
Acara pernikahan siri Bagas dengan Angel didesa itu hanya berlangsung dua jam saja, karena selebihnya mereka kembali ke Jalur. Vian ikut bersama Angel dirumah Bagas karena Angel tidak tega melihat kakaknya tinggal di rumah itu sendirian. Awalnya Vian menolak karena tidak ingin merepotkan adiknya, namun karena dipaksa terus oleh Bagas dan juga Angel, Vian akhirnya luluh juga dan ikut ke rumah Bagas. Bagas juga berencana merombak rumah nenek Angel supaya lebih bagus lagi kemudian bisa disewakan.
Darel tidak jadi mengunjungi rumah kepala bagian pengarsipan karena melihat istri dan anaknya kelelahan akibat acara ini. Oh ya mengenai Surti, dia masih saja menyinggung Mentari walau bukan secara langsung melainkan melalui aplikasi Facebo**. Kata-kata yang dia ketikkan jelas ditujukan untuk Mentari. Darel mendiamkannya saja walaupun ingin rasanya dia menghilangkan wanita itu dari muka bumi ini. Namun Darel mengambil jalan lain yaitu memblokir semua sosial media dari orang-orang yang kemungkinan bisa mengganggu mental istrinya. Sejauh ini semuanya aman-aman saja.
"Tuan, apa anda tidak ingin mengunjungi markas kita? sudah lama kita tidak kesana, begitupun dengan anggota yang lain?" tanya Adi.
"Hemm, boleh juga!! anggap saja ini jamuan makan-makan kita yang terakhir kali. Setelah ini aku ingin pensiun menjadi ketua mafia. Aku lelah dan ingin fokus pada istri dan calon anakku!" ucap Darel.
"Apa tuan yakin? lalu siapa yang akan menggantikan anda jika anda pensiun?" tanya Adi terkejut begitu pula Lukas dan Harri.
"Tidak ada! aku membebaskan mereka jika ingin tetap bersama ku, maka aku akan memberi mereka pekerjaan yang lebih layak! tapi jika mereka memilih pergi, ya aku tidak bisa mencegah mereka!" ucap Darel.
"Baiklah tuan, jika itu memang keputusan anda!" ucap Adi.
Dia pun menelepon seseorang dan memberitahukan bahwa Darel akan mengadakan pesta di markas besar. Setelah selesai menelepon, mereka pergi menuju markas besar.
********
Darel baru sampai ke markas besar. Semua kelompok sudah berkumpul disana. Mereka berpikir akan ada misi lagi setelah sekian purnama menganggur.
"Tuan! apa ada misi besar hingga kami dikumpulkan setelah sekian lama?" tanya Yuda.
Bukannya menjawab pertanyaan Yuda, Darel malah memanggil ketiga anak buahnya untuk masuk. Adi, Harri, Lukas dan anak buah mereka berdatangan satu-persatu memasuki ruangan membawa banyak makanan serta alkoh**.
"Malam ini kita pesta besar!! silahkan makan dan minum sepuas kalian, karena setelah ini, aku bebaskan kalian untuk tinggal menjadi anak buahku atau tidak!" ucap Darel.
"Maksud anda bagaimana, tuan?" tanya Iyan.
"Benar! apa kami melakukan kesalahan?" tanya Maretha.
"Tidak!! kalian tidak melakukan kesalahan apapun! aku hanya ingin menikmati hidup bersama keluarga kecilku saja! aku tidak ingin menghambat kehidupan kalian maka aku bebaskan kalian memilih mau tetap mengabdi padaku, atau keluar dari kelompok ini! kalau kalian memilih keluar, aku akan memberi hadiah sebagai rasa terimakasih ku karena kalian telah setia padaku!" ucap Darel.
"Tuan, bolehkah aku meminta satu syarat?" tanya Iyan ragu.
"Katakan!" ucap Darel.
"Jika kami semua memutuskan untuk pergi, bolehkan jika suatu saat jika anda memerlukan bantuan kami, anda akan langsung menghubungi kami?" tanya Iyan.
"Tentu saja! kalian adalah keluarga ku juga! aku akan selalu mengingat kalian!" ucap Darel tersenyum lega.
__ADS_1
"Oh ya, Yuda!" ucap Darel menatap ke arah Yuda.
"Iya tuan?" tanya Yuda.
"Setelah ini kau bisa menikah dengan Sandra! aku tahu kalian saling mencintai. Namun karena tuntutan tugas dan profesionalitas, mengharuskan kalian untuk memendam perasaan itu!" ucap Darel.
"Tu...tuan?! anda...sudah tahu itu?" tanya Sandra gugup.
"Aku tidak tahu awalnya! tapi setelah bertemu Mentari, aku dapat melihat binar mata yang terpancar dari mata kalian. Hal yang sama juga aku rasakan saat bertemu dengan istriku!" ucap Darel.
"Tuan..."
Yuda kehabisan kata-kata untuk mengungkapkan betapa bahagianya dia karena Darel telah merestui cintanya dengan Sandra. Yuda akui saat Sandra baru bergabung dengan kelompok ini, Yuda telah memendam perasaan kepada Sandra. Namun dia sadar tidak boleh melibatkan perasaan dalam pekerjaannya. Namun sekarang, mimpi itu seolah-olah diwujudkan oleh Darel.
"Segeralah menikah! jangan lupa undanganku, aku akan datang bersama istriku!" ucap Darel.
Yuda memeluk Darel tanda dia sangat bahagia dengan keputusan Darel. Sandra yang berdiri tidak jauh dari sana ikut menitihkan air mata saking bahagianya.
"Ayo kita berpestaaa!!" ucap Darel.
Semua orang terbagi menjadi kelompok-kelompok kecil duduk disebuah bangku dimana ditengah mereka terdapat meja yang penuh dengan makanan dan minuman. Semalaman ini, mereka habiskan dengan berpesta. Darel juga menyiapkan speaker untuk mereka yang ingin bernyanyi. Meski dengan suara pas-pasan, mereka menikmati nyanyian rekan mereka.
********
"Dari mana aja kamu semalaman nggak pulang? mana bau alkoh** lagi!!! kamu kan udah janji buat nggak minum minuman itu lagi!!" cerca Mentari.
"Maaf, aku semalam tidur di markas!! kami berpesta untuk terakhir kalinya!! maaf yaa!" ucap Darel masih sedikit mabuk.
"Dahlah!!" ucap Mentari merajuk.
"Sayang...."
Buk....
Darel ambuk ke lantai dengan posisi tengkurap mirip kodok. Adi, Harri, dan Lukas awalnya ingin menolong namun mendapat tatapan tajam dari Mentari membuat mereka urung membantu Darel.
Maaf tuan, kami tidak jadi membantu tuan!! tatapan nona Mentari sangat menakutkan!! kalau anda saja bisa takut apalagi kamii!! batin Lukas.
"Dah, biarin aja dia disitu!! kalian tinggalin aja dia!!" ucap Mentari garang.
__ADS_1
"B...baik nona!" ucap mereka bertiga.
Mereka pun bubar meninggalkan Darel yang tertidur dengan posisi tengkurap mirip kodok.
"Loh, bu kok ayah tidur disini?" tanya Iwang.
Iwang yang sudah siap dengan setelan seragam dengan tas di punggungnya terheran-heran karena ayahnya tidur dilantai.
"Iya!! ayah, ibu hukum karena semalam tidak pulang! kamu berangkat sama kak Lukas yaa! biar ibu yang bilang!" ucap Mentari.
"Iya Bu!! Iwang berangkat sekolah dulu yaa, assalamualaikum!!" ucap Iwang setelah mencium telapak tangan Mentari.
Iwang pun berangkat diantar oleh Lukas.
********
Sesampainya disekolah Iwang, Roni langsung datang menghampirinya. Sejak mengenal Iwang, Roni memang seperti itu. Setiap pagi dia akan menunggu kedatangan Iwang didepan gerbang bila dia datang lebih dulu. Hal serupa juga dilakukan oleh Iwang. Iwang sengaja meminta Lukas menurunkannya di bawah pohon tidak jauh dari sekolahnya. Maka dari itu tidak ada yang tahu kalau Iwang diantar mobil mewah. Yahh, kecuali guru dan staf sekolah sih.
"Pagi Iwang!!!" sapa Roni dengan wajah berseri-seri.
Yah, selalu seperti ini hari-hari Iwang dimulai. Roni sudah seperti sahabatnya sendiri. Mereka kemana-mana selalu berdua. Ada lagi teman mereka bernama Iqbal dan Kiki. Kiki anak perempuan sendiri di circle mereka.
"Pagi, Roni!! ayo kita masuk!! udah mau bel!" ajak Iwan.
Mereka berdua berjalan beriringan memasuki kelas bersamaan dengan bel berbunyi. Hari ini jam pertama adalah bahasa Indonesia kemudian dilanjut dengan matematika. Semua murid belajar dengan rajin. Mereka memperhatikan setiap penjelasan dari guru yang mengajar. Tidak ada yang bermain saat jam pelajaran berlangsung.
Pukul sembilan, bel istirahat telah berbunyi. Semua siswa-siswi keluar kelas untuk bermain, makan siang, atau ke perpustakaan untuk meminjam dan mengembalikan buku. Tidak ada yang berada didalam kelas saat jam istirahat.
"Iwang, kamu mau jajan?" tanya Roni.
"Iya!! aku udah bawa uang kecil kok! jadi aku bisa jajan sendiri! kamu mau beli apa?" tanya Iwang.
"Beli cireng yuk!!" ajak Kiki.
"Ayuk...ayukkk!!" ucap Iwang, Roni, dan Iqbal.
Mereka pun antri untuk membeli cireng. Setelah mendapatkan cireng, mereka antri lagi untuk membeli minuman. Mentari juga telah meminta koki untuk memasak bekal untuk dibawa Iwang sebanyak empat buah. Cukup untuk mereka satu-satu. Meskipun telah dibawakan bekal, Darel diam-diam memberikan Iwang uang jajan satu lembar uang seratus ribuan. Itu sebabnya Iwang sering ditraktir jajan oleh Roni karena uang Iwang terlalu besar dan tidak ada kembaliannya.
Mereka berempat menikmati makanan mereka dengan riang gembira. Tepat saat makanan mereka habis, bel tanda pelajaran dimulai berbunyi kembali. Mereka memberikan sampah yang ada lalu membuangnya ke tempat sampah kemudian masuk kelas untuk mengikuti pelajaran selanjutnya.
__ADS_1