Suamiku Mr. Mafia

Suamiku Mr. Mafia
EPISODE 205


__ADS_3

Dipulau Zanu. Setelah makan malam, Darel berniat kembali ke kamarnya mengambil ponselnya yang kehabisan baterai karena mungkin dia lupa tidak mengisinya sekalian ingin menelepon Mentari karena rindu.


Baru saja membuka ponsel, sebuah pesan langsung muncul dari ponsel Aqis.


"Aqis? kenapa lagi dengan Pretty, haihhh!!!" keluh Darel.


Tentu saja masalah pertama yang menyangkut dengan Aqis adalah Pretty. Darel mengira Aqis melaporkan ulah Pretty lagi. Begitu membaca pesan yang Aqis kirim, seketika mata Darel melotot tidak percaya. Takut. Itu yang sangat terlihat dari raut wajahnya sekarang.


"Eh Rel, pinjam charger Arul dong aku lupa tidak bawa nih!" ucap Arul yang tiba-tiba memasuki kamar Darel dengan membawa segelas jus jeruk.


Tidak ada jawaban dari Darel. Arul mendekatinya penuh selidik. Mata Darel terus berfokus pada layar ponsel. Seketika Arul mengikuti arah pandang Darel.


Brushhhhhh....


Jus jeruk yang dia minum menyembur begitu saja saking terkejutnya.


"Rel? Mentari...."


Arul tidak berani melanjutkan kata-katanya, lebih tepatnya tidak sanggup mengatakannya. Bisa jadi Mentari saat ini tengah menangis meraung-raung karena mendapati kejutan mewah Darel Darel. Bisa jadi, itu yang dipikirkan Arul.


"A...aku....kita harus pulang sekarang!!!" ucap Darel kelabakan.


Dia berjalan tergesa-gesa keluar dari kamarnya.


"Eh, hei Darel tunggu duluuu!!" teriak Arul mengikuti langkah Darel dengan berlari.


"Rel....Darel!!! tunggu duluuu!!!" panggil Arul namun tetap tidak dihiraukan oleh Darel.


Diruang depan sambil duduk-duduk Tomi, Bagas, Zanu, Rohan, Jack, Adi, Harri, Lukas, dan Suli melihat Darel berjalan tergesa-gesa.


"Darel!!!! Darel tungguuuu!!!!' panggil Arul masih tidak dihiraukan Darel.


Sontak saja mereka semua berdiri dari duduknya bingung kenapa dengan Darel.


"Rul, kenapa dengan si Darel? kok buru-buru gitu?" tanya Tomi.


"Iya, apa ada masalah?" tanya Zanu khawatir.


Jangan bilang kalau Mentari tahu apa yang Darel perbuat terhadap Pretty. Oh tidak! membayangkannya saja Zanu tidak berani. Tapi melihat raut wajah takut dan khawatir Darel bisa jadi dugaannya itu benar adanya.


"Hah....hah....hah....tadi....tadi Aqis mengirim pesan kepada Darel berisi kalau Mentari sudah tahu semuanya!" ucap Arul ngos-ngosan.

__ADS_1


"APAAAAAAAA!!!!" teriak mereka semua serempak.


Sudah seperti paduan suara, teriakan mereka terasa memenuhi rumah ini.


"Bagaimana bisa? siapa yang beritahu? tidak mungkin Mentari bisa tahu kalau tidak ada yang memberitahu?" tanya Tomi.


Zanu langsung berlari menyusul Darel yang sudah keluar rumah.


"Eh, Zen! tunggu kami!" teriak Bagas ikut berlari menyusul Zanu.


Mereka semua berlari mengejar Darel termasuk Suli meskipun dia tidak tahu apa yang mereka bicarakan.


"Dwi, tunggu!" ucap Darel menarik tangan Darel.


Saat ini Zanu berhasil mengejar Darel. Tidak lama berselang yang lain juga sudah menyusul.


"Mentari, Zen! Mentari pasti salah paham! aku tidak ingin dia meninggalkanku lagi seperti dulu!" ucap Darel.


Tertangkap oleh Zanu betapa Darel tidak ingin kehilangan Mentari. Zanu akui kesalahan Darel terlihat sepele namun sangat fatal.


"Tenang dulu oke!" ucap Zanu menenangkan.


"BAGAIMANA AKU BISA TENANG!!! ISTRIKU DISANA PASTI TENGAH MENANGIS KESAKITANN!!! AKU HARUS PULANG SEKARANG!!!!!" teriak Darel marah tanpa sebab kepada Zanu.


Zanu menampar keras pipi Darel berniat menyadarkannya akan kesalahannya sekarang.


"Dengarkan aku duluuu!!! kita datang bersama dan pulang juga bersama! kita semua pulang bersamamu sekarang." ucap Zanu.


"Tapi ehem...Suli dan adiknya?" tanya Bagas.


"Kita bawa mereka! lagian tidak aman disini! mereka sudah tahu persembunyiannya dan pasti akan lebih mudah menemukan tempat ini meskipun dijaga banyak anak buah!" ucap Tomi.


"Aku setuju! mereka ikut kita pulang saja! untuk sementara dia akan tinggal di rumah Rohan!" usul Arul.


"Apa? aku? kenapa aku?" protes Rohan.


"Oh ayolah Rohan! haruskah aku jabarkan semuanya? kami sudah punya pasangan masing-masing dan kalau tiba-tiba kami membawa seorang wanita pulang akan membuat masalah baru nanti. Apalagi dengan adanya masalah Darel, mereka pasti menaruh curiga juga kepada kami. Lagian kamu belum punya cewek jadi aman lah membawa Suli kerumahmu!" jelas Arul.


Ada benarnya juga perkataan Arul, namun kenapa dia yang harus menanggung semuanya? batin Rohan.


"Baiklah demi kalian!" ucap Rohan terlihat terpaksa.

__ADS_1


"Oke sudah diputuskan kita pulang sekarang. Aku panggilkan helikopter saja biar cepat." ucap Arul hendak mengambil ponselnya.


"Tidak! terlalu membuang waktu, belum lagi menunggu mereka datang dan mendarat. Itu memakan waktu lama!" ucap Darel.


"Lalu kita naik apa? tidak mungkin kan kita jalan kaki? bisa dua hari kita sampai rumah!" ucap Bagas.


"Tidak! kita naik itu!" ucap Rohan yang mengerti maksud Darel.


"Mobil itu?" tunjuk Tomi.


"Yah, jarak tempuhnya hanya delapan jam jika kita bergerak sekarang!" ucap Darel menjabarkan.


"Oke, ayo kita masuk! Suli kamu ikut mobil Rohan, biar Andre ikut mobil ku!" ucap Tomi.


Posisi mereka menaiki mobil sama seperti saat mencari Suli.


Mereka langsung tancap gas untuk kembali ke rumah.


Maafkan aku Tari! jangan tinggalkan aku! ini kesalahanku! tunggu aku pulang!! batin Darel.


********


Pagi-pagi sekali, Darel dan yang lain baru saja sampai dirumah Daniar. Darel langsung turun dari mobil berlari seperti orang kesetanan.


Tok...tok...tok....tok....


"Assalamualaikum!!! Tari!!!! ma?? pa???" teriak Darel mengetuk pintu rumah Daniar.


"Rel, sabar!!! jangan seperti ini tidak baik!" ucap Arul yang sudah berada disamping Darel bersama yang lain.


Anak buah mereka yang ada didepan rumah Daniar berlari mendekat. Tentu saja sikap hormat kepada bos mereka.


"Tuan, anda sudah kembali?" tanya salah satu anak buah Arul mewakili yang lain.


"Apa ada masalah selagi kami pergi?" tanya Arul basa-basi.


"Kau masih tanya apa ada masalah?! jadi menurutmu ini bukan masalah?!" bentak Darel marah.


"Rel, sadar! ini semua ulahmu! jangan salahkan Mentari atau orang lain hanya untuk menyembunyikan kesalahanmu!" ucap Arul geram.


Tentu saja dia tidak ingin orang lain terlebih dirinya menjadi sasaran kemarahan Darel. Orang Darel yang salah namun melempar batu sembunyi tangan.

__ADS_1


"Jangan pura-pura lupa Darel! jika ada kesalahpahaman atau keretakan dalam rumah tanggamu itu semua karena ulahmu sendiri. Bukankah sudah aku peringatkan mengenai liciknya Pretty dan juga akibatnya kepada hubunganmu dan Mentari jika kau terus melakukannya. Kau saja yang tidak mau mendengarkan kami! bukan hanya aku, tapi yang lain juga! sampai jengah kami menasehatimu, sekarang sudah kejadian baru menyalahkan orang lain! berkaca dulu sebelum melemparkan kesalahan pada orang lain!!!" ucap Zanu.


Panjang lebar dia berbicara membuka pikiran Darel bahwa Darel yang salah. Bukan untuk menyudutkan, namun agar Darel berhenti menyalahkan orang lain atas kesalahannya sendiri. Yah, bukan hanya satu kali atau dua kali. Sudah berkali-kali Zanu dan yang lain menasehati Darel dampak yang akan terjadi dengan yang dia lakukan terhadap Pretty walaupun niatnya untuk menghukum. Namun siapa yang akan percaya jika hukumannya itu dengan memberikan kemewahan itu kepada Pretty. Kemewahan yang dimaksud Zanu disini adalah apartemen dan kartu kredit Darel yang sudah pasti disalahgunakan oleh Pretty, begitu menurut Zanu.


__ADS_2