru!" sahut papa Daniar sambil tersenyum penuh arti membuat Mentari mengerti.


Tidak lama berselang, Daniar dan Zanu keluar dari kamar mereka. Yah namanya juga pengantin baru, pasti maunya lengket terus sama pasangan.


"Pagi!" sapa Zanu.


"Pagi!" jawab semua orang.


Zanu menarik kursi untuk Daniar lalu memposisikan kursi tempat duduk Daniar agar nyaman saat makan.


"Cieee pengantin baru! habis main berapa ronde semalam?" goda Galih.


Semua orang menatap ke arah Mentari yang tersedak saat makan. Candra dan Galih dengan cekatan memberikan air di gelas masing-masing kepada Mentari. Mentari yang merasa aneh pun memilih meminum dari gelasnya sendiri.


"Kamu tuh aneh deh, Tar! orang yang digoda Zanu sama Daniar, kenapa kamu yang tersedak? hahahha!" goda papa Daniar.


Mentari menjadi malu karena hal itu. Bayangan pagi tadi kembali muncul diingatannya. Apalagi saat ini ujung rambut Daniar masih sedikit basah. Pasti mereka habis keramas karena aktivitas semalam. Kira-kira mereka habis bermain berapa ronde yaa? eh astaghfirullah hal'adzim, jauhkan pikiran itu Tari! batin Mentari.


Mentari mulai memakan sarapannya namun pikirannya entah kemana. Candra dan Galih memperhatikan gerak-gerik Mentari yang dinilai aneh pagi ini.


"Kamu kenapa, Tar?" tanya Galih.


Mendengar pertanyaan Galih membuat Mentari jadi pusat perhatian. Mentari menoleh ke samping kanan kirinya menatap semua orang yang kini menatapnya dengan tatapan aneh.


"Kenapa? aku? aku baik-baik saja kok, hehehe!" ucap Mentari cengengesan.


"Kamu kalau sakit tinggal saja dulu disini, Tari!" ucap Daniar yang juga khawatir.


"Ah....nggak kok! cuma....cumaa...."


"Jangan bilang kamu kepikiran sama dia?" tanya Daniar dengan tatapan mengintimidasi Mentari.

__ADS_1


"Apa?" terkejut tapi bingung.


"Darel! siapa lagi?!" dengus Daniar kesal.


"Benar itu Mentari?" tanya mama Daniar lembut.


"Emmm....."


"Kalau kamu masih ingin kembali, kami akan menyetujui apapun keputusanmu. Namun dengan satu syarat bahwa jika dia mengulangi lagi kesalahannya, maka kami akan membawamu kembali ke rumah ini! tidak perduli saya papa angkatmu, atau kita tidak ada hubungan darah sekalipun, bagiku kau adalah putriku juga sama seperti Daniar. Dan sebagai seorang ayah aku tentu tidak terima jika anak-anak ku disakiti meskipun itu dari anggota keluargaku sendiri!" ucap papa Daniar panjang lebar.


Galih tahu ayahnya saat ini tengah membicarakannya. Sentilan keras itu terasa menyakitkan ditelinga Galih, namun itulah kenyataannya. Meskipun tinggal dalam satu atap, hubungan ayah dan putra itu belum membaik sepenuhnya. Mungkin rasa kecewa masih dirasakan papa Daniar, namun batinnya juga sangat merindukan sang putra.


"Kamu tahu Mentari, selama ini dia menghabiskan waktunya di kantor! jarang sekali dia pulang ke rumah. Mungkin seminggu dua kali, itu pun tidak pasti. Dia lebih sering menghabiskan malamnya di bar Arul, ataupun dimarkas Tomi. Alkohol selalu menemani malamnya selama ini karena jika tidak menenggak minuman itu dia akan seperti orang kesetanan. Ku harap kau memikirkan perasaanmu untuk mengambil keputusan!" ucap Zanu pelan namun pasti.


Candra tidak suka dengan cara bicara Zanu yang seolah ingin Mentari kembali ke Darel.


"Aku akan pikirkan hal itu lagi!" ucap Mentari.


"Oh ya Tari, kau tahu saat mereka kembali ke pulau Zanu untuk mencari seorang wanita?" tanya Daniar mengalihkan topik tentang Darel.


"Iya? tentu aku tidak akan lupa hari itu!" ucap Mentari tersenyum getir.


"Ternyata yang mereka cari adalah.....Shiren!" ucap Daniar.


"Hah?!!! benarkah? bagaimana bisaa?!!" tanya Mentari terkejut sekaligus tidak menyangka.


"Iya, ternyata Shiren bukan anak kandung dari keluarganya yang sekarang. Dia diadopsi saat berusia sekitar satu tahunan. Keluarga angkatnya merahasiakan ini darinya dan meminta untuk tidak membahas masalah ini dihadapannya. Mereka memperlakukan dia seperti anak kandung sendiri!" jelas Daniar.


"Lalu kalau orang tuanya sebaik itu kenapa dia tidak berusaha mencari Shiren ketika dia ada disini?" tanya Mentari.


Yah, aneh saja rasanya jika orang tua sebaik itu mencampakkan anaknya begitu saja. Apalagi Shiren sudah lama menetap dirumah Tomi tanpa ada usaha untuk Mencari Shiren dari pihak keluarganya.


"Orang tuanya sudah mencari namun hanya ada disekitar kota tempat mereka tinggal saja. Mereka berpikir Bram tidak akan berani keluar dari wilayah itu karena ternyata Bram adalah buronan dibeberapa daerah karena seorang penyelundup barang terlarang. Namun ternyata Shiren kabur sampai sini." jelas Zanu ikut menimpali.


"Lalu? dimana Shiren sekarang?" tanya Mentari penasaran.


"Ada dirumah keluarganya! mungkin akan lama mereka ada disana! menenangkan dirinya dulu mungkin!" ucap Zanu.


"Tomi?"


"Pulang pergi!" ucap Zanu singkat.


"Kalau ada urusan disini baru dia ke sini! selebihnya dia akan ada disana!" tambahnya lagi.


"Owh!!!" ucap Mentari mengangguk.

__ADS_1


"Hehh, kok pada bicara sih ayo dong dimakan sarapannya! ngobrolnya nanti ajaa!" ucap mama Daniar.


"Iya ma!" jawab mereka serempak.


__ADS_2