Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 224


__ADS_3

Galih menatap Mentari dengan mata berbinar. Dia begitu merindukan wanita itu. Matanya kembali fokus menatap pria yang berdiri tidak jauh dari tempat Mentari.


Candra? batin Galih bertanya-tanya.


"Nak kamu tinggal dimana selama ini? kami khawatir dengan mu??" tanya mama Daniar mengusap lembut pipi Mentari.


"Aku tinggal bersama kak Candra, ma!" ucap Mentari menoleh kebelakang tempat Candra berdiri.


"Dasar anak nakal kamu yaa!" ucap papa Daniar langsung menarik telinga Candra.


"Aduh...aduh....aduh.. om....sakit omm..." teriak Candra kesakitan.


Candra meringis kesakitan merasakan tarikan kuat di telinganya.


"Huhh, kenapa kamu nggak bilang kalau Mentari sama kamu?" tanya papa Daniar sembari melepaskan tangannya dari telinga Candra.


"Habisnya Mentari yang nggak bolehin bilang sama kalian!" adu Candra seperti anak kecil yang terpojok.


"Apa? tidak...tidak... tidak Mentari!" ucap Zanu yang berada disamping Galih lalu berjalan mendekati Daniar.


"Jangan lakukan itu!" ucap Zanu.


Semua orang terheran-heran dengan maksud perkataan Zanu.


"Apa maksudmu?" tanya Daniar yang justru tersulut emosi.


"Maksud ku, kau masih istri Darel! kau tahu benar kan kalau Darel paling tidak suka miliknya disentuh wanita lain. Tari aku mengerti perasaanmu, kau juga membutuhkan penjagaan terhadap keselamatanmu saat jauh dari kami. Tapi kalau untuk tinggal satu rumah..." Zanu berhenti.


"Yang dikatakan Zanu ada benarnya juga nak, tidak baik seorang wanita dan seorang pria dewasa tinggal dalam satu atap tanpa ikatan pernikahan. Mama tahu kalau kalian sudah mengenal sejak kecil, tapi adat kita melarang pria dan wanita tinggal bersama sebelum menikah." ucap mama Daniar yang kurang setuju juga dengan keputusan Candra dan Mentari yang tinggal satu atap.


"Tapi tante, kami tidak tinggal berdua saja! ada asisten saya juga Alfi yang tinggal disana!" ucap Candra tidak setuju dengan pemikiran Zanu atau lebih tepatnya tidak mau berjauhan dari Mentari.


"Iya tante tau kamu tidak akan berbuat macam-macam. Tapi kalau sampai masyarakat tahu, Mentari akan dicap sebagai wanita yang tidak benar. Kau tahu benar kan bagaimana pedasnya mulut tetangga itu? benar dijadikan salah, yang salah semakin salah!" ucap mama Daniar memberi nasehat.


"Aku mengerti kok ma, nanti setelah pulang dari sini aku akan mencari rumah baru!" ucap Mentari yang mengerti maksud mama Daniar.


"Tari tidak bisa gitu dongg! kau disana sendirian, tidak punya siapa-siapa lagi selain aku! kalau kau tinggal sendiri lalu kenapa-kenapa gimana? siapa yang bisa menjagamu?" tanya Candra tidak setuju.

__ADS_1


"Kak, kita akan tinggal di rumah yang berbeda, tapi masih dalam lokasi yang sama!" ucap Mentari.


"Apa?" tanya Candra menaikkan satu alisnya.


"Kakak lupa ya kan di samping resort ada satu resort lagi yang belum berpenghuni. Aku bisa menyewa rumah itu untuk satu tahun kedepan!" ucap Mentari.


"Tap...tapi....tapi..."


"Benar kak Candra! sebaiknya begitu saja! aku juga tidak mau Mentari mendapat masalah nanti disana. Dia pergi untuk menenangkan diri, bukan menambah masalah!" ucap Daniar.


"Sayang bahasamu!" tegur Zanu.


"Iya maaf!" balas Daniar setengah berbisik.


Zanu berdecak pasrah. Entah kapan penyakit istrinya yang ceplas-ceplos itu hilang. Tapi kadang gemes juga saat melihat Daniar yang tengah mengomel, rasanya Daniar semakin ikut kalau lagi seperti itu.


"Tari!" panggil Galih mulai mendekat.


"Kak Galih? kak Galih udah keluar?" tanya Mentari terkejut.


Mentari sedari tadi tidak menyadari bahwa ada Galih juga disana.


"Owh!"


"Tari, aku minta maaf soal kesalahanku yang dahulu! aku terlalu berpikir sempit dalam menyikapi masalah hingga kau kehilangan janinmu! aku benar-benar minta maaf!" ucap Galih.


Mentari dapan melihat betapa menyesalnya Galih melalui sorot matanya itu.


"Tidak apa kak, mungkin Tuhan punya rencana lain untuk itu!" ucap Mentari.


"Eh kalian sudah makan? ayo kita kedalam dulu! kalian harus menginap disini malam ini ya! tidak boleh ada penolakan!" ucap papa Daniar.


"Sudah pasti dong om, aku juga udah lapar nih! lagian aku juga kangen keramaian rumah ini. Maklum lah diluar i cuma ditemani asisten doang, hehehe! " ucap Candra mengelus perutnya dengan senyum sumringah.


"Ihhh kak Candra nih dari dulu gitu terus! nggak cape apa sendirian mulu? cepet cari jodoh biar nggak kesepian!" ucap Daniar sembari bergelayut manja di lengan suaminya.


"Iya deh si pengantin baru!" ucap Candra merotasi matanya malas.

__ADS_1


"Sudah ayo masuk!" ajak mama Daniar.


Mereka mulai memasuki rumah Daniar. Di sebrang jalan terlihat sebuah mobil hitam terparkir begitu saja.


"Tuan sepertinya dugaan anda benar! nona Mentari datang di tengah malam karena menghindari anda!" ucap Adi.


"Tidak masalah! aku senang walaupun hanya bisa melihatnya dari sini! melihatnya tersenyum dan dengan keadaan baik-baik saja itu sudah cukup mengobati sedikit rasa rinduku!" ucap Darel masih menatap ke rumah Daniar yang sudah tertutup itu.


"Tuan, apa kita masuk kesana saja?" tanya Harri.


"Ishhh kau nih beg* apa tol*l sih?! kan nona Mentari bilang kalau tuan Darel menemuinya sebelum genap dua tahun dia akan menghilang selamanya!" ucap Adi menampar pipi Harri pelan.


"Ohh iya ya, aku lupa hehehe!" ucap Harri cengengesan.


"Kita pulang saja! aku sudah puas melihatnya bahagia!" ucap Darel.


Mobil pun mulai melaju kembali ke rumah Darel. Ditengah perjalanan, pikiran Darel hanya tertuju pada Mentari saja. Mentari terlihat lebih kurus dari saat terakhir pertemuan mereka. Atau hanya pemikiran Darel saja yang begitu? ah yang jelas dia sudah sedikit lega begitu melihat Mentari tadi.


********


Malam sudah begitu larut. Semua orang sudah tidur di kamar masing-masing. Candra tidur dikamar bersama Galih, sedangkan Mentari tidur dikamar tamu. Tentu saja karena kamar Daniar digunakan untuk pengantin baru.


Pukul dua dini hari, Mentari terbangun dari tidurnya. Dia kehausan hingga membuatnya terbangun. Karena air di botol minumnya sudah habis, Mentari pun keluar kamar untuk mengambil air minum.


Jarak kamar tamu dengan dapur tidak terlalu jauh. Letak kamar tamu berada di belakang ruang tamu, kemudian di samping kirinya agak jauh adalah kamar Galih dan disampingnya adalah kamar orang tua Daniar. Sedangkan kamar Daniar ada di dekat dapur.


Saat melewati kamar Daniar, samar-samar mentari mendengar suara-suara dari dalam kamar Daniar. Awalnya Mentari mengabaikannya begitu saja dan langsung menuju ke dapur. Namun saat mengambil air, suara itu terdengar cukup jelas. Astaghfirullah, itu suara *******!!


Mentari yang gugup dengan cepat mengisi air di botol minumnya lalu bergegas kembali ke kamarnya.


"Hah....hah....hah... dasar ya pengantin baru langsung tancap gas ajaa!" keluh Mentari dengan nafas yang memburu.


Mentari membuka tutup botol minumnya lalu meminumnya hingga tinggal separuh.


"Sebaiknya aku tidur lagi saja huh!" ucap Mentari lalu merebahkan tubuhnya diatas kasur.


Cukup lama Mentari berguling-guling namun tidak kunjung mengantuk.

__ADS_1


"Ayoo dongg mata, tidurr!!! jangan berpikiran yang aneh! kan kau sudah pernah melakukannya!" keluh Mentari pada dirinya sendiri.


__ADS_2